NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di hotel

BAB 3 — PERTEMUAN DI HOTEL

Sejak malam itu, saat aku menemukan sejumlah kejanggalan yang cukup mencolok di dalam berkas laporan keuangan perusahaan yang ditangani langsung oleh suamiku, ketenangan yang biasanya selalu mampu kujaga kini benar-benar hilang tak berbekas. Pikiranku terus berputar tanpa henti, dihantui oleh rasa gelisah yang semakin lama semakin menjadi-jadi karena ada terlalu banyak hal yang mulai terasa tidak beres, ada banyak potongan kejadian yang jika disusun satu per satu akan membentuk sebuah pola yang sama sekali tidak masuk akal namun terasa begitu nyata. Semua kebetulan yang selama ini kupandang sebagai hal biasa, kini berubah menjadi sesuatu yang mencurigakan, sesuatu yang seolah sengaja ditutup-tutupi agar tidak ada yang menyadarinya. Namun di sisi lain, aku sadar betul bahwa sampai detik ini aku sama sekali belum memegang satu pun bukti nyata yang bisa membuktikan kecurigaanku, aku hanya mengandalkan firasat buruk yang begitu kuat dan menghantui setiap sudut pikiranku, padahal firasat saja tentu tidak akan pernah cukup untuk menuduh seseorang, apalagi jika orang yang akan kutuduh itu adalah Arga, suamiku sendiri, laki-laki yang telah bersumpah setia mendampingiku seumur hidup.

Jam di atas meja kerjaku sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat aku akhirnya menutup layar laptop dengan perasaan yang sangat berat. Ruangan kantor yang luas itu sudah sepenuhnya kosong dan sunyi, hanya ada aku yang masih duduk diam di balik meja besar ini, ditemani oleh suara dengungan pelan dari pendingin udara dan cahaya lampu yang terasa terlalu terang untuk suasana hati yang sedang kacau balau. Tanganku bergerak perlahan memijat pelipis yang terasa berdenyut nyeri, bukan hanya karena kelelahan fisik akibat bekerja seharian penuh, melainkan karena beban pikiran yang menumpuk dan membuat kepalaku serasa ingin pecah. Ada satu hal yang entah kenapa sejak siang tadi terus berputar berulang-ulang di dalam kepalaku, satu kalimat sederhana yang diucapkan oleh Eliana, adik tiriku, namun terasa begitu menusuk dan sulit untuk dilupakan. “Aku hanya takut Kak Arga lelah,” begitu ucapnya saat kami bertemu di ruang tamu siang tadi. Semakin lama aku merenungkan makna di balik kalimat itu, semakin terasa ada keanehan yang tersembunyi di sana, seolah Eliana mengetahui sesuatu yang sama sekali tidak kuketahui, seolah perempuan itu memiliki hak yang jauh lebih besar untuk mengkhawatirkan suamiku dibandingkan sekadar hubungan kakak dan adik ipar. Aku sempat menggeleng pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa mungkin saja aku yang terlalu sensitif, mungkin saja karena hubungan rumah tangga kami yang belakangan ini memang sedang tidak berjalan harmonis membuatku jadi mudah berprasangka buruk, atau mungkin aku yang sedang sibuk mencari-cari kesalahan yang sebenarnya tidak ada. Namun jauh di lubuk hati yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik bahwa instingku tidak mungkin salah, bahwa memang ada sesuatu yang sedang disembunyikan dari pandanganku, sesuatu yang besar dan berbahaya.

Keesokan harinya, aku menerima undangan resmi untuk makan siang dari salah satu investor lama keluarga yang sudah lama menjalin kerja sama dengan perusahaan kami. Pertemuan itu dijadwalkan berlangsung di sebuah hotel bintang lima yang sangat megah dan terkenal di pusat kota, Hotel Grand Meridian, tempat yang sering menjadi lokasi pertemuan penting, perjanjian bisnis, maupun acara-acara besar bagi kalangan pebisnis dan orang-orang terpandang. Aku datang tepat waktu sesuai janji, dan pertemuan itu berlangsung cukup lama, hampir mendekati dua jam lamanya, di mana kami membahas rencana pengembangan proyek pembangunan kawasan industri baru yang sedang dirancang oleh tim kami. Untungnya diskusi berjalan sangat lancar dan menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan, sehingga rasa lelahku sedikit terbayar oleh hasil yang memuaskan. Saat pertemuan selesai, aku mengantar tamu istimewa itu sampai ke lobi utama, dan setelah berjabat tangan serta mengucapkan salam perpisahan, aku berbalik arah berniat menuju area lift untuk kembali ke kendaraanku. Namun langkah kakiku tiba-tiba terhenti di tengah jalan, napasku tertahan sejenak, dan mataku menangkap sosok yang sangat familiar, sosok yang setiap hari ada di sampingku: Arga. Suamiku baru saja melangkah masuk melalui pintu kaca putar utama hotel itu dengan penampilan yang rapi namun terlihat santai.

Aku langsung mengernyitkan dahi dengan perasaan bingung yang bercampur curiga. Bukankah pagi tadi saat berangkat kerja ia mengatakan akan ada rapat penting seharian penuh bersama tim pemasaran di kantor pusat? Lalu alasan apa yang membuatnya berada di sini saat jam kerja begini? Tanpa sadar aku hampir saja memanggil namanya dengan suara keras, namun niat itu urung terlaksana saat mataku menangkap pemandangan lain yang membuat jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, seolah mau melompat keluar dari dada.

