NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Hari itu, matahari masih belum sepenuhnya meninggi ketika Alya menyelesaikan pekerjaan mencuci pakaian di rumah salah satu warga. Ia berdiri sejenak, menghela napas pelan sambil menyeka keringat yang menetes di keningnya dengan punggung tangan.

Pandangannya lalu terarah ke ujung gang, ke sebuah rumah kecil sederhana milik Bu Ami. Ada rasa khawatir yang kembali menyelinap di hatinya.

Sudah beberapa minggu terakhir, sosok wanita itu tak lagi tampak di luar rumah seperti biasanya. Bu Ami yang dulu sering duduk di bangku kayu, menyuapi Fariz dengan sabar atau menyanyikan lagu-lagu lawas dengan suara seraknya yang justru terasa menenangkan, kini tak lagi terlihat.

Bangku kayu di depan rumah itu kini tampak kosong, hanya diam diterpa angin, tanpa kehangatan yang dulu sering ada di sana. Suasana yang biasanya terasa hidup kini berubah menjadi sunyi.

Alya berdiri sejenak di depan gang, menatap ke arah rumah itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, sudah waktunya ia datang menjenguk dan memastikan keadaan Bu Ami, sekaligus mencari kepastian yang sejak lama mengganjal di pikirannya.

Ia sempat pulang sebentar ke gubuk kecilnya untuk memasak bubur hangat seadanya. Setelah selesai, mangkuk itu ia bawa dengan hati-hati menuju rumah Bu Ami.

Setibanya di sana, Alya berdiri di depan pintu dan mengetuk pelan. Tidak lama kemudian, terdengar suara lemah dari dalam, serak namun masih dikenali.

“Masuk saja… Nduk,” ucap Bu Ami pelan.

Alya melangkah masuk perlahan, lalu mendapati Bu Ami terbaring lemah di atas ranjang sederhana. Wajahnya tampak pucat, dengan raut yang jauh lebih sayu dibandingkan pertemuan terakhir mereka.

Tubuhnya terlihat semakin kurus, seolah sakit yang diderita telah menggerogoti tenaganya sedikit demi sedikit. Namun ketika matanya bertemu dengan Alya, sebuah senyum tipis tetap terukir di wajahnya hangat, meski penuh kelemahan.

Bu Ami adalah seorang wanita paruh baya yang menjalani hidup seorang diri. Ia tidak memiliki suami maupun anak, dan selama bertahun-tahun hidup dalam kesederhanaan yang tenang, tanpa banyak riuh dunia luar.

Hari-harinya lebih sering diisi dengan kesunyian, hingga kehadiran Alya dan Fariz perlahan membawa warna baru dalam hidupnya. Tawa kecil Fariz dan bantuan Alya yang tulus membuat rumah yang dulu sepi itu terasa sedikit lebih hidup, seolah menghadirkan kembali kehangatan yang lama hilang dari kesehariannya.

“Aku bawain bubur, Bu,” ucap Alya pelan sambil mendekat dan duduk di tepi ranjang.

Ia kemudian meniup sedikit bubur yang masih hangat sebelum menyuapinya dengan hati-hati. Gerakannya pelan, penuh kehati-hatian agar tidak membuat Bu Ami merasa tidak nyaman.

“Maaf ya, Nduk…” suara Bu Ami terdengar lirih dan berat. Ia menatap Alya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, penuh rasa bersalah.

“Bu Ami sudah nggak kuat lagi buat jagain Fariz,” lanjutnya pelan, seolah setiap kata yang keluar membutuhkan tenaga besar untuk diucapkan. “Badan ini… rasanya makin hari makin lemah.”

Alya perlahan menggenggam tangan Bu Ami yang sudah keriput dan terasa lemah. Ia meremasnya pelan, seolah ingin menyalurkan sedikit kekuatan lewat sentuhan itu.

“Enggak apa-apa, Bu…” ucapnya lirih. “Saya yang justru harus minta maaf. Selama ini pasti sudah terlalu banyak merepotkan Ibu.”

