Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
Debu tebal membumbung ketika Sari menarik kotak kayu jati dari bawah ranjang. Kotak itu tidak terlalu besar, tetapi terasa amat berat saat diangkat—seolah-olah kayu tua itu menyerap semua dosa, racun petunduk, dan dendam yang terkunci di dalamnya. Ukiran ular melingkar di tutupnya tampak begitu hidup dalam remang cahaya lampu minyak.
"Buka..." rintih Nyai Seruni. Nafasnya menggebu, berbau bangkai yang semakin menyengat hingga membuat paru-paru Sari serasa terbakar. "Buka cepat, Sari... sebelum mereka datang lagi!"
Dengan tangan bergetar hebat, Sari mencongkel kait besi kotak tersebut. Begitu tutupnya terbuka, tidak ada perhiasan atau tumpukan uang emas di dalamnya. Hanya ada belasan gulungan daun lontar kering yang diikat benang kain mori hitam, serta sepucuk keris kecil tanpa warangka yang bilahnya berwarna kelabu bercak merah—bekas darah kering dari ritual-ritual gelapnya di masa lalu.
Setiap lontar terukir nama-nama korban yang ditulis menggunakan getah pohon reja. Sari membaca salah satu nama yang paling atas. Jantung gadis muda itu seakan berhenti berdetak saat mengenali nama tersebut.
"Ini... ini nama Pak Saman, Nyai?" suara Sari nyaris tak terdengar. "Pak Saman yang gila dan mati membusuk di pinggir kali lima tahun lalu?"
Nyai Seruni memejamkan mata erat-erat. Air mata bening kembali menetes, membasahi kulit pipinya yang berkerak menghitam. "Dia... dia menolak menyerahkan tanahnya padaku. Aku buat ingatannya lebur dengan racun petunduk. Aku panggil ingatan buruknya hingga ia mengoyak kulitnya sendiri..."
"Astaghfirullah, Nyai..." Sari menutup mulutnya, menahan mual dan rasa takut yang menjalar hingga ke ujung jari.
"Cari nama... Mbok Sumi..." serak Seruni memotong. Matanya mendelik liar ke arah langit-langit, tempat bayangan-bayangan hitam tampak bergelayut seperti kelelawar raksasa. "Dia masih hidup. Di ujung desa barat. Cari Mbok Sumi... aku harus... aku harus bersujud di kakinya!"
"Tapi Nyai, tubuhmu..."
"SERET AKU!" jerit Seruni. Suaranya pecah, bergetar bersama dinding-dinding kayu rumah panggung tua itu. Angin malam tiba-tiba berembus kencang melintasi celah ventilasi, memadamkan api lampu minyak dan menyisakan kegelapan yang pekat.
Di dalam kegelapan itu, Sari mendengar suara bisikan berdesis yang bukan berasal dari mulut bibinya. Suara itu melayang dari bawah lantai papan: “Hutang nyawa... dibayar busuk... hutang rasa... dibayar neraka...”
Tanpa berpikir panjang lagi, Sari membungkus kain jarik tebal ke tubuh bibinya yang kian menyusut. Bau busuk itu kini makin tajam, seakan tanah makam sendiri yang datang menjemput raga yang menolak mati itu. Dengan membulatkan tekad, Sari memapah—hampir menyeret—tubuh lumpuh Seruni keluar dari pintu rumah.
Malam baru berusia seperempat, namun jalanan tanah Desa Karang Tumpuk sudah sepi bagai kuburan. Penduduk desa sudah lama paham: jika angin malam membawa aroma empedu pecah dari rumah Nyai Seruni, tidak ada satu pun warga yang berani membuka jendela. Mereka menutup pintu rapat-rapat, mematikan lampu, dan berdoa agar roh-roh jahat yang mengerumuni sang dukun tidak salah mampir.
Sari memapah Seruni merayap di atas jalan tanah basah. Setiap kali kaki Seruni terseret menyentuh tanah, perempuan tua itu memekik kesakitan. Bagi Seruni, setiap jengkal tanah yang disentuhnya terasa seperti paku-paku membara yang menembus telapak kakinya. Tanah bumi seolah menolak untuk menopang raga yang telah menyimpan terlalu banyak racun dengki.
"Sari... lihat di belakang kita..." bisik Seruni gagap. Kepalanya terkulai lesu di bahu Sari.
Sari memberanikan diri menengok ke belakang. Di atas tanah lumpur yang baru saja mereka lewati, tidak hanya ada jejak kaki mereka berdua. Di belakang mereka, berderet tapak-tapak kaki berdarah yang melangkah tanpa wujud. Puluhan bayangan legam berjalan mengekor, menjaga agar sang dukun tidak lari dari pengadilan dunianya.
