Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: NASIHAT
Setibanya mereka kembali di mansion keluarga Wicaksono, pemandangan mengejutkan langsung menyambut seisi rumah.
Melihat Anaya melangkah masuk dengan tubuh yang dibungkus jaket OSIS kebesaran serta seragam sekolah yang basah kuyup, seluruh anggota keluarga seketika dibuat panik luar biasa.
“Marvel, ada apa dengan Princess?” tanya Opa Darwin dan Oma Silya serempak dengan raut wajah cemas.
“Kenapa Princess bisa basah kuyup seperti ini, Bang?” tanya Mami Luna ikut menimpali.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Boy?” tuntut Paman Arga tegas.
Rentetan pertanyaan khawatir itu terus bersahutan. Mereka semua tahu betul bahwa di luar sama sekali tidak sedang turun hujan. Lagipula, jikapun hujan, Naya pergi menggunakan mobil milik Marvel yang tidak mungkin akan membuatnya basah seperti ini.
“Naya disiram, Mami. Tadi ada Clara dengan teman-temannya. Saat Naya sedang asyik makan es krim, tiba-tiba saja dia menyiram kepala Naya,” jawab Naya polos.
Wajah menggemaskannya tampak tanpa beban, karena jiwanya benar-benar tidak paham apa maksud di balik aksi penyiraman tersebut.
Mendengar penuturan jujur itu, semua orang yang ada di ruang tengah seketika terdiam kaku. Mereka menyadari satu hal yang menyakitkan: putri kecil mereka yang polos ini bahkan tidak tahu bahwa dirinya baru saja dipermalukan di depan umum.
“Terus... terus... Clara juga bilang kalau Naya itu jalang kecil. Mommy, jalang kecil itu artinya apa?” tanya Naya lagi, mendongak menatap Siska dengan tatapan jernih tanpa dosa.
Deg.
Pertanyaan polos itu terasa seperti hantaman yang membuat dada semua orang terasa sesak seketika. Seluruh pasang mata di ruangan itu mendadak terpaku dan membeku. Princess Wicaksono, harta paling berharga yang selalu mereka ratukan, baru saja dikatai dengan sebutan seburuk itu oleh orang asing. Manusia macam apa yang begitu berani melontarkan kata sekotor itu kepada putri kecil mereka?
“Sayang, ayo kita ganti baju dulu sama Mommy di kamar, ya? Nanti kamu bisa masuk angin,” ajak Siska buru-buru mengalihkan pembicaraan, mencoba meredam gejolak amarahnya sendiri agar tidak menakuti sang putri.
“Hu’um, Mommy,” jawab Anaya patuh. Ia melangkah kecil lalu menggandeng erat tangan sang ibu menuju lantai atas.
***
Kepergian Anaya dan Siska dari ruang tengah seketika mengubah atmosfer di tempat itu menjadi teramat dingin, pekat, dan mencekam.
Aura membunuh dari para pria dan wanita keluarga Wicaksono langsung aktif dalam hitungan detik.
“Jelaskan, Boy,” ucap Papi Langit dengan suara berat yang teramat tegas pada putranya.
Marvel mengembuskan napas pendek. “Saat itu kita sedang berada di kedai es krim, dan Princess sedang menikmati es krimnya dengan tenang.”
Flashback On
Saat sedang fokus memperhatikan adik kecilnya yang makan es krim dengan lahap, Marvel yang terlalu fokus tidak menyadari kedatangan rombongan perempuan asing.
Gadis yang memimpin rombongan itu—yang tidak lain adalah Clara—tiba-tiba saja membentak dan memaki Anaya di depan umum, menuduh sang Princess sebagai sugar baby bahkan mengatainya jalang.
Mendengar kata-kata kotor itu ditujukan kepada adiknya, darah Marvel seketika mendidih hebat. Rasanya ingin membunu gadis sombong itu di tempat.
Namun, belum sempat Marvel bertindak, Clara dengan cepat menyambar segelas air di atas meja lalu mengguyurkannya tepat di atas kepala Anaya, membuat seragam sekolah adiknya basah kuyup.
Setelah Marvel melayangkan ancaman, barulah Clara dkk pergi tanpa berniat melontarkan kata maaf sedikit pun kepada adiknya.
Flashback Off
***
Mendengar penuturan lengkap dari Marvel, seluruh keluarga besar Wicaksono benar-benar dikuasai oleh kemurkaan yang luar biasa.
Mereka ingat betul bahwa gadis bernama Clara itu adalah putri dari Seno Bramantio—pria yang baru saja mereka runtuhkan kerajaan bisnisnya dalam waktu semalam.
Namun ternyata, putrinya itu sama sekali tidak pintar dan tetap nekat mencari masalah dengan Princess mereka.
“Gadis itu lagi ternyata,” ucap Bumi dingin, mengingat kembali betapa angkuh dan tidak tahu dirinya Clara saat disidang di ruang BK kemarin.
“Gadis bodoh! Apa dia pikir dia bisa menyentuh Princess kita se-enaknya? Bahkan seujung rambut pun tidak akan pernah kubiarkan disentuh oleh manusia macam dia!” ujar Hendra, rahangnya mengeras kuat demi menahan emosi yang siap meledak.
