Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Master Johan berdiri di tengah arena latihan dengan kedua tangan terlipat. Tatapannya menyapu seluruh mahasiswa sebelum akhirnya berhenti tepat pada Joni.
"Jon."
"Iya, Master?"
"Gue perhatiin belakangan ini latihan lo mulai serius. Bagus. Berarti usaha lo nggak sia-sia."
Joni menggaruk belakang kepala sambil nyengir.
"Hehe... makasih, Master."
"Tapi..."
Master Johan melangkah maju.
"Hari ini lawan sparing lo bukan Gondrong."
Joni langsung memasang wajah bingung.
"Hah? Terus siapa?"
"Gue."
Suasana arena mendadak sunyi.
"EBUSET!"
Joni sampai mundur selangkah.
"Yang bener, Master? Baru kali ini Master ngajak sparing murid sendiri. Makin bonyok aja dah gue."
"Heh! Nggak usah banyak bacot."
Master Johan menunjuk ring latihan.
"Kalau lo mau cepet naik level, buktiin kemampuan lo. Cepat masuk ring."
Belum sempat Joni menjawab, Gondrong sudah muncul dari belakang sambil cekikikan.
"Hehehe... asyik nih. Sparing lawan badak."
Joni langsung melotot.
"Tai lo. Malah ngeledekin."
"Hehehe..."
Dengan wajah pasrah, Joni akhirnya naik ke atas ring.
Master Johan ikut masuk sambil melepaskan jaket instruktur. Tubuhnya yang penuh bekas luka langsung terlihat jelas. Otot-ototnya padat seperti baja, membuat beberapa mahasiswa baru bergidik hanya dengan melihat posturnya.
Master Johan mengepalkan kedua tinjunya.
"Gue nggak bakal ngasih keringanan."
Tatapannya berubah serius.
"Sebelum gue izinin lo masuk Dimensi Monster, gue harus yakin kalau lo cukup kuat buat pulang hidup-hidup."
Joni menelan ludah.
"Siap... Master."
"Mulai!"
BUUUGHH!!
Belum sempat Joni bergerak, Johan sudah melesat seperti peluru.
Tinju pertamanya menghantam lengan Joni yang buru-buru digunakan untuk menangkis.
BRAKK!!
Tubuh Joni langsung terdorong hampir tiga meter.
"Sial..."
Belum sempat menstabilkan napas.
BUGH! BUGH! BRAK!
Rentetan pukulan datang tanpa jeda.
Joni hanya bisa bertahan sambil terus mundur. Kedua lengannya mulai mati rasa akibat menahan kekuatan Johan.
"Satu..."
BUGH!
"Dua..."
BRAK!
"Tiga!"
DUAAAG!!
Sebuah uppercut telak menghantam dagunya.
Tubuh Joni terangkat sebelum jatuh berguling di atas ring.
"Ugh..."
Sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Para mahasiswa yang menonton ikut meringis.
"Buset... ngeri."
Namun Joni perlahan bangkit lagi.
Ia mengusap darah di bibirnya lalu kembali memasang kuda-kuda.
Melihat itu, Johan tersenyum tipis.
"Bagus."
"Kali ini giliran gue!"
Joni mengerahkan seluruh tenaga di kedua kakinya lalu melesat maju.
"HYAAAH!"
BUGH!
Tinju kanannya mengarah lurus ke dada Johan.
Master Johan mengangkat lengan kirinya untuk menangkis.
BRAKK!
Pukulan itu memang berhasil diblok.
Namun...
Johan merasakan lengannya sedikit bergetar.
"Ho?"
Untuk pertama kalinya ekspresi Johan berubah.
"Tenaga bocah ini..."
"Naiknya lumayan juga."
Joni tidak memberi kesempatan.
BUG! BUG! BUG!
Tiga pukulan bertubi-tubi kembali menghantam pertahanan Johan.
Seluruhnya berhasil ditepis.
Namun setiap benturan membuat lengan Johan terasa semakin berat.
"Hmph..."
Meski wajahnya tetap tenang, dalam hati Johan mulai mengakui perkembangan muridnya.
"Daya pukulnya belum seberapa..."
"Tapi dibanding sebulan lalu, peningkatannya jauh."
Sayangnya...
Perbedaan level mereka masih terlalu jauh.
"Latihan bagus."
Johan memutar pinggangnya.
"Tapi masih kurang!"
DUAAAAGG!!
Sebuah straight punch menghantam perut Joni.
"HUAAAKK!"
Mata Joni langsung membelalak.
Tubuhnya terpental hingga membentur tali ring sebelum jatuh berlutut sambil memegangi perut.
Napasnya terasa sesak.
Seluruh isi perutnya seperti diaduk.
Namun...
Beberapa detik kemudian...
Joni kembali berdiri.
Kedua kakinya memang gemetar, wajahnya penuh lebam, dan napasnya memburu. Tetapi ia tetap mengangkat kedua tinjunya.
Melihat itu, Master Johan tersenyum puas.
"Bagus..."
"Tenaga lo mulai terasa."
"Lalu..."
Tatapannya menyipit.
"Ketahanan tubuh lo juga jauh lebih alot dari sebelumnya."
