Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari jalan keluar
Arga terbangun saat suara burung-burung hutan bersahut-sahutan dari kejauhan. Cahaya matahari yang menembus celah dedaunan menyinari dinding tenda berwarna hijau tua, membuat bagian dalamnya perlahan menjadi terang. Selama beberapa detik ia hanya diam, mencoba mengingat di mana dirinya berada.
Lalu semuanya kembali memenuhi pikirannya.
Ia masih tersesat.
Arga mengembuskan napas panjang sebelum membuka resleting tenda. Udara pagi terasa lembap dan dingin, tetapi kabut semalam sudah jauh berkurang. Pepohonan tinggi kini terlihat lebih jelas. Hutan yang tadi malam tampak menyeramkan kini memperlihatkan wajah yang berbeda. Burung-burung beterbangan dari satu dahan ke dahan lain. Serangga mulai bersuara. Sinar matahari menembus sela-sela kanopi, membentuk garis-garis cahaya yang indah di antara batang pohon.
Namun keindahan itu tidak mampu mengusir kenyataan bahwa ia sendirian.
Arga segera membereskan perlengkapannya. Tenda dilipat serapi mungkin dan dimasukkan kembali ke dalam ransel. Ia tahu, mulai hari ini setiap tenaga dan setiap barang yang dimilikinya harus digunakan sehemat mungkin.
Setelah semuanya rapi, ia membuka kantong logistik.
Dua bungkus mi instan.
Empat potong roti yang masih terbungkus.
Beberapa bungkus biskuit.
Persediaan makanan sebenarnya masih cukup jika digunakan dengan bijak selama beberapa hari.
Namun saat membuka kantong minum, wajahnya berubah muram.
Air yang tersisa hanya memenuhi satu tumbler kecil.
Tak sampai setengah liter.
Arga memutar tutup tumbler itu, menatap air bening di dalamnya beberapa saat, lalu kembali menutupnya rapat.
"Ini harus cukup sampai aku menemukan sumber air," gumamnya.
Ia hanya membasahi bibir dengan seteguk kecil tanpa benar-benar menghabiskan dahaganya.
Hari itu ia harus mengambil keputusan.
Tetap menunggu bantuan, atau mencari jalan keluar sendiri.
Mengingat ia sama sekali tidak tahu apakah keberadaannya sudah diketahui tim pencari, Arga memilih terus bergerak. Setidaknya ia masih memiliki tenaga.
Ia mengingat kembali pelajaran dasar bertahan hidup yang pernah diajarkan senior pecinta alam.
Jangan berjalan tanpa tujuan.
Amati medan.
Cari jalur yang memungkinkan dilalui manusia atau aliran air.
Ia menatap sekeliling. Hutan di hadapannya terlihat semakin rapat. Semak berduri tumbuh hampir menutupi setiap celah. Jika memaksa masuk ke sana, tenaganya hanya akan habis untuk menebas ranting-ranting kecil.
Di sisi kanan, ia melihat area yang pepohonannya lebih renggang. Cahaya matahari lebih banyak masuk ke sana.
"Lebih baik lewat situ."
Arga mengencangkan tali ransel lalu mulai melangkah.
Perjalanan pagi itu berlangsung lambat. Beberapa kali ia harus memanjat batang pohon tumbang, menyeberangi tanah berlumpur, atau memutar arah karena terhalang semak yang terlalu rapat.
Sesekali ia berhenti, berharap menemukan bekas jalur pendakian.
Bekas jejak sepatu.
Potongan pita penanda.
Atau bahkan bungkus makanan yang mungkin tertinggal.
Namun tidak ada apa pun.
Hutan seolah belum pernah dilalui manusia.
Semakin lama berjalan, suara langkahnya sendiri menjadi satu-satunya suara yang selalu menemaninya.
Menjelang pukul sebelas siang, sinar matahari mulai terasa lebih terik. Meski berada di bawah naungan pepohonan, udara menjadi lebih pengap. Keringat mulai membasahi pelipisnya.
