Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontarakan Sempit untuk Dua orang
Matahari pagi mulai merangkak naik, memancarkan sinar keemasan yang hangat dan perlahan mengusir sisa-sisa kabut subuh di sudut-sudut ibu kota. Suara bising kendaraan bermotor dan klakson yang bersahut-sahutan menandakan kota ini telah sepenuhnya terbangun dari tidurnya.
Namun bagi Aluna, hiruk-pikuk di sekelilingnya terasa sangat jauh. Setelah keluar dari rumah sakit dan mengemas barang-barang penting dari rumahnya, ia kini terdampar di sebuah warung kopi pinggir jalan bersama Elvan. Sebuah tas ransel hitam besar tergeletak di antara mereka, menjadi simbol bisu dari awal pelarian mereka.
Aluna menatap cangkir kopi hitam di hadapannya dengan pandangan kosong. Ia sesekali melirik koran lokal bekas dan layar ponsel rusaknya, mencoba mencari iklan kontrakan murah di sekitar area yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat ayahnya dirawat, namun juga cukup tersembunyi dari jangkauan Doni.
"Ada yang menarik?" tanya Elvan memecah keheningan. Pria itu sedang menyesap kopi instan hangatnya dengan tenang.
Aluna menghela napas panjang, lalu meletakkan ponselnya. "Harganya rata-rata terlalu mahal untuk ukuran kantongku sekarang, Mas. Sisa uang tabungan Ayah harus aku hemat baik-baik untuk biaya obat dan perawatan pasca-operasi nanti. Aku tidak tahu berapa lama Ayah harus dirawat di HCU." Aluna menatap Elvan dengan perasaan tidak enak yang mendalam. "Apalagi ... aku juga harus memikirkan kebutuhan kita berdua. Aku tahu kondisi Mas Elvan juga sedang sulit."
Elvan menahan senyumnya di balik cangkir kopi. Ia menatap Aluna lekat-lekat. "Maksudmu?"
Wajah Aluna sedikit memerah karena merasa sungkan. Ia meremas jemarinya sendiri di atas meja kayu yang agak berminyak. "Maaf kalau perkataanku menyinggungmu, Mas. Tapi, melihat Mas semalam ... berpakaian santai dan mau membantuku tanpa pamrih, aku berasumsi Mas Elvan mungkin bekerja serabutan atau belum punya pekerjaan tetap yang mapan. Karena itu, aku tidak ingin membebani Mas dengan mencari tempat tinggal yang mewah. Aku yang mengajak Mas ke dalam masalah ini, jadi aku yang harus bertanggung jawab mencari tempat berlindung yang sesuai dengan kemampuan kita."
Elvan meletakkan cangkirnya perlahan. Alisnya terangkat sedikit, merasa geli sekaligus kagum dengan jalan pikiran wanita di hadapannya ini. Aluna benar-benar mengira dirinya adalah pria miskin yang bernasib malang.
Bagi Elvan, kesalahpahaman ini justru menjadi keuntungan besar. Di dunia luarnya yang penuh dengan kemewahan palsu, setiap orang mendekatinya karena nama besar keluarga Adhitama atau karena isi rekeningnya. Namun Aluna, wanita ini menerimanya apa adanya, bahkan mengira ia tidak punya apa-apa, dan tetap memikirkan kesejahteraannya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang rendah dan mantap. "Asumsimu tidak sepenuhnya salah. Aku memang sedang tidak memegang banyak uang tunai saat ini, dan aku menyukai tempat yang tenang. Jadi, carilah tempat yang menurutmu paling aman dan sesuai anggaranmu. Aku akan mengikuti keputusanmu."
Kata-kata Elvan membuat Aluna merasa sedikit lega. Suami dadakannya ini ternyata sangat pengertian dan tidak gengsian, meskipun memiliki wajah setampan model papan atas. "Terima kasih, Mas. Kalau begitu, mari kita cari di daerah gang belakang pasar induk. Di sana biasanya banyak paviliun atau petakan kamar kontrakan yang disewakan per bulan dengan harga miring."
Setelah membayar kopi mereka dengan beberapa lembar uang ribuan, keduanya kembali berjalan kaki menyusuri trotoar menuju kawasan padat penduduk di balik pasar induk. Bau khas sayuran segar, ikan, dan keringat para kuli panggul menyambut kedatangan mereka. Aluna berjalan dengan kepala tertunduk, merapatkan jaketnya setiap kali berpapasan dengan kerumunan orang, sementara Elvan berjalan di sampingnya dengan tubuh tegap yang selalu siap siaga, matanya terus memantau situasi sekitar demi memastikan tidak ada anak buah rentenir yang mengenali wajah Aluna.
Setelah bertanya kepada beberapa pemilik warung kelontong dan melewati lorong-lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu motor, Aluna akhirnya menemukan sebuah papan kayu kecil bertuliskan Ada Kamar Kos/Kontrakan Kosong yang digantung di depan sebuah rumah berpagar kayu kusam.
