NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skakmat

Gwen sudah sembuh total ketika Madoc kembali menagih janjinya, membawa papan catur lipat kecil yang dia beli sendiri tiga hari sebelumnya dari toko mainan dekat kantor.

"Ini buat apa, Pak?" tanyanya, waktu Madoc meletakkan kotak itu di mejanya Jumat sore, setelah rapat progress Meridian yang berjalan lancar tanpa drama tambahan.

"Latihan," katanya, agak canggung. "Kamu bilang mau ajarin lebih lanjut. Saya beli set sendiri biar bisa latihan di rumah juga."

Gwen membuka kotak itu, memperhatikan papan lipat sederhana dengan bidak-bidak plastik ringan, jauh berbeda dari set kayu berkualitas yang biasa dia pakai di apartemennya. "Bapak beneran niat belajar, ya."

"Kenapa? Gak boleh?"

"Boleh banget," katanya, tersenyum. "Cuma gak nyangka aja Bapak seniat ini."

---

Mereka sepakat untuk sesi belajar pertama diadakan Sabtu siang, di apartemen Gwen—tempat yang menurutnya lebih nyaman untuk belajar dibanding kantor yang selalu terasa formal, meski Madoc sempat menawarkan penthouse-nya sebagai alternatif.

"Di tempat saya aja, Pak," katanya, waktu itu. "Papan catur kayu saya lebih enak dipake buat belajar, lebih gampang liat posisinya."

Madoc setuju tanpa banyak protes, meski dalam hati dia sedikit kecewa kehilangan kesempatan untuk mengundang Gwen ke tempatnya sendiri—alasan yang, kalau dipikir ulang, terasa terlalu personal untuk sekadar sesi belajar catur biasa.

Sabtu siang itu, dia datang dengan pakaian yang jauh lebih santai dari biasanya—kaos polos, celana chino, jauh dari setelan formal yang selalu jadi identitasnya di kantor.

"Wah," kata Gwen, membuka pintu, sedikit kaget melihat penampilannya. "Baru pertama kali liat Bapak gak pake kemeja."

"Ini hari libur," katanya, agak defensif. "Boleh dong pake baju santai."

"Boleh, Pak. Cuma beda aja."

---

Mereka duduk berhadapan di meja kecil dekat rak buku, papan catur kayu tersusun rapi di antara mereka, bidak-bidak putih dan hitam sudah kembali ke posisi awal.

"Oke," kata Gwen, memulai penjelasan dengan sabar, "kita mulai dari basic dulu. Bapak pegang putih, saya hitam. Putih jalan duluan."

Madoc mengangguk, mencoba mengingat penjelasan minggu lalu, dan menggerakkan pion di depan raja dua langkah ke depan—salah satu langkah pembuka paling standar yang sudah dia hafal dari video YouTube yang diam-diam dia tonton semalam suntuk demi persiapan sesi ini.

"Bagus," kata Gwen, tersenyum, membalas dengan gerakan serupa. "Udah mulai paham polanya."

Mereka lanjut bermain, dan meski Madoc sudah cukup berusaha mempersiapkan diri, tetap saja dia kesulitan mengikuti kecepatan berpikir Gwen yang sudah terlatih bertahun-tahun—setiap kali dia memikirkan satu langkah, Gwen sudah memikirkan tiga langkah lebih jauh, membangun jebakan yang baru dia sadari setelah terlambat.

"Skak," kata Gwen, di menit kesepuluh, setelah bishopnya berhasil menyudutkan raja Madoc dari sudut yang tidak dia antisipasi sama sekali.

Madoc menatap papan itu, bingung mencari jalan keluar, tapi setiap opsi yang dia pikirkan sepertinya sudah diperhitungkan lebih dulu oleh Gwen.

"Kayaknya saya kalah," katanya, akhirnya, setelah beberapa detik mencoba mencari solusi yang tidak pernah dia temukan.

