Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Mata yang Membuatnya Diam
Pagi itu, Arshaka Zayd Kalandra sudah berada di ruang kerjanya lebih awal dari biasanya.
Ruangan luas di lantai dua puluh gedung Kalandra Group itu tampak rapi dan dingin, sama seperti pemiliknya. Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan Jakarta yang mulai sibuk. Di atas meja kerja hitam mengilap, beberapa dokumen tersusun sempurna, laptop sudah terbuka, dan secangkir kopi hitam masih mengepulkan uap tipis.
Namun fokus Shaka bukan pada laporan keuangan yang seharusnya ia baca.
Sejak duduk di kursi kerjanya, pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
File tentang Jennaira Hanania Mecca.
Pintu ruang kerjanya diketuk dua kali sebelum terbuka.
Seorang laki-laki masuk dengan langkah santai, membawa map hitam di tangan kanannya. Wajahnya masih terlihat sedikit mengantuk, tetapi senyum jahil sudah lebih dulu muncul di bibirnya.
Rafa Mahendra.
Sekretaris pribadi sekaligus sahabat dekat Shaka sejak masa kuliah. Satu-satunya orang di kantor yang berani bicara seenaknya kepada Arshaka Zayd Kalandra tanpa takut kehilangan pekerjaan.
“Selamat pagi, Tuan Kalandra,” ucap Rafa dengan nada dibuat-buat formal. “Ini file wanita misterius yang berhasil membuat Anda menelepon saya tengah malam.”
Shaka mendongak dari layar laptopnya.
“Taruh di meja.”
Rafa tidak langsung menaruhnya. Ia justru berdiri di depan meja Shaka sambil mengangkat map itu sedikit.
“Gue kurang tidur gara-gara lo, tahu nggak?”
“Gue bayar lembur.”
“Masalahnya bukan duit, Ka. Masalahnya jam tidur gue yang suci itu lo ganggu cuma gara-gara perempuan.”
Shaka mendengus pelan. “Jangan lebay.”
“Gue lebay?” Rafa menatapnya tidak percaya. “Lo, Arshaka Zayd Kalandra, orang yang biasanya kalau dengar kata perempuan langsung pasang muka seperti habis lihat laporan pajak, tiba-tiba nyuruh gue cari profil Jennaira Hanania Mecca jam setengah satu malam. Menurut lo itu normal?”
“Rafa.”
“Ya?”
“File-nya.”
Rafa menyeringai. “Cie, nggak sabar.”
Tatapan Shaka langsung menajam.
Rafa buru-buru meletakkan map itu di atas meja.
“Oke, oke. Galak amat. Nih, profil lengkap versi aman dan legal. Data publik, berita lama, info usaha, beberapa catatan reputasi, dan sedikit hasil ngobrol gue dengan orang yang pernah datang ke kafenya.”
Shaka mengambil map itu tanpa menjawab.
Rafa duduk di kursi depan meja, seolah memang diundang, padahal tidak.
Shaka membuka halaman pertama.
Nama lengkap perempuan itu tertulis jelas di bagian atas.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara.
Usia dua puluh enam tahun. Putri bungsu Reza Nirankara dan Zahra Nirankara. Adik dari Abizar Nirankara. Pemilik Jenna’s Bloom Café. Lulusan manajemen bisnis. Pernah mengikuti beberapa program kewirausahaan sosial, tetapi jarang tampil di media.
Shaka membaca setiap baris dengan serius.
Rafa memperhatikannya dengan dagu bertumpu pada tangan.
“Gimana?” tanya Rafa.
Shaka tidak menjawab.
Ia lanjut membaca.
Jenna ternyata tidak pernah memakai nama besar NK Media Group untuk mempromosikan usahanya. Kafenya berkembang lewat pelanggan tetap, rekomendasi mulut ke mulut, dan beberapa unggahan organik dari pengunjung. Tidak ada wawancara besar. Tidak ada kampanye media. Tidak ada publisitas berlebihan.
Hal itu membuat Shaka sedikit mengernyit.
Anak dari pemilik perusahaan media terbesar di Indonesia, tetapi tidak memakai media untuk membesarkan usahanya sendiri.
Aneh.
Atau mungkin justru menarik.
Ia membalik halaman berikutnya.
Ada beberapa catatan tentang Jenna’s Bloom Café. Kafe itu dikenal memiliki suasana tenang, pelayanan ramah, dan toko bunga yang sering menerima pesanan untuk acara pernikahan, wisuda, ulang tahun, hingga ucapan duka. Banyak pelanggan menyebut pemiliknya lembut, sopan, dan tidak pernah membeda-bedakan siapa pun.
