NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1 perceraian

happy reading guys

Suara petir malam itu menggelegar keras banget, seolah mau meruntuhkan atap rumah megah keluarga Mahendra.

Tapi buat Anya, suasana di dalam ruangan ini jauh lebih mengerikan dan dingin.

Plak!

Satu map tebal dilempar kasar sampai mengenai dadanya, lalu jatuh berantakan di lantai marmer.

"Tanda tangani itu sekarang. Habis itu, angkat kaki dari rumah saya!"

Suara Devan terdengar berat dan menusuk.

Pria yang statusnya masih jadi suami Anya itu menatapnya penuh kebencian.

Benar-benar nggak ada lagi tatapan hangat, yang ada cuma rasa jijik.

Anya yang cuma pakai daster longgar refleks memegangi perut buncitnya.

Usia kandungannya sudah masuk delapan bulan.

Dengan tangan gemetar, dia melihat tulisan di kertas itu: Surat Gugatan Cerai.

"Mas Devan... maksudnya apa?"

Anya berbisik lirih, Matanya sudah panas, air matanya tumpah begitu saja.

"Aku nggak pernah selingkuh, Mas! Foto-foto itu jebakan. Anak di dalam perutku ini anak kamu, Mas Devan..."

"Cukup, Anya! Jangan sebut anak haram itu sebagai darah daging saya!" bentak Devan.

Tanpa perasaan, Devan maju dan mencengkeram rahang Anya kuat-kuat.

"Dua tahun lalu kamu jebak saya di hotel biar saya mau nikah sama kamu. Sekarang, pas kontrak kita mau habis, kamu malah tidur sama cowok lain demi nguras harta Mahendra? Murahan!"

Devan menghempaskan wajah Anya sampai wanita itu hampir tersungkur ke lantai kalau nggak buru-buru memegangi pinggiran sofa.

Di sudut ruangan, seorang wanita dengan gaun merah elegan tersenyum sinis.

Siska, Cinta pertama Devan yang baru sebulan ini kembali dari luar negeri.

Dialah yang merancang semua fitnah ini, memasukkan obat tidur ke minuman Anya, lalu mengambil foto Anya di kamar hotel bersama pria asing seolah-olah mereka habis berbuat asusila.

Siska berjalan mendekat dengan gaya anggunnya.

Dia pura-pura menatap Anya dengan tatapan kasihan, lalu mengusap lengan Devan lembut.

"Devan, sudahlah. Jangan emosi begitu, kasihan kandungan Anya. Lagipula, dari awal kan pernikahan kalian cuma sebatas kontrak. Anya, kamu harusnya tahu diri dari dulu kalau Devan itu cuma cinta sama aku."

Melihat tangan Siska yang bebas mengusap lengan suaminya, dada Anya terasa sesak sampai rasanya pasokan oksigen di sekitarnya menipis.

Sakit banget,Sambil meremas daster lusuhnya, batin Anya menjerit pedih.

Dia mengingat kembali semua pengorbanannya selama dua tahun ini.

Tiap malam, dia selalu terjaga sampai jam dua pagi cuma buat nungguin Devan pulang kerja dan membuatkan sup pereda mabuk.

Dia juga rela jarinya melepuh demi memasak makanan kesukaan pria itu, yang ujung-ujungnya malah dibuang Devan ke tempat sampah karena Devan lebih milih makan di luar.

Selama dua tahun, Anya bertahan jadi istri tersembunyi yang nggak pernah dianggap, menerima semua makian, dan bersikap super sabar cuma karena satu alasan bodoh.

Anya telanjur cinta mati sama Devan,Dia pikir, ketulusannya bisa mencairkan hati si CEO es itu.

Tapi ternyata, boro-boro mencair, hati Devan malah makin membatu sejak Siska kembali.

Anya menyeka air matanya dengan kasar.

Rasa sakit di hatinya tiba-tiba berubah menjadi mati rasa.

Cukup sudah,Pengorbanannya sudah sampai di batas akhir.

"Kamu benar-benar nggak mau denger penjelasan aku, Mas?"

tanya Anya, suaranya tiba-tiba berubah datar.

Tidak ada lagi nada memohon seperti tadi.

"Penjelasan apa lagi? Semua bukti foto itu sudah jelas! Saya nggak sudi jadi ayah dari anak haram itu!"

Devan mendengus kasar, lalu membuang muka,Anya tersenyum getir.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia memungut pulpen di atas meja.

Tanpa ragu-ragu lagi, dia mencoretkan tanda tangannya di atas surat cerai tersebut.

Sret! Sret!

Selesai.

Hubungan yang dia pertahankan dengan darah dan air mata itu akhirnya kandas malam ini juga.

Anya berdiri, menatap Devan dan Siska bergantian dengan pandangan mata yang kosong namun tajam.

"Kuharap kamu nggak akan pernah menyesali keputusan ini, Devan Mahendra. Mulai detik ini, kita nggak punya hubungan apa-apa lagi.

