Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New campus, new friends
Suasana ruang tamu rumah Oma terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk kehidupan di luar sana. Sore itu, sinar matahari jingga menyusup melalui celah gorden, menyinari debu-debu halus yang menari di udara. Suara presenter berita dari televisi tabung tua di sudut ruangan menggema pelan, namun tidak benar-benar disimak oleh dua orang yang duduk di atas sofa beludru berwarna krem itu.
Aera duduk dengan kaki ditekuk, memeluk lututnya sendiri. Pandangannya kosong, tertuju pada layar televisi, meski pikirannya melayang jauh entah ke mana. Di sebelahnya, Oma, wanita paruh baya dengan garis wajah yang tegas namun menyimpan kelembutan di matanya, sesekali menyeruput teh hangat dari cangkir porselen. Aroma melati menyerbak, menenangkan, namun tidak mampu mengusir ganjalan di dada Aera.
"Aera," suara Oma memecah keheningan. Nadanya tenang, namun memiliki wibawa yang membuat Aera menoleh.
"Iya, Oma?" jawab Aera pelan.
Oma meletakkan cangkirnya di atas meja kayu. Ia menatap cucunya lekat-lekat. "Sudah masuk bulan Juli. Teman-temanmu yang lain sudah mulai sibuk mengurus pendaftaran kampus. Kamu sendiri bagaimana? Apakah sudah menentukan mau mengambil jurusan apa tahun ini?"
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, menghantam ulu hati Aera. Aera terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia tahu pertanyaan ini pasti akan datang, namun ia belum siap untuk menjawabnya dengan kejujuran yang pahit.
Aera menunduk, memainkan ujung baju tidurnya yang sedikit lusuh. "Tidak, Oma."
"Tidak? Maksudnya tidak tahu atau..."
"Aera tidak kuliah," potong Aera cepat, suaranya nyaris seperti bisikan.
Oma mengernyitkan dahi, tampak terkejut. "Apa maksudmu? Kamu lulusan terbaik di sekolahmu, Aera. Masa depanmu cerah, kenapa kamu membuang kesempatan itu?"
Aera menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang mulai membuncah di pelupuk matanya. "Papa tidak menyuruhku kuliah, Oma. Reno bilang... dia tidak punya rencana untuk membiayai kuliahku."
Nama Reno diucapkan Aera tanpa embel-embel Papa, sebuah tanda betapa renggangnya hubungan mereka. Reno adalah ayah kandung Aera. Pria itu adalah pengusaha sukses, pemilik berbagai perusahaan besar yang namanya sering terpampang di majalah bisnis. Namun, di balik tumpukan harta dan kemewahan yang ia miliki, Reno hanyalah sosok asing bagi Aera.
Sejak Reno memutuskan untuk menikah lagi dengan Belva, seorang wanita sosialita yang elegan namun dingin, segalanya berubah. Reno yang dulu hangat, yang dulu sering membawakan Aera cokelat setiap pulang kerja, seolah lenyap ditelan bumi.
Setelah kehadiran Belva, Reno berubah menjadi pria yang sangat dingin, menjaga jarak, dan seolah menganggap Aera adalah beban dalam hidup barunya yang sempurna. Rumah megah milik Reno kini terasa seperti penjara dingin bagi Aera, di mana setiap kata-kata yang keluar dari mulut Reno hanyalah perintah dingin atau kritik tajam. Reno tidak peduli pada apa yang Aera inginkan, baginya, selama Aera tidak membuat keributan, itu sudah cukup.
Mendengar penjelasan Aera, rahang Oma mengeras. Oma tidak langsung memarahi, ia hanya menghela napas panjang. "Jadi, selama ini dia tidak memedulikan masa depanmu? Dia terlalu sibuk dengan istri barunya sampai lupa bahwa ia punya tanggung jawab?"
Aera tidak menjawab. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak ingin mengadu, namun kenyataan bahwa ia harus memendam mimpinya untuk kuliah demi mengikuti kemauan sang ayah—atau lebih tepatnya, ketiadaan kepedulian sang ayah—terasa begitu menyakitkan.