Shaka membaca satu kalimat yang ditandai Rafa dengan stabilo.
“Pemiliknya sangat ramah. Walaupun bercadar, cara bicaranya hangat dan membuat pelanggan nyaman.”
Shaka terdiam beberapa detik.
Rafa menyadari itu.
“Mulai tertarik?” godanya.
Shaka menutup map sebentar, lalu menatap Rafa datar.
“Lo nggak ada kerjaan lain?”
“Ada. Tapi ini lebih menarik.”
“Keluar.”
“Belum. Gue mau lihat ekspresi lo dulu setelah baca bagian terakhir.”
Shaka mengabaikannya dan kembali membuka file.
Di bagian akhir, ada beberapa foto kafe dari media sosial pelanggan. Bukan foto Jenna secara jelas, hanya beberapa sudut kafe, rangkaian bunga, secangkir kopi, dan sesekali sosok perempuan bercadar yang tampak sedang menyusun bunga dari kejauhan.
Tidak ada wajah yang terlihat.
Namun entah kenapa, satu foto membuat Shaka berhenti.
Foto itu memperlihatkan Jenna berdiri di balik meja bunga. Tangannya sedang merangkai mawar putih dan baby’s breath. Wajahnya tertutup cadar, tetapi matanya terlihat sedikit menunduk, fokus pada bunga di hadapannya.
Shaka menatap foto itu lebih lama dari yang seharusnya.
Rafa menyadarinya.
“Nah,” katanya pelan. “Kena.”
Shaka langsung menutup map.
“Diam.”
“Gue nggak bilang apa-apa.”
“Muka lo bilang semuanya.”
Rafa tertawa kecil.
“Jadi, gimana? Mau tetap pura-pura nggak penasaran?”
Shaka bersandar di kursinya. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja.
Ia benci mengakuinya, tetapi rasa penasaran itu semakin kuat.
File itu tidak memberinya alasan untuk mencurigai Jenna. Justru sebaliknya. Semakin banyak ia membaca, semakin sulit baginya memahami perempuan itu.
Putri bungsu keluarga Nirankara, tetapi memilih menjalankan usaha kecil dengan tangannya sendiri.
Hidup dalam keluarga besar yang dekat dengan media, tetapi menjauh dari sorotan.
Bercadar, tetapi dikenal hangat oleh banyak pelanggan.
Shaka tidak suka hal-hal yang sulit ia baca.
Dan Jenna, bahkan sebelum mereka bertemu, sudah menjadi sesuatu yang sulit ia tebak.
“Sore ini kosongkan jadwal setelah jam lima,” ujar Shaka akhirnya.
Rafa mengangkat alis. “Kenapa?”
“Kita ke Jenna’s Bloom Café.”
Senyum Rafa melebar seketika.
“Wih. Mau investigasi langsung?”
“Gue mau lihat tempatnya.”
“Tempatnya atau orangnya?”
Shaka menatapnya dingin.
Rafa mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah.
“Oke, oke. Tempatnya. Kita sebut saja tempatnya.”
Shaka membuka laptopnya kembali, mencoba mengakhiri pembicaraan.
Namun Rafa belum selesai.
“Ka.”
“Apa lagi?”
“Pakai baju yang agak manusiawi nanti. Jangan hitam-hitam terus kayak mau nagih utang.”
“Keluar.”
Rafa tertawa sambil berdiri.
“Iya, Bos. Sampai sore. Semoga jantung lo kuat lihat calon istri.”
“Rafa.”
“Cabut!”
Rafa segera keluar sebelum Shaka benar-benar melempar sesuatu ke arahnya.
Setelah pintu tertutup, Shaka kembali melirik map hitam di atas meja.
Nama Jennaira Hanania Mecca masih tertulis di halaman pertama.
Dan untuk alasan yang tidak ingin ia pahami, nama itu terasa semakin mengusik.
Sore di Jenna’s Bloom Café selalu menjadi waktu paling sibuk sekaligus paling disukai Jenna.
Cahaya matahari yang mulai turun masuk melalui jendela besar, membuat seluruh ruangan tampak hangat. Aroma kopi bercampur dengan wangi bunga segar. Suara mesin espresso, denting cangkir, obrolan pelanggan, dan langkah para karyawan terdengar seperti irama yang sudah akrab di telinga Jenna.
Hari itu, Jenna datang seperti biasa untuk membantu para karyawannya.
Meski ia pemilik kafe, ia tidak pernah hanya duduk di belakang meja dan memberi perintah. Ia ikut turun tangan. Kadang merangkai bunga, kadang membantu mengecek pesanan, kadang menyapa pelanggan tetap yang sudah ia kenal.
