Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Setelah suami nya pergi, Nadila pun pamit pada Mama Nilam. Dia juga akan pergi ke butik nya, hari ini Nadila pergi dengan menggunakan mobil nya.
"Ma, Nadila pergi dulu ya!" Nadila mencium tangan Mama nya dengan sopan.
"Hati - hati di jalan, nak!" Pesan Mama Nilam.
"Iya Ma!" Jawab Nadila.
Mama Nilam mengantarkan Nadila hingga ke terus rumah, dia kembali masuk ke dalam rumah setelah memastikan bahwa putri nya sudah berangkat.
Mama Nilam melihat ke arah ruang pintu kamar tamu yang masih tertutup dengan rapat, di balik pintu itu Rani masih tertidur dengan nyenyak nya. Seolah- olah ini adalah rumah nya sendiri, tidak ada sedikit pun niat nya untuk bangun dan membantu pekerjaan di rumah ini.
"Benar - benar wanita yang tidak tahu malu, seakan- akan dia nyonya di rumah ini!" Guman Mama Nilam sambil menggelengkan kepala nya.
Tiba - tiba Mama Nilam tersenyum, dia menemukan ide untuk mengerjai Rani. Mama Nilam berjalan mendekati pintu kamar yang di tempati oleh Rani, lalu Mama Nilam menggedor pintu nya dengan kencang.
"Rani, bangun kamu Rani!" Teriak Mama Nilam dengan kencang.
Tidak ada sahutan dari dalam, Mama Nilam kembali menggedor pintu dengan lebih kencang lagi.
"Rani, apa kamu pikir ini hotel hah!!! Cepat bangun!" Teriak Mama Nilam di depan pintu.
Mama Nilam terus menggebrak pintu kamar Rani dengan kencang, mungkin saja tetangga kiri kanan mereka mendengar kegaduhan itu.
Rani yang masih tertidur di dalam kamar nya, merasa sangat jengkel dengan suara teriakan Mama Nilam di depan pintu kamar nya. Rani mengambil bantal lalu menutup telinga nya, tapi suara Mama Nilam masih terus terdengar di sertai dengan gedoran pada daun pintu yang semakin kencang.
"Apa sih mau nya si nenek sihir itu? Ganggu orang tidur saja!" Omel Rani.
Akhir nya dengan sangat kesal dan geram, Rani terpaksa bangun dan membuka pintu kamar nya. Di depan pintu, dia melihat mertua dari laki - laki yang menjadi selingkuhan nya sedang berdiri, sambil melipat tangan di dada.
"Apaan sih tante? Ganggu orang tidur saja!" Omel Rani dengan wajah bantal nya, ciri khas orang yang baru bangun tidur.
"Apa kau pikir ini hotel? Kau bisa bangun sesuka hati mu! Di rumah ini ada aturan nya, semua orang di sini bangun pagi!" Ujar Mama Nilam.
"Tapi tante, saya kan tidak kerja. Jadi ngapain harus bangun pagi!" Jawab Rani dengan berani nya.
"Kalau begitu keluar kau dari rumah ini!" Mama Nilam mengusir Rani.
"Apa hak tante mengusir saya dari rumah ini? Seharusnya tante yang pergi dari rumah ini, bukan aku!" Rani malah balik mengusir Mama Nilam.
"Kamu dengar sendiri kan tadi malam, rumah ini di bayar oleh putri ku. Lalu apa hak mu berani mengusir ku? Kau perempuan murahan, perusak rumah tangga arang lain. Keluar kau sekarang juga!" Mama Nilam menyeret tangan Rani dengan paksa menuju ke pinti depan.
"Jangan usir aku tante, aku tidak punya tempat tinggal. Aku mohon tante!" Rani memohon pada Mama Nilam.
