Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Dua bulan sudah berlalu sejak Annisa menginjakkan kaki di kediaman megah itu. Hari‑harinya berjalan teratur, penuh kewaspadaan, namun juga membawa hasil yang sangat berarti. Setiap bulan, begitu gajinya diterima, ia segera menyetorkannya ke rekening keluarga di tanah air. Sebagian besar untuk membiayai sekolah adiknya yang kini duduk di kelas tiga SMA, dan sisanya khusus disisihkan untuk biaya cuci darah ibunya yang menderita gagal ginjal sejak setahun lalu.
“Bersyukurlah, Annisa. Meski berat, setidaknya kamu bisa membantu mereka,” bisiknya dalam hati setiap kali mengirim uang, merasa sedikit lega meski rindu membuncah di dada.
Sore itu, suasana di dalam rumah terasa lebih hening dari biasanya. Angin sore berhembus lembut masuk lewat celah jendela, membawa aroma bunga taman yang baru disiram. Annisa sedang membersihkan debu di sudut ruang tamu dalam kamar utama, bergerak perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Namun tiba‑tiba, ketenangan itu pecah. Dari arah ruang kerja terdengar suara teriakan yang menggelegar, keras dan penuh amarah yang meledak.
“Dasar wanita tidak tahu diri! Berani‑beraninya kau bermain di belakangku!”
Suara itu milik Chensi. Annisa tertegun, tangannya berhenti bergerak. Ia mendengar jelas bagaimana nada bicara lelaki itu berubah menjadi sangat tajam saat berbicara lewat telepon.
“Kau pikir aku tidak tahu? Semua gerak‑gerikmu sudah terpantau jelas. Cukup main sandiwaranya itu!” Chensi berhenti bicara sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin dan mengerikan. “Katakan pada laki‑laki rendahan itu… karena sudah berani menyentuh milikku, patahkan saja kedua kakinya dan tangannya. Biar dia tidak bisa berjalan atau memegang apa pun lagi seumur hidupnya. Pastikan dia mengerti siapa yang telah dia lawan!”
Mendengar kalimat terakhir itu, darah seolah berhenti mengalir di tubuh Annisa. Jantungnya berdegup kencang, kakinya terasa lemas dan seolah terpaku di tempat. Ia tidak menyangka amarah Chensi bisa sekejam itu—memutuskan nasib orang lain dengan begitu mudah, seolah nyawa dan tubuh manusia hanyalah benda yang bisa diatur sesuka hati.
Karena kaget dan terkejut luar biasa, tangannya yang memegang kain lap tanpa sadar menyenggol patung hiasan yang terbuat dari porselen mahal berbentuk dewa keberuntungan.
“Praaang!”
Patung itu terjatuh dan pecah berkeping‑keping di lantai, menimbulkan suara keras yang memecah keheningan.
Chensi langsung melempar ponselnya ke meja, lalu melangkah keluar dengan rahang mengeras dan mata menyala marah. Saat melihat pecahan patung di lantai dan Annisa yang berdiri pucat pasi, wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” bentaknya sekuat tenaga.
Annisa mundur tergesa, wajahnya memucat, matanya berkaca‑kaca karena takut. “Maafkan saya, Tuan… saya tidak sengaja. Saya terkejut, jadi tidak sadar…”
Chensi melangkah mendekat dengan langkah berat. Tangannya terkepal kuat, urat di lehernya menonjol jelas. Ia sudah terbiasa menghukum siapa pun yang melakukan kesalahan, dan dalam keadaan marah sebesar ini, ia ingin sekali melayangkan tinju atau tamparan keras ke wajah gadis itu untuk melampiaskan kekesalannya.
Namun saat ia sudah berdiri tepat di hadapan Annisa, dan matanya bertemu dengan tatapan wanita itu—tatapan yang penuh ketakutan namun tetap teduh, tidak ada rasa benci atau tantangan, hanya kepasrahan—tiba‑tiba kekuatan di tangannya seolah hilang. Niat untuk memukulnya seketika urung begitu saja. Ada rasa berat yang tiba‑tiba menyelimuti hatinya, membuatnya tidak sanggup melukai sosok lemah itu.
Dengan gerakan kasar karena menahan amarah yang belum habis, Chensi memutar tubuhnya, lalu mengambil asbak rokok yang terbuat dari kristal di meja sebelah. Tanpa berpikir panjang, ia membantingnya sekuat tenaga ke lantai.
“BRAK!”
Asbak itu pecah berkeping‑keping, berserakan di lantai. Suara itu membuat Annisa terkejut lagi, namun ia lega bukan dirinya yang menjadi sasaran amarah itu.