“Sepertinya pelajaran yang kalian berikan kemarin masih kurang bagi keluarga mereka,” ucap Buna Maya tenang, yang langsung dihadiahi anggukan setuju dari Mami Luna dan Mama Karina.
Ketiga wanita sosialita itu kompak menyunggingkan sebuah senyuman miring yang tampak teramat mengerikan.
Ya, keluarga Wicaksono ini jika menyangkut keselamatan Naya memang aslinya agak di luar nurul.
Mendengar adik sepupu kecil mereka diganggu dan dikatai kasar, Marco beserta si kembar tentu saja tidak akan tinggal diam. Darah muda mereka bergejolak hebat menuntut pembalasan.
“Seperti apa rupa gadis bodoh itu, Bang?” tanya Utara menatap Marvel, jemarinya sudah gatal ingin bergerak.
“Apa kau lupa caranya menggunakan komputer milikmu itu?” ujar Marvel datar tanpa ekspresi, memberikan kode tersirat.
Utara dan Selatan saling berpandangan sesaat, lalu seulas senyum misterius nan licik terbit di wajah tampan si kembar.
“Bolehkah kami bermain dengan mereka?” tanya Selatan, meminta izin kepada barisan para tetua di depan mereka.
“Aku ikut! Jangan lakukan hal menyenangkan seperti ini tanpa gue,” sahut Marco bersemangat, tidak mau ketinggalan aksi balas dendam.
Paman Arga selaku yang tertua menatap ketiga pemuda itu dengan tatapan dinginnya. “Lakukan sesuka kalian. Sisanya, urusan kami para orang tua yang akan membereskannya,” jawab Arga memberikan restu penuh.
“Oke, let's play the game, bitch,”
seringai ketiga pemuda tampan itu secara bersamaan, siap meruntuhkan apa pun yang tersisa dari hidup Clara dan kawan-kawannya lewat pergerakan bawah tanah mereka.
***
Meninggalkan atmosfer ruang tengah mansion yang dipenuhi aura menekan dan mencekam, situasi di dalam kamar tidur Anaya justru terasa jauh lebih hangat.
Di dalam kamar bernuansa pastel itu, Naya sedang ditemani oleh sang bunda untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Gadis mungil itu sama sekali tidak trauma; ia justru kembali berceloteh dengan sangat riang.
“Mommy tahu? Tadi Naya dikatai sugar baby loh sama Clara,” celoteh Naya super polos seraya merentangkan kedua tangannya agar Siska bisa memakaikan baju kaus rumah yang lembut.
“Kalau sugar baby, berarti artinya Naya itu anak yang manis, kan, Mommy?” ucap Naya lagi dengan mata bulat yang mengerjap-ngerjap lucu.
Siska yang sedang merapikan kerah baju putriny seketika menghentikan gerakannya. Dadanya terasa begitu sesak.
Kepolosan putrinya ini benar-benar membuat hatinya terasa seperti tersayat. Putri kecilnya yang sangat menggemaskan ini bahkan tidak sadar kalau dirinya baru saja dihina dan dipermalukan di depan umum.
Siska menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa sesak dan amarah di dadanya, lalu menangkup kedua pipi tembam Naya dengan tatapan penuh kasih sayang.
“Naya, dengerin Mommy ya, Sayang. Lain kali kalau ada orang yang bicara seperti itu lagi kepadamu, Anaya boleh langsung membantahnya,” tutur Siska dengan suara yang teramat lembut dan sarat akan kehati-hatian.
“Kata-kata seperti sugar baby dan jalang itu sama sekali tidak baik, Sayang. Itu kata kotor yang dipakai untuk merendahkan dan menyakiti Anaya. Anaya paham sekarang, hm?” lanjut Siska mencoba memberikan pemahaman dasar agar putri kecilnya bisa melindungi diri di masa depan.
Anaya terdiam sejenak, mata bulatnya yang jernih berkedip pelan mencoba mencerna nasehat dari sang ibu.
Sedetik kemudian, ia mengangguk paham lalu mengacungkan jari kelingking mungilnya ke depan wajah Siska.
“Eumm! Naya janji, Mommy,” sahut Naya manis, mengunci janji kelingking mereka.
“Berarti... Clara itu orang jahat ya, Mommy, karena bicara seperti itu kepada Naya?” tanya Anaya lagi, memastikan dengan dahi yang berkerut tipis.
“Betul sekali, Sayang. Dia anak yang tidak baik. Dan karena itu kata yang buruk, Anaya juga tidak boleh melontarkan kata-kata seperti itu kepada orang lain, ya?” ucap Siska memberikan nasehat berharga, yang langsung dihadiahi anggukan ribut dan patuh dari sang Princess.
“Hu’um, Mommy! Naya anak baik, jadi Naya tidak akan bicara kotor!” serunya dengan senyuman cerah yang kembali terbit di wajah menggemaskannya, melupakan seluruh kejadian buruk yang menimpanya sore ini.
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB 26..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP PAGI DAN MALAM JAM 08.00-09.00 dan 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 08.00-09.00 dan 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
ayo cil kerjain abangmu ngambek dua hari kalau ga ya satu Minggu 😂
si Utara dan Selatan masa ga ngeh yah dia ahli segala ahli