Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Air Mata Palsu di Lounge Mewah
Malam itu, VIP lounge bernuansa temaram di pusat kota dipenuhi ketegangan yang kontras dengan alunan musik jaz lembut di latar belakang. Di atas sofa beludru merah, Lucianna Francesca duduk bersandar dengan bahu yang bergetar kecil. Saputangan satin di tangannya sudah basah, mengusap sudut matanya yang memerah.
"Ini semua karena aku, Tuan Muda Tobias, Tuan Muda Damian..." bisik Lucianna, suaranya serak dan sengaja dibuat parau. "Jika saja aku tahu kedatanganku di rumah itu hanya membawa kemalangan bagi Ibu, aku lebih baik pergi sejak awal."
"Lucianna, tenanglah dulu. Minum ini," Tobias Frost dengan sigap menggeser segelas air hangat, wajahnya mengkerut penuh rasa iba dan amarah yang tertahan. "Jangan terus-menerus menyalahkan dirimu sendiri. Katakan dengan jelas, apa yang sebenarnya dilakukan keluarga Guinevere siang tadi?"
Lucianna mendongak, menatap Tobias dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca—sebuah tatapan white lotus andalannya yang selalu berhasil memanipulasi siapa saja.
"Ibu... Ibu meneleponku sambil menangis histeris," tutur Lucianna dengan nada tersendat-sendat. "Dia bilang, Tuan James mendadak memanggil pengacara dan mencabut semua berkas pengangkatanku sebagai anak angkat. Tidak hanya itu... Nona Bellamy datang dengan pakaian basah kuyup, lalu mengamuk di depan ruang kerja."
"Mengamuk?" Damian Lorakalyn yang duduk di sisi lain langsung menegakkan tubuhnya, matanya menyipit tajam. "Wanita manja itu berulah lagi?"
"Nona Bellamy berteriak sangat kencang, Damian," bohong Lucianna, meremas saputangannya erat-erat untuk mendramatisasi cerita. "Ibu bilang, Nona Bellamy mengancam akan menyiram wajah Ibu dengan teh mendidih jika kami tidak segera angkat kaki dari mansion. Dia bilang... kami ini hanya parasit rendahan yang tidak tahu diri. Nona Bellamy ingin memecat Ibu dan mengusir kami ke jalanan malam ini juga."
"Kurang ajar!" Brak! Damian memukul lengan sofa dengan keras. "Bellamy Guinevere benar-benar sudah keterlaluan! Hanya karena dia anak konglomerat, dia pikir dia bisa menginjak-injak harga diri orang sesukanya?!"
"Aku tidak masalah jika tidak diangkat menjadi anak keluarga Guinevere, Damian," tangis Lucianna pecah lagi, air matanya luruh dengan sangat pas di pipinya. "Tapi melihat Ibuku yang sudah bertahun-tahun mengabdi di sana dihina dan diancam seperti itu... hatiku hancur. Kenapa Nona Bellamy begitu kejam? Apa salah kami?"
"Dia hanya wanita egois yang cemburu karena kau jauh lebih berharga daripada dirinya yang bodoh itu, Lucianna," timpal Tobias, suaranya melembut saat menatap Lucianna, namun mendadak mendingin saat mengingat Bellamy. "Tenanglah, kami tidak akan membiarkanmu dan ibumu ditindas. Benar kan, Javier?"
Tobias menoleh ke arah ujung sofa. Di sana, Javier Enrique duduk diam sejak awal. Satu tangannya memegang gelas wiski, sementara pandangannya lurus menatap cairan emas di dalam gelas tersebut. Wajah tampannya datar, tidak mengekspresikan kemarahan yang meluap-luap seperti Damian atau Tobias.
"Javier?" panggil Damian karena tidak mendapat respons. "Kenapa kau diam saja? Wanita pembuat masalahmu itu baru saja menindas Lucianna!"
Javier mengembuskan napas pendek, lalu meletakkan gelas wiskinya ke atas meja kaca dengan bunyi klik yang pelan. "Kau yakin Bellamy mengamuk seperti itu, Lucianna?"
Lucianna tersentak kecil mendengar nada suara Javier yang tidak sedingin biasanya saat membahas Bellamy. Ia cepat-cepat memasang ekspresi terluka yang lebih dalam. "Javier... apa kau tidak mempercayaiku? Ibuku sendiri yang mengatakannya. Dia tidak mungkin berbohong di tengah ketakutannya."
