Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Tanjung komodo
"Pak Drajat, pak Firman.."
"Pak Petrus.." lelaki dengan rambut pendek sