Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Penyelamatan Diam-Diam
"Yana, mau ke mana?" panggil Paman Bimo saat melihat Yana berjalan membawa belati di pinggangnya.
Yana menghentikan langkah di tepi pemukiman. "Cuma mau memeriksa perangkap di dekat celah tebing barat, Paman."
"Jangan terlalu jauh," pesan Paman Bimo seraya membetulkan ikatan kayu bakarnya. "Angin utara makin kencang. Salju tebal bisa turun sebentar lagi."
"Iya, Paman. Aku tidak akan lama," balas Yana singkat lalu melanjutkan langkahnya.
Yana bergerak cepat menyusuri semak-semak. Hari ini, tepat sebelum badai salju kecil turun di kehidupan pertamanya, seorang pemburu bernama Paman Suto tewas di celah tebing barat akibat runtuhnya tanah lapuk.
Kematian Suto saat itu melemahkan pertahanan suku menjelang puncak musim dingin. Yana tidak akan membiarkan hal itu terulang lagi.
Sepuluh menit berjalan, Yana melihat Paman Suto dari balik pepohonan. Pria setengah baya itu sedang berlutut, fokus menatap jejak kaki rusa tanpa menyadari tanah di atas tebing yang dipijaknya sudah retak.
Yana memutar arah tanpa menimbulkan suara.
Tepat saat tumit Suto menginjak bagian tanah yang paling tipis, bunyi retakan keras terdengar.
"Aaakh!" jerit Paman Suto kaget saat tubuhnya mulai terperosok.
Yana melompat cepat dari balik semak. Tangannya menyambar kuat kerah mantel kulit Suto, merenggut tubuh pria tegap itu mundur ke tanah yang keras tepat sebelum tumpukan batu besar jatuh berhamburan ke dasar jurang.
Brak!
Suara benturan batu menggema keras, menerbangkan debu dan tanah kering.
Paman Suto terduduk di atas tanah, napasnya tersengal-sengal dengan wajah pucat pasi. "Y-Yana?! Bagaimana bisa kamu ada di sini?!"
Yana melepas pegangannya, lalu menepuk-nepuk debu di tangannya dengan tenang. "Jalur tebing ini lapuk kena es, Paman Suto. Tadi aku sedang melihat-lihat di sekitar sini dan melihat tanahnya mulai retak."
"Tapi... aku sama sekali tidak mendengar langkah kakimu!" Paman Suto memegang dadanya yang berdebar kencang. "Bagaimana kamu bisa tahu aku berada tepat di bawah tebing yang mau runtuh ini?"
"Suara batu retak itu terdengar jelas dari balik semak," jawab Yana lugas tanpa ragu. "Aku cuma refleks berlari ke arah suara."
Paman Suto menatap jurang di belakangnya, lalu memandang Yana dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Dewa Binatang... kalau kamu tidak menarik ku tadi, aku pasti sudah mati membusuk di bawah sana! Terima kasih, Yana! Terima kasih banyak!"
"Tidak perlu dipikirkan," balas Yana singkat. "Apa kakimu ada yang terkilir?"
"Sedikit terkejut saja, tapi masih bisa berjalan," jawab Paman Suto seraya mencoba menggerakkan kakinya.
"Bagus," kata Yana seraya mengulurkan tangan. "Ayo kembali ke pemukiman sebelum turun badai. Jangan ke arah tebing ini lagi sampai musim dingin selesai."
"Iya, aku akan mendengar perkataanmu," sahut Paman Suto cepat sambil menerima uluran tangan Yana dan bangkit berdiri. "Aku tidak akan mendekati celah tebing ini lagi. Ayo kita pulang!"
Yana membiarkan Paman Suto berjalan lebih dulu di depannya. Bagi Yana, alasan di balik tindakannya tidak penting untuk dijelaskan, selama nyawa anggota sukunya terselamatkan.
Namun, tidak jauh dari sana, ada mata lain yang memperhatikan seluruh kejadian tersebut.
Di balik pohon cemara besar, Ayla berdiri terpaku bersama Bibi Nora. Ayla tadinya berniat mengumpulkan buah beri hutan, lalu sengaja mengajak Bibi Nora mengikuti Yana dari jauh karena penasaran.
"Luar biasa..." bisik Bibi Nora terperanjat di sebelah Ayla. "Yana menyelamatkan Suto! Untung Yana ada di sana!"
"Iya, Bibi. Yana hebat sekali," sahut Ayla pelan.
Mata Ayla menyipit tajam. Senyum ramah yang biasa dipasang Ayla di depan warga kini hilang sepenuhnya.
"Ayla? Kamu kenapa?" tanya Bibi Nora heran melihat perubahan raut wajah Ayla.
"Ah, tidak apa-apa, Bibi Nora," jawab Ayla cepat seraya mengumbar senyum tipisnya kembali. "Aku cuma kaget melihat tebing yang runtuh tadi. Ayo kita samperi mereka!"
"Ayo!" Bibi Nora melangkah bergegas menyusul Yana dan Suto.
Ayla berjalan perlahan di belakang Bibi Nora.
Tangannya terkepal di balik mantel kulitnya. Pikirannya berputar cepat mengingat semua kejanggalan pada diri Yana sejak awal.
"Dia sama sekali tidak kaget waktu pertama kali melihatku," bisik Ayla pada dirinya sendiri dengan suara sangat pelan. "Dia menolak usul pembukaan lahanku dengan alasan yang terlalu tepat. Dan sekarang... dia tahu persis Paman Suto akan tertimpa bahaya di celah tebing ini."
Ayla menatap punggung Yana yang makin menjauh di depan sana. Rasa penasaran gadis itu kini berubah menjadi kecurigaan yang sangat besar.
Ayla merasa yakin, gadis suku yang selalu bersikap dingin itu sedang menyembunyikan sesuatu yang luar biasa dari semua orang. Termasuk dirinya.