Javier tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya, ingatan sore tadi di tepi kolam renang kembali berputar di otaknya.
“Bahkan jika kau berlutut dan memohon di kakiku sambil menyerahkan seluruh harta keluargamu, aku tidak akan sudi pergi bersamamu. Kau... tidak lebih dari sekerikil kecil di jalananku. Mengerti?”
Kata-kata Bellamy sore tadi terasa terlalu tenang, terlalu tajam, dan penuh dengan harga diri yang tinggi—sangat bertolak belakang dengan citra Bellamy yang suka menjerit, menangis, dan melempar barang-barang jika sedang mengamuk. Pria dengan tipe psikologis seperti Javier tahu betul perbedaan antara kemarahan histeris seorang wanita manja dan intimidasi dingin dari seseorang yang benar-benar berbahaya. Sore tadi, Bellamy adalah yang kedua.
"Javier, kau memikirkan apa, sih?" tanya Tobias heran melihat sahabatnya malah melamun.
"Jam berapa sekarang?" Javier malah balik bertanya tanpa korelasi.
Damian melirik jam tangannya dengan dahi berkerut. "Hampir jam sebelas malam. Kenapa?"
Javier mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, menyalakan layarnya, lalu menatap bilah notifikasi yang kosong bersih. Layar ponselnya sepi. Tidak ada satu pun panggilan tidak terjawab atau pesan yang masuk.
"Biasanya, di jam seperti ini, wanita itu sudah mengirimkan setidaknya tiga puluh pesan teks," gumam Javier, suaranya sangat rendah namun bisa didengar oleh yang lain.
"Pesan? Maksudmu pesan sampah dari Bellamy?" Damian terkekeh sinis. "Bukannya bagus kalau dia tidak menerormu malam ini? Biasanya dia selalu mengirimkan foto-foto barang mewah, atau merengek minta ditemani makan malam dengan kalimat-kalimat manis yang menjijikkan."
"Bukan hanya pesan," Javier membuka sebuah aplikasi media sosial di ponselnya, lalu mengetikkan nama akun Bellamy Guinevere. Kosong. Tidak ada unggahan baru. "Biasanya, setiap kali aku menolaknya atau mengabaikannya, dia akan langsung memposting kutipan-kutipan sedih tentang patah hati, atau memposting foto dirinya yang sedang menangis di kamar demi menarik perhatianku. Tapi hari ini... tidak ada apa-apa."
Lucianna yang mendengar itu langsung merasakan firasat buruk. Ia buru-buru menghapus air matanya dan memajukan tubuhnya. "Mungkin... mungkin Nona Bellamy sedang menyusun rencana lain untuk menjebakmu, Javier. Setelah dia gagal dengan drama melompat ke kolam sore tadi, dia pasti tahu taktik lamanya sudah tidak mempan lagi."
"Taktik baru?" Javier menyipitkan matanya, menatap layar ponselnya yang tetap hening. "Jika ini adalah taktik tarik-ulur agar aku mencarinya, maka dia sudah berubah menjadi aktris yang sangat hebat dalam waktu satu jam."
"Sudahlah, Javier, jangan terlalu dipikirkan," potong Tobias, merasa jengkel karena fokus pembicaraan beralih dari penderitaan Lucianna. "Biarkan saja dia menjauh. Itu lebih bagus untuk ketenangan hidupmu. Yang penting sekarang adalah bagaimana nasib Lucianna dan ibunya di mansion itu."
Javier memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu kembali mengambil gelas wiskinya. Meskipun mulutnya diam, pikirannya tidak bisa tenang. Ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di dadanya—rasa terusik karena sesuatu yang biasanya selalu berlutut mengejarnya, tiba-tiba berbalik arah dan menatapnya dengan pandangan menjijikkan seolah-olah dia hanyalah seonggok sampah di pinggir jalan.
"Lucianna," Javier menatap gadis white lotus itu dengan pandangan tajam yang tidak terbaca. "Pulanglah ke mansion Guinevere malam ini. Lihat situasi di sana secara langsung."
Lucianna agak terperangah. "Tapi Javier... bagaimana jika Nona Bellamy benar-benar mengusir Ibuku?"
"Dia tidak akan berani melakukannya selama James Guinevere—masih mengizinkan kalian tinggal," jawab Javier dingin, meskipun di dalam hatinya ia sendiri penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam rumah keluarga konglomerat itu. "Pergilah. Dan kabari aku jika wanita itu melakukan sesuatu yang aneh lagi."
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