NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam hari telah tiba, di sertai kesunyian di dalam rumah Devantara.

Kamar tidur Asri dengan kehangatan, beberapa untaian lampu tumblr nampak menyala menunjukkan cahaya keemasan yang menggantung anggun di dinding.

Pendingin ruangan terpasang di dinding kanan, menghembuskan hawa dingin untuk kamar ini.

Asri terduduk dengan tatapan yang kosong di atas ranjang yang di tarik keluar dari bawah ranjang utama, tubuhnya mengenakan daster piyama bahan rayon warna biru muda, dengan motif gambar beruang cokelat kecil-kecil di sekujur kainnya.

Tangannya dengan jari-jarinya yang lentik tengah memegang handuk warna putih, untuk mengeringkan rambutnya yang panjang-----basah di biarkan terurai.

Gerakan tangan Asri terhenti lama, kedua matanya sembab menatap kosong ke depan---matanya sayu, karena pikirannya telah melayang atas kejadian tadi siang.

Kehadiran Mayor Angga yang tiba-tiba di rumahnya, telah memicu sebuah rasa histeris dalam dirinya---dan mampu memadamkan api rasa histeris itu.

Hatinya terasa meninggalkan keretakan batin baru yang amat membingungkannya, entah mengapa Asri merasa tubuhnya ada sisa-sisa dekapan dari Angga.

Hangat dan nyaman terasa masih membekas erat di pundak dan lengannya, sungguh getaran emosional yang telah menganggu kewarasannya----untuk rasa trauma---Asri tak bisa menjelaskannya lagi.

Telinganya seolah kembali mendengar suara dari Angga yang berat dan serak, kalimat-kalimat yang di ucapkan dengan penuh rasa bersalah terlontar dari mulut pria itu.

Ucapan-ucapan Angga masih berputar di kepalanya seolah kali ini menggores luka baru yang perih.

"Mbak Asri...saya kesini tak bermaksud jahat," ucap Angga sambil memeluk tubuh Asri.

"Saya minta maaf karena sudah memp*rkosa kamu, Mbak. Jika saya belum bertunangan, mungkin saya akan nikahin kamu. Tolong jangan perpanjang masalah ini," bisik Angga dengan suara parau.

Angga seolah menahan beban moral yang teramat antara korban kejahatannya sendiri, hasrat yang terpendam, sekaligus debaran di hatinya.

"Saya akan anggap Mbak Asri sebagai adik saya, dan jika Mbak Asri butuh sesuatu saya akan selalu hadir buat Mbak," lanjutnya dengan nada lirih.

Permintaan maaf Angga memang terdengar egois namun dari ucapannya sangat tulus, seolah sudah mengunci batin Asri.

Logikanya tentu mengatakan jika Angga hanya mencoba menyelamatkan karier militernya dan pertunangannya dengan anak Jendral---agar tak di seret ke pengadilan militer.

Namun, untuk kondisi psikologis yang Asri rasakan sekarang menghantam harga dirinya ke titik rendah.

Trauma yang di rasakan Asri semakin terasa, tetapi untuk pikirannya selalu memikirkan Mayor Angga----ucapannya yang akan menganggapnya saudari.

"Jadi namanya Angga...seorang Mayor TNI...," ungkapnya dengan lirih.

Asri tadi siang tak banyak bicara dengan Angga, dirinya akan pergi menjauh dari negara ini----untuk melupakan semua yang terjadi atas dirinya, dan malam-malam mengerikan di dalam kamar hotel itu.

"Ya allah apa yang terjadi pada hamba, kenapa pikiran hamba memikirkan pria yang sudah merusak masa depan hamba...dan apa yang terjadi dengan hati hamba," ucap Asri dalam hatinya.

Asri memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, pria yang sudah merusak masa depannya dengan merenggut kesuciannya---haruskah Asri berdamai dengannya.

