Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duda muda jadi target para wanita
Pagi ini suasana kantor Ages Sabiru berjalan seperti biasa.Para karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.Suara langkah kaki terdengar di sepanjang koridor.
Sementara di lantai paling atas, Ages duduk di balik meja kerjanya.Di hadapannya terdapat beberapa dokumen yang harus ia periksa.Ages membaca satu per satu berkas tersebut dengan serius.Ia bahkan tidak menyadari ketika pintu ruangannya diketuk.
"Masuk."
Pintu terbuka menampakan seorang perempuan masuk ke dalam ruangan.Perempuan itu terlihat anggun dengan pakaian formal yang sederhana.
Rambutnya tergerai rapi.Di tangannya terdapat sebuah map berisi dokumen.
"Selamat pagi, Pak Ages."
Ages mengangkat wajahnya."Selamat pagi."
Perempuan itu tersenyum."Maaf mengganggu waktunya."
"Silakan duduk."
Perempuan tersebut berjalan menuju kursi di hadapan meja Ages.
Nadira Almira perwakilan dari salah satu perusahaan yang sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan Ages.
"Saya membawa revisi kontrak kerja sama yang kemarin kita bicarakan."
Nadira menyerahkan map tersebut kepada Ages.
"Sudah disesuaikan?"
"Sudah."
Ages membuka dokumen itu dan mulai membacanya.Nadira memperhatikan Ages dalam diam.Pria itu memang dikenal sebagai seorang pengusaha sukses.Namun, ia juga dikenal sangat serius ketika bekerja.
"Pak Ages."
"Hm?"
"Bagian ini sepertinya masih perlu diperiksa lagi."
Nadira menunjuk salah satu bagian dokumen.Ages membaca bagian tersebut kemudian mengangguk.
"Benar. Nanti tim legal kami akan memeriksanya."
"Baik."
Suasana ruangan kembali hening.Namun, beberapa saat kemudian, Nadira tersenyum kecil.
"Kalau boleh saya bertanya..."
Ages mengangkat wajahnya. "Ya?"
"Pak Ages memang selalu seserius ini saat bekerja?"
Ages mengerutkan kening."Maksudnya?"
"Sepertinya Bapak tidak pernah tersenyum."
Ages terdiam.Kemudian kembali melihat dokumen."Barusan saya tersenyum."
Nadira menahan tawa."Kapan?"
"Baru saja."
Nadira akhirnya tertawa kecil.
Ages menatapnya datar. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Nadira tersenyum."Pak Ages ternyata bisa bercanda juga."
"Saya tidak bercanda."
"Baiklah."
Ages kembali memeriksa dokumen.Namun, suasana yang sebelumnya kaku perlahan menjadi lebih santai.Setelah hampir satu jam membahas kerja sama, pertemuan akhirnya selesai.
Nadira berdiri dan merapikan berkasnya."Terima kasih atas waktunya."
"Sama-sama."
"Saya harap kerja sama ini berjalan lancar."
"Amin."
Nadira hendak berjalan menuju pintu ketika tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah foto di atas meja Ages.Foto Kalandra yang terlihat masih kecil.Ia sedang tersenyum lebar sambil memeluk Ages.
Nadira tersenyum."Putra Bapak?"
Ages mengikuti arah pandangannya. "Iya."
"Lucu sekali."
Ages menatap foto tersebut.Senyumnya berubah lebih lembut."Dia sekarang sudah besar."
"Berapa usianya?"
"Sebentar lagi tujuh belas."
Nadira terlihat terkejut."Tujuh belas? Kalau begitu..."
Ia menatap Ages."Gak nyangka soalnya Bapak masih terlihat sangat muda."
Ages hanya mengangkat alis."Oh ya?"
"Iya."
"Berarti bagus,saya bisa mengimbangi anak saya."
Nadira tertawa kecil."Putra Bapak pasti sangat dekat dengan Bapak."
Ages terdiam sejenak.Kemudian mengangguk."Dia anak yang baik."
Ada kebanggaan yang jelas terlihat di wajah Ages ketika membicarakan putranya.
Nadira menyadarinya. "Kelihatannya Bapak sangat menyayangi putra Bapak."
Ages menatap foto itu. "Dia satu-satunya yang saya punya."
Nadira tidak lagi tersenyum.Ia dapat merasakan bahwa kalimat itu memiliki cerita yang panjang.Namun, ia tidak bertanya lebih jauh."Kalau begitu, saya pamit."
Ages mengangguk.
"Baik."
Nadira berjalan keluar dari ruangan.Namun, sebelum pintu tertutup, ia kembali menoleh."Pak Ages."
"Ya?"
"Senang bisa bekerja sama dengan Anda."
Ages mengangguk."Saya juga."
Pintu akhirnya tertutup.Ages kembali menatap foto Kalandra.Ponselnya tiba-tiba berdering.Sebuah pesan masuk dari Kalandra.
✉️Pap, pulang jam berapa?
Jangan lama-lama soalnya adek mau cerita.
Ages langsung tersenyum.Jarinya segera mengetik balasan.
✉️Ayah usahakan pulang cepat.
Belum sampai beberapa detik, balasan Kalandra masuk.
