Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
BAB 6
SURAT PERPISAHAN
Tante Lanny sedang menunggunya, dan rupanya perempuan itu tidak datang untuk bicara pelan-pelan.
"Akhirnya pulang juga!"
Suara nyaringnya membuat satpam di pos gerbang menoleh. Seorang tukang kebun di rumah sebelah berhenti menyapu daun.
Lani menutup pintu taksi online, lalu berdiri dengan tas apotek masih di tangan. "Ada perlu apa, Tante?"
"Jangan panggil saya Tante seolah kita masih keluarga!" Lanny Ang melangkah ke tengah jalan masuk. Gelang-gelang emasnya berdenting. "Saya datang mau lihat seperti apa hidup perempuan yang membuang anak saya demi laki-laki lebih kaya."
"Kalau cuma itu, Tante sudah lihat. Sekarang silakan pulang."
"Enak saja!"
Tante Lanny menunjuk vila tiga lantai di belakang Lani. "Dulu kamu menangis minta Leo bantu operasi papamu. Begitu ketemu Gunawan Tio, anak saya langsung dibuang. Ternyata benar, perempuan simpanan cuma cari harga paling tinggi."
Gerbang rumah sebelah terbuka sedikit. Dua asisten rumah tangga pura-pura membuang sampah sambil memasang telinga.
Lani merasakan panas merambat ke wajah. Bukan malu karena hubungan dengan Gunawan. Ia sudah memilihnya dengan sadar. Yang membuat dadanya terbakar adalah cara Tante Lanny mengubah kesulitan keluarganya menjadi pertunjukan untuk orang asing.
Namun membalas satu kalimat hanya akan memberi perempuan itu sepuluh kalimat baru.
Lani berjalan menuju pintu kecil di samping gerbang.
Tante Lanny menghalangi. "Mau lari? Barang bekas memang cuma berani sembunyi di rumah laki-laki. Gunawan pasti bosan juga sebentar lagi. Setelah itu kamu cari siapa lagi? Anak muda?"
Kata terakhir menghantam lebih keras daripada yang disadari perempuan itu.
Lani tetap tidak menjawab.
Sebuah mobil berhenti mendadak di tepi jalan. Leo turun masih mengenakan kemeja biru tua yang pernah Lani belikan untuk ulang tahunnya lima tahun lalu.
"Mama! Aku bilang tunggu di mobil."
"Kamu diam! Mama melakukan ini untukmu."
Leo mendekati Lani. Wajahnya terlihat lebih kurus daripada terakhir kali mereka bertemu. "Lani, aku minta maaf. Mama seharusnya nggak datang begini."
Lani memandang kemeja itu sebentar, lalu kembali menatap wajahnya.
"Aku juga mau bicara sama kamu," lanjut Leo. "Kita sudah delapan tahun bersama. Aku tahu aku salah karena diam waktu Mama bicara di rumah sakit. Tapi aku bisa memperbaiki semuanya. Tinggalkan Gunawan. Kita mulai lagi."
Tante Lanny langsung berbalik. "Leo, kamu gila? Mama datang untuk membuat dia menyesal, bukan mengajaknya pulang!"
"Ini hidupku, Ma."
"Hidupmu hancur gara-gara perempuan ini!"
Mereka mulai berteriak satu sama lain di depan gerbang vila orang lain.
Lani melihat Mbak keluar dari pintu utama karena mendengar keributan. Ia mengangkat tangan memanggil.
"Mbak, tolong minta Pak satpam kemari."
Tante Lanny tertegun. "Kamu mau mengusir saya?"
"Mereka tidak saya undang," kata Lani kepada satpam yang bergegas datang. "Tolong antar keluar dari kawasan. Kalau mereka kembali membuat keributan, catat nomor mobilnya dan laporkan ke pengelola."
"Baik, Bu."
"Lani, dengarkan aku dulu," pinta Leo.
Lani tidak menoleh.
Tante Lanny menjatuhkan diri ke tepi trotoar, menepuk pahanya sambil menangis keras. "Lihat! Perempuan ini pakai uang simpanannya untuk menindas orang! Mentang-mentang tinggal di Menteng!"
