NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Tangan di Pinggang

"Dia siapa?"

Bentley bergerak meninggalkan SCBD dan segera terjebak arus petang di Jalan Sudirman. Lampu rem merah memanjang di depan mereka. Agus duduk tenang di balik kemudi, menaikkan sekat kabin tanpa diminta.

Liana memandang lengan yang memerah. "Aldi. Mantan pacar saya."

"Mantan yang mengirim bunga?"

"Ya."

"Kenapa dia merasa berhak menyentuhmu?"

"Karena selama bertahun-tahun saya membiarkannya merasa berhak atas banyak hal."

Renard menoleh penuh. "Apa maksudmu?"

Liana dapat memilih jawaban aman. Hubungan lama. Perpisahan buruk. Tidak cocok. Namun tangan pria ini baru saja menariknya keluar tanpa membuat keputusan untuknya. Setidaknya ia pantas mendapat sedikit kebenaran.

"Kami tumbuh di panti yang sama. Saya menganggap dia keluarga." Liana menarik napas. "Dia mengkhianati saya bersama orang yang paling saya percaya."

"Nadia?"

Kini giliran Liana menoleh. "Bapak tahu nama itu?"

"Agus menemukan keterkaitan mereka dalam pemeriksaan awal."

Dari depan terdengar suara Agus yang datar. "Hanya data terbuka, Mbak. Pak Renard meminta pemeriksaan risiko setelah Aldi mengirim ancaman."

"Bapak menyelidiki mantan saya tanpa memberi tahu?"

"Aku memastikan dia tidak berbahaya. Hari ini dia membuktikan sebaliknya."

"Tetap saja itu kehidupan pribadi saya."

Renard diam. Elvin sudah memperingatkan bahwa melindungi bukan memiliki. Nona Terapis menulis kalimat yang sama di telapak tangannya.

"Kamu benar," katanya akhirnya. "Seharusnya aku memberi tahu."

Permintaan maaf yang datang tanpa dipaksa membuat sisa protes Liana kehilangan ujung tajamnya.

"Apa yang mereka lakukan?" tanya Renard lebih pelan.

Liana melihat keluar jendela. Gedung-gedung bergerak lambat di balik hujan tipis. "Aldi memakai uang saya. Nadia membantu menutupi. Mereka membuat saya percaya semua masalah adalah kesalahan saya. Lebih dari itu saya belum siap ceritakan."

Ia tidak menyebut bangsal, obat, atau kematian. Kebenaran dari kehidupan pertama terlalu mustahil dan terlalu telanjang.

"Cukup," kata Renard. "Kamu tidak perlu menceritakan sisanya sekarang."

Ponsel Liana bergetar. Kepala keamanan mengirim salinan peringatan tertulis yang ditandatangani Aldi, beserta tautan aman menuju rekaman CCTV. Liana memeriksa waktu, nama petugas, dan nomor laporan internal.

"Simpan juga rekaman suaramu di dua tempat," kata Renard. "Kalau dia menghapus pesan, bukti dari ponselmu tetap ada."

"Saya sudah membuat cadangan surel."

"Bagus."

"Bapak terdengar bangga."

"Aku memang bangga."

Jawaban itu terlalu langsung. Liana menoleh, tetapi Renard tidak menariknya kembali.

"Dulu kamu akan diam?" tanyanya.

Liana memandang kompres di lengan. "Dulu saya akan meminta maaf karena membuat dia marah."

"Padahal dia yang menyentuhmu tanpa izin."

"Orang bisa dibuat percaya bahwa batasnya sendiri adalah bentuk keegoisan. Nadia pandai melakukan itu. Aldi tinggal mengulangnya."

Renard mengangkat lembar evaluasi Elvin dari tas kerja. Kertas itu sebenarnya untuk dirinya, tetapi kalimat pertamanya berlaku untuk semua orang.

Apakah dia menyetujui?

Ia menunjukkannya kepada Liana. "Dokterku memaksaku menulis ini untuk setiap kontak di luar terapi."

Liana membaca dan hampir tersenyum. "Mas Elvin dokter yang baik."

"Terlalu suka mencampuri hidup orang."

"Seperti seseorang yang saya kenal."

Renard menerima sindiran itu. "Karena itu aku sedang belajar. Kalau penyelidikanku membuatmu tidak nyaman, aku hentikan bagian yang bukan risiko keamanan."

"Jangan hentikan data publik. Saya juga sedang menyelidiki hubungan Nadia dan ibunya. Tapi semua informasi pribadi harus atas persetujuan saya."

"Setuju."

