Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Dua Pengantin yang Terpaksa
Pagi itu, suasana di kediaman keluarga Wicaksono terasa berbeda jauh dari keluarga Jayadi.
Aksa berdiri di depan cermin dengan wajah kusut masai. Jas yang sudah disiapkan untuknya bahkan belum disentuh. "Aku gak mau nikah."
Ia mengacak rambutnya sendiri. "Aku masih muda. Kenapa sih Kakek maksa banget?"
Asti yang sejak tadi memerhatikan putranya hanya bisa menghela napas. "Sa, jangan bikin masalah lagi. Kakekmu sudah menyiapkan semuanya."
"Mama juga jangan malah nyuruh aku nurut dong!" Aksa berbalik. "Mama harusnya bantu aku."
Asti terdiam. Ia memang terbiasa membela Aksa. Sejak kecil, hampir semua keinginannya dituruti. Jika Aksa meminta sesuatu, Asti akan berusaha mendapatkannya. Namun kali ini berbeda. Wicaksono sudah membuat keputusan. Dan Asti tahu, tidak ada gunanya berdebat.
"Kakek cuma nyuruh kamu nikah, bukan berarti hidupmu berakhir," ujar Asti mencoba menenangkan.
"Ya tetap aja, Ma!" Aksa menjatuhkan tubuhnya ke sofa. "Aku belum mau punya istri. Aku masih mau menikmati hidup."
Terdengar suara tongkat mengetuk lantai dari arah pintu.
Tok.
Aksa langsung terdiam.
Wicaksono berdiri di ambang pintu, sorot matanya dingin. "Sudah selesai mengeluh?"
Aksa mendengus. "Kek, kumohon batalin pernikahan ini."
"Tidak," jawab Wicaksono singkat dan tegas.
Aksa mengusap wajahnya kasar. "Aku gak cinta sama dia, Kek. Bahkan kenal aja gak."
"Kakek gak nanya," kata Wicaksono enteng.
Aksa menatap kakeknya kesal. "Kakek itu otoriter!"
Wicaksono berjalan mendekat. "Dan kamu selalu kayak ini." Ia menunjuk jas yang tergeletak di sofa. "Pakai."
"Gak mau." Aksa melipat tangan di depan dada seraya memalingkan muka.
Wicaksono terdiam beberapa detik. "Kalau begitu, kamu gak perlu nikah."
Aksa melebarkan matanya, sedikit terkejut, lalu menoleh kepada kakeknya. "Serius?"
"Ya." Wicaksono berbalik, lalu berkata dengan nada dingin. "Mulai hari ini, seluruh kartu, rekening, kendaraan, dan fasilitasmu Kakek cabut."
Aksa langsung berdiri. "Kakek! Selalu saja ancaman itu."
Wicaksono terus berjalan. "Dan kalau kamu masih menolak menikah, jangan harap namamu muncul sebagai pewaris keluarga Wicaksono."
Aksa mengepalkan tangan. "Kakek gak adil."
Wicaksono berhenti sebentar. "Kakek justru sedang memberimu kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa kamu pantas menjadi pewaris."
Tanpa menoleh lagi Wicaksono melanjutkan langkahnya.
Asti mengusap lengan putranya lembut. "Sa..."
Buk!
Aksa mendaratkan tinjunya di sofa. "Kenapa sih, semua orang selalu belain Kakek?"
Asti tidak menjawab. Karena kini ia sadar, bahwa selama ini memanjakan Aksa justru membuat putranya tidak pernah belajar menghadapi konsekuensi.
Aksa akhirnya mengambil jas itu dengan wajah kesal. "Kakek gak bakal bisa ngekang aku."
Asti menatapnya. "Maksudmu?"
"Aku gak peduli siapa perempuan itu." Aksa mengenakan jasnya dengan gerakan kasar. "Pernikahan ini gak bakal lama."
Di luar kamar, Wicaksono yang kebetulan mendengar ucapan itu hanya mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai.
Tok.
Namun kali ini, tidak ada yang tahu apakah ia marah... atau justru sedang memikirkan sesuatu.
***
Mobil yang ditumpangi Jayadi dan keluarganya akhirnya berhenti di depan tempat acara pernikahan.
Aynara menatap pantulan dirinya melalui layar ponsel. Wajahnya membuat hatinya semakin tidak tenang. Beberapa bagian pipinya memerah. Kelopak matanya sedikit sembap, dan bintik-bintik kecil mulai terlihat di sekitar wajahnya.
