NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UANG YANG DIKEMBALIKAN

Hujan berhenti menjelang siang. Air masih menetes dari ujung atap ketika Nira sudah berdiri di depan pintu dengan tongkat bambu.

“Kita cuma mengembalikan uang,” kataku. “Kalau capek, langsung pulang.”

Nira mengangguk, tetapi ia memasukkan buku rusa ke dalam tas kecilnya.

“Kenapa bukunya dibawa?”

“Biar jelas uangnya dari sini.”

“Kita enggak perlu bawa bukunya.”

“Nanti Jalu bilang bukan.”

Aku tidak punya alasan untuk melarangnya. Aku mengambil uang dua ribu dari sela halaman dan menyimpannya di saku. Ibu membungkus dua potong singkong rebus untuk perjalanan, meski rumah Jalu hanya sekitar tiga kilometer melalui jalur desa.

Jalan menuju rumah Jalu berbeda dari jalan sekolah kami. Setelah melewati kebun kopi, kami berbelok ke arah balai desa. Tanahnya lebih rata dan beberapa bagian sudah diberi batu pecah. Tidak ada sungai yang harus diseberangi. Nira hanya berhenti sekali, di bawah pohon jambu milik warga.

“Capek?” tanyaku.

“Enggak.”

“Kamu duduk.”

“Aku cuma lihat buahnya.”

Ia tetap duduk di batu. Kami membagi singkong tanpa bicara. Tongkat bambu diletakkan di antara kami. Pada ujung bawahnya, lumpur membentuk lapisan tebal.

Rumah Jalu berada dekat toko bahan bangunan milik ayahnya. Dindingnya dari bata yang dicat hijau muda. Halamannya cukup luas untuk sebuah truk kecil. Karung semen ditumpuk di bawah terpal, dan kayu-kayu panjang disandarkan pada gudang.

Aku berhenti di luar pagar.

“Kenapa?” tanya Nira.

“Enggak apa-apa.”

“Kita masuk?”

“Kamu panggil.”

Nira memukul pagar besi dengan ujung tongkat. Bunyi nyaring membuat seekor ayam berlari dari bawah truk.

“Jalu!” teriaknya.

Seorang perempuan keluar dari toko. Bajunya bersih dan rambutnya disanggul. Ia melihat kami dari kepala sampai kaki, lalu mendekat.

“Cari siapa?”

“Jalu, Bu,” jawabku.

“Kalian temannya?”

Nira mengangguk. “Aku dikasih buku.”

Perempuan itu memandang tas Nira. “Tunggu.”

Jalu muncul dari samping gudang sambil membawa bola karet. Ketika melihat kami, ia berhenti. Bolanya jatuh dan menggelinding ke tumpukan pasir.

“Kalian ngapain?”

Aku mengeluarkan uang dari saku. “Ini ketinggalan di bukumu.”

Jalu tidak mengambilnya. “Bukan ketinggalan.”

“Berarti sengaja?”

Ia menendang pasir dengan ujung sandal. “Ya.”

“Ambil lagi.”

“Buat Nira.”

Nira berdiri di sampingku dengan kedua tangan memegang tongkat. “Buat sepatu?”

Jalu melirik ibunya yang masih berdiri di pintu toko. “Terserah buat apa.”

Aku menyodorkan uang lebih dekat. “Kami enggak bisa ambil.”

“Kenapa?”

“Karena kamu enggak bilang.”

“Sekarang aku bilang.”

“Masih enggak.”

Jalu mendengus. “Kalian jalan jauh-jauh cuma buat balikin dua ribu?”

“Iya.”

“Kalian aneh.”

“Kamu yang aneh. Kasih uang sembunyi-sembunyi.”

Nira menarik ujung bajuku. “Kak, jangan berantem.”

“Aku enggak berantem.”

“Suaramu kayak mau berantem.”

Jalu mengambil uang itu dari tanganku, lalu langsung menyodorkannya kepada Nira. “Nih. Aku kasih sekarang.”

Nira tidak mengambil. Ia menatapku, lalu menatap uang.

“Ambil saja,” kata Jalu. “Bapak punya banyak uang kecil di toko.”

Kalimat itu membuat dadaku panas. “Kami bukan tempat membuang uang kecil.”

“Aku enggak bilang begitu.”

“Tapi kamu ngomongnya begitu.”

Jalu mengepalkan uang di tangannya. Wajahnya memerah. “Ya sudah. Enggak usah.”

Ia melempar uang itu ke tanah. Lembaran dua ribu jatuh di dekat kaki Nira dan terkena lumpur.

Nira membungkuk untuk mengambilnya. Aku lebih cepat. Aku membersihkan lumpur dengan ujung baju, lalu menaruh uang itu di atas tumpukan batu dekat pagar.

“Bukan begini caranya,” kataku.