Seorang wanita paruh baya bertubuh tambun dengan daster batik keluar setelah Aluna mengetuk pintu pagar beberapa kali. "Mau cari kontrakan, Mbak?" tanya wanita itu sambil memperhatikan Aluna dan Elvan dari atas ke bawah. Tatapannya sempat tertahan agak lama pada wajah tampan Elvan yang tampak sangat kontras dengan lingkungan kumuh tersebut.
"Iya, Ibu. Apakah masih ada unit yang kosong? Yang ukurannya kecil saja tidak apa-apa, asalkan harganya terjangkau," ujar Aluna dengan nada sangat sopan.
"Oh, ada. Tinggal satu kamar petak di bagian paling belakang. Mari ikut saya," ajak Ibu kos tersebut sambil menuntun mereka melewati koridor samping rumah yang agak lembap.
Tempat yang ditunjukkan adalah sebuah bangunan petak kecil berukuran sekitar tiga kali empat meter. Pintu depannya terbuat dari kayu tripleks tebal dengan cat hijau yang sudah memudar.
Begitu pintu dibuka, ruangan itu langsung terlihat seluruhnya. Tidak ada sekat kamar. Hanya ada satu ruangan utama dengan lantai ubin putih yang agak kusam, sebuah kamar mandi kecil di sudut belakang dengan bak air plastik, dan sebuah dipan kayu tanpa kasur di sudut lainnya. Udara di dalam ruangan terasa sedikit pengap karena sudah lama tidak ditempati.
"Fasilitasnya cuma ini ya, Mbak, Mas. Air sumur bor lancar, listrik token sendiri sepuluh ampere. Harganya tujuh ratus lima puluh ribu per bulan, harus bayar di depan," jelas Ibu kos sambil berkacak pinggang.
Aluna menatap ruangan sempit itu dengan perasaan campur aduk. Tempat ini sangat jauh dari kata layak jika dibandingkan dengan rumahnya yang lama, apalagi dibandingkan dengan standar hidup normal.
Kamar ini terasa begitu menjepit dan sempit untuk ditinggali oleh dua orang dewasa yang baru saja saling mengenal.
Namun, Aluna melihat ke arah jendela kecil di bagian atas; posisinya yang berada di bagian paling belakang dan tertutup oleh dinding pembatas rumah sebelah menjadikannya tempat persembunyian yang sangat ideal. Orang luar tidak akan pernah menduga ada orang yang tinggal di sudut terisolasi ini.
"Bagaimana, Mas? Apakah Mas Elvan keberatan jika kita tinggal di sini?" bisik Aluna sambil menoleh ke arah Elvan, merasa sangat bersalah karena harus membawa pria setampan Elvan ke tempat sekumuh ini.
Elvan melangkah masuk ke dalam ruangan, menguji kekokohan dipan kayu dengan tangannya, lalu melihat ke sekeliling dinding. Bagi seorang CEO yang biasa tinggal di griya tawang mewah dengan fasilitas pelayan pribadi, tempat ini tentu saja terlihat seperti gudang penyimpanan.
Namun, Elvan tidak melihat kemiskinan tempat ini; ia melihat keamanan dan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang di rumah besarnya. Di sini, tidak akan ada kamera wartawan, tidak akan ada mata-mata tirinya, dan tidak akan ada kepalsuan.
"Tempat ini cukup bagus," ujar Elvan tenang, beralih menatap Aluna. "Udaranya aman, dan posisinya tersembunyi. Aku tidak keberatan sama sekali."
Aluna tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca karena rasa syukur. Ia segera berbalik menghadap Ibu kos. "Baik, Ibu. Kami ambil kamarnya. Ini uang sewanya untuk bulan pertama," ucap Aluna sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari amplop cokelat milik ayahnya.
Setelah menerima kunci dan mencatat identitas singkat Aluna (Aluna sengaja belum mendaftarkan nama Elvan demi keamanan), Ibu kos itu pamit pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kerajaan kecil baru mereka.
Klik.
Pintu tripleks itu ditutup rapat oleh Elvan dari dalam, mengunci suara bising pasar di luar sana. Seketika itu juga, keheningan yang luar biasa canggung menyelimuti ruangan tiga kali empat meter itu.
Aluna berdiri mematung di tengah ruangan, memegang tas selempangnya erat-erat. Detak jantungnya yang semula berpacu karena takut akan rentenir kini berganti menjadi debaran canggung yang aneh. Ia menyadari satu kenyataan baru yang tidak kalah mengejutkan: ia kini resmi tinggal satu atap, di dalam satu ruangan sempit tanpa sekat, bersama seorang pria asing yang berstatus sebagai suaminya.
Tidak ada dinding pemisah, tidak ada ruang pribadi. Mulai detik ini, setiap embusan napas dan setiap gerak-gerik mereka akan saling bersinggungan di dalam ruangan petak ini.