Mereka menyepakati batas seperti dua rekan menyusun kontrak. Aneh, tetapi justru itulah bentuk kepercayaan yang paling dipahami Renard.

Lampu lalu lintas berubah merah lagi. Renard melihat bekas cengkeraman di lengan Liana. Tangannya bergerak, berhenti beberapa sentimeter dari kulit.

"Boleh aku lihat?"

Liana mengangguk.

Ia menopang siku Liana dan memeriksa bekas itu tanpa menekan. Sentuhannya hati-hati, sangat berbeda dari telapak kuat yang tadi menguasai pinggangnya.

"Sakit?"

"Sedikit."

"Kita ke klinik."

"Tidak perlu."

"Kompres setidaknya."

Renard mengambil kotak pertolongan pertama dari kompartemen. Agus pasti menyimpannya untuk serangan mendadak. Ia membungkus kompres dingin dengan kain, lalu menyerahkannya kepada Liana.

"Tempel sepuluh menit."

"Bapak terdengar seperti dokter."

"Aku punya terlalu banyak teman dokter."

Liana menahan kompres. Dingin meredakan panas di kulit. "Terima kasih sudah membantu tadi."

"Seharusnya aku datang lebih cepat."

"Saya bisa menangani Aldi."

"Aku tahu." Renard menatap lurus. "Tapi kamu tidak harus selalu menangani semuanya sendirian."

Mobil hanya bergerak beberapa meter. Hujan menebal, mengetuk atap seperti jari-jari kecil. Renard mengambil payung dari samping kursi dan meletakkannya di dekat Liana.

"Bawa ini."

"Apartemen saya punya kanopi."

"Hujannya miring."

"Bapak selalu punya alasan?"

"Kalau menyangkut keselamatanmu, iya."

Liana memalingkan wajah ke jendela agar Renard tidak melihat senyum yang muncul. Bayangannya di kaca tetap mengkhianati.

"Kamu tersenyum," katanya.

"Tidak."

"Kebohonganmu buruk."

"Saya belajar dari Bapak."

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kantor, Renard tertawa pelan.

Kalimat itu masuk ke ruang dalam diri Liana yang paling lama dikunci. Sejak kecil, mandiri bukan pilihan. Ia belajar tidak meminta karena takut ditinggalkan setelah merepotkan orang. Aldi memanfaatkan ketakutan itu. Renard justru menawarkan bantuan tanpa menyebutnya utang.

"Kalau dia mencarimu lagi," ujar Renard, "beri tahu aku."

Nadanya terdengar seperti perintah, tetapi mata gelap itu menyimpan sesuatu yang hampir menyerupai permohonan.

"Saya akan memberi tahu security dan menyimpan bukti."

"Dan aku."

Liana menatapnya.

"Beri tahu aku juga," ulang Renard.

"Baik."

Satu kata itu mengendurkan bahunya.

Mobil berhenti di depan bangunan apartemen Liana di Kuningan. Renard turun lebih dulu meski hujan belum berhenti. Ia membuka payung dan menunggu Liana keluar.

"Saya bisa jalan sendiri."

"Lantainya licin."

"Itu alasan yang buruk."

"Tetap berjalan di bawah payung."

Mereka sampai di pintu lobi. Renard baru kembali setelah Liana memindai kartu akses dan berdiri aman di dalam.

"Hati-hati," katanya.

Liana mengangguk. Bentley tidak bergerak sampai pintu lift menutup di depannya.

Di dalam kabin, Renard kembali duduk. "Agus."

"Ya, Pak."

"Cari tahu soal Aldi. Hanya data legal dan terbuka. Kalau perlu informasi pribadi, minta persetujuan Liana lebih dulu."

"Baik, Pak."

Renard memandang pintu apartemen melalui kaca yang basah.

"Dan pastikan dia tidak bisa masuk ke gedung kantor lagi."

Agus mengangguk. "Daftar akses tamu akan diperbarui malam ini. Kalau Mbak Liana mencabut larangan, security menunggu instruksi tertulis darinya."

"Benar."

Renard menyandarkan kepala. Tangan yang tadi berada di pinggang Liana masih menyimpan bentuk tubuh mungil itu. Ia membuka lembar evaluasi Elvin dan menulis satu baris.

Kontak: menarik Liana dari situasi ancaman.

Persetujuan: tidak ditanyakan sebelum tindakan, dikonfirmasi sesudahnya.

Perbaikan: tanya lebih dulu jika keadaan memungkinkan.

Untuk pria yang terbiasa menilai perusahaan bernilai triliunan, tiga baris itu terasa lebih sulit daripada laporan keuangan. Namun ia menyimpannya, bukan merobeknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!