Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Aku Merusak Masa Depannya
POV Bram
Dua hari setelah mengantar Sekar pulang dari rumah sakit, aku berdiri di depan jendela kantor dan membenci bayanganku sendiri.
Di bawah sana, SCBD bergerak seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan, rapat berganti rapat, angka dalam laporan terus bertambah. Hanya satu hal yang tidak bisa kukendalikan: suaraku sendiri saat membentak Sekar.
`Jangan main-main dengan tubuhmu.`
Kalimat itu benar. Caraku mengatakannya salah.
Aku kembali ke meja dan membuka tas kerja. Kotak dasi biru masih tersimpan di bagian terdalam. Sejak hari itu aku membawanya ke kantor, pulang, lalu kembali lagi tanpa pernah mengeluarkannya.
Aku membuka penutup.
Kain biru tua terlipat rapi. Sekar pasti memilihnya dengan serius. Dia selalu memperhatikan hal kecil yang orang lain lewatkan, termasuk warna yang kupakai saat suasana hatiku baik.
Jemariku menyentuh ujung dasi.
Kemudian aku menutup kotak dengan kasar.
Pagi tadi aku memimpin rapat ekspansi selama dua jam. Tiga kali aku meminta direktur keuangan mengulang angka yang sebenarnya sudah terpampang di layar. Setiap jeda, pikiranku kembali pada satu hal: apakah Sekar menghabiskan antibiotiknya setelah sarapan.
Deni biasanya memberi kabar tanpa diminta. `Non Sekar sudah makan.` `Non Sekar sampai kampus.` Pesan-pesan itu dulu terasa seperti informasi rumah tangga biasa. Sekarang setiap notifikasi membuatku berharap namanya muncul dan sekaligus membenci diri karena berharap.
Aku bisa menelepon Mbok Nah. Aku bisa meminta Fikri memeriksa. Namun setiap perhatian baru akan dibaca Sekar sebagai pintu yang kubuka. Aku telah menolaknya dengan kata-kata, lalu terus berdiri di ambang pintu itu sendiri.
Jika ingin dia percaya pada penolakanku, aku harus berhenti menciptakan harapan.
Menolak pun tidak kulakukan dengan benar. Aku mendorong hadiah itu kembali di depannya, lalu mencurinya saat dia tidak melihat. Seolah dengan menyembunyikannya, aku bisa menerima perasaannya tanpa menanggung akibat.
Pintu kantor terbuka tanpa ketukan.
“Kalau mau melamun, setidaknya pesan makan siang.” Gunawan masuk membawa dua kantong makanan. “Deni bilang lo belum makan.”
“Deni terlalu banyak bicara.”
“Untung dia bicara. Kalau tidak, saya harus menebak dari wajah lo yang makin menyebalkan.”
Gunawan meletakkan makanan dan duduk. Pandangannya jatuh pada kotak di mejaku.
“Hadiah?”
Aku memasukkannya kembali ke tas. “Bukan urusanmu.”
“Dari Sekar?”
Aku menatapnya.
Gunawan mengangkat tangan. “Tebakan yang benar rupanya.”
Kami makan dalam diam selama beberapa menit. Biasanya Gunawan tidak tahan diam lebih dari tiga puluh detik. Hari ini dia menunggu sampai aku sendiri kehilangan kesabaran.
“Sekar sudah pulih?” tanyanya.
“Demamnya turun. Masih istirahat.”
“Lo menjenguk?”
“Tidak.”
“Telepon?”
“Tidak.”
Gunawan meletakkan sendok. “Lalu kenapa lo kelihatan seperti orang yang baru kehilangan rumah?”
“Karena saya berteriak kepadanya di rumah sakit.”
“Minta maaf.”
“Sudah.”
“Kalau begitu masalahnya bukan teriakan.”
Aku menatap gedung di seberang jendela. Gunawan mengenalku terlalu lama. Kebohongan yang cukup baik untuk orang lain jarang berhasil kepadanya.
“Dia menyatakan cinta,” kataku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gunawan benar-benar kehilangan kata.
“Sekar?”
“Di depan kampus.”
“Video itu ternyata...”
“Benar.”
“Dan lo?”
“Saya menolak.”
Gunawan mengusap dagu. “Karena dia anak angkat?”
“Karena dia baru dua puluh.”
“Itu bukan jawaban tentang perasaan lo.”
“Itu jawaban yang cukup.”
“Buat siapa?”
Pertanyaan Sekar di rumah sakit terulang melalui mulut sahabatku.
Aku berjalan kembali ke jendela.
“Aku terlalu tua, Gun.”
“Dua puluh tahun memang bukan selisih kecil.”
“Ketika dia seusia kita sekarang, saya akan enam puluh.”
