NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.

update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

"Woah! Kau baru saja memberikan sebuah julukan singkatan yang terdengar sangat keren untukku, Gen-chan!" balas Tomoe dengan mata berbinar-binar, sama sekali tidak menangkap nuansa hinaan pada julukan tersebut.

"Kuso... seseorang... tolong seret gadis ini pergi dari hadapanku sekarang juga," rintih Saji, memegangi kepalanya yang mulai berdenyut.

Interaksi absurd antara Saji dan Tomoe sukses membuat otot-otot tegang para anggota lain menjadi sedikit rileks.

Namun hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Yudi. Tekadnya untuk menolak posisi Humas sudah bulat. Yudi mengambil satu langkah maju. Tangannya bertumpu pada pinggiran meja bundar.

"Begini saja, Kaichou," ucap Yudi dengan suara yang jauh lebih stabil. Ia menatap langsung ke arah mata ungu Sona. "Mari kita selesaikan ini dengan sebuah permainan. Kita bertanding catur. Siapa yang kalah, dia wajib mengikuti satu keinginan mutlak dari yang menang. Bagaimana? Apakah Kaichou berani menerima tantangan ini?"

"Woah!" seruan serentak kembali meledak dari para anggota di ruangan itu. Mata Momo, Reya, dan Yura terbelalak. Mereka terkejut bukan main melihat ada seorang siswa baru yang memiliki tingkat kenekatan—atau mungkin kebodohan yang hakiki—untuk menantang langsung sang Ratu Catur dari keluarga Sitri dalam permainan keahliannya.

"Tidak hanya memiliki pola pikir analitis, tapi ternyata dia juga punya nyali yang luar biasa besar," gumam Yura, bibirnya membentuk senyuman antusias.

"Ini adalah kasus yang sangat langka. Aku harus melihat pertandingan ini dari dekat!" seru Momo yang kini bergerak mendekati meja, matanya berbinar-binar.

"Ini adalah pertama kalinya setelah dua bulan penuh Sona Kaichou mendapatkan tantangan bermain catur secara terbuka. Mari kita lihat secepat apa pertandingan ini akan berakhir," tambah Reya Kusaka, menyilangkan lengannya sambil tersenyum simpul.

"Yudi-senpai, gambare! (Bersemangatlah!)" Nimura Ruruko mengepalkan kedua tangannya ke depan dada, memberikan sorakan dukungan paling imut untuk Yudi.

Di sudut lain, kesedihan Saji menguap begitu saja. Ia melangkah cepat mendekati Yudi, lalu menepuk pundak Yudi dengan keras. Sebuah senyuman sadis mengembang di wajahnya.

"Hehe... bocah, kau baru saja menggali lubang kuburanmu sendiri dengan sekop emas. Aku tidak sabar ingin melihat seperti apa wujud wajah frustrasimu saat kau dihancurkan tanpa ampun oleh Sona Kaichou nanti."

Tomoe Meguri yang sedari tadi berdiri di dekat lemari penyimpanan, langsung bergerak lincah. Dalam hitungan detik, ia telah membentangkan sebuah papan catur kayu berkualitas tinggi di tengah meja bundar, lengkap dengan bidak-bidak kayu berukir yang tersusun sempurna pada posisinya.

"Apa yang sedang kalian tunggu? Ayo kita mulai pertandingannya sekarang!" seru Tomoe dengan mata berbinar kegirangan. Ia menoleh ke arah Tsubaki. "Tsubaki-chan, tolong bersedialah menjadi wasit netral untuk pertandingan kali ini ya!" Tsubaki tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, menarik lengan blazernya sedikit untuk melirik jam tangan peraknya.

"Tantangan diterima. Tapi, perlu kalian ingat kalau waktu istirahat siang hanya tersisa 15 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi," komentar Tsubaki dengan suara datar. "Apa waktu sesingkat itu tidak—"

"Sepuluh menit."

Sona memotong kalimat Tsubaki dengan suara yang teramat tenang namun memancarkan determinasi mutlak. Sona berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja, dan duduk berhadapan langsung dengan Yudi. Ia menyilangkan kakinya dan mencondongkan tubuhnya ke depan.

Sebuah senyuman miring yang terlihat sangat mengerikan sekaligus menawan terbentuk di bibirnya. Hawa intimidasi berwarna keunguan-hitam yang tak kasat mata seolah menguar pekat dari tubuhnya, menekan udara di sekitar meja catur.

"Waktu sepuluh menit... itu lebih dari cukup untukku mendisiplinkan seluruh pola pikir liarmu, Yudi," bisik Sona, matanya menatap tajam layaknya elang yang mengunci mangsa. "Duduk dan bersiaplah menerima kekalahanmu." Seluruh anggota peerage minus Yudi menegang kaku di tempat mereka berdiri.