Arga memutuskan berhenti sejenak di bawah pohon besar.
Ia mengeluarkan sepotong roti dan memakannya perlahan. Tidak sampai habis.
Separuh sisanya kembali ia simpan.
Air dari tumbler kembali ia minum sedikit saja.
Ia benar-benar menghitung setiap tegukan.
Saat hendak berdiri kembali, rasa nyeri yang sangat dikenalnya tiba-tiba muncul.
Awalnya hanya seperti ditusuk jarum kecil di ulu hati.
Namun dalam hitungan menit rasa itu berubah menjadi perih yang menjalar ke seluruh lambung.
Arga langsung memejamkan mata.
"Astaghfirullah..."
Tangannya refleks memegang perut.
Maagnya kambuh lagi.
Rasa mual mulai muncul. Mulutnya terasa pahit. Tubuhnya mendadak lemas.
Ia tahu penyebabnya.
Sejak kemarin pola makannya benar-benar berantakan. Ditambah rasa cemas yang terus menghantuinya sejak tersesat.
Dengan napas tertahan, ia membuka waist bag dan mengambil satu tablet obat maag yang masih tersisa.
Ia menatap obat itu beberapa saat.
Persediaannya tinggal sedikit.
Kalau habis sebelum ia keluar dari hutan...
Arga tidak ingin memikirkan kemungkinan itu.
Obat segera ditelan dengan satu tegukan kecil air.
Ia menyandarkan tubuh ke batang pohon sambil mengatur napas.
Rasa nyeri itu belum langsung hilang.
Butuh hampir dua puluh menit sampai lambungnya mulai terasa lebih tenang.
"Ayo, Ga... jangan menyerah."
Ia mengusap wajahnya sendiri, seolah sedang memberi semangat.
Setelah kondisinya agak membaik, perjalanan kembali dilanjutkan.
Langkahnya kini lebih pelan dibanding pagi tadi.
Tenaganya mulai berkurang.
Beberapa kali ia hampir kehilangan keseimbangan karena akar-akar pohon yang menjalar di permukaan tanah.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Matahari perlahan bergeser ke barat.
Bayangan pepohonan mulai memanjang.
Arga mulai khawatir.
Jika sampai sore nanti ia belum menemukan apa pun, ia harus kembali mendirikan tenda dan menghemat sisa air yang tinggal sedikit.
Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak.
Namun tepat ketika harapan mulai menipis, telinganya menangkap sesuatu.
Sangat pelan.
Nyaris tidak terdengar.
Cip...
Cip...
Cip...
Arga berhenti berjalan.
Ia menahan napas.
Suara itu muncul lagi.
Gemericik air.
Matanya langsung berbinar.
Ia berdiri diam beberapa saat untuk memastikan arah datangnya suara.
Kali ini terdengar lebih jelas.
Air.
Benar-benar suara air yang mengalir.
Tanpa membuang waktu, Arga mulai melangkah mengikuti arah suara itu. Semakin jauh ia berjalan, suara gemericik itu semakin kuat. Pepohonan mulai merenggang. Tanah yang tadinya kering berubah menjadi lebih lembap. Udara pun terasa lebih sejuk.
Harapan yang sejak pagi hampir padam perlahan kembali menyala.
Mungkin di sana ada sungai kecil.
Mungkin ia bisa mengisi kembali persediaan airnya.
Atau...
Mungkin aliran air itu akan membawanya menuju perkampungan.
Dengan langkah yang lebih cepat meski tubuhnya masih lelah, Arga terus mengikuti suara gemericik itu, tanpa menyadari bahwa sumber air yang sedang ia tuju telah lama menjadi tempat yang dihindari oleh siapa pun yang mengenal hutan di kaki Gunung ini.
Semakin dekat Arga melangkah, suara gemericik air terdengar semakin jelas. Rasa lelah yang sejak siang menggerogoti tubuhnya seolah terlupakan. Harapan kembali tumbuh. Dalam keadaan tersesat, air bukan hanya pelepas dahaga, tetapi juga sumber kehidupan.