Tidak ada seorang pun menyentuhnya. Satpam hanya berdiri dengan sopan, meminta ia masuk ke mobil. Semakin Lani diam, semakin suara Tante Lanny terdengar kasar dan tak pantas di jalan yang tenang itu.
Leo akhirnya menarik lengan mamanya. Dua satpam membantu membuka jalan. Ketika mobil mereka pergi, para tetangga yang mengintip buru-buru menutup gerbang masing-masing.
Lani masuk ke rumah tanpa menumpahkan satu air mata.
Begitu pintu tertutup, lututnya kehilangan tenaga.
Mbak menangkap lengannya. "Mbak Lani nggak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja." Lani menyerahkan tas apotek. "Tolong simpan ini di kamar. Setelah itu pulang lebih awal, ya. Malam ini aku mau masak sendiri."
"Tapi kalau Pak Gunawan pulang..."
"Aku yang urus."
***
Menjelang petang, meja makan dipenuhi hidangan yang biasa disukai Gunawan.
Ikan kukus jahe, tumis kailan bawang putih, ayam kecap, sup bening, dan nasi hangat. Lani membuka sebotol anggur merah, menuangkan dua gelas, lalu menaruh selembar surat di atas meja konsol.
Tidak ada pengacara. Tidak ada gugatan cerai karena mereka memang tidak pernah menikah.
Surat itu hanya pernyataan sederhana bahwa hubungan mereka berakhir atas kehendak Lani. Ia tidak menuntut rumah, mobil, uang tambahan, atau hak apa pun atas PT Tio Garmindo. Barang pribadi yang dibelikan Gunawan selama enam bulan boleh tetap berada di vila.
Di bagian bawah, tanda tangan Lani sudah mengering.
Ia menunggu sambil minum terlalu cepat.
Pintu depan terbuka sebelum pukul tujuh. Bukan Gunawan yang masuk, melainkan Rey.
Pemuda itu berhenti ketika melihat meja makan. Matanya turun ke gaun sederhana Lani, wajahnya yang memerah karena anggur, lalu dua gelas di meja.
"Mau kencan sama Papa?"
"Aku menunggu Ko Gunawan."
"Sama aja."
Rey melempar kunci ke meja. Ia tampak sudah pulih dari panas semalam, tetapi wajahnya masih kusut karena kurang tidur. Ponselnya pasti menerima pesan Lani. Ia tidak menyinggungnya.
"Aku akan bicara soal perpisahan begitu dia pulang," kata Lani.
Langkah Rey berhenti.
"Apa?"
"Kamu membaca pesanku."
"Gue pikir lo cuma mengancam."
Lani mengangkat bahu. "Kamu ingin aku pergi dari papamu. Hari ini keinginanmu terpenuhi."
Rey menatapnya lama. Seharusnya ia terlihat puas. Justru sesuatu mengeras di wajahnya.
Ia melihat surat di meja konsol dan mengambilnya tanpa izin.
"Jangan dibaca. Itu untuk Ko Gunawan."
Rey sudah sampai pada bagian aset. Matanya bergerak lebih lambat.
"Rumah di Pondok Indah yang Papa tawarin?"
"Tidak aku ambil."
"Mobil?"
"Bukan milikku."
"Uang?"
"Aku sudah menerima yang kami sepakati untuk utang keluargaku. Aku tidak berhak meminta lebih."
Rey menurunkan surat. "Kalau begitu, setelah pergi lo tinggal di mana?"
"Aku bisa urus sendiri."
Jawaban yang sama yang selalu diberikan Lani ketika tidak ingin seseorang melihat kelemahannya.
Rey teringat bekas jari di pergelangan itu. Teringat air mata yang jatuh ke bantal dan kalimat `Aku takut`.
Ia meletakkan surat terlalu keras. "Terserah."
Namun ia tidak naik ke kamar. Ia berdiri di dekat jendela sampai lampu mobil Gunawan menyapu halaman.
***
Gunawan masuk membawa sebuket mawar putih dan kotak beludru kecil.
"Mei, kamu belum tidur?" Senyumnya muncul, lalu hilang ketika melihat wajah Lani. "Ada apa?"