Padahal beberapa jam lalu, ia masih terlihat begitu anggun dengan gaun dan perhiasan yang diberikan keluarga Wicaksono. Kini, kecantikan itu seolah tertutup oleh reaksi alergi yang tidak kunjung mereda.
Aynara menunduk. Hari pernikahannya bahkan belum dimulai, tetapi semuanya sudah terasa kacau. Ia teringat Langlang. Pria yang seharusnya menjadi orang pertama yang melihatnya mengenakan gaun pengantin. Bukan pria asing yang bahkan tidak ia cintai.
"Nara..." Jayadi menoleh dari kursi depan.
Aynara mengangkat wajah.
"Kalau memang gak kuat, bilang," ujar Jayadi.
Aynara mengangguk kecil.
Jayadi menatap wajah putrinya dengan cemas. "Tadi kita sudah mampir ke beberapa apotek, tapi obat alergimu yang biasa gak ada."
""Di rumah masih ada, Yah," sahut Aynara.
Jayadi menghela napas. "Ayah tahu. Tapi tadi kita sudah terlalu jauh dari rumah."
Aynara mengepalkan tangannya. "Aku masih bisa tahan, Yah"
"Jangan dipaksakan," kata Jayadi. "Kalau semakin parah, kita cari klinik di sekitar sini."
"Iya, Yah." Sebenarnya Aynara sendiri mulai khawatir. Rasa gatal di wajahnya semakin terasa, sementara beberapa bagian kulitnya mulai memerah. Ia hanya berharap alerginya tidak semakin parah sebelum akad selesai.
Cepi menyela. "Jangan sampai acaranya tertunda. Semua orang sudah menunggu."
Nada suaranya terdengar biasa, namun di dalam hati, Cepi justru merasa lega. "Bagus. Dengan wajah kayak gitu, mana mungkin cucu Pak Wicaksono tertarik pada Aynara?
Caca yang duduk di sebelah Aynara malah mengeluarkan ponselnya. Ia menatap wajah kakaknya beberapa detik, lalu matanya berbinar. "Kak..."
Aynara menoleh. "Hmm?"
"Ini bisa jadi konten." Caca membuka kunci layar ponselnya.
Aynara mengerutkan kening. "Konten apa?"
Caca sudah membuka kamera ponselnya. "Pengantin kena alergi di hari pernikahan. Dramatis banget."
Tangannya hampir mengarahkan kamera kepada Aynara.
"Jangan!" Suara Jayadi langsung membuat Caca terkejut.
Caca menurunkan ponselnya. "Kenapa, Yah?"
"Jangan bikin konten tentang ini." Nada suara Jayadi penuh peringatan.
Caca tampak tak setuju. "Tapi kan—"
"Ini hari pernikahan kakakmu." Jayadi menatap Caca serius. "Kalau kamu unggah wajah Aynara kayak gini, yang malu bukan cuma kakakmu. Keluarga kita juga. Apalagi Pak Wicaksono."
Caca mengerucutkan bibir. "Kan cuma konten."
"Justru karena cuma konten, jangan sampai kamu menganggapnya sepele." Jayadi menghela napas. "Kita sedang menjadi tamu keluarga Wicaksono. Jaga sikap."
Caca akhirnya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Iya..."
Aynara hanya diam. Ia semakin tidak nyaman, bukan hanya karena alerginya. Tetapi karena sebentar lagi ia harus berdiri di hadapan pria yang tidak pernah ia pilih.
Jayadi kemudian membuka pintu mobil. "Sudah. Kita keluar."
Mereka turun satu per satu.
Aynara menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah mengikuti keluarganya.
Di dalam ruangan, persiapan akad sudah selesai.
Wicaksono duduk dengan tongkat di sampingnya. Meski tubuhnya sudah tidak muda, posturnya masih tegap dan sorot matanya tetap tajam.
Asti duduk di samping Wicaksono, wanita itu melirik putranya dan juga pintu masuk bergantian.
Sementara Aksa tampak tidak bersemangat dengan jas yang dikenakannya. Ia bahkan beberapa kali melirik jam tangannya.
"Kenapa lama banget sih?" gumamnya.
Namun, suara langkah dari arah pintu membuat Wicaksono mengangkat wajah. Asti ikut menoleh. Aksa pun akhirnya melihat ke arah yang sama.
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua yang dimulai tanpa cinta akan berakhir tanpa makna. Terkadang, takdir mempertemukan dua orang melalui jalan yang sama-sama tidak mereka inginkan."...
..."Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya, tetapi setiap pilihan juga memiliki konsekuensi. Jangan sampai kita baru belajar bertanggung jawab setelah kehilangan sesuatu yang berharga."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.