Oma bergeser, mendekat ke arah Aera. Tangan keriputnya yang hangat mengusap bahu cucunya dengan lembut. "Dengar, Aera. Oma tidak akan membiarkan ini terjadi. Kalau Reno tidak mau membiayaimu, biar Oma yang turun tangan. Kamu adalah cucu kesayangan Oma, dan kamu punya otak yang cemerlang. Kamu tidak pantas hanya diam di rumah atau melakukan pekerjaan rendahan."
Oma berdiri, berjalan menuju laci meja di sudut ruangan dan mengambil sebuah brosur tebal dengan desain eksklusif yang tampak sangat mewah. Ia kembali ke sofa dan menyerahkannya kepada Aera.
"Lihat ini," kata Oma dengan tatapan penuh keyakinan.
"Universitas Nusantara Bangsa. Ini adalah fakultas bisnis dan hubungan internasional terbaik di negeri ini. Biayanya? Jangan tanya. Sangat mahal. Kampus ini adalah tempat berkumpulnya anak-anak dari kalangan elite, pewaris perusahaan besar, dan anak-anak pejabat yang memegang pengaruh. Mereka tidak hanya belajar, tapi membangun jaringan yang akan menentukan posisi mereka di masa depan."
Aera menerima brosur itu dengan tangan gemetar. Kertasnya halus, dengan lambang universitas yang terukir emas di sudutnya. Foto-foto di dalamnya menampilkan gedung kampus yang megah, fasilitas yang setara dengan hotel bintang lima, dan para mahasiswa yang tampak begitu percaya diri dan berkelas.
"Oma... ini terlalu berlebihan," ujar Aera ragu. "Aku tidak akan bisa bergaul dengan mereka. Mereka semua anak-anak kaya raya. Aku... aku hanya orang biasa di mata mereka."
Oma tersenyum tipis. "Justru karena itulah kamu harus masuk ke sana. Biarkan mereka melihat bahwa meskipun kamu berasal dari keluarga yang tidak lagi menghargaimu, kamu punya harga diri dan kecerdasan yang tidak bisa mereka beli dengan uang. Oma punya tabungan pribadi, hasil dari warisan kakekmu yang cukup untuk membiayaimu sampai lulus. Reno mungkin tidak peduli, tapi Oma akan memastikan kamu menjadi seseorang yang nantinya justru akan membuat Reno menyesal karena pernah meremehkanmu."
Aera tertegun. Tawaran itu bukan sekadar tawaran untuk kuliah, melainkan sebuah tiket untuk mengubah nasib. Namun, di balik tawaran itu, ada beban berat yang akan ia pikul. Memasuki lingkungan yang sangat elitis, di tengah orang-orang yang terbiasa dengan kemewahan dan kesombongan, bukanlah hal yang mudah bagi seorang gadis yang selama ini hidup dalam bayang-bayang kesedihan.
"Apakah Oma yakin?" tanya Aera, menatap wajah Oma yang tampak sangat serius.
"Sangat yakin," jawab Oma mantap. "Kamu hanya perlu belajar, Aera. Tunjukkan pada mereka, dan tunjukkan pada Papa-mu, bahwa Aera adalah berlian yang selama ini ia sia-siakan di dalam lumpur."
...----------------...
Malam itu, Aera tidak bisa tidur. Di dalam kamarnya yang tenang, ia memandangi brosur universitas tersebut di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Perasaan takut bercampur dengan rasa penasaran dan sedikit rasa dendam yang terselip. Reno mungkin telah membuangnya dari daftar prioritas, namun Oma memberinya sebuah kesempatan baru.
Ia membayangkan dirinya melangkah di lorong kampus yang megah itu, dengan buku-buku di pelukannya. Ia membayangkan bagaimana rasanya berada di antara orang-orang yang memiliki segalanya, namun tetap berdiri tegak dengan kecerdasannya sendiri.
Ini bukan sekadar tentang kuliah. Ini tentang pembuktian. Jika memang Reno tidak ingin menganggapnya sebagai bagian dari hidup, maka Aera akan membuktikan bahwa ia bisa menciptakan hidupnya sendiri, jauh lebih indah dan jauh lebih berharga daripada apa yang bisa diberikan oleh ayahnya yang dingin itu.
Aera menarik napas panjang, menatap brosur itu sekali lagi, lalu memejamkan mata dengan tekad yang baru. Hari esok akan menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang, di mana ia akan melangkah keluar dari rumah yang dingin, menuju masa depan yang mungkin penuh dengan tantangan, namun setidaknya, masa depan itu akan menjadi miliknya sendiri.
