Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Darah di Sayap Barat
Lidah Arunika mendadak kelu. Seluruh persendiannya mengunci, membuat tubuhnya membeku di atas ranjang yang empuk. Di hadapannya, sosok bertopeng itu melangkah tanpa suara, seolah sepasang sepatu botnya dilapisi kain penurun bunyi. Pisau komando di genggamannya terangkat perlahan, siap menghujam tepat ke arah dadanya.
"Si-siapa..." Suara Arunika akhirnya keluar, namun hanya berupa bisikan parau yang langsung tersapu angin malam dari celah jendela.
Sosok itu tidak menjawab. Hanya kilatan matanya yang tampak dingin—sebuah tatapan yang tidak memuat dendam pribadi, melainkan kepatuhan buta pada sebuah perintah eksekusi.
Ketika jarak di antara mereka menyusut hingga menyisakan dua langkah, sosok bertopeng itu mengayunkan pisaunya ke bawah dengan kecepatan mematikan.
Arunika melepaskan jeritan yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Mengikuti insting bertahan hidup yang tersisa, dia melemparkan tubuhnya ke samping, berguling di atas kasur hingga terjatuh ke lantai ubin yang keras.
*Sret!*
Pisau itu merobek sprei sutra hitam tepat di posisi dada Arunika berada sedetik yang lalu. Kapas dari dalam kasur berhamburan ke udara seperti salju kelam.
"Tolong! Siapa saja, tolong!" teriak Arunika histeris sambil merangkak mundur, menjauh dari ranjang. Punggungnya menghantam lemari kayu ek yang besar. Sudut matanya mencari-cari benda apa saja yang bisa dijadikan senjata, namun kamar mewah ini terlalu rapi. Tidak ada vas bunga, tidak ada asbak berat. Semua barang berharga tertata jauh dari jangkauannya.
Sosok bertopeng itu berbalik dengan cepat. Tampak tidak terpengaruh oleh kegagalannya yang pertama, dia kembali mendekati Arunika. Kali ini, langkahnya lebih lebar dan agresif.
Melihat celah kecil, Arunika menggunakan seluruh kekuatan kakinya untuk menendang sebuah lampu tidur berbahan kuningan di dekat ranjang hingga roboh menghalangi jalan sang pembunuh. Benda itu sempat membuat si penyusup tersandung, memberinya waktu beberapa detik untuk bangkit dan berlari menuju pintu koridor.
Arunika mencengkeram gagang pintu, memutarnya dengan panik.
*Cklek. Cklek.*
Terkunci. Sosok bertopeng itu ternyata benar-benar telah mengunci pintu dari dalam setelah menyelinap masuk.
Langkah kaki di belakangnya mendekat dengan cepat. Arunika berbalik, menempelkan punggungnya ke daun pintu yang dingin. Dia bisa melihat bayangan kematian terpantul jelas pada bilah baja yang kini mengarah lurus ke tenggorokannya. Arunika memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menerima rasa sakit yang akan mengakhiri hidupnya yang malang.
*Duar!*
Suara ledakan keras mengguncang kamar, disusul runtuhnya engsel pintu kayu yang tebal. Pintu itu hantam ke depan, merobohkan Arunika yang berada di baliknya. Tubuh Arunika terlindungi oleh daun pintu yang tebal, namun hantaman itu membuatnya pening setengah mati.
Dari balik kepulan asap dan serpihan kayu yang hancur, sebuah siluet tinggi tegap melangkah masuk.
Arsen Valentino berdiri di sana. Jas hitamnya sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka, menampilkan urat-urat lehernya yang menegang oleh amarah. Di tangan kanannya, sebuah pistol berperedam suara masih mengeluarkan asap tipis dari moncongnya.
Sosok bertopeng yang tadinya siap menghabisi Arunika tertegun sejenak. Namun, sebagai seorang pembunuh profesional, dia segera mengubah target. Dia menerjang Arsen dengan pisau yang teracung ke depan.
Arsen sama sekali tidak bergeming. Alih-alih menembak, dia justru menyarungkan pistolnya ke pinggang dengan gerakan kilat, lalu menangkap pergelangan tangan si pembunuh yang memegang pisau.
*Krek!*
Suara patahan tulang yang mengerikan menggema di dalam kamar. Sosok bertopeng itu mengerang kesakitan saat pisaunya terjatuh ke lantai. Belum sempat dia membalas, Arsen menghantamkan lututnya ke perut sang pembunuh, disusul satu pukulan mentah menggunakan sikut yang langsung membuat hidung di balik topeng itu hancur berdarah.
Si penyusup terkapar di lantai, memuntahkan darah segar dari balik kain topengnya.