Lani menarik kursi. "Makan dulu, Ko. Aku masak sendiri."
Gunawan menaruh bunga. "Kalau kamu bicara seperti itu, saya malah tidak bisa makan."
Rey bersandar di pintu ruang keluarga, diam-diam mendengar.
Lani menyerahkan surat tersebut.
Gunawan membacanya sampai selesai. Tidak ada ledakan. Hanya napas panjang dan garis lelah yang mendadak lebih dalam di sekitar matanya.
"Karena saya?" tanyanya. "Karena beberapa malam terakhir saya tidak bisa membuatmu bahagia?"
Lani menunduk. Rasa bersalah menusuk, tetapi ia tidak sanggup mengatakan alasan sebenarnya berdiri hanya beberapa meter dari mereka.
"Bukan soal itu saja. Aku sudah terlalu lama hidup untuk membayar sesuatu. Utang keluargaku lunas. Papa dan Mama sudah punya rumah. Sekarang aku ingin mencoba hidup sebagai diriku sendiri."
Gunawan menatapnya cukup lama. "Ada orang lain?"
"Tidak."
Rey menahan napas tanpa sadar.
Gunawan akhirnya mengambil pena dan menandatangani surat itu. "Saya tidak akan menahanmu."
Bunyi ujung pena di atas kertas terdengar seperti kunci yang akhirnya diputar dari dalam.
Mata Lani panas. "Terima kasih, Ko. Untuk semua yang sudah Ko lakukan."
"Saya yang seharusnya minta maaf." Gunawan mendorong kotak beludru ke arahnya. "Saya membeli ini sore tadi. Tadinya saya pikir hadiah bisa memperbaiki suasana."
Di dalamnya terdapat kalung tipis dari platinum, dengan liontin kecil berbentuk daun.
"Aku tidak bisa menerimanya."
"Bukan kompensasi. Anggap hadiah perpisahan dari seseorang yang pernah menyayangimu dengan caranya sendiri." Gunawan menutup kotak dan meletakkannya di telapak Lani. "Kalau suatu hari kamu butuh bantuan, hubungi saya. Janji itu tidak ikut berakhir bersama surat ini."
Air mata Lani akhirnya jatuh satu. Ia segera menyekanya.
"Terima kasih."
Di ambang ruang keluarga, Rey berbalik sebelum ada yang melihat wajahnya.
Keinginannya terkabul. Lani akan pergi.
Entah kenapa, dada Rey justru terasa seperti dipenuhi batu.
***
Pagi berikutnya, satu koper besar dan satu tas diletakkan di bagasi taksi.
Gunawan sudah berangkat ke kantor lebih awal agar perpisahan mereka tidak berubah menjadi adegan panjang. Lani menyerahkan kunci vila kepada Mbak, memeluk perempuan itu sebentar, lalu masuk ke mobil.
Rey melihat dari jendela lantai dua.
Lani tidak sekali pun mendongak.
Setelah mobil menghilang, Mbak masuk ke ruang keluarga dengan wajah ragu.
"Mas Rey, kemarin ada orang membuat keributan di depan rumah. Saya belum sempat bilang ke Pak Gunawan."
"Siapa?"
"Mamanya mantan pacar Mbak Lani. Dia menghina macam-macam sampai satpam datang."
Rey turun ke ruang keamanan. Dengan kode yang ditinggalkan Gunawan, ia membuka rekaman CCTV gerbang dari siang sebelumnya.
Suara Tante Lanny terdengar pecah dari pengeras kecil.
`Perempuan simpanan.`
`Barang bekas.`
`Cari harga paling tinggi.`
Di layar, Lani berdiri dengan bahu lurus. Tidak membalas. Tidak menangis. Ia hanya memanggil satpam, lalu masuk ke rumah setelah perempuan itu mempermalukan dirinya sendiri.
Rey memutar rekaman sekali lagi.
"Digituin masih diam aja," gerutunya.
Tangannya mengepal ketika Tante Lanny menunjuk wajah Lani.
Aneh sekali, kali ini kemarahannya tidak ditujukan kepada Lani.