...----------------...
Matahari pagi menyapa dengan hangat melalui jendela kamar yang luas di kediaman Oma. Kamar ini jauh lebih nyaman daripada kamar Aera yang dulu—penuh dengan kenangan dingin dan tekanan dari ayahnya. Sekarang, Aera tinggal di sebuah hunian mewah milik sang Oma, wanita anggun yang menyambutnya dengan tangan terbuka setelah Aera diusir dari rumah ayahnya beberapa minggu lalu.
Hari ini adalah hari pertama Aera sebagai mahasiswi baru di Universitas Nusantara Bangsa (UNB). Kampus ini dikenal sangat prestisius, luas, dan memiliki arsitektur yang megah. Aera merapikan seragam kampusnya di depan cermin, menghela napas panjang untuk meyakinkan diri.
"Kamu bisa, Aera. Ini hidupmu sekarang," bisiknya pada diri sendiri.
Sesampainya di lobi utama UNB, suasana sangat ramai. Mahasiswa baru berlalu-lalang mencari gedung fakultas mereka. Aera mencoba menavigasi dirinya melalui kerumunan, namun ia sempat tertegun saat melihat segerombolan mahasiswa yang tampak begitu dominan di koridor.
Ada empat pria yang berjalan beriringan, menarik perhatian hampir semua orang di lobi. Mereka adalah geng Alaxtar yang melegenda di kampus ini. Leo, Wain, Davin, dan Zayyan.
Mata Aera membelalak. Ia mengenali salah satu dari mereka. Pria yang memimpin jalan, dengan aura dingin namun berwibawa, adalah Leo. Laki-laki yang sama yang tidak sengaja menabrak Aera beberapa minggu lalu, dan justru menjadi sosok yang membantunya saat ia benar-benar terpuruk setelah diusir oleh ayahnya.
Bukan sekadar kebetulan, pikir Aera, jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menunduk, berharap tidak terlihat, namun terlambat. Leo berhenti melangkah, matanya menangkap sosok Aera di antara kerumunan mahasiswa baru.
"Woi, Leo! Kok berhenti? Lo mau jadi patung selamat datang di lobi?" seru Zayyan dengan nada jenaka, memecah ketegangan.
Davin yang berada di sampingnya menepuk pundak Leo. "Biasa, dia lagi nunggu wangsit dari langit, Yan. Atau mungkin dia lagi nyari jodoh yang nyasar di antara maba-maba ini."
Wain terkekeh, menyambar ponselnya. "Eh, liat deh, maba tahun ini kayaknya lebih banyak yang aesthetic ya. Tapi kok tatapan mata sang kapten kita tertuju pada satu titik? Apakah itu tanda-tanda jatuh cinta pada pandangan kedua?"
Leo hanya memutar bola matanya malas, tidak menanggapi lelucon ketiga sahabatnya itu. Ia justru melangkah santai menuju arah Aera, meninggalkan gengnya yang masih sibuk berdebat soal siapa yang paling tampan di antara mereka.
"Lo..." sapa Leo singkat saat sudah berdiri di depan Aera. Nadanya datar, namun ada kilatan keterkejutan di matanya. "Ternyata beneran lo kuliah di sini?"
Aera terpaku, "Iya... aku maba jurusan Manajemen. Kamu... kamu kuliah di sini?"
Zayyan, Davin, dan Wain perlahan mendekat, rasa penasaran terpancar jelas di wajah mereka.
"Wah, wah, wah!" seru Zayyan sambil menunjuk-nunjuk Aera dan Leo bergantian. "Ternyata sang pemimpin kita punya rahasia? Siapa dia, Leo? Kenapa kita nggak dikenalin?"
"Namanya Aera," celetuk Wain dengan gaya sok kenal. "Halo Aera, kenalin gue Wain, si paling ganteng se-Fakultas Teknik. Jangan dengerin si Zayyan, dia itu aslinya cuma admin akun gosip kampus."
"Gue Davin," tambah Davin dengan senyum ramah. "Kalau si Leo ini emang mukanya aja yang galak, hatinya mah... ya gitu deh, sering nolong cewek-cewek tapi gengsi ngakuin."