Sejenak, suasana di ruangan itu kembali hening. Hanya terdengar suara kecil sendok yang bergesekan dengan bibir mangkuk, memecah kesunyian yang menggantung di antara mereka.

Tak ada yang berbicara, seolah kata-kata tak lagi mampu mewakili perasaan yang sedang bercampur aduk di dada masing-masing.

Namun perlahan, tanpa diundang, kenangan-kenangan lama mulai muncul di benak mereka. Potongan-potongan momen yang pernah dilalui bersama mengalir begitu saja, membawa kembali perasaan hangat sekaligus getir yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

~~ Falsback on ~~

Alya masih mengingat jelas hari itu hari ketika perubahan pada tubuhnya mulai tak bisa disembunyikan lagi. Perutnya perlahan membuncit, dan bisik-bisik warga di sekitarnya semakin terasa menusuk.

Saat itu, ia sedang membeli beras di sebuah warung kecil. Suasana awalnya biasa saja, sampai tiba-tiba sebuah suara tajam terdengar dari belakang, memecah keramaian dan membuatnya terdiam seketika. Kata-kata itu seperti menyayat, meninggalkan jejak yang masih ia ingat hingga sekarang, meski waktu sudah berlalu jauh.

“Coba lihat Alya itu… perutnya makin besar saja. Masih berani keluar rumah juga.”

Alya tertegun di tempat. Tubuhnya terasa kaku, seolah kakinya ingin segera berlari meninggalkan keramaian itu, tapi dadanya justru sesak menahan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

“Kalian itu… Mulutnya lebih kotor dari selokan!”

Semua orang serentak menoleh ke arah suara itu. Suasana yang tadi ramai berubah menjadi tegang dalam sekejap, seolah udara di sekitar ikut mengeras.

Di sudut ruangan, Bu Ami perlahan berdiri dari bangkunya. Gerakannya tenang, tapi justru terasa menekan.

Wajahnya dingin tanpa ekspresi, namun sorot matanya menyala tajam cukup untuk membuat beberapa orang langsung menunduk, enggan menatap balik.

Bu Ami melangkah satu langkah ke depan, suaranya meninggi namun tetap tegas dan terkontrol.

“Kalau kalian cuma bisa mengejek orang yang sedang jatuh, lebih baik diam saja!” ucapnya tajam, matanya menyapu satu per satu wajah yang ada di sana. “Alya itu berjuang sendirian. Dia hamil sendirian, dia kerja sendirian. Kalian selama ini bantu apa?”

Suasana seketika berubah sunyi. Tidak ada lagi bisik-bisik, tidak ada lagi tatapan tajam yang tadi memenuhi udara. Beberapa ibu-ibu yang sempat berbicara hanya bisa menunduk, wajah mereka memerah menahan rasa malu.

Bu Ami menarik napas panjang, lalu tanpa berkata-kata lagi meraih tangan Alya. Genggamannya kuat, memberi rasa aman di tengah ketegangan yang baru saja pecah.

Di dalam rumah yang lebih tenang, suasana perlahan mereda. Pintu tertutup rapat, memutus semua kebisingan dari luar.

Bu Ami duduk di samping Alya, lalu menatapnya dengan lembut. Nada suaranya sudah tidak setegas tadi, melainkan lebih hangat dan penuh empati.

“Alya itu anak baik,” ucapnya pelan, seolah menegaskan keyakinannya sendiri.

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Orang baik itu tidak selalu punya nasib yang mudah.

Tapi Tuhan tidak akan diam saja melihat semuanya.”

~~ Flasback off ~~

Air mata Alya perlahan menggenang, menumpuk di pelupuk matanya hingga pandangannya mulai kabur. Kenangan lama itu kembali menyeruak, seperti luka yang baru saja tersentuh lagi.

Ia menatap Bu Ami yang kini terbaring lemah di ranjang, tak berdaya seperti dulu saat hidup masih memberinya tenaga untuk melawan dunia. Wanita itu yang pernah berdiri tegak di hadapan banyak orang, membelanya tanpa ragu ketika semua orang menjatuhkan tuduhan kini hanya bisa terdiam dalam kelemahan.