Karena Rani tahu saat ini dia tidak akan bisa membela diri nya di hadapan Mama nya Nadila, Nadila punya hak penuh di rumah ini. Apalagi cicilan rumah ini di bayar oleh Nadila, ditambah Irfan sedang tidak berada di rumah. Sebisa mungkin Rani bertahan, jangan sampai di kekuar dari rumah ini.
"Baik lah, tapi tidak ada yang gratis di rumah ini. Kau harus membayar nya dengan tenaga mu!" Mama Nilam berkata dengan tegas.
Rani ingin menolak, tapi dia tidak punya kemampuan untuk melawan saat ini. Perut nya sudah cukup besar, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi di dalam kandungan nya. Karena dengan bayi ini lah dia bisa bertahan di sini, dia bisa memanfaatkan bayi ini untuk mendapatkan Irfan.
"Baik tante!" Jawab Rani dengan setengah hati.
"Sekarang kamu ikut aku!" Mama Nilam melangkah kan kaki nya ke dapur.
Rani mengikuti nya dari belakang, saat ini dia harus bisa bertahan di sini. Mama Nilam mengambil sapu, pel dan alat kebersihan yang lain nya. Dia lalu menyerahkan semua nya pada Rani.
"Sekarang kamu bersihkan semua bagian dari rumah ini, jangan ada yang ketinggalan. Tapi tidak dengan Kamar nya Nadila dan Irfan, kamu tidak boleh masuk ke dalam nya!" Mama Nilam memberi perintah pada Rani.
Mama Nilam tidak mau tempat yang paling privasi bagi putri nya sampai di masukin orang lain, dia sendiri tidak mau melewati batas nya dengan masuk ke dalam kamar mereka. Kecuali untuk hal - hal yang darurat.
"Tapi tante, saya lapar, saya belum sarapan!" Rani berkata sambil mengusap perut nya.
Mama Nilam yang melihat nya menjadi tidak tega, sekalipun Rani telah menjadi pelakor di dalam rumah tangga anak nya. Dia merasa kasihan dengan bayi Rani yang tidak berdosa, Mama Nilam pun memutuskan untuk menyuruh Rani sarapan terlebih dahulu.
"Itu ada roti tawar lengkap dengan berbagai selai nya, kamu bisa makan sambil minum susu untuk sarapan mu hari ini sebelum bekerja!" Mama Nilam menunjuk kan stok roti tawar yang selalu tersedia di rumah ini.
Rani tidak mau menunda lagi, dia segera mengambil roti tawar dan langsung mengolesi selai coklat di atas nya. Dia memakan roti itu dengan lahap, karena saat ini hari sudah cukup siang jadi wajar saja jika dia lapar.
Mama Nilam sebenar nya tidak tega pada wanita hamil, tapi jika di diam kan saja maka dia akan semakin ngelunjak. Mama Nilam ingin memberikan pelajaran pada Rani, tapi di tidak akan mencelakai anak nya yang tidak berdosa.
"Tidak ada alasan lagi untuk mu bersantai, cepat bersihkan rumah ini! Jangan lupa aku ada di sini untuk mengawasi mu!" Mama Nilam berkata dengan tegas setelah Rani menghabiskan sarapan nya.
Kini Rani tidak bisa menolak nya, karena Mama Nilam sengaja mengawasi nya. Dia berencana untuk mengadu dengan Irfan, tapi saat ini ponsel nya tertinggal di kamar. Jika dia masuk ke dalam kamar nya, maka Mama Nilam pasti akan curiga.
'Awas saja kau nenek sihir, akan ku singkirkan putri mu yang mandul itu. Akan ku pastikan Mas Irfan akan memilih ku, anak ini akan membawa jalan nya. Saat waktu nya tiba, akan ku balas kau dan putri mu itu!' Batin Rani di dalam hati.
Rani mulai membersihkan seluruh bagian rumah, dia merasa sangat kelelahan. Karena selama ini Rani memang tidak pernah melakukan semua ini, yang dia tahu hanya bersenang - senang setelah mendapatkan uang dari laki - laki yang di layani nya.