Arsen melangkah maju, menginjak dada pria bertopeng itu dengan sepatu pantofelnya yang mengkilap, memberikan tekanan yang cukup kuat hingga terdengar suara tulang rusuk yang meretak. Dengan gerakan dingin, Arsen membungkuk dan merenggut topeng hitam itu hingga lepas.
Wajah di baliknya adalah seorang pria muda dengan tato kalajengking di lehernya.
"Siapa yang mengirimmu?" suara Arsen terdengar sangat tenang, namun keheningan di bawah suaranya justru seratus kali lebih meneror daripada badai di luar. "Keluarga Volkov? Atau sisa-sisa anjing dari faksi selatan?"
Pria bertato itu hanya menyeringai dengan mulut yang penuh darah. "Kau... kau terlambat, Arsen. Sang Raja... akan segera jatuh," bisiknya dengan sisa tenaga, sebelum tiba-tiba tubuhnya kejang-kejang. Cairan hitam pekat keluar dari sudut bibirnya.
Arsen segera meraba urat nadi di leher pria itu, lalu mendengus kasar. "Sianida. Bajingan penakut."
Arsen berdiri, membuang mayat itu seolah-olah hanya tumpukan sampah. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan, tempat Arunika masih terduduk lemas di bawah reruntuhan pintu yang hancur. Tubuh gadis itu gemetar hebat, wajahnya seputih kertas, dan kedua tangannya mendekap dada dengan erat.
Arsen berjalan mendekat. Langkah kakinya yang berat terasa menekan dada Arunika. Dia berhenti tepat di depan gadis itu, menunduk, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh.
Arunika menatap tangan itu dengan ragu dan takut. Apakah pria ini berniat menyelamatkannya, atau justru akan mencekiknya sendiri? Namun, tidak ada pilihan lain. Dengan jemari yang gemetar, dia menyambut uluran tangan Arsen.
Arsen menarik tubuh Arunika ke atas dalam satu sentakan mudah. Kekuatan pria itu begitu besar hingga tubuh Arunika terdorong menabrak dada bidang Arsen. Untuk sesaat, Arunika bisa merasakan detak jantung Arsen yang stabil dan tenang—sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu gila.
"Sudah kubilang," bisik Arsen di dekat telinga Arunika, suaranya berat dan berbahaya. "Di rumah ini tidak ada tempat untuk kelemahan.
Baru beberapa jam kau berada di sini, musuh-musuhku sudah mengincarmu."
Arsen melepaskan cengkeramannya, membiarkan Arunika berdiri dengan kaki yang masih goyah. Dia menatap gaun Arunika yang robek di bagian lengan akibat pergulatan tadi, lalu beralih menatap noda darah dari pembunuh yang berceceran di lantai.
"Tuan Arsen!" Beberapa anak buah berjas hitam masuk dengan tergesa-gesa melalui pintu yang hancur, wajah mereka dipenuhi kepanikan.
"Maafkan kelalaian kami. Seseorang memotong kabel CCTV di sayap barat semenit yang lalu."
"Bersihkan tempat ini," perintah Arsen datar tanpa menoleh pada anak buahnya. "Dan seret mayat anjing ini ke halaman belakang. Berikan pada kawanan Doberman."
"Baik, Tuan!"
Arsen kembali menatap Arunika yang tampak nyaris pingsan karena syok. "Ikut aku. Kamar ini sudah tidak aman."
Tanpa menunggu jawaban, Arsen berbalik dan melangkah pergi. Arunika yang ketakutan setengah mati jika ditinggal sendirian di kamar penuh darah itu, terpaksa melangkah cepat mengikuti punggung lebar sang raja mafia. Mereka berjalan melewati lorong-lorong sunyi mansion menuju ke sayap utama bangunan, tempat yang tampaknya memiliki pengamanan jauh lebih ketat.
Arsen membuka pintu sebuah ruangan ganda yang sangat luas. Ini bukan sekadar kamar tidur; ini adalah *master suite* milik Arsen sendiri. Ruangan itu didominasi warna abu-abu gelap dan hitam, dengan furnitur minimalis namun berkelas tinggi. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja kerja besar dari kayu mahoni yang dipenuhi tumpukan berkas dan beberapa layar monitor yang menampilkan rekaman keamanan seluruh mansion.
"Kau tidur di sofa itu malam ini," ucap Arsen sambil menunjuk sebuah sofa kulit berukuran besar di dekat perapian. "Jangan menyentuh apa pun di ruangan ini jika kau masih ingin melihat matahari terbit."
Arunika hanya mengangguk pelan. Dia berjalan dengan langkah terseret menuju sofa, lalu duduk meringkuk di sana, memeluk lututnya sendiri. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya karena gaunnya yang basah oleh sisa air hujan belum sempat diganti.