Mereka bisa merasakan keseriusan absolut dari Sona yang menganggap tantangan ini bukan sekadar permainan, melainkan sebuah eksekusi kedisiplinan. Namun, Yudi justru menarik kursi di hadapan Sona dan duduk dengan postur yang sangat rileks.

Melihat celah arogansi lawannya dari batas waktu yang ditetapkan Sona sendiri, senyum tipis terukir di wajah Yudi.

"Kalau begitu, berusahalah sekuat tenaga agar kau bisa menaklukkanku sebelum waktu habis, Joo Heika-sama! (Yang Mulia Ratu!)" balas Yudi dengan nada penuh keyakinan.

Tsubaki melangkah maju, berdiri di titik tengah antara Yudi dan Sona. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara. "Pertandingan catur penentuan kedisiplinan antara Ketua OSIS Sona Sitri melawan Staf OSIS Yudi... dimulai!" Begitu tangan Tsubaki turun, Sona yang memegang bidak putih membuang langkah pembuka tanpa keraguan sedikit pun.

"Pion ke E4," Sona memajukan pion rajanya dua kotak ke depan. Gerakannya sangat presisi, jarinya melepaskan bidak kayu itu dengan bunyi ketukan solid yang menggema. Itu adalah pembukaan agresif standar, menunjukkan niatnya untuk menguasai sentrum sejak detik pertama.

Yudi memicingkan matanya. Jari-jarinya melayang di atas papan catur sejenak. Alih- alih merespons dengan bidak hitam yang sepadan, ia memajukan pion di sayap kanannya.

"Pion ke G6," gumam Yudi santai. Pembukaan Modern Defense. Ia sengaja membiarkan Sona menguasai area tengah dengan bebas, sementara ia membangun struktur pertahanan pasif dari sayap. Gerakan jarinya terlihat ragu-ragu dan meraba- raba, seolah ia hanya pemain amatir yang bermain berdasarkan insting.

Sona mendengus pelan. Ia langsung memajukan Pion ke D4, membangun formasi tembok pertahanan klasik yang kokoh di tengah papan. Tensi di atas meja catur meningkat drastis. Bunyi ketukan kayu saling bersahutan tanpa jeda waktu yang lama.

Di bawah permukaan meja, tak terlihat oleh pandangan Sona maupun para gadis yang berdiri mengelilingi mereka, tangan kiri Yudi merogoh saku celananya dengan gerakan terukur. Ibu jarinya menekan sebuah tombol pada stopwatch digital yang baru saja ia selipkan tadi pagi.

Klik. Angka digital mulai berputar menghitung maju.Tujuan Yudi bukanlah untuk merobohkan King milik Sona, ia sadar kemampuan kognitifnya di atas papan catur masih jauh di bawah sang jenius pilar Sitri.

Tujuannya adalah mengulur setiap detik, memperlambat tempo, dan menciptakan jebakan pasif untuk memaksa pertandingan berjalan selama mungkin. Pertandingan memasuki menit ketiga. Situasi semakin sengit.

Sona mengangkat Knight (Kuda) putihnya dengan gerakan anggun. "Kuda ke F3." Yudi merespons dengan memindahkan Bishop (Gajah) hitamnya ke G7, melakukan Fianchetto untuk menekan diagonal panjang papan. "Gajah ke G7." Sona yang tidak ingin memberikan celah napas, langsung meluncurkan serangan mematikan.

Ia menggeser Bishop putihnya ke C4, membidik titik lemah pion F7 milik Yudi. Matanya terus menganalisis tiga hingga empat langkah ke depan dari setiap pergerakan yang dilakukan Yudi. Memasuki menit kelima, korban pertama berjatuhan.

Kuda milik Yudi nekat memakan pion Sona di pusat, namun itu hanyalah jebakan Sona yang diatur dengan brilian. Sona segera memajukan kudanya sendiri dan melibas kuda hitam milik Yudi dari atas papan.

Trak! Bidak hitam itu disingkirkan ke pinggir meja. Melihat hal itu, Yudi menggertakkan giginya. Ia memajukan pionnya untuk menyerang balik, namun Sona dengan cepat memindahkan Rook (Benteng) putihnya ke garis depan, melakukan manuver Castling (Rokade) untuk mengamankan rajanya sekaligus menambah tekanan di baris tengah.