Sungguh Asri di posisi hina dan bodoh, pria itu justru menganggapnya sebagai adik---jujur saja Asri akan pergi ke luar negeri sampai pria itu, setidaknya menikah dengan tunangannya.

"Ya allah bantu hamba...hamba ingin sekali pergi dari sini...hamba tak mau merusak rencana pernikahan orang lain," lanjut Asri dalam hatinya.

Tangan Asri meremas handuk putih itu yang terletak di pundaknya, berusaha menahan isak tangis yang kembali menyumbat tenggorokannya.

"Kok bisa ya gua ngerasa nyaman dari orang yang udah p*rkosa gua," pikirnya.

Ini sungguh kondisi emosional yang tak logis, perlahan-lahan terasa bagai racun yang akan merusak kewarasannya.

Kondisi siksa batin yang di alami Asri, sangat kontras dengan kesibukkan yang di jalani Putri.

Putri tengah duduk di depan meja belajar kayu yang minimalis, dengan kursi yang terbuat dari plastik warna cokelat.

Mata wanita itu tengah fokus pada layar laptop miliknya yang menyala terang.

Putri duduk tegak di kursi terbuat dari plastik warna cokelat, dengan tubuh mengenakan kaos lengan pendek warna peach, bawahnya mengenakan celana pendek santai motif garis-garis vertikal perpaduan warna biru tua dan putih.

Malam ini Putri harus menyelesaikan penyusunan draft soal ujian, karena dirinya adalah kepala yayasan.

Pekerjaannya harus selesai dalam tenggat waktu besok pagi, jemarinya sedang sibuk mengetik di atas keyboard.

Di samping laptopnya, tumpukan buku referensi tebal dan sebuah jam beker klasik berwarna hitam berjejer rapi di atas meja konter kayu.

Putri tiba-tiba kehilangan fokus sepenuhnya, lalu fokusnya teralih kepada sepupunya yang terduduk diam di atas kasur.

Wanita itu merasa heran, karena sejak tadi sore ada sesuatu yang terasa ganjal pada Asri.

Asri yang biasanya sudah menunjukkan bisa bangkit dari keterpurukannya kini kembali diam, tanpa ekspresi seperti memikirkan sesuatu.

Sepupunya ini hanya duduk dengan tatapan mata yang kosong.

Seketika Putri menghentikan aktivitas mengetik di atas keyboardnya, memutar tubuhnya ke samping lalu menatap Asri dengan lekat.

Asri tangannya masih sibuk memegang handuk mengeringkan rambutnya, padahal rambutnya sudah cukup kering.

"As..." panggil Putri lembut, memecah keheningan kamar dengan nada suara yang penuh rasa khawatir yang mendalam.

Putri melihat ada yang tak beres dalam diri Asri.

Lalu Asri tersentak kecil mendengar panggilan dari sepupunya, perlahan menoleh ke arah Putri di depannya.

"Lu kenapa sih? Gua perhatiin dari tadi gua balik rumah melamun mulu," ujar Putri.

Asri hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya lemah, seolah ada yang di sembunyikan dari Putri.

"Cerita napa...jangan lu pendem begini," ucap Putri.

"Kagak ada Put, gua cuman lagi mikir visa yang belum jadi," jawabnya singkat dengan kebohongan.

Putri hanya menghela napas panjang, lalu menatap lekat sepupunya.

"Ya lu coba hubungin pihak perwakilan konsulat resmi Kedutaan Inggris," ujar Putri.

Asri lalu berdiri menaruh handuknya di gantungan, dan meninggalkan Putri agar lebih fokus.

"Ada aja tuh anak," kata Putri melanjutkan kesibukannya.

Sementara Asri ke atas balkon, dirinya merasa angin malam menerpa wajahnya----pikirannya sedang tak menentu, selalu memikirkan soal kejadian tadi siang.

Satu kata untuk Asri, bodoh dan hina----bagaimana bisa dirinya memikirkan pria yang sudah menodainya.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!