Semak-semak mulai menipis. Tanah berubah menjadi lebih lembap. Beberapa batu besar tampak dipenuhi lumut hijau. Tak lama kemudian, pepohonan terbuka membentuk sebuah celah sempit.
Di hadapannya mengalir sebuah sungai kecil. Airnya jernih, mengalir tenang melewati bebatuan hitam yang licin. Cahaya matahari sore memantulkan kilauan keemasan di permukaannya. Arga mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah..."
Ia segera berlutut di tepi sungai. Namun sebelum meminum air itu, ia teringat kembali nasihat senior pendakinya.
Jangan langsung meminum air dari alam tanpa memastikan keamanannya.
Arga mengambil botol lipat kecil dari ranselnya, mengisinya dengan air sungai, lalu meneteskan cairan penjernih yang selalu ia bawa dalam perlengkapan darurat. Sambil menunggu beberapa menit, ia membasuh wajah dan kedua tangannya.
Air yang dingin membuat tubuhnya terasa lebih segar.
Setelah proses penjernihan selesai, ia meminum beberapa teguk perlahan.
Rasa haus yang sejak pagi ditahannya akhirnya sedikit terobati.
Ia kemudian mengisi penuh tumbler kecilnya dan satu botol cadangan. Kini setidaknya ia tidak perlu terlalu khawatir tentang persediaan air. Sambil duduk di atas batu besar, Arga mulai memperhatikan aliran sungai itu. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Jika ia mengikuti aliran sungai, kemungkinan besar ia akan menemukan perkampungan atau setidaknya jalan yang pernah dilalui manusia.
Itulah harapan terbaik yang dimilikinya saat ini.
Tanpa membuang waktu, Arga mulai berjalan menyusuri tepian sungai.
Medannya memang tidak mudah. Sesekali ia harus melompati batu besar atau memotong jalan melewati akar pohon yang menjulur ke tepi air. Namun dibandingkan menembus hutan yang rapat, mengikuti sungai terasa jauh lebih mudah.
Sore semakin tua.
Langit di balik pucuk-pucuk pohon mulai berubah jingga. Suara burung perlahan berganti dengan nyanyian serangga malam. Arga mempercepat langkah. Ia berharap menemukan tempat yang cukup aman sebelum matahari benar-benar tenggelam.
Langkah demi langkah ia ayunkan dengan hati-hati. Beberapa kali kakinya hampir terperosok ke tanah yang lembek.
Cahaya matahari kini tinggal sedikit.
Bayangan pepohonan semakin panjang. Saat itulah matanya menangkap sesuatu di kejauhan. Di balik rumpun bambu yang tumbuh rapat, tampak sebuah tiang kayu berdiri miring.
Arga menyipitkan mata.
Bukan...
Itu bukan sekadar tiang.
Seperti papan penunjuk.
Dadanya berdegup lebih cepat.
Dengan langkah tergesa ia mendekatinya.
Papan itu sudah lapuk dimakan usia.
Sebagian permukaannya dipenuhi lumut.
Tulisan yang terukir hampir tidak terbaca.
Arga mengusap lumut itu perlahan menggunakan telapak tangannya.
Sedikit demi sedikit huruf-huruf tua mulai terlihat.
"...Kampung..."
Tulisan berikutnya hampir hilang.
Ia mengusap lagi dengan lebih hati-hati.
Akhirnya seluruh tulisan itu dapat terbaca.
"Kampung Ciburial."
Di bawahnya terdapat tulisan kecil yang nyaris pudar.
"Pendatang dilarang masuk setelah matahari terbenam."
Arga mengernyit.
Ia melihat ke arah langit.
Matahari tinggal sejengkal lagi sebelum tenggelam di balik lereng Gunung ini.
Tanpa ia sadari, waktu yang dimilikinya tinggal sangat sedikit. Dan di balik rumpun bambu, jauh di depan sana, hanya puluhan kilometer lagi samar-samar mulai terlihat beberapa atap rumah tua yang berdiri membisu di tengah hutan.