Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Serangan
Di tengah arena batu yang terik, Zhou Tian berdiri dengan dagu terangkat tinggi. Sebagai murid elit dari faksi cabang klan yang telah mencapai ranah Pengumpulan Qi Tingkat 9, dia merasa berada di atas angin.
Baginya, bertandng melawan peserta dari jalur bebas hanyalah sebuah formalitas belaka—sebuah panggung gratis untuk memamerkan kebolehannya di depan para tetua inti dan faksi utama.
Dia menatap Zhou Yu yang berdiri beberapa meter di depannya dengan pandangan meremehkan. Sosok berjubah hitam dengan topeng perak setengah wajah itu sama sekali tidak memancarkan fluktuasi energi spiritual yang berarti.
"Bocah bertopeng, jika kamu tahu diri, sebaiknya kamu berlutut dan menyerah sekarang," ejek Zhou Tian sembari mencabut pedang panjangnya yang berkilauan.
"Jalur bebas dibuka agar para pengembara fana seperti kalian bisa melihat kemegahan Klan Zhou, bukan untuk menjadi samsak tinju di atas arena ini!"
Sorak-sorai bernada meremehkan bergemuruh dari tribun penonton yang mendukung faksi klan. Di mata mereka, pengembara berbaju hitam itu hanya sedang mencari perhatian dengan penampilannya yang misterius.
Zhou Yu sama sekali tidak menanggapi. Kedua tangannya tetap tersembunyi di balik lengan jubah hitamnya yang lebar. Di balik topeng perak, sepasang matanya menatap Zhou Tian seperti seorang manusia yang sedang melihat seekor semut yang berisik.
"Pertandingan... dimulai!" teriak wasit seraya melompat mundur dari area tengah.
"Rasakan ini! Teknik Pedang Elang Membelah Angin!"
Zhou Tian langsung merangsek maju dengan kecepatan penuh. Energi spiritual elemen angin berwarna hijau muda menyelimuti bilah pedangnya. Dalam sekejap, dia melepaskan belasan bayangan tebasan tajam yang bersilangan, mengunci seluruh sudut pergerakan Zhou Yu.
Serangan ini begitu cepat hingga memicu siulan angin yang melengking, menunjukkan fondasi kultivasinya yang cukup solid di ranah Pengumpulan Qi. Namun, di mata Zhou Yu, gerakan itu terasa sangat lambat—bagaikan tetesan air yang jatuh di musim dingin.
Zhou Yu tidak mencabut senjata. Dia bahkan tidak mengaktifkan Abyssal Qi hitamnya agar tidak memicu kecurigaan Zhou Gung di panggung VIP sebelum waktunya. Mengandalkan akselerasi murni dari kekuatan fisik naga miliknya, Zhou Yu mengambil satu langkah maju.
Sret.
Sosok jubah hitamnya mendadak bergeser dengan cara yang tidak masuk akal, melesat melewati celah tipis di antara belasan bayangan tebasan pedang angin Zhou Tian tanpa tersentuh seujung rambut pun.
"Apa?!" Zhou Tian membelalakkan matanya.
Jantungnya tersentak hebat saat menyadari lawannya tiba-tiba sudah berada di jarak jangkauan satu jengkal darinya. Sebelum Zhou Tian sempat menarik kembali pedangnya untuk bertahan, Zhou Yu mengeluarkan tangan kanannya dari balik jubah.
Dia tidak mengepalkan tangan, melainkan hanya menyentakkan satu jari telunjuknya tepat ke arah bilah pedang baja milik Zhou Tian.
Kranggg!
Suara hantaman logam yang memekakkan telinga bergaung. Pedang panjang berenergi milik Zhou Tian seketika hancur berkeping-keping menjadi puluhan serpihan logam di bawah ketukan jari tunggal Zhou Yu.
Tidak berhenti di situ, sisa gelombang kejut dari kekuatan fisik murni Zhou Yu menghantam dada Zhou Tian bagaikan gada raksasa yang tak kasat mata.
Brak!
Suara retakan tulang rusuk terdengar samar. Tubuh Zhou Tian terlempar lurus ke udara, melewati garis batas arena, sebelum akhirnya jatuh terhempas dengan keras di dinding tribun penonton.
Huft!
Dia memuntahkan seteguk darah segar dan langsung pingsan di tempat dengan mata membelalak putih.
Seluruh blok barat arena mendadak sunyi senyap seperti kuburan. Sorak-sorai penonton yang tadinya bergemuruh riuh kini terhenti secara instan. Mereka menatap serpihan pedang yang berserakan di tanah dan tubuh Zhou Tian yang tak sadarkan diri dengan rasa tidak percaya yang mendalam.
Satu jari. Hanya butuh satu jari untuk menghancurkan senjata dan menumbangkan kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 9 dalam waktu kurang dari tiga detik.
Wasit ranah Pendirian Fondasi yang memimpin pertandingan pun sempat terpaku selama beberapa saat, sebelum akhirnya menelan ludah dengan susah payah dan mengangkat tangannya. "P-pemenang... Yu Ling!"
Di panggung kehormatan VIP yang tinggi, atmosfer yang semula santai mendadak berubah. Sepasang mata tajam Lin Xinyue yang semula menatap bosan ke arah arena bawah, kini mendadak menyipit tajam.
Tangan indahnya yang memangku pedang pusaka perak tampak sedikit menegang. Sebagai seorang dewi pedang berbakat dari Sekte Pedang Suci, insting bertarungnya jauh lebih pekat daripada orang lain di tempat itu.
'Dia tidak menggunakan energi spiritual sedikit pun saat menyerang,' batin Lin Xinyue, matanya yang sedingin es terus mengunci sosok berjubah hitam di bawah sana. 'Kekuatan fisik mentah yang begitu masif... Siapa sebenarnya pengembara bertopeng perak itu?'
Zhou Gung juga menyadari keganjilan tersebut. Wajah paruh bayanya menggelap saat melihat murid cabang klannya dikalahkan dengan cara yang begitu memalukan di depan para tamu agung.
Dia menoleh ke belakang, memberikan isyarat rahasia kepada seorang kapten pengawal bayangan klan yang berdiri di kegelapan panggung.
"Selidiki asal-usul peserta bernama Yu Ling itu sekarang juga," bisik Zhou Gung dengan nada dingin yang sarat akan otoritas mutlak. "Jika ada yang mencurigakan, habisi dia begitu dia melangkah keluar dari area turnamen."
"Hamba menerima perintah," kapten bayangan itu membungkuk dan langsung menghilang dari tempatnya.
Di bawah terik matahari arena, Zhou Yu perlahan menarik kembali tangannya ke dalam lengan jubah hitamnya. Tanpa memedulikan puluhan ribu pasang mata yang kini menatapnya dengan kombinasi rasa syok dan takut, dia berbalik dengan tenang.
Langkah kakinya membawanya kembali berjalan menuju lorong gelap di bawah tribun penonton, bersiap untuk babak berikutnya. Dari balik topeng perak setengah wajahnya, sebuah gumaman pelan yang sarat akan hawa membara terdengar samar.
"Satu per satu... bersiaplah untuk patah."