Alya menunduk di sisi ranjang, suaranya nyaris tak terdengar. Tangannya bergetar saat ia menggenggam ujung selimut Bu Ami, seolah takut kehilangan sosok itu lagi.

“Terima kasih, Bu…” bisiknya lirih, napasnya tersendat menahan emosi. “Kalau bukan karena Ibu waktu itu… mungkin saya sudah tidak sanggup bertahan.”

Bu Ami tersenyum tipis, nyaris tak terlihat namun cukup untuk menenangkan hati yang sedang gelisah.

Dengan sisa tenaga yang ada, tangannya perlahan meraih dan menggenggam tangan Alya lebih erat. Genggaman itu lemah, tapi terasa penuh makna seolah ingin menyampaikan bahwa ia masih ada, masih mendengar, dan masih peduli.

Bu Ami menatap Alya lama, sorot matanya yang mulai melemah tetap menyimpan ketulusan.

“Fariz anak yang kuat… kamu juga,” ucapnya pelan, suaranya serak namun hangat. Ia berhenti sejenak untuk mengambil napas.

“Jangan takut, ya, Nduk. Dunia ini memang keras…” lanjutnya lirih, jemarinya masih menggenggam tangan Alya. “Tapi kamu jauh lebih kuat dari yang kamu kira.”

Hari itu, Alya melangkah pulang dengan hati yang terasa penuh dan berat sekaligus. Ada haru yang menempel di dadanya, sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan sosok Bu Ami wanita yang tidak memiliki ikatan darah dengannya, tetapi perlahan menjadi tempat pulang yang hangat dalam hidupnya. Seorang ibu dalam diam, yang hadir tanpa banyak kata namun meninggalkan jejak yang tak akan mudah ia lupakan.

*****

Malam itu langit tampak kelabu, tanpa setetes hujan pun jatuh. Namun udara tetap terasa lembap dan berat, seakan menekan dari segala arah.

Di dalam gubuk sederhana yang mulai rapuh dimakan waktu, Alya duduk bersandar pada dinding kayu yang sudah lapuk. Matanya menerawang, lelah namun tetap waspada.

Di depannya, seorang anak kecil terlelap di atas tikar lusuh bayi laki-laki yang kini telah menginjak usia dua tahun. Napasnya pelan dan teratur, menjadi satu-satunya ketenangan di tengah sunyinya malam.

Fariz tertidur lelap dengan wajah yang damai, kedua tangannya masih memeluk botol susu yang sudah kosong. Pipi kecilnya tampak bulat, naik turun perlahan mengikuti napasnya yang tenang.

Alya duduk di sisinya, tangannya bergerak pelan mengusap rambut tipis anak itu dengan penuh kasih. Sesekali, jemarinya berhenti di dahi mungil Fariz, seolah enggan melepaskan momen hening yang terasa begitu berharga di tengah hidupnya yang keras.

Air mata itu akhirnya jatuh perlahan, tanpa suara, tanpa isakan yang pecah. Hanya mengalir pelan di pipi Alya, seperti luka lama yang selama ini ia simpan rapat-rapat, diam namun tak pernah benar-benar sembuh.

Alya menunduk dalam, tangannya gemetar saat menyentuh kepala kecil Fariz yang tertidur.

“Maafin Mama, Nak…” bisiknya lirih, suaranya nyaris hilang di udara malam yang sunyi. Ia berhenti sejenak, menahan sesak di dadanya.

“Kalau nanti hidupmu tidak semudah yang Mama harapkan…” lanjutnya pelan, hampir tak terdengar, seolah kata-kata itu hanya ditelan oleh kesunyian gubuk yang rapuh.

Di benaknya, wajah Bu Ami kembali muncul begitu jelas seorang wanita paruh baya yang dulu berdiri di sisinya ketika dunia seakan menuding tanpa belas kasihan.

Alya masih ingat betul bagaimana suara lantang itu menggema di warung, saat Bu Ami dengan tegas membelanya dari hinaan para tetangga yang tak henti-hentinya menjatuhkan. Bukan hanya kata-kata, tapi juga keberanian yang terasa nyata di udara saat itu.