Arsen berjalan menuju meja kerjanya, menuangkan cairan amber ke dalam gelas sloki, lalu meneguknya dalam sekali tenggak. Pandangannya tidak lepas dari Arunika yang tampak begitu rapuh di atas sofanya.
"Siapa pria bertato tadi?" tanya Arunika akhirnya, mencoba memberanikan diri. Suaranya bergetar di keheningan kamar. "Kenapa dia ingin membunuhku? Aku bahkan baru menginjakkan kaki di rumah ini beberapa jam."
Arsen meletakkan gelasnya dengan dentingan pelan. Dia berjalan mendekati sofa, lalu berdiri tegak di hadapan Arunika, menatapnya dengan pandangan menilai yang dingin.
"Dia tidak ingin membunuhmu karena siapa dirimu, Arunika," jawab Arsen, nadanya datar namun menusuk. "Dia ingin membunuhmu karena posisi yang kau tempati sekarang. Di mata dunia luar, kau adalah pengantin dari Arsen Valentino. Menghancurkanmu berarti menghancurkan harga diriku. Dan bagi musuh-musuhku, itu adalah awal yang bagus untuk memulai perang."
Arunika menelan ludah. Jadi, pernikahan bisnis ini benar-benar sebuah kutukan. Dia bukan sekadar jaminan utang ayahnya; dia telah melangkah masuk ke dalam zona perang internasional di mana kepalanya dihargai sangat mahal oleh orang-orang kejam.
"Kak Valeria... apa dia tahu tentang semua bahaya ini?" bisik Arunika, teringat pada kakaknya yang kini mungkin sedang menikmati malam di Paris dengan uang hasil curian dari perusahaan saingan Arsen.
Mendengar nama Valeria, rahang Arsen kembali mengeras. Kilatan dingin di matanya membuat bulu kuduk Arunika meremang.
"Kakakmu jauh lebih cerdik daripada yang kau kira, jalang kecil," desis Arsen, sebutan itu kembali keluar dari bibirnya yang kaku. "Dia tahu persis apa yang dia hadapi. Dia sengaja meninggalkanmu sebagai umpan agar perhatianku teralih, sementara dia menyelesaikan transaksinya di Eropa."
Arsen membungkuk, menumpukan kedua tangannya pada sandaran sofa di kiri dan kanan tubuh Arunika, mengurung gadis itu dalam ruang gerak yang sangat sempit. Aroma maskulin bercampur kayu cedar kembali mendominasi indra penciuman Arunika, membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
"Tapi dia salah perhitungan," lanjut Arsen, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Arunika. "Aku tidak akan membiarkan umpan ini mati begitu saja sebelum tujuanku tercapai. Mulai besok, kau akan menjalani latihan. Kau harus belajar bagaimana caranya tidak mati di rumahku."
Sebelum Arunika sempat mencerna maksud dari kata 'latihan' tersebut, sebuah ketukan keras kembali terdengar dari pintu kamar Arsen.
"Tuan Arsen! Ini gawat!" suara tangan kanan Arsen, Marco, terdengar panik dari luar pintu. "Ada laporan dari tim intelijen di pelabuhan utara. Salah satu gudang logistik kita diserang oleh faksi tak dikenal, dan mereka... mereka membawa pesan khusus untuk Anda."
Arsen menegakkan tubuhnya kembali, membuang napas gusar. Dia berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit. "Pesan apa?"
Marco menyerahkan sebuah ponsel yang layarnya sedang menampilkan sebuah video rekaman langsung. Dari posisi sofa, Arunika tidak bisa melihat gambar di layar tersebut, namun dia bisa mendengar suara audio yang keluar dari ponsel itu.
Sebuah suara tawa yang melengking kencang, disusul oleh suara erangan kesakitan seorang pria paruh baya yang sangat dia kenali.
*“Aruni... Aruni, tolong Ayah, Nak! Arsen... bajingan kau Arsen! Selamatkan aku—”*
*Duar!*
Suara tembakan di dalam video itu memutus jeritan tersebut seketika.
Arunika terbelalak, tangannya menutup mulutnya sendiri yang bergetar hebat. Itu suara ayahnya. Baskoro.
Arsen menatap layar ponsel itu dengan mata yang menyipit tajam, sementara rahangnya mengencang hingga urat-uratnya menonjol. Dia berbalik perlahan, menatap Arunika dengan pandangan yang sulit diartikan.
_____________________________
**Bersambung ke Bab 4...**
*Apakah Baskoro benar-benar telah dieksekusi oleh musuh Arsen, ataukah ini hanyalah jebakan awal untuk memancing sang raja mafia keluar dari sarangnya? Dan apa yang akan dilakukan Arunika saat menyadari bahwa nyawa ayahnya kini berada di ujung tanduk karena keterikatannya dengan Arsen? Jangan lewatkan ketegangannya di bab berikutnya!*