Anya berbalik.

Dia sama sekali nggak sudi membawa satu pun tas, baju mewah, atau perhiasan yang pernah diberikan oleh keluarga Mahendra.

Dia melangkah perlahan menuju pintu keluar, cuma bermodalkan daster yang melekat di tubuhnya dan dompet kecil berisi sisa uang tabungannya sendiri.

Anya berbalik.

Dia sama sekali nggak sudi membawa satu pun tas, baju mewah, atau perhiasan yang pernah diberikan oleh keluarga Mahendra.

Dia melangkah perlahan menuju pintu keluar, cuma bermodalkan daster yang melekat di tubuhnya dan sebuah ponsel lama di genggamannya.

Saat Anya membuka pintu rumah, angin malam yang kencang langsung menusuk kulitnya.

Hujan deras di luar langsung membasahi tubuhnya dalam hitungan detik.

Baru beberapa langkah berjalan di halaman rumah yang luas itu, perut Anya tiba-tiba terasa kram dan melilit luar biasa.

Syok berat dan udara dingin yang ekstrem membuat kandungannya menegang hebat.

"Akhrhhh....."

Anya merintih, memegangi perut buncitnya sambil tertatih-tatih.

Pandangannya mulai buram karena air hujan dan air mata yang menyatu.

Brak!

Di belakangnya, terdengar suara pintu gerbang besi besar rumah Mahendra ditutup rapat-rapat oleh satpam atas perintah Devan.

Anya benar-benar telah dikunci di luar.

Dia sendirian di pinggir jalan raya yang sepi dan gelap.Anya ambruk di dekat tembok pagar.

Rasa sakit di perutnya makin menjadi-jadi.

Di sela-sela kesadarannya yang mulai menipis, Anya tahu dia harus menyelamatkan bayinya.

Dengan jari-jari yang gemetar karena kedinginan, dia meraba saku dasternya dan mengeluarkan ponselnya yang hampir mati.

Dia tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali satu nomor darurat yang sebulan lalu terus meneleponnya, mengaku sebagai pencari bakat yang tahu asal-usul aslinya.

Dulu Anya mengira itu penipuan, tapi malam ini, nomor itulah satu-satunya harapan.

Anya menekan tombol panggil, Telepon itu berdering.

Hanya butuh dua detik sampai suara seorang pria paruh baya yang terdengar panik menjawab di seberang sana.

"Halo? Nona Anya? Anda di mana? Kami sudah melacak sinyal Anda!"

"To... tolong..." suara Anya tercekat, napasnya satu-satu.

"Gerbang rumah Mahendra... perutku... sakit banget..."

"Nona! Bertahanlah! Kami sudah dekat! Jangan matikan teleponnya, Nona!"

suara di telepon itu mendadak berubah menjadi suara pria tua yang bergetar hebat karena cemas.

"Kakek datang, Sayang! Kakek datang!"

Pip.

Ponsel di tangan Anya mati total karena kehabisan baterai.

Tubuhnya lemas, hingga dia jatuh terduduk di atas aspal jalanan yang dingin dan basah.

Di tengah badai malam yang gelap, Anya memeluk perutnya erat-erat, menangis histeris sendirian meratapi nasibnya sebelum semuanya menjadi gelap gulita.

Tepat saat kesadarannya benar-benar hilang dan tubuhnya ambruk ke aspal, sepasang lampu mobil yang sangat terang menyorot ke arahnya.

Sebuah iring-iringan mobil mewah hitam berhenti mendadak di depannya.

Seorang pria tua berwibawa langsung keluar dari mobil tanpa memedulikan hujan, berlari histeris memeluk tubuh Anya yang sudah pingsan.

"Ya Tuhan! Anya! Bangun, Nak! Pengawal, cepat bawa Nona ke rumah sakit sekarang juga! Kalau terjadi sesuatu pada cucuku dan bayinya, aku akan meratakan keluarga Mahendra!" teriak pria tua itu dengan suara menggelegar penuh amarah.

Itu adalah kakek kandung Anya, kepala keluarga Wijaya—keluarga konglomerat terkaya nomor satu yang selama lima tahun ini mencari keberadaan cucu tunggal mereka yang hilang.

Sementara itu, di dalam rumah hangatnya, Devan berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar yang gelap gulita.

Dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak, seolah-olah ada sesuatu yang amat berharga yang baru saja tercabut dari hidupnya untuk selamanya.

Namun, Devan buru-buru menepis perasaan itu. Dia belum tahu, kalau malam ini adalah awal dari neraka penyesalan terdalam sepanjang sisa hidupnya.

_________

tunggu bab selanjutnya yaaa!! Kira kira ada apa nichhh dibab selanjutnya? penasaran kannnn? pantengin terusss yaaa jangan lupa like and komen! supaya aku semangat terus nulis nyaaa! Bye bye 🥰

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!