Kalau dulu satu pukulan sudah cukup membuat Joni pingsan, sekarang bocah itu masih sanggup berdiri setelah menerima belasan serangan darinya. Itu berarti latihan yang dijalani setiap hari benar-benar mulai menunjukkan hasil.
Pertarungan berakhir dengan Joni yang terduduk kelelahan di atas ring. Seluruh tubuhnya dipenuhi memar. Bibirnya pecah, kedua lengannya gemetar, dan napasnya tersengal-sengal. Meski babak belur, senyum tipis justru terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia berhasil bertahan cukup lama melawan Master Johan.
Biiip... Biiip... Biiip...!
Jam tangan pintarnya tiba-tiba berbunyi nyaring.
Sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
LEVEL UP!
Level 6 → Level 7
Bonus Status Point: +20
Joni langsung mengepalkan tangan.
"YES! Akhirnya Level 7 juga!"
Tanpa ragu, ia langsung membuka menu atribut.
Defense : +15
Stamina : +5
Semua poin langsung ia habiskan.
Tubuhnya seketika terasa lebih ringan. Napas yang tadinya memburu mulai stabil, sementara rasa pegal di otot-ototnya sedikit berkurang.
Master Johan melihat itu sambil mengangguk pelan.
"Bagus."
Ia memberi isyarat agar Joni mengikutinya.
"Ayo. Ikut gue ke ruangan."
Di ruang instruktur, Master Johan membuka sebuah lemari besi kecil. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gulungan scroll berwarna cokelat tua dan sepasang gauntlet berwarna abu-abu gelap yang memantulkan kilau logam.
Ia meletakkan kedua benda itu di atas meja.
"Ini hadiah standar buat Brawler yang baru mencapai Level 7."
Joni langsung mendekat.
"Scroll skill..."
Dan...
"Iron Gauntlet!"
Matanya langsung berbinar.
Master Johan menyilangkan tangan.
"Lo milih jalur Defense. Cocoknya memang pakai perlengkapan ini."
Ia mendorong kedua hadiah itu ke arah Joni.
"Selamat."
"Mulai besok, lo resmi gue izinin masuk ke Dimensi Monster."
Jantung Joni langsung berdegup lebih cepat.
Akhirnya...
Impian yang selama ini terasa jauh kini benar-benar ada di depan mata.
"Terima kasih, Master."
"Scroll itu bisa langsung dipakai sekarang."
Joni mengangguk.
Tanpa membuang waktu, ia membuka gulungan scroll tersebut.
Begitu segelnya terbuka...
WUSSHH!!
Cahaya keemasan menyembur keluar.
Seluruh isi gulungan berubah menjadi butiran cahaya yang berputar mengelilingi tubuh Joni sebelum akhirnya mengalir masuk ke kedua tinjunya.
Fwoosh...
Aura keemasan sesaat menyelimuti kedua kepalan tangannya.
Beberapa detik kemudian...
Cahaya itu menghilang.
Skill Dipelajari!
Heavy Punch
Joni berkedip.
"Udah... selesai?"
Master Johan mengangguk.
"Keluar."
"Hah?"
"Coba skill itu."
Mereka kembali ke arena latihan.
Di depan Joni sudah tergantung sebuah sansak latihan yang biasa dipakai mahasiswa tingkat atas.
Master Johan menunjuk ke arah sansak.
"Pusatkan tenaga lo ke tinju."
"Iya, Master."
"Nggak usah nyentuh sansaknya."
Joni mengernyit.
"Lah... kalau nggak kena, gimana mukulnya?"
Master Johan mendecakkan lidah.
"Coba dulu."
"Dasar kebanyakan bacot."
"Hehe... siap."
Joni menarik napas panjang.
Ia mengenakan Iron Gauntlet pemberian Master Johan.
Logam dingin itu terasa pas membungkus kedua tangannya.
Perlahan ia memejamkan mata.
Seluruh tenaga dikumpulkan menuju kepalan tangan kanan.
Aura tipis mulai berputar di sekitar gauntlet.
Master Johan mengamati dengan serius.
"Nah..."
"Sekarang ayunkan."
Joni membuka mata.
"HAAA!"
SWIIINGGG!!
Tinju kanannya melesat ke depan.
Padahal...
Jaraknya masih hampir satu meter dari sansak.
Namun tepat saat pukulan itu berhenti...
DUAAARRR!!
Ledakan udara berbentuk kepalan tangan menghantam sansak dengan keras.
BRAAAKKK!!
Sansak itu langsung terlepas dari rantainya, terbang menghantam dinding, lalu robek hingga isi kapasnya beterbangan ke seluruh arena.
Seluruh mahasiswa yang melihat kejadian itu langsung melongo.
"Buset..."
"Itu... pukulannya nggak nyentuh."
Joni sendiri sampai menatap kedua tangannya dengan mata membelalak.
"Wihhhh..."
"Mantul, Master!"
Master Johan tersenyum tipis.
"Jangan senang dulu."
"Itu baru Heavy Punch tingkat dasar. Kalau terus dilatih, daya ledaknya bisa berkali-kali lipat lebih kuat."
Joni mengepalkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar.
Untuk pertama kalinya sejak masuk Sacred Gate, ia benar-benar merasa dirinya telah melangkah menjadi seorang Brawler sejati.