Di kafe itu, Jenna memiliki lima orang karyawan yang sudah ia anggap seperti keluarga kecilnya sendiri.
Naya, yang ceria dan telaten, bertugas di toko bunga.
Kevin, barista dengan tangan cekatan dan humor receh, selalu berdiri di balik mesin kopi.
Arya, koki pendiam tetapi sangat perfeksionis soal rasa, menguasai dapur kecil di belakang.
Alya, bagian kasir yang rapi dan teliti, jarang salah menghitung meski kafe sedang ramai.
Dan Amanda, waiters yang ramah, sigap, dan mudah akrab dengan pelanggan.
Mereka semua tahu Jenna bukan atasan yang menjaga jarak. Jenna memang lembut, tetapi ia juga pekerja keras. Ia tidak suka melihat orang lain kerepotan sementara dirinya hanya menonton.
“Naya, pesanan buket wisuda atas nama Rima sudah selesai?” tanya Jenna sambil menyusun beberapa tangkai tulip merah muda.
“Sebentar lagi, Kak. Tinggal kartu ucapannya.”
“Alya, tolong cek pembayaran pesanan standing flower untuk besok pagi, ya.”
“Siap, Kak Jenna.”
“Kevin, stok susu oat masih cukup?”
Kevin yang sedang membuat latte menjawab tanpa menoleh, “Masih aman, Kak. Tapi kalau besok ramai, kita harus restock.”
“Baik, nanti Jenna catat.”
Amanda lewat membawa dua gelas iced coffee ke meja pelanggan.
“Kak Jenna, meja tujuh minta tambahan saus untuk chicken pastry.”
“Arya sudah tahu?”
“Sudah, Kak. Dia lagi siapin.”
Jenna mengangguk, lalu kembali fokus pada buket di tangannya.
Sore itu pelanggan cukup ramai. Beberapa mahasiswa duduk di dekat jendela dengan laptop terbuka. Sepasang suami istri memilih bunga untuk ulang tahun anak mereka. Di sudut lain, dua perempuan muda sibuk memotret minuman dan vas bunga kecil di meja mereka.
Jenna sedang serius membuat pesanan buket bunga ketika Naya tiba-tiba menyenggol pelan lengannya.
“Kak Jenna,” bisik Naya.
Jenna tidak langsung menoleh. “Iya?”
“Kak.”
“Hm?”
“Kakak lihat meja dekat rak lavender.”
Jenna masih memasang pita pada buket. “Ada apa?”
“Ada dua laki-laki tampan banget baru masuk.”
Jenna akhirnya menoleh pelan ke arah Naya.
“Naya.”
“Apa? Aku cuma memberi informasi visual yang penting.”
Jenna hampir tertawa. “Fokus kerja.”
“Tapi Kak, serius. Yang satu kayak CEO dingin di drama, yang satu kayak sahabatnya yang tukang rusuh.”
Jenna menggeleng kecil. Namun karena Naya terus menatapnya penuh kode, akhirnya Jenna menoleh sebentar ke arah yang dimaksud.
Dan saat itulah matanya bertemu dengan mata seorang laki-laki yang baru saja duduk di meja dekat rak lavender.
Laki-laki itu mengenakan kemeja hitam sederhana, tetapi tetap terlihat mahal. Posturnya tegap. Wajahnya tegas, dingin, dan nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya tajam, seperti seseorang yang terbiasa membaca orang lain sebelum berbicara.
Untuk sesaat, ruangan yang ramai terasa melambat.
Jenna tidak tahu siapa laki-laki itu.
Namun tatapan mereka bertemu terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
Laki-laki itu tidak segera mengalihkan pandangan.
Begitu pula Jenna, hanya beberapa detik, sebelum ia sadar dan segera menundukkan matanya.
Jenna kembali menatap buket di tangannya, berusaha bersikap biasa saja.
“Naya,” katanya pelan.
“Iya, Kak?”
“Jangan memperhatikan pelanggan seperti itu. Tidak sopan.”
Naya menggigit bibir, menahan senyum.
“Tapi Kak Jenna juga tadi lihat.”
“Karena kamu suruh.”
“Iya, tapi Kakak lihatnya agak lama.”
“Naya.”
“Iya, iya. Aku lanjut kerja.”
Naya kembali ke meja bunga, tetapi senyumnya belum hilang.
Di meja dekat rak lavender, Rafa menahan tawa sambil memperhatikan Shaka.
“Ka.”
Shaka masih menatap ke arah meja bunga.