“Sekar bisa berhitung.”
“Dia belum tahu apa yang akan hilang.”
Gunawan tidak menjawab. Aku melanjutkan sebelum dia sempat menawarkan harapan.
“Dia mengenal saya ketika tidak punya siapa-siapa. Semua rasa aman, rumah, dan pendidikan datang melalui saya. Bagaimana saya bisa yakin cintanya bukan rasa berutang yang tumbuh terlalu besar?”
“Dengan bertanya kepadanya, bukan memutuskan untuknya.”
“Kalau saya salah, akibatnya hidupnya.”
“Kalau lo menolak tanpa jujur, akibatnya juga hidupnya.”
Gunawan menarik kotak makan menjauh dan mencondongkan tubuh. “Saya tanya satu hal. Kalau lima tahun lagi Sekar datang dengan laki-laki seumurannya dan bilang mau menikah, apa yang lo rasakan?”
Bayangan itu muncul terlalu jelas. Seorang laki-laki lain menunggu di gerbang kampus, duduk di meja makan Puri Cendana, dan menjadi orang pertama yang ditelepon Sekar ketika takut.
“Saya akan memastikan laki-laki itu layak.”
“Bukan itu pertanyaannya.”
“Perasaan saya tidak penting.”
“Nah. Itu kebiasaan paling berbahaya dari lo. Merasa semua orang harus hidup dengan keputusan yang lo sebut benar, sementara perasaan lo sendiri disembunyikan seperti tidak ikut memengaruhi keputusan.”
Aku tidak menyukai kata-katanya karena ada bagian yang benar.
Aku menutup mata sebentar.
“Aku akan menghancurkan masa depannya kalau terus begini.”
Gunawan bersandar, wajahnya tidak lagi bercanda. “Atau lo takut dia melihat seluruh diri lo dan tetap memilih tinggal.”
Aku tidak menjawab.
“Baiklah.” Dia mengambil kembali sendok. “Kalau mau benar-benar menjaga jarak, mungkin lo harus mencoba bertemu perempuan lain. Saya kenal beberapa orang yang seumuran dan dunianya sama dengan kita.”
Rasa tidak suka muncul begitu cepat hingga memalukan.
“Saya tidak butuh dijodohkan.”
“Bukan dijodohkan. Makan malam biasa.” Gunawan mengangkat bahu. “Ada satu teman lama yang baru pulang dari luar negeri. Kalian pernah saling kenal.”
“Siapa?”
Dia tersenyum tipis. “Nanti juga tahu.”
Aku tidak tertarik. Setidaknya, itulah yang kukatakan kepada diri sendiri.
Setelah Gunawan pergi, aku memanggil Fikri.
Dia masuk membawa tablet. “Ada yang perlu saya urus, Pak Bram?”
“Mulai bulan depan, biaya kos dan kebutuhan Sekar melalui transfer otomatis.”
Fikri berhenti mencatat. “Deni tidak perlu mengantar lagi?”
“Barang bisa dikirim. Tidak perlu laporan harian kepada saya.”
“Termasuk laporan kesehatan setelah dia keluar rumah sakit?”
Pertanyaan itu membuat dadaku mengencang.
“Kalau darurat, beri tahu. Selain itu, tidak.”
“Bagaimana dengan proses kampus terkait video?”
“Tim hukum tetap mengurus penghapusan. Sekar tidak perlu berhubungan langsung dengan mereka.”
“Itu tetap laporan tentang kehidupannya.”
Aku menatap Fikri. Dia jarang menantang instruksi secara langsung.
“Laporkan hanya perkembangan hukumnya,” kataku. “Bukan kegiatan Sekar.”
“Baik.”
Memisahkan dua hal itu terdengar masuk akal. Kenyataannya aku hanya mencari cara tetap melindungi tanpa mengakui bahwa aku masih ingin tahu apakah dia tertawa, tidur cukup, dan memainkan piano ketika pulang akhir pekan.
Fikri menatapku lebih lama daripada seharusnya. “Baik.”
“Ada masalah?”
“Tidak. Saya hanya ingin memastikan instruksinya jelas.”
Dia berbalik menuju pintu.
“Fikri.”
“Ya, Pak?”
Aku hampir bertanya apakah Sekar sudah makan siang.
“Tidak jadi.”
Pintu tertutup.
Ponselku berbunyi satu jam kemudian. Pesan dari Gunawan berisi undangan makan malam pekan depan di Hotel Grand Senayan.
`Datang. Sekalian ketemu teman lama.`
Aku masih memikirkan kotak dasi ketika membalas singkat.
`Baik.`
Aku bahkan tidak bertanya siapa yang akan kutemui.