"Skakmat," kata Gwen, tersenyum lebar, tidak berusaha menyembunyikan kepuasannya. "Ronde pertama Bapak kalah."

---

"Ini gimana caranya kamu bisa mikir sejauh itu," kata Madoc, menatap papan dengan campuran kagum dan frustrasi, "sementara saya masih sibuk mikirin satu langkah doang."

"Latihan, Pak. Awalnya saya juga gitu, cuma mikir satu langkah. Lama-lama otaknya kebiasa mikir lebih jauh."

"Berapa lama kamu main catur?"

"Sejak SD," katanya, mengatur ulang bidak-bidak untuk ronde berikutnya. "Bapak saya yang ajarin, waktu masih suka nunggu di terminal bus sambil dia kerja."

"Kamu selalu menang lawan dia?"

Gwen tertawa kecil, mengenang. "Enggak, dulu sering kalah. Baru bisa ngalahin dia waktu SMP. Sekarang malah dia yang jarang mau main lagi lawan saya, katanya udah gak seru karena selalu kalah."

Madoc mendengarkan cerita itu dengan seksama, menemukan dirinya semakin tertarik dengan setiap detail kecil yang dia pelajari soal kehidupan Gwen—hal-hal sederhana yang tidak pernah muncul dalam konteks kerja, tapi terasa jauh lebih berharga untuk dia ketahui dibanding laporan finansial mana pun.

"Ronde dua," kata Gwen, menyusun ulang papan. "Kali ini coba mikir dua langkah ke depan, bukan cuma satu."

---

Mereka lanjut bermain, dan meski Madoc masih kalah di ronde kedua—kali ini sedikit lebih lama bertahan, tapi tetap berakhir dengan skakmat yang tidak terhindarkan—dia menemukan dirinya menikmati setiap momen kekalahan itu dengan cara yang aneh, jauh lebih memuaskan dari kemenangan bisnis mana pun yang pernah dia rasakan sepanjang kariernya.

"Ronde tiga," katanya, bersemangat, mengatur ulang bidaknya sendiri kali ini tanpa perlu dibantu.

"Bapak yakin? Udah kalah dua kali."

"Justru itu, saya penasaran. Pasti ada cara buat ngalahin lo."

Gwen tertawa, geli dengan determinasinya. "Boleh aja dicoba, Pak."

Ronde ketiga berjalan lebih lama, Madoc mulai menerapkan beberapa trik yang dia pelajari dari kekalahan sebelumnya—mencoba melindungi rajanya lebih hati-hati, memikirkan konsekuensi setiap langkah sebelum bergerak. Untuk sesaat, dia berhasil membuat Gwen berpikir lebih lama dari biasanya, matanya menyipit fokus menganalisis papan yang mulai terlihat lebih rumit dari dua ronde sebelumnya.

"Wih," katanya, tersenyum kagum, "Bapak beneran belajar cepet."

"Masih kalah, kan?"

"Masih," katanya, jujur, tapi nadanya penuh apresiasi, "tapi udah jauh lebih baik dari tadi."

Sepuluh menit kemudian, permainan itu tetap berakhir dengan kekalahan Madoc—kali ini lewat kombinasi rook dan queen yang berhasil menyudutkan rajanya di pojok papan tanpa jalan keluar.

"Skakmat lagi," kata Gwen, tapi kali ini dengan nada yang lebih hangat, penuh apresiasi terhadap perkembangan yang dia lihat dari lawannya.

---

Madoc menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap papan yang sekali lagi menunjukkan kekalahannya, tapi entah kenapa, dia tidak merasakan kekecewaan sedikit pun—justru sebaliknya, ada kepuasan aneh yang menjalar di dadanya, jenis kepuasan yang tidak pernah dia rasakan dari kemenangan bisnis apa pun.

"Saya kalah tiga kali berturut-turut," katanya, geli sendiri dengan situasinya, "tapi entah kenapa, ini lebih menyenangkan dari deal delapan puluh miliar yang saya tandatangan bulan lalu."

Gwen menatapnya, tersenyum, tidak menangkap makna lebih dalam dari kalimat itu selain sebagai pujian sederhana untuk pengalaman belajar yang menyenangkan. "Karena ini santai, Pak. Gak ada tekanan buat menang, cuma buat belajar."

"Mungkin," katanya, meski dalam hati dia tahu alasannya lebih dari sekadar itu—alasan yang berhubungan langsung dengan siapa yang duduk di depannya, bukan sekadar permainan catur itu sendiri.

Mereka duduk sejenak dalam keheningan yang nyaman, papan catur masih tersusun di antara mereka, cahaya sore yang masuk lewat jendela apartemen kecil itu menciptakan suasana hangat yang jauh berbeda dari ruang rapat kaca lantai lima belas yang biasa jadi latar belakang interaksi mereka.

"Bapak mau lanjut ronde empat?" tanya Gwen, setelah beberapa saat.

"Boleh," katanya, cepat, tidak ingin momen itu berakhir terlalu cepat. "Tapi kali ini saya beneran mau menang."

"Kita liat aja, Pak," kata Gwen, tersenyum jahil, mulai menyusun ulang bidak-bidak untuk permainan berikutnya.

---

Sore itu berlanjut dengan tiga ronde lagi—semuanya berakhir dengan kekalahan Madoc, meski setiap ronde dia bertahan sedikit lebih lama dari sebelumnya, belajar dari setiap kesalahan yang dia buat.

Gwen menikmati setiap sesi itu dengan tulus, senang menemukan seseorang yang cukup antusias belajar hobinya, natural dalam interaksinya tanpa sadar bahwa sore itu, bagi orang yang duduk di seberangnya, terasa jauh lebih berarti dari sekadar sesi belajar catur biasa.

Ketika akhirnya mereka berhenti, matahari sudah mulai terbenam, dan Madoc harus pamit untuk urusan lain yang sudah lama dia jadwalkan.

"Makasih buat harinya," katanya, di depan pintu, tulus. "Ini... salah satu Sabtu paling menyenangkan yang saya inget."

"Sama-sama, Pak. Seneng ada yang mau belajar."

"Kalah enam kali berturut-turut," katanya, tertawa kecil, "tapi entah kenapa saya udah gak sabar nunggu ronde ketujuh."

Gwen tertawa, mengantarnya sampai depan pintu, tidak sepenuhnya menyadari betapa kalimat sederhana itu menyimpan makna yang jauh lebih dalam—bukan cuma soal catur, tapi soal seberapa besar dia sudah menunggu setiap kesempatan untuk kembali lagi, duduk berhadapan dengannya di ruangan kecil yang penuh rak buku itu, menikmati kekalahan demi kekalahan yang, entah bagaimana, terasa jauh lebih berharga dari kemenangan apa pun yang pernah dia raih sepanjang hidupnya.

1
Yeni Puspitasari
ekspektasi yg terkurung oleh data, angka dan strategi ya madoc
Maseni Maseni
benar apa kata gwen... madoc harus bisa hidup sebagai dirinya sendiri
perjuangkan kebahagiaan sendirj bukan karena ekspektasi orang lain sekalipun itu ibumu

madoc kalau masih ragu... cerita ma sepupumu aja
lajut kak
Maseni Maseni
kasihan tuh CEO.... jatuh cinta sendirian di usia 34 belum lagi standart dan ego keluarga yg setnggi langit

untung gwen ga baperan dan cuek jadi ga perlu sakit ati karena cinta

hayo mau perjuangin cinta apa membujang seumur hidup????
lanjut kak
Maseni Maseni
kasihan sekali tuh CEO......citanya kepentok restu momy

hayoooo mau mengejar cinta dgn segala risikonya apa mau membujang seumur hidup demi ego sang ibu yg kriteria istri madoc standartnya ketinggian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!