“Diam.”
“Gue belum ngomong apa-apa.”
“Lo pasti mau ngomong sesuatu.”
Rafa menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya penuh kemenangan.
“Itu Jenna?”
Shaka tidak menjawab.
Rafa menoleh lagi ke arah Jenna yang sedang kembali merangkai bunga.
“Pantas nyokap lo langsung semangat.”
Shaka meliriknya tajam. “Jaga omongan.”
“Gue cuma bilang fakta. Dia kelihatan beda.”
Shaka tidak membalas.
Matanya kembali mengarah kepada Jenna, meski ia berusaha membuatnya tampak seperti hanya sedang memperhatikan suasana kafe.
Perempuan itu tidak banyak bergerak, tetapi setiap gerakannya terlihat tenang. Tangannya menyusun bunga dengan hati-hati. Sesekali ia berbicara kepada karyawannya dengan suara lembut. Ketika seorang pelanggan mendekat untuk bertanya, Jenna langsung menghentikan pekerjaannya dan melayani dengan penuh perhatian.
“Untuk hadiah ulang tahun ibu, biasanya bunga yang warnanya lembut lebih cocok,” ucap Jenna kepada seorang pelanggan perempuan. Suaranya terdengar pelan, tetapi cukup jelas dari tempat Shaka duduk. “Kalau Ibu suka kesan hangat, bisa pilih mawar peach dan carnation putih. Nanti kami rangkai dengan baby’s breath supaya terlihat lebih manis.”
Pelanggan itu tersenyum. “Mbaknya sabar sekali jelasinnya.”
Mata Jenna melengkung lembut.
“Tidak apa-apa. Bunga itu memang sebaiknya dipilih dengan hati, Bu.”
Shaka terdiam.
Kalimat itu sederhana. Bahkan mungkin terdengar biasa bagi orang lain.
Namun cara Jenna mengatakannya membuat sesuatu di dada Shaka bergerak pelan.
Bukan perasaan yang besar.
Bukan juga sesuatu yang ingin ia namai.
Hanya sebuah jeda kecil dalam dirinya.
Seolah untuk sesaat, dingin yang selama ini ia pelihara bertemu dengan sesuatu yang hangat.
Rafa memperhatikan perubahan kecil di wajah sahabatnya.
“Lo tertegun,” bisiknya.
“Gue nggak tertegun.”
“Ka, gue udah kenal lo bertahun-tahun. Ekspresi lo memang minim, tapi bukan berarti gue buta.”
Shaka mengambil daftar menu, pura-pura membacanya.
“Mau pesan apa?” tanyanya datar.
Rafa tersenyum miring.
“Gue pesan kopi. Lo pesan kejujuran sama diri sendiri.”
Shaka menutup menu dengan satu tangan.
“Lo bisa diam lima menit?”
“Bisa. Tapi bayarannya mahal.”
Sebelum Shaka sempat membalas, Amanda datang ke meja mereka dengan senyum ramah.
“Selamat sore, Kak. Mau pesan apa?”
Rafa langsung menjawab dengan santai, “Saya iced americano satu. Untuk dia…” Rafa melirik Shaka. “Kopi hitam tanpa gula. Orangnya juga begitu.”
Amanda menahan senyum. “Baik, Kak. Kopi hitam tanpa gula satu.”
Shaka menatap Rafa tajam.
Rafa pura-pura tidak melihat.
Amanda mencatat pesanan, lalu bertanya, “Untuk makanan ada tambahan?”
Rafa melihat menu sebentar. “Chicken pastry satu. Sama… Ka, lo mau apa?”
“Tidak.”
“Dia tidak mau makanan karena hatinya sudah kenyang oleh rasa penasaran.”
Amanda kali ini benar-benar hampir tertawa, tetapi ia tetap profesional.
“Baik, Kak. Saya ulangi, iced americano satu, kopi hitam tanpa gula satu, dan chicken pastry satu.”
Rafa mengangguk. “Betul.”
Setelah Amanda pergi, Shaka berkata pelan, “Lo sengaja bikin gue terlihat bodoh.”
“Tenang. Lo tetap terlihat tampan dan kaku.”
“Rafa.”
“Iya, iya. Diam.”
Namun Rafa hanya diam sekitar sepuluh detik.
“Ka.”
Shaka memejamkan mata sebentar. “Apa?”
“Lo sadar nggak dari tadi mata lo balik lagi ke dia terus?”
Shaka tidak menjawab.
Karena kali ini, ia memang tidak punya bantahan yang cukup kuat.