Ketegangan memuncak saat pertandingan memasuki menit kedelapan. Keringat membasahi kening Yudi. Ia terus menerus memposisikan bidak-bidaknya untuk menutupi jalur serangan, melakukan pertukaran paksa (trading) yang tidak menguntungkan hanya demi membeli waktu.

Benteng, dua kuda, dan satu gajah milik Yudi kini telah berada di pinggir meja sebagai bidak mati. Di menit kesembilan lewat tiga puluh detik, Sona memandang papan catur dengan tatapan mutlak. Ia menghembuskan napas pelan.

Jarinya menjepit ujung Queen (Ratu) putihnya dengan gerakan yang memancarkan keanggunan mematikan. Ia meluncurkan bidak Ratu tersebut melintasi papan dalam satu garis lurus panjang, berhenti tepat di petak H5.

Trak. Bunyi ketukan bidak itu terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Posisi Ratu putih itu menyegel pergerakan vertikal dan diagonal terakhir dari King (Raja) milik Yudi yang telah terhimpit di sudut papan oleh Benteng, Gajah, dan Kuda putih milik Sona.

"Skakmat."

Sona mengucapkan satu kata itu dengan nada yang sangat mulus dan indah, namun memiliki penekanan aura absolut yang menyayat hati lawan. Kata itu terucap bagaikan pedang algojo yang memotong putus segala harapan, mempertegas jarak kemampuan antara seorang jenius dan amatir.

"Woah! Sona Kaichou memenangkan pertandingan ini dengan sangat brilian!" seru Momo Hanakai kegirangan, bertepuk tangan pelan.

"Andai saja di menit kelima tadi Benteng milik Yudi tidak hilang karena jebakan Kuda itu, posisinya mungkin tidak akan terhimpit sesulit ini pada akhir permainan," tambah Reya Kusaka, menganalisis struktur papan yang didominasi oleh bidak putih.

"Tapi... Yudi berjuang sejauh ini saja itu sudah hebat sekali lho! Dia benar-benar menggunakan seluruh opsi bidak penahannya secara efisien untuk melawan tekanan agresif dari Kaichou tanpa menyerah di tengah jalan..." Tomoe menggantung kalimatnya. Ia tidak melanjutkan pembelaannya karena seluruh penghuni ruang OSIS tahu dengan sangat jelas betapa mengerikannya kemampuan kalkulasi dan strategi Kaichou mereka.

Tsubaki Shinra yang berdiri sebagai wasit melangkah setengah langkah mendekat. "Sebuah pertandingan yang sangat seru dan berkelas. Anda masih mempertahankan gelar yang terkuat tanpa celah, Kaichou." Tsubaki menundukkan kepalanya sesaat ke arah Sona, lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang menajam, menatap lurus ke arah Yudi.

"Tapi harus diakui, dia juga cukup gigih. Dia beberapa kali berhasil memaksa Anda untuk melakukan pergerakan pertahanan pasif yang biasanya jarang Anda gunakan."

"Heh, tidak mungkin juga orang sepertimu bisa menang melawan sang Master Tactic Akademi Kuoh," ucap Saji yang langsung menghampiri meja. Ia menepuk pundak Yudi dengan keras, senyuman puas terukir di wajahnya saat ia mencoba menenangkan—atau lebih tepatnya mengejek—Yudi atas kekalahannya. "Setidaknya kau sudah mencoba, adik kelas."

"Yudi-senpai, padahal tadi tinggal sedikit lagi..." Nimura Ruruko berjalan perlahan, meraih dan menggenggam pelan sebelah tangan Yudi di atas meja, memberikan tatapan iba yang tulus.

Sona merapikan letak kacamatanya. Ia menatap Yudi dengan pandangan kemenangan yang absolut. "Jadi, karena kau telah kalah secara telak di atas papan ini... maka kau memiliki kewajiban mutlak untuk menuruti satu keinginanku sesuai perjanjian. Jabatan resmimu adalah sebagai Seksi—"

"Kurasa kau terlalu terburu-buru dalam mengambil kesimpulan akhir, Kaichou," sela Yudi tiba-tiba, memotong deklarasi kemenangan Sona dengan nada tenang.

Sona menghentikan ucapannya. Alisnya sedikit bertaut, menciptakan kerutan tipis di dahinya. "Apa maksud dari perkataanmu barusan? Apa kau sedang mencoba untuk melarikan diri dari kenyataan pahit kekalahanmu?"

"Tidak sama sekali." Yudi menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik tangannya dari genggaman Ruruko dengan sangat lembut.

"Aku sadar sepenuhnya kalau dalam pertandingan catur di atas papan kayu ini, kemampuanku jauh di bawahmu. Aku memang kalah telak. Tapi..." Yudi tersenyum lebar.