"Diem lo semua," potong Leo tajam, meski wajahnya sedikit memerah.
Aera tersenyum tipis, merasa sedikit lebih tenang. Ternyata geng Alaxtar tidak seseram yang ia bayangkan—mereka justru sangat berisik dan konyol.
"Makasih buat yang waktu itu," bisik Aera pada Leo, mengabaikan ocehan Zayyan yang sedang memprotes Davin karena dibilang admin gosip.
Leo mengangguk pelan. "Anggap aja impas karena gue nabrak lo waktu itu. Sekarang, karena lo maba, jangan bikin masalah. Kampus ini... lumayan menantang."
"Tentu," jawab Aera mantap.
Di koridor Universitas Nusantara Bangsa yang megah itu, Aera menyadari satu hal. Masa lalunya yang menyakitkan mungkin tertinggal di rumah sang ayah, namun masa depannya baru saja dimulai. Dan entah bagaimana, sosok Leo dan geng Alaxtar yang konyol ini akan menjadi bagian dari babak baru kehidupannya.
Aera melangkah menjauh menuju kelas pertamanya, meninggalkan geng Alaxtar yang masih sibuk berdebat tentang siapa yang harus mentraktir kopi pagi ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aera merasa memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri.
Setelah pertemuan singkat di lobi yang berakhir dengan keributan kecil dari geng Alaxtar, Aera melangkah menjauh. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya yang berpacu akibat keterkejutan. Universitas Nusantara Bangsa (UNB) terasa begitu luas, hampir seperti labirin yang menelan siapa saja yang tidak memiliki tujuan jelas. Namun, kenyataan bahwa Leo—laki-laki yang sempat menolongnya di tengah kehancuran hidupnya saat diusir dari rumah—ternyata berada di universitas yang sama, memberikan rasa aman yang aneh di hatinya.
Aera menatap gedung fakultasnya. Di rumah Oma, ia merasa tenang karena fasilitas yang disediakan sangat lengkap. Oma memang selalu memastikan Aera memiliki segalanya untuk memulai hidup baru. Namun, di sini, di tengah hiruk-pikuk mahasiswa, ia kembali merasa menjadi dirinya sendiri. Aera yang mencoba membangun dunia tanpa bayang-bayang ayahnya.
Baru saja ia akan memasuki ruang kelas, suara langkah kaki yang tergesa-gesa diikuti oleh tawa yang familiar menghentikannya.
"Woi, Aera! Tunggu!" Zayyan berlari kecil menyusulnya, diikuti Wain dan Davin. Leo berjalan beberapa langkah di belakang mereka dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana, wajahnya tetap datar namun matanya mengikuti pergerakan Aera.
Aera memutar tubuh, menatap bingung. "Ada apa?"
"Gini, Aera. Berhubung lo anak baru, dan kebetulan lo kenal sama pemimpin kita yang galak ini," Zayyan menunjuk Leo dengan dagunya, "kita berempat sepakat kalau lo harus dapet bimbingan khusus dari kita. Terutama dari gue, karena gue kan bendahara di sini."
"Bendahara apa?" tanya Aera heran.
"Bendahara hati yang terluka," Wain menyambar cepat, memancing tawa dari Davin. "Jangan didengerin, Aera. Zayyan itu cuma baperan karena kemarin baru diputusin sama dosen pembimbingnya karena terlalu sering curhat soal kucing."
"Kucing gue itu lucu, ya! Namanya Mochi!" seru Zayyan tidak terima. "Lagian, Aera, jangan mau temenan sama Wain. Dia kalau ngomong suka ngelantur. Kemarin dia bahkan nawarin diri buat jadi dosen tamu padahal tugas akhir aja masih nyangkut di semester lima."
Aera tidak bisa menahan senyumnya. Pertengkaran kecil yang konyol ini entah mengapa membuatnya merasa lebih santai. "Kalian selalu begini?"
"Setiap hari," jawab Leo tiba-tiba. Suaranya rendah dan efektif menghentikan perdebatan konyol Zayyan dan Wain. "Mereka cuma kumpulan orang kurang kerjaan yang kebetulan punya hobi berisik. Jangan dimasukkan ke hati."