Di sisi lain ruangan, Jenna menyerahkan buket yang sudah selesai kepada Naya untuk dibungkus. Setelah itu, ia berjalan ke meja kasir membantu Alya mengecek pesanan pelanggan.
Gerakannya lembut. Cara bicaranya rendah. Tidak ada kesan dibuat-buat. Ia tidak mencoba menarik perhatian siapa pun.
Justru karena itu Shaka semakin memperhatikan.
Ia pernah bertemu banyak perempuan yang berusaha tampil sempurna di hadapannya. Ada yang berbicara terlalu manis. Ada yang pura-pura tertarik pada pekerjaannya. Ada yang memandang nama Kalandra seperti tiket menuju kehidupan mewah.
Tetapi Jenna berbeda.
Setidaknya sejauh yang ia lihat sore itu.
Perempuan itu bahkan tidak tahu siapa dirinya.
Atau mungkin tahu, tetapi memilih tidak peduli.
Dan entah mengapa, kemungkinan kedua terasa lebih mengganggu bagi Shaka.
Ketika Jenna kembali menoleh ke arah ruangan untuk memeriksa pelanggan, tanpa sengaja tatapan mereka bertemu lagi.
Kali ini lebih singkat.
Jenna segera mengalihkan pandangan dengan sopan, lalu kembali berbicara kepada Alya.
Namun Shaka sudah telanjur melihatnya.
Mata itu.
Mata yang teduh, tenang, dan indah dengan cara yang tidak berisik.
Wajah Jenna tertutup cadar, tetapi matanya seperti menyimpan cerita yang tidak bisa disembunyikan.
Shaka menelan diam-diam.
Rafa, tentu saja, melihat semuanya.
“Parah,” gumam Rafa.
Shaka menatapnya. “Apa?”
“Lo sudah masuk fase bahaya.”
“Jangan mengarang.”
“Gue nggak mengarang. Lo baru lihat matanya aja sudah diam begitu. Gimana kalau nanti dia bicara langsung sama lo?”
Shaka memalingkan wajah ke luar jendela.
“Gue cuma observasi.”
“Observasi, katanya.” Rafa terkekeh. “Iya, Pak CEO. Observasi visual terhadap calon istri pilihan mama.”
Shaka tidak membalas.
Biasanya, ia akan langsung mematahkan candaan Rafa. Namun sore itu, pikirannya terlalu penuh.
Ia datang ke Jenna’s Bloom Café untuk mencari alasan agar bisa menolak rencana ibunya dengan lebih yakin.
Tapi yang ia temukan justru sebaliknya.
Jenna tidak tampak seperti perempuan yang mengejar nama besar. Tidak tampak seperti seseorang yang haus perhatian. Tidak tampak seperti ancaman.
Ia terlihat seperti perempuan yang hidup tenang di dunianya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama sekali, Shaka merasa ingin tahu seperti apa dunia itu dari dekat.
Ketika pesanan mereka datang, Amanda meletakkan kopi di meja dengan hati-hati.
“Silakan, Kak.”
“Terima kasih,” ucap Rafa ramah.
Shaka hanya mengangguk singkat.
Rafa mengambil gelas iced americano-nya, lalu berkata pelan, “Jadi, setelah ini apa? Lo mau langsung pulang atau pura-pura beli bunga supaya bisa ngomong sama dia?”
Shaka menatap kopi hitam di depannya.
Ia diam cukup lama.
Lalu, tanpa melihat Rafa, ia berkata, “Beli bunga.”
Rafa hampir tersedak minumannya sendiri.
“Serius?”
Shaka mengangkat cangkir kopinya.
“Untuk Mama.”
Senyum Rafa melebar.
“Alasan klasik, tapi gue terima.”
Shaka menyesap kopinya tanpa membalas.
Namun matanya kembali bergerak ke arah Jenna.
Di meja bunga, Jenna sedang tersenyum kepada seorang anak kecil yang menunjuk bunga matahari. Ia mengambil satu tangkai kecil, lalu memberikannya kepada anak itu dengan lembut. Anak itu tertawa senang, sementara ibunya mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Shaka menyaksikan adegan itu dalam diam.
Ada sesuatu yang asing di dadanya.
Bukan cinta.
Ia belum percaya pada kata itu.
Tapi mungkin, untuk pertama kalinya, ada rasa penasaran yang tidak ingin segera ia matikan.
Dan sore itu, di antara aroma kopi dan bunga, Arshaka Zayd Kalandra sadar satu hal.
Jennaira Hanania Mecca bukan sekadar nama dalam file.
Ia nyata.
Dan jauh lebih sulit diabaikan daripada yang ia kira.