"Jangan hiraukan mereka, Nyai... fokus melangkah," tangis Sari pecah. Selama ini ia hanya menganggap bibinya seorang perempuan tua yang sombong dan kaya, tanpa pernah membayangkan kegelapan murni yang tersimpan di balik dinding rumah mereka.
Setelah perjalanan yang terasa seperti ribuan mil di dalam neraka, mereka sampai di depan sebuah gubuk reot beratap rumbia di ujung barat desa. Di sanalah Mbok Sumi tinggal. Perempuan tua yang dulu dikenal paling dermawan dan rupawan di desa, sebelum mendadak lumpuh dan kehilangan seluruh keluarganya dalam semalam—semua akibat dengki Seruni yang tidak tahan melihat kebahagiaan orang lain.
Sari mengetuk pintu kayu yang lapuk itu dengan tangan bergetar. "Mbok... Mbok Sumi... tolong..."
Pintu berderit terbuka. Seorang perempuan tua berpakaian lusuh muncul dengan pelita kecil di tangan. Wajah Mbok Sumi penuh kerutan tebal, dan kedua matanya buta sebelah akibat penyakit aneh belasan tahun lalu. Namun, begitu pelita itu menerangi sosok Seruni yang tergeletak di tanah seperti ulat yang sekarat, mata sehat Mbok Sumi membelalak.
Aroma busuk empedu dan tanah basah langsung memenuhi teras gubuk itu.
"Seruni..." panggil Mbok Sumi pelan, suaranya mengandung duka dan kepahitan yang telah mengendap puluhan tahun.
Nyai Seruni menyeret tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga, merangkak hingga ke depan kaki Mbok Sumi. Perempuan yang dulu begitu anggun dan ditakuti itu kini bertekuk lutut di atas debu. Ia merapatkan kedua tangannya yang menghitam dan bersisik, bersujud dan menyentuh ujung kaki Mbok Sumi.
"Sumi... ampunkan aku..." tangis Seruni terbatuk-batuk, memuntahkan lagi lendir hitam yang membasahi tanah. "Ampuni aku... cabut sumpahmu... cabut rasa bencimu... izinkan aku mati, Sumi... izinkan aku pergi..."
Mbok Sumi memandangi sosok yang dulu begitu congkak dan berkuasa itu. Sosok yang telah merenggut nyawa suaminya lewat racun petunduk, menghancurkan kebunnya, dan menyisakan dirinya dalam kemiskinan serta kebutaan.
"Dendam?" Mbok Sumi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat dingin dan menyayat hati. "Aku tidak pernah mengirimkan dendam padamu, Seruni. Sejak hari di mana suami dan anakku mati, aku sudah menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa."
Seruni mendongak kaget, matanya melotot liar. "Bohong! Jika kau tidak mendendam, kenapa tanah tidak mau menerima ragaku?! Kenapa malaikat maut tidak mau mencabut nyawaku?!"
Mbok Sumi berlutut perlahan, menyejajarkan wajahnya dengan muka Seruni yang penuh borok busuk.
"Bukan dendamku yang mengikatmu, Seruni," bisik Mbok Sumi lembut namun menembus hingga ke ilusi terdalam jiwa sang Nyai. "Tapi dosa-dosamu sendiri yang membangun penjara ini. Kau iri pada kebahagiaan orang lain hingga kau membakar hatimu sendiri menjadi abu. Sekarang, racun petunduk yang dulu kau raut untuk orang lain telah berbalik membusukkan ragamu dari dalam. Kau sendiri yang menolak untuk pergi, karena jiwamu tahu... apa yang menunggumu di seberang sana jauh lebih mengerikan dari borok di kulitmu ini."
"Tidak, maafkan aku Sumi! Maafkan aku!" jerit Seruni histeris. Ia mencoba memegang kaki Mbok Sumi, tetapi Mbok Sumi menarik kakinya mundur.
"Aku memaafkanmu sebagai sesama manusia, Seruni," kata Mbok Sumi pelan sambil berdiri kembali. "Tapi maafku tidak bisa menghapus bekas racun di tanah ini. Kau harus mendatangi setiap jiwa yang pernah kau hancurkan... satu per satu."
Pintu gubuk itu ditutup rapat. Brak.
Seketika itu juga, serangan sakit yang luar biasa dahsyat menghantam dada Nyai Seruni. Ia meraung keras hingga suaranya memecah kesunyian malam. Dari dalam kulitnya yang menghitam, beratus-ratus ulat kecil berwarna merah tampak keluar memakan dagingnya sendiri dari dalam.
Nafasnya tertahan, tercekat di tenggorokan, namun jantungnya terus dipaksa berdenyut oleh dosa-dosa yang belum selesai ditunaikan. Sakaratul mautnya masih panjang, dan daftar nama di dalam kotak jati itu masih sangat banyak.