Davin terkekeh, menepuk bahu Leo. "Galak-galak perhatian juga akhirnya. Udah, Aera, jangan dengerin dia. Leo itu sebenernya cuma takut kehilangan pesonanya kalau lo lebih sering ngobrol sama kita daripada sama dia."
Leo melempar tatapan tajam ke arah Davin, yang dibalas dengan cengiran tanpa dosa. Aera merasakan kehangatan di dadanya. Kehidupan di rumah Oma memang nyaman secara fisik, tetapi di sini, di tengah-tengah orang-orang aneh dan berisik ini, Aera merasa mulai menemukan rumah dalam bentuk lain—sebuah komunitas.
"Terima kasih sudah mengejar saya," ujar Aera pelan, menatap Leo sejenak. "Tapi saya benar-benar harus masuk ke kelas sekarang. Dosennya sudah mau masuk."
"Oalah, iya! Kelas Manajemen ya?" Wain bertepuk tangan. "Kalau gitu, nanti istirahat kita bareng ya! Kita tunjukin kantin yang paling enak di UNB. Kalau lo mau kopi, jangan beli di kantin depan, kopinya rasa air rendaman sepatu."
"Wah, lo pernah minum air rendaman sepatu, Win?" tanya Zayyan dengan wajah polos yang dibuat-buat. "Pantesan selera lo aneh."
Aera tertawa kecil, melambaikan tangan sebelum berbalik dan berjalan masuk ke kelas. Di balik pintu kelas yang tertutup, ia menarik napas dalam-dalam. Kehidupan kuliah tidak akan mudah, ia tahu itu. Masih ada bayang-bayang luka di rumah sang ayah yang sewaktu-waktu bisa kembali menghantui. Namun, memiliki teman seperti geng Alaxtar dan ketenangan di rumah Oma membuatnya merasa bahwa ia mampu menghadapi apa pun yang akan terjadi ke depannya.
Setelah kelas berakhir, Aera keluar dengan perasaan lega. Tugas-tugas masa orientasi memang menumpuk, tetapi itu adalah tugasnya sendiri—bukan tugas untuk memuaskan ekspektasi ayahnya yang dingin. Ia berjalan menuju area taman kampus, tempat di mana geng Alaxtar biasanya berkumpul.
Dari kejauhan, ia sudah bisa mendengar suara Zayyan yang menggelegar.
"Sumpah, gue yakin banget kalau itu dosen bakal kasih tugas yang bikin kepala pecah! Kemarin aja dia ngomongin tentang ekonomi makro kayak lagi baca mantra!"
Davin menanggapi dengan nada tenang, "Makanya, dengerin kalau orang ngomong, jangan malah sibuk ngajak dosennya selfie."
"Gue nggak ngajak selfie! Gue cuma bilang fotonya bagus di PowerPoint-nya!" bela Zayyan.
Aera berjalan mendekat, menyapa mereka dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. "Lagi bahas apa sih, serius banget?"
Keempat pria itu menoleh. Leo yang sedari tadi hanya diam dan menatap layar ponselnya, kini menyimpan ponselnya ke dalam saku. Ia berdiri, menatap Aera dengan ekspresi yang lebih lembut dari pertemuan sebelumnya.
"Bahas nasib," jawab Leo singkat. "Zayyan mau jadi influencer pendidikan, tapi dia bahkan nggak tahu bedanya inflasi sama deflasi."
"Hey! Itu fitnah keji!" Zayyan berseru, membuat orang-orang di sekitar taman menoleh ke arah mereka.
Aera terkekeh, duduk di bangku taman yang kosong di samping Davin. "Kalian benar-benar tidak bisa sehari saja tanpa ribut ya?"
"Kalau sehari tanpa ribut, dunia ini bakal kiamat, Aera," Wain menjawab dengan nada dramatis, meletakkan tangan di dada. "Ini adalah bentuk kasih sayang kami. Kami ribut supaya kalian tahu bahwa kami masih hidup."
"Lebay banget," cibir Leo, namun sudut bibirnya tampak sedikit terangkat.
Percakapan mengalir panjang di antara mereka. Aera bercerita sedikit tentang kesulitannya beradaptasi di lingkungan baru, meskipun ia tidak menyinggung masalah di rumah ayahnya. Ia tahu, meskipun ia belum sepenuhnya mengenal mereka, ia bisa mempercayai kehadiran mereka di masa-masa sulitnya nanti.