Jalu menatapku. “Memangnya harus bagaimana?”

Aku tidak tahu jawabannya. Bu Satya pernah mengatakan menerima pertolongan bukan berarti kehilangan harga diri. Namun, pertolongan Jalu terasa seperti benda yang dilempar dari balik pagar. Mungkin ia tidak bermaksud begitu. Aku tetap tidak sanggup mengambilnya.

“Bilang saja,” kataku. “Jangan sembunyikan.”

“Aku malu.”

Suara Jalu lebih kecil. Ia langsung menoleh ke gudang, seolah berharap kami tidak mendengarnya.

“Kenapa malu?” tanya Nira.

“Ya malu.”

“Karena pernah ngejek sepatu Kak Langga?”

Jalu memelototinya. “Kamu banyak tanya.”

“Memang.”

Untuk beberapa saat hanya terdengar suara orang memindahkan kayu di dalam gudang. Ibu Jalu masih berada di pintu. Tangannya bersilang di depan dada. Wajahnya sulit kubaca.

Jalu mengambil bola dari pasir, lalu memegangnya erat. “Aku enggak akan ambil bukunya.”

Nira memeluk tasnya. “Aku juga enggak akan balikin.”

“Ya jangan.”

“Uangnya kamu ambil.”

Jalu melihat lembaran yang tergeletak di atas batu. “Terserah.”

Aku menarik tangan Nira. “Kita pulang.”

Saat kami berbalik, ibu Jalu memanggil.

“Tunggu.”

Aku menoleh. Ia berjalan ke pagar dan mengambil uang itu. Ia tidak menyerahkannya kepada kami. Ia melipatnya, lalu memasukkan ke saku celemek.

“Kalian dari Wanasetra bagian atas?” tanyanya.

“Iya, Bu.”

“Setiap hari ke sekolah lewat sungai?”

Aku mengangguk.

Matanya turun ke sepatu Nira. Ujungnya sudah retak dan tali merahnya berbeda warna. Kemudian ia melihat tongkat bambu.

“Kamu sakit?” tanyanya kepada Nira.

“Habis demam.”

“Masih dipaksa jalan?”

“Aku yang mau.”

Perempuan itu menatap Jalu. Jalu pura-pura membersihkan bola.

“Pulanglah sebelum hujan lagi,” katanya kepada kami.

Tidak ada ucapan lain. Kami meninggalkan halaman toko. Setelah beberapa langkah, Nira menoleh ke belakang.

“Jalu masih lihat,” katanya.

“Jangan menoleh terus.”

“Kakak juga tadi lihat.”

Aku mempercepat langkah sedikit. Nira memukul betisku dengan tongkat.

“Pelan.”

Aku berhenti dan menunggu sampai ia sejajar.

Di bawah pohon jambu, kami duduk lagi. Nira membuka tas dan memastikan buku rusa masih ada.

“Dia enggak minta maaf,” kataku.

“Dia bilang malu.”

“Itu bukan minta maaf.”

“Memang bukan.”

“Terus?”

“Enggak terus apa-apa.”

Nira menggigit singkong yang tersisa. Aku menatap jalan berbatu di depan kami. Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha membuat Jalu terdengar lebih baik atau lebih buruk. Ia hanya mengulang apa yang terjadi.

Kami sampai rumah sebelum hujan turun. Ibu bertanya apakah uang sudah dikembalikan. Aku menjawab sudah. Nira menunjukkan buku yang tetap menjadi miliknya. Setelah itu tidak ada yang membicarakan Jalu lagi.

Keesokan paginya aku berangkat sekolah sendiri. Nira belum diizinkan berjalan tujuh kilometer, tetapi ia menitipkan satu pertanyaan untuk Windu tentang gambar bunga. Aku membawa buku rusa karena Bu Satya ingin melihat bacaan yang diberikan Jalu.

Di gerbang sekolah, Pak Wiraga memanggilku dari pos kecil.

“Langga, ke ruang guru dulu.”

“Ada apa, Pak?”

“Kiriman.”

Di atas meja Bu Satya terdapat sebuah kotak kardus baru. Warnanya biru pucat. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan kecil di tutupnya: untuk murid kelas dua.

Bu Satya berdiri di samping meja bersama Pak Sasmita. Jalu duduk di bangku dekat jendela dengan tangan di antara lutut. Ketika aku masuk, ia melihat lantai.

“Ini untuk siapa?” tanyaku.

Bu Satya membuka tutup kotak.

Di dalamnya terbaring sepasang sepatu hitam ukuran kecil, masih dibungkus kertas tipis.

1
Siti Dede
Seperti baca Diary, aku suka👍
Siti Dede
Ayah yg keren.

Aku jadi kangen bapakku.
Riska Noor
mengandung bawang thor/Sob//Sob//Sob/
Riska Noor
yg baca tahan napas
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!