Ia menarik tangan kirinya dari bawah meja dan meletakkannya tepat di tengah papan catur, tepat di sebelah Raja hitamnya yang tumbang. Di tangannya, sebuah stopwatch digital berlayar biru menyala terang.

"...dalam pertandingan waktu dan batas toleransi di luar catur ini, kaulah yang menelan kekalahan mutlak, Kaichou." Sona, Tsubaki, dan seluruh gadis di ruangan itu menundukkan pandangan mereka ke arah layar digital kecil tersebut. Angka yang tertera di sana berhenti bergerak, membeku pada angka yang mencengangkan:

10:10;00

Mata ungu Sona seketika membelalak lebar, lensa kacamatanya nyaris melorot ke bawah. Ingatannya berputar kembali pada pernyataan penuh arogansi yang ia lontarkan sebelum pertandingan dimulai: 'Waktu sepuluh menit... itu lebih dari cukup untukku mendisiplinkan seluruh pola pikir liarmu, Yudi.'

Namun kenyataan di layar digital itu membuktikan sebaliknya. Sona membutuhkan waktu lebih sepuluh menit koma satu detik untuk bisa menumbangkan Yudi.

"Sepuluh detik... itu mungkin bagi sebagian orang adalah hal kecil yang sangat sepele dan bisa diabaikan," ucap Yudi memecah keheningan yang menyelimuti meja tersebut. Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang, memasang wajah bahagia dengan seringai tipis yang menjengkelkan.

"Tapi bagi seseorang yang memegang posisi pemimpin, yang telah mengucapkan deklarasi dengan tekad absolut dan penuh keyakinan di depan bawahannya... kegagalan memenuhi batas waktu tersebut sama saja dengan membuktikan bahwa komitmen ucapannya menjadi tidak relevan."

Yudi mengangkat bahunya santai, merentangkan kedua tangannya. "Jadi, situasi kita berdua saat ini adalah seri, seimbang, 50:50. Bukankah logika tersebut benar adanya... Joo Heika-sama?" Yudi menutup kalimat provokatifnya dengan nada kemenangan mutlak, meninggalkan Sona yang hanya bisa terdiam membeku menatap layar digital yang berkelip-kelip di atas papan caturnya.

1
Bayuon So7
anjirlah, kata garis miring ini kayak sebuah klu atau apa dah kok tetiba gitu ya😄
Bayuon So7
jantungan si Sona cuk🤭
Bayuon So7
ini reaksinya kayaknya lebih natural dari yang sebelumnya, karena gua bacanya juga kagum cuy am kekuatan nih karakter Falbium🤭
Bayuon So7
anjay dipancing
Bayuon So7
mana bisa anjir🤣
Bayuon So7
nah kan, kena Lo. di cibir langsung sam Fuiukaicho sama🤭
Bayuon So7
geli gua dengarnya 🤣
Bayuon So7
Damn, bro beneran gosong parah si Saji di sini brok. Lu bikinnya make sense lagi Thor, gua tadi berpikir lu lagi mau injak karakter ini serampangan tapi lu mendesainnya dengan apik. jadinya gak jadi gua hujat anjirlah 🤣
Bayuon So7
wah keren lu Thor, alih-alih mempermalukan dengan aneh. lu bikin ada reason pada tindakan Sona sebelumnya dan kemarahan dia di sini beneran make sense
Bayuon So7
damn, lu juga pernah dipegang tangannya kan. ah ealah
Bayuon So7
iya, abis chef Tsubaki. sekarang chef Sona. wah beneran dibuat gosong ini sajinya.
Bayuon So7
Thor, lu kayaknya punya dendam pribadi Ama saji deh. kok serem amat penghakimannya cok.
Bayuon So7
Absolute cinema, cukup chef ini sudah gosong jangan dilanjutkan.🤭
Bayuon So7
Weh ada chef yang mau masak, pastikan bikin masakan yang lezat dan bergizi. chef Tsubaki Shinra.
Bayuon So7
ngimpi lu anying gak logis banget dah pikirannya si saji ini ya.
Bayuon So7
gua juga ngedown kalau cewek paling polos tetiba natap dengan tajam gini. artinya lu bikin masalah super serius.
Bayuon So7
oh Ice king ini loh, kalau marah meski gak meluap-luap rasanya bikin berdebar-debar
Bayuon So7
waduh Sona udah mulai kepancing emosi nih
Bayuon So7
Alasannya masuk akal tapi entah kenapa rasanya jadi klise denger omongan lu saji🤭
Bayuon So7
Efek dibuat senyum tadi siang kah, kok tetiba jadi perhatian gini 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!