Arga tidak berjalan sendirian. Di sisi kirinya berjalan seorang perempuan yang mengenakan kacamata hitam besar dan topi lebar yang menutupi sebagian besar wajahnya, namun meski tertutup begitu rapi, aku mengenali bentuk tubuh ramping itu, cara berjalannya yang anggun, dan rambut panjang yang terurai jatuh menutupi bahu.

Itu Eliana. Tubuhku seketika membeku di tempat, kakiku terasa berat dan sulit digerakkan, sementara mataku tak lepas menatap keduanya yang berjalan berdampingan menuju lokasi lift pribadi yang berada di sisi lain lobi, jauh dari jangkauan pandangan orang banyak. Cara mereka berjalan, cara mereka mengobrol, dan jarak di antara mereka terasa begitu santai, begitu akrab, dan begitu dekat, jauh melampaui batas hubungan antara kakak ipar dan adik ipar. Mereka terlihat persis seperti dua orang yang sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama dalam keintiman yang tidak sembarangan.

Dengan sisa kesadaran yang masih ada, aku langsung bergerak mengikuti mereka dari kejauhan, berusaha menjaga jarak aman agar tidak terlihat, namun terlambat. Pintu lift kaca itu sudah tertutup rapat tepat saat aku hampir sampai di dekatnya, dan mataku menangkap angka digital di atas pintu yang bergerak naik menuju lantai tujuh belas. Tanganku mengepal erat di sisi tubuh, kuku menancap ke telapak tangan hingga terasa sakit, berusaha menahan gejolak emosi yang meluap-luap. Apa yang sebenarnya mereka lakukan di lantai itu? Pertanyaan itu terus berputar kacau di kepalaku, berusaha mencari jawaban yang paling masuk akal. Mungkin saja mereka sedang mengikuti rapat kerja di ruang pertemuan hotel ini, mungkin saja ada urusan pekerjaan mendadak yang mengharuskan mereka ke sini, atau mungkin aku yang terlalu berlebihan dan terlalu curiga. Namun satu hal yang tidak bisa kutolak adalah rasa sakit karena dibohongi. Jika memang urusan pekerjaan, kenapa Arga harus berbohong padaku pagi tadi? Kenapa ia tidak mengatakan dengan jujur ke mana tujuannya?

Dengan langkah yang gemetar namun penuh tekad, aku berjalan cepat menuju meja resepsionis utama di lobi, berniat mencari tahu kebenaran meski aku sadar hal itu sangat sulit dilakukan.

“Mohon maaf, Nona,” sapaku pelan kepada staf yang sedang bertugas. Perempuan muda itu tersenyum ramah dengan sikap profesionalnya.

“Ada yang bisa kami bantu, Bu?” tanyanya sopan.

“Saya sedang mencari suami saya, sepertinya ia baru saja masuk ke hotel ini dan saya ingin memastikan keberadaannya,” jawabku berusaha tetap tenang.

“Tentu saja, Bu. Boleh saya tahu siapa nama suami Ibu?” tanyanya lagi. Aku segera menyebutkan nama lengkap Arga dengan jelas. Wajah resepsionis itu langsung berubah ragu dan terlihat bingung.

“Maaf sekali, Bu, tetapi kami memiliki peraturan ketat dan tidak bisa memberikan informasi mengenai data tamu hotel kepada sembarang orang demi privasi dan keamanan,” jawabnya halus namun tegas.

Aku mengangguk paham, tentu saja aku sudah menduga hal itu akan terjadi. Namun tepat saat aku hendak berbalik badan pergi, mataku menangkap sesuatu yang membuat darahku seolah berhenti mengalir. Di sisi lain meja, seorang staf lain baru saja menyerahkan kartu akses tambahan kepada rekannya, dan dalam sekejap mata saat layar komputer mereka berhadapan sedikit ke arahku, aku melihat sekilas nama Arga tertera jelas di sana, disertai dengan satu nomor kamar pribadi.

Dadaku langsung berdegup kencang dan nyeri. Kamar hotel. Bukan ruang rapat, bukan ruang konferensi, bukan ruang pertemuan terbuka, melainkan sebuah kamar tidur pribadi yang tertutup rapat. Aku tidak tahu kekuatan apa yang menggerakkan kakiku saat itu, kenapa aku berjalan begitu cepat menuju lift tamu dan menekan tombol angka tujuh belas. Mungkin karena rasa marah yang memuncak, mungkin karena rasa penasaran yang menyiksa, atau mungkin karena aku ingin membuktikan sendiri apakah firasat burukku ini benar-benar terjadi atau hanya sekadar imajinasi belaka. Saat pintu lift terbuka di lantai tujuan, suasana koridor yang panjang dan luas itu terlihat sangat sunyi, hanya ada suara langkah kakiku sendiri yang teredam oleh karpet tebal berwarna merah marun yang menghampar di sepanjang lorong. Aku berjalan perlahan, hati-hati, napas tertahan, dan semakin aku melangkah maju, semakin sesak pula dadaku oleh rasa takut dan kecewa.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!