Ia juga masih bisa merasakan hangatnya genggaman tangan itu tidak keras, tidak menekan, hanya kuat dan menenangkan. Sebuah ketegasan yang tidak melukai, melainkan melindungi.

Alya menatap kosong ke arah Fariz yang masih terlelap, dadanya naik turun menahan sesak yang tiba-tiba menyeruak.

“Kalau bukan karena Bu Ami…” gumamnya pelan, suaranya bergetar. Ia menelan ludah, mencoba menahan tangis yang sudah di ujung batas.

"Mungkin Mama sudah tidak sanggup membawa kamu sejauh ini,” lanjutnya lirih, akhirnya pecah juga dalam helaan napas yang berat, seolah semua beban lama ikut tumpah bersamaan dengan kata-katanya.

Malam itu bukan tentang kelemahan. Malam itu adalah tentang ingatan tentang kekuatan yang pernah hadir di tengah hidup yang paling rapuh.

Seorang wanita tanpa anak kandung, namun mampu menjadi sandaran bagi jiwa yang terluka. Dan seorang ibu muda yang berkali-kali dihantam kenyataan, namun tetap memilih untuk tidak menyerah.

*****

Pagi datang dengan cahaya matahari yang masih malu-malu, menyelinap lewat celah-celah dinding gubuk yang rapuh.

Alya sudah terbangun sejak dini hari. Dengan gerakan pelan, ia menyiapkan botol susu dan sebuah tas kecil berisi pakaian ganti untuk Fariz.

Anak itu kini duduk di pangkuannya, menggigit sudut selimut sambil sesekali tertawa kecil tanpa alasan yang jelas. Suara ringannya menjadi satu-satunya kehangatan yang mengisi pagi yang sederhana itu.

Alya menatap lembut Fariz yang masih berada di pangkuannya, tangannya perlahan mengusap pipi mungil itu.

“Fariz hari ini main sama Bu Lita, ya,” bisiknya pelan, suaranya penuh kelembutan. Ia tersenyum tipis meski ada lelah yang tersisa di wajahnya.

“Mama kerja dulu sebentar. Nanti Mama jemput

kamu,” lanjutnya sambil mengecup kening anak itu sebentar, seolah ingin menitipkan rasa aman sebelum ia pergi.

Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah kecil di seberang gang. Bangunannya sederhana, namun terlihat rapi dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya.

Bu Lita sudah menunggu di depan pintu, mengenakan daster bersih dengan senyum hangat yang langsung terasa menenangkan. Ia membuka kedua tangannya saat melihat Fariz, menyambut anak itu dengan penuh keramahan, seolah sudah terbiasa menjadi tempat singgah sementara bagi keceriaan kecil itu.

Bu Lita berjongkok sedikit agar sejajar dengan Fariz, lalu tersenyum lembut.

“Ayo, Nak,” ucapnya hangat sambil mengulurkan tangan. “Hari ini main sama Nenek Lita, ya.”

Fariz yang biasanya mudah rewel setiap kali bertemu orang asing, kali ini justru bertingkah berbeda. Ia perlahan mengangkat tangan kecilnya, lalu menyentuh wajah Bu Lita dengan rasa ingin tahu yang tulus, seakan sedang mengenali sosok baru yang tidak menakutkan baginya.

Alya berhenti sejenak, menatap keduanya dengan perasaan yang bercampur aduk. Di satu sisi ada rasa bersalah karena harus meninggalkan anak itu, namun di sisi lain ada juga rasa lega dan syukur yang perlahan muncul.

Untuk pertama kalinya sejak Bu Ami jatuh sakit, Alya tidak perlu lagi membawa Fariz menembus panas dan debu jalanan yang melelahkan. Ada keheningan kecil yang terasa aneh, tapi juga menenangkan di tengah segala beban yang selama ini kupikul.

“Saya titip, ya, Bu,” ucap Alya pelan, suaranya sedikit bergetar. Ia menatap Bu Lita dengan ragu sebelum kembali melirik Fariz yang berada di pelukannya.