✉️Jangan usahakan. Harus.
Ages menggelengkan kepala.
✉️Baik, Bos.
✉️Nah, gitu.Itu baru papa Kala.
Ages tersenyum kecil.Kalandra benar-benar bisa membuat hatinya menghangat di tengan-tengah kesibukannya.
Di luar gedung perkantoran milih Ages.
Nadira masih terdiam di dalam mobilnya,ia masih menatap ke arah lantai atas dimana menjadi tempat dimana Ages berada.
Wajah dan senyum Ages masih terbayang di matanya.
"Aku kira kamu masih single,Ges." Bisiknya.
"Wajahmu benar-benar membuatku terpana." Lanjutnya.
Nadira menatap sebuah map yang berada di tangannya. "Apa ini jalan untuku ?"
"Jujur saja perasaan ini tidak pernah hilang,dan malah semakin tumbuh besar.Ages...aku tidak peduli dengan statusmu."
"Aku akan coba menerima kehadiran anakmu juga."
Nadira meremas stir dengan erat. "Kamu harus jadi milik ku."
Seminggu berlalu sejak pertemuan pertama Ages dan Nadira.Hubungan kerja sama antara perusahaan mereka berjalan cukup baik.
Nadira kembali datang ke kantor Ages.Namun, kali ini ia tidak datang hanya membawa dokumen.Di tangannya terdapat sebuah kotak makan.
"Selamat siang, Pak Ages."
Ages yang sedang memeriksa beberapa berkas langsung mengangkat wajahnya.
"Selamat siang."
Nadira meletakkan dokumen dan kotak makan tersebut di atas meja."Hari ini saya membawa makan siang."
Ages menatap kotak itu."Makan siang?"
"Iya."
Nadira tersenyum."Saya pikir, daripada meeting sambil terus membahas pekerjaan, mungkin kita bisa makan siang sekalian."
Ages tidak langsung menjawab.
"Tentu saja kalau Bapak tidak keberatan." lanjutnya
Ages melirik jam di dinding.Memang sudah waktunya makan siang. "Baik."
Senyum Nadira langsung melebar."Kalau begitu, saya siapkan."
Ages hanya mengangguk.Ia sama sekali tidak memikirkan hal lain.Baginya, makan siang bersama rekan bisnis bukanlah sesuatu yang istimewa.
Namun bagi Nadira persetujuan sederhana itu terasa seperti sebuah langkah besar.Nadira membuka kotak makan yang dibawanya.Aroma makanan langsung memenuhi ruangan.
Ages menatap isi kotak tersebut."Anda memasak sendiri?"
Nadira tersenyum."Sebagian aja."
"Sebagian?"
"Sebagian lainnya dibantu." jawab Nadira jujur.
Ages mengangguk."Kelihatannya enak." ucapnya saat melihat beberapa menu makanan yang di bawa Nadira.
"Silakan dicoba,Pak.Semoga cocok di lidah Pak Ages."
Ages mengambil sedikit makanan.
Nadira memperhatikan ekspresi Ages dengan penuh perhatian."Bagaimana?"
"Enak."
Jawaban sederhana itu membuat Nadira tersenyum puas."Syukurlah."
Mereka kemudian mulai makan sambil membahas pekerjaan.Namun, sesekali Nadira menyelipkan obrolan ringan.
"Pak Ages."
"Hm?"
"Kalau boleh tahu, Bapak selalu makan sendirian?"
Ages menatapnya."Kadang."
"Di rumah juga?"
"Biasanya bersama anak saya."
"Kalau anak Bapak sedang tidak ada?"
"Ya sendiri."
Nadira tersenyum kecil."Syukurlah,hari ini bapak gak makan sendiri lagi."
Ages hanya mengangguk.Ia tidak menyadari bahwa kalimat sederhana tersebut membuat Nadira semakin percaya diri.
Bagi Ages, makan siang itu tidak memiliki arti khusus.Nadira adalah rekan bisnisnya dan ia hanya menghargai niat baik perempuan itu yang telah membawa makanan.
Namun, Nadira melihat semuanya dengan cara yang berbeda.Ages tidak menolak ketika ia datang membawa makanan dan bersedia makan bersamanya.Bahkan Ages mengatakan masakannya enak.Membuat Nadira merasa jika semua itu terasa seperti tanda.
Ages Sabiru kamu pasti akan menjadi milikku.
Ia hanya perlu sedikit lebih dekat,sedikit lebih sabar dan sedikit lebih sering hadir dalam kehidupan pria itu.
Setelah makan siang selesai, Nadira kembali membuka dokumen.
"Untuk proyek ini, saya pikir kita bisa melakukan beberapa perubahan."
Ages mengangguk."Silakan."
Nadira menjelaskan beberapa hal dengan serius.Namun, sesekali matanya mencuri pandang kepada Ages.
Pria itu terlihat begitu tenang,dewasa,dan berbeda dari pria-pria yang pernah ia kenal.Ages Sabiru adalah tipe pria yang membuat seseorang ingin memilikinya.
Nadira tersenyum kecil,ia yakin.Suatu hari nanti, Ages akan menjadi miliknya.
.......
.......
.......
...♡ Sabiru ♡...