“Bersihkan semua ini sekarang juga! Kalau sampai ada serpihan yang tertinggal dan melukai siapa pun, kau akan tahu akibatnya!” bentak Chensi lagi, namun kali ini nadanya sudah tidak sepenuhnya penuh amarah, melainkan bercampur dengan rasa bingung pada dirinya sendiri.
“B-aik, Tuan. Saya segera bersihkan. Maafkan saya sekali lagi,” jawab Annisa lirih, segera berjongkok dan mulai mengumpulkan pecahan dengan hati‑hati, tangan masih gemetar hebat.
Chensi berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung Annisa yang membungkuk. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, masih bingung dengan perasaannya sendiri.
“Kenapa aku tidak bisa memarahinya sampai habis? Kenapa aku tidak sanggup menyakiti dia? Padahal kesalahannya jelas dan aku sedang sangat marah…” gumamnya dalam hati, merasa kalah pada perasaannya sendiri.
Tanpa menunggu lebih lama, Chensi berbalik dan berjalan keluar kamar dengan langkah cepat, meninggalkan Annisa yang masih sibuk membersihkan sisa keributan itu—serta membawa rasa was‑was yang makin dalam menyadari betapa berbahayanya tempat ini, dan betapa anehnya sikap majikannya itu.
Sore itu juga, setelah meluapkan amarahnya di dalam kamar, Chensi langsung keluar rumah. Ia memanggil Li Wei, asisten kepercayaannya yang sudah menemaninya selama bertahun‑tahun.
“Siapkan mobil. Kita pergi ke tempat biasa,” perintahnya dengan nada datar namun terdengar sangat dingin.
Li Wei mengangguk paham. Ia tahu betul, saat majikannya meminta pergi ke tempat minum, itu artinya hatinya sedang gelisah dan amarahnya belum benar‑benar padam.
Mereka tiba di sebuah bar eksklusif yang hanya dikunjungi kalangan atas. Suasana redup, diiringi alunan musik lembut, namun Chensi tidak peduli dengan sekitarnya. Ia langsung memesan minuman keras dan meminumnya satu per satu tanpa henti.
“Tuan, jangan terlalu banyak. Nanti sakit kepala,” nasihat Li Wei dengan hati‑hati.
Chensi mendengus kasar, menuang lagi cairan ke dalam gelasnya. “Sakit kepala? Itu tidak seberapa dibandingkan rasa muak yang aku rasakan sekarang. Ailin… wanita yang aku percaya sepenuhnya. Apa pun yang dia minta, aku turuti. Rumah mewah, mobil mahal, perhiasan—semua aku berikan tanpa hitung‑hitungan. Tapi apa balasannya? Dia berani bermain di belakangku dengan laki‑laki lain!”
Wajahnya memerah bukan hanya karena alkohol, tapi juga karena rasa kecewa yang mendalam. Bagi Chensi, kepercayaan adalah hal yang paling mahal, dan pengkhianatan adalah hal yang paling tidak bisa ia maafkan.
Belum sempat Li Wei menjawab, pintu ruang khusus itu terbuka. Ailin masuk dengan wajah pucat, matanya berkaca‑kaca. Ia sudah mendengar kabar bahwa Chensi sedang berada di sini, dan ia datang dengan harapan bisa membujuk lelaki itu agar memaafkannya.
“Chensi… sayang, dengarkan aku sebentar,” panggilnya lirih, mendekat dengan langkah ragu.
Chensi mengangkat wajahnya, menatap wanita itu dengan tatapan yang sudah tidak lagi ada rasa sayang atau lembut. Hanya ada rasa dingin dan jijik yang terlihat jelas di matanya.
“Kau masih berani muncul di hadapanku?” tanyanya dengan suara rendah namun menusuk.
Ailin segera berlutut di depan meja, air matanya mulai mengalir. “Aku minta maaf, Chensi! Aku salah, aku bodoh. Itu hanya kesalahan sesaat, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, percayalah padaku!”
Chensi tertawa sinis, lalu meletakkan gelasnya perlahan. “Kesalahan sesaat? Atau memang sifat aslimu yang baru terlihat sekarang? Ingat baik‑baik, Ailin. Bagi aku, sesuatu yang sudah menjadi milikku adalah hal yang paling berharga. Tapi begitu dia disentuh, diambil, atau dijamah oleh orang lain… maka bagiku benda itu sudah tidak bernilai lagi. Sudah kotor. Sudah menjadi sampah yang tidak pantas aku simpan.”
Kata‑kata itu menusuk tepat ke hati Ailin. Wajahnya memucat, tangannya gemetar memegang ujung baju Chensi. “Tidak… jangan katakan begitu. Aku masih milikmu, hanya milikmu seorang!”
“Sudah terlambat,” potong Chensi tegas. Ia menoleh ke arah Li Wei. “Li Wei, bawa dia keluar. Usir dia dari sini. Pastikan dia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di kediamanku, di kantorku, atau di tempat mana pun yang aku kunjungi. Jangan biarkan dia muncul lagi di depan mataku. Kalau dia berani mendekat lagi, kau tahu apa yang harus dilakukan.”