“Fariz kalau ngantuk biasanya rewel, tapi dia cepat tenang kalau digendong,” lanjutnya sambil menyeka sudut matanya, berusaha menahan emosi yang perlahan naik ke permukaan.

“Tenang saja, Fariz sudah seperti cucu saya sendiri,” ucap Bu Lita dengan lembut sambil tersenyum hangat. “Kamu kerja saja dengan tenang, ya. Dia akan saya jaga baik-baik.”

Langkah Alya menjauh dari rumah itu terasa berat, seolah setiap pijakan menahan sesuatu yang ingin ia bawa kembali. Namun kali ini, di balik rasa itu, ada secercah keyakinan yang ikut menguatkan dirinya.

Dari arah belakang, terdengar tawa kecil Fariz yang menyambut pagi dengan polosnya. Suara itu membuat dadanya sedikit menghangat. Alya menyadari, selama masih ada orang baik yang bersedia menjadi pelindung di dunia yang terasa keras ini, ia masih punya alasan untuk terus melangkah dan bertahan.

*****

Di sebuah kantor eksekutif di pusat Kota Semarang, suasana terasa hening dan penuh kendali. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya lampu, sementara tirai besar di jendela dibiarkan setengah terbuka, membiarkan sinar sore masuk miring dan jatuh lembut ke dalam ruangan yang luas itu.

Nuansa modern minimalis mendominasi setiap sudut, menciptakan kesan dingin namun elegan, seolah semua yang terjadi di dalamnya selalu berada dalam perhitungan yang rapi dan teratur.

Rayan berdiri tegap di depan meja kerja besar berbahan kayu eboni yang tampak gelap dan kokoh. Di tangannya tergenggam laporan pencarian terbaru.

Ia menelan napas pelan sebelum berbicara. Suaranya terdengar hati-hati, nyaris berbisik, seolah takut mengganggu ketenangan ruangan itu. Matanya sesekali menunduk, enggan menatap langsung pria yang duduk di seberang meja, sosok yang auranya saja sudah cukup membuat suasana terasa semakin tegang.

“Tu… Tuan, apakah pencarian wanita itu masih harus dilanjutkan?” tanya Rayan dengan nada berat, ragu-ragu menahan beban yang sudah lama ia bawa.

Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan,

“Sudah puluhan bulan kami mencarinya, tapi sampai sekarang… dia tetap tidak ditemukan.”

Di kursi kerjanya, Rayan Elvano Wirajaya hanya duduk terdiam, tanpa sepatah kata pun. Sorot matanya tajam namun kosong, seolah pikirannya sedang jauh melampaui ruangan itu, tenggelam dalam sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun di sekitarnya.

Wajah tampannya tampak tegang, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tak terucap. Matanya menatap keluar jendela, namun jelas pikirannya melayang jauh, tidak berada di ruang itu sama sekali.

Di tangannya, sebuah cangkir kopi masih tergenggam tanpa tersentuh sejak tadi. Aroma pahit yang terangkat perlahan seakan menyatu dengan suasana hatinya tajam, dingin, dan menyisakan rasa yang sulit dijelaskan di dada.

Dua puluh bulan telah berlalu sejak malam itu malam yang tidak sepenuhnya bisa ia ingat dengan jelas, seolah sebagian dari kejadian itu sengaja disembunyikan oleh pikirannya sendiri.

Namun anehnya, bayang-bayangnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap tinggal, mengikuti setiap langkah, menyelinap di antara sunyi, dan terus menghantui tanpa henti, seakan menolak untuk dilupakan.

Wajah itu kembali muncul di benaknya mata sendu seorang perempuan yang entah mengapa terasa begitu akrab, meski ia tak pernah yakin dari mana ingatan itu berasal.

Senyum lirihnya sesekali terlintas tanpa diundang, seperti potongan mimpi yang tersisa di ujung kesadaran. Bahkan suara lembut itu masih terus mengikuti, bergaung samar di pikirannya setiap kali malam datang dan dunia mulai sepi.

“Di mana kamu?” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

,Suara itu keluar seperti hembusan napas yang tertahan lama, membawa rindu dan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar menemukan jawabannya.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!