Li Wei mengangguk, lalu segera mendekat dan menarik lengan Ailin. “Mari, Nona Ailin. Lebih baik Nona pergi sekarang dengan baik‑baik.”
Ailin berusaha melepaskan diri, menangis histeris. “Chensi! Jangan buang aku seperti ini! Aku masih mencintaimu!”
Namun Chensi hanya memalingkan wajahnya, meminum minumannya lagi seolah tidak mendengar suara itu. Di hatinya, ia sudah memutuskan. Wanita itu sudah tidak ada artinya lagi. Kepercayaannya yang rusak tidak akan pernah bisa diperbaiki, sekalipun dengan sejuta permintaan maaf.
Setelah Ailin ditarik keluar dan pintu ditutup kembali, Chensi menghela napas panjang. Ia merasa hampa, namun juga merasa lega karena bisa membuang beban yang ternyata beracun itu.
“Sudah selesai, Tuan. Dia sudah dibawa pergi,” lapor Li Wei pelan.
Chensi mengangguk, lalu menatap ke luar jendela yang gelap. Pikiran yang tadinya penuh amarah dan kecewa, perlahan beralih ke sosok lain yang tiba‑tiba terlintas di benaknya—Annisa.
“Berbeda sekali dengan dia… Wanita yang menjaga dirinya sendiri, tidak memamerkan apa pun, tidak meminta apa‑apa, dan tidak pernah berusaha mendekat secara berlebihan. Jika dia sudah begitu setia hanya untuk dirinya sendiri, bagaimana jadinya jika dia benar‑benar menjadi milik seseorang?”
Pikiran itu muncul lagi, membuat Chensi terdiam lama. Alkohol yang ia minum mulai bekerja, mengaburkan batas akal sehatnya dan memunculkan keinginan yang semakin kuat.
“Bawa aku pulang,” perintahnya pada Li Wei. “Aku ingin segera kembali ke rumah.”
Perjalanan pulang terasa cepat. Chensi sudah mabuk berat, pikirannya kacau, namun satu hal yang tetap teringat jelas di kepalanya: ia ingin melihat Annisa. Ia ingin memastikan bahwa wanita itu benar‑benar tetap seperti apa adanya—bersih, terjaga, dan hanya milik dirinya sendiri.
Malam itu, saat mobil memasuki gerbang kediaman, suasana sudah sepi. Hanya lampu‑lampu taman yang menyala temaram. Chensi turun dengan langkah goyah, disokong oleh Li Wei. Namun begitu sampai di depan pintu kamar utama, ia mengusir asistennya.
“Kau boleh pergi. Aku bisa berjalan sendiri,” katanya dengan suara berat.
Li Wei ragu sejenak, lalu mengangguk dan pergi setelah memastikan pintu terkunci dengan baik.
Di dalam kamar yang redup, Chensi berdiri memegang tiang tempat tidur, matanya mencari keberadaan Annisa. Ia tahu, gadis itu biasanya akan menyiapkan air hangat dan memastikan semuanya rapi sebelum beristirahat di kamar pelayan.
Dan benar saja, tidak lama kemudian pintu terbuka perlahan. Annisa masuk dengan langkah pelan, membawa nampan berisi air hangat dan handuk bersih. Ia terkejut melihat Chensi sudah berdiri di sana, wajahnya memerah, matanya sayu, dan napasnya berbau alkohol yang kuat.
“Tuan Chensi? Kenapa Tuan pulang secepat ini? Dan… Tuan minum terlalu banyak?” tanya Annisa dengan nada khawatir, namun tetap menjaga jarak aman.
Chensi menatapnya lekat‑lekat, melangkah mendekat perlahan. Tatapannya sudah tidak lagi wajar, bercampur rasa ingin tahu, kekaguman, dan keinginan yang mulai lepas kendali karena pengaruh minuman keras.
“Annisa…” panggilnya dengan suara serak, tangannya terulur seolah ingin menyentuh. “Kau… kau benar‑benar berbeda dari wanita lain, ya? Kau tidak seperti Ailin yang sudah kotor dan tidak berguna lagi…”
Annisa mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang karena merasa ada bahaya yang mengancam. “Tuan, sebaiknya Tuan segera berbaring dan istirahat. Saya akan bantu Tuan melepas sepatu dan kemejanya.”
Namun Chensi tidak mendengarkan. Ia terus melangkah mendekat, dan dalam keadaan mabuk yang mengaburkan akal sehatnya, ia mulai bertindak di luar kendali—membawa keduanya ke dalam peristiwa yang akan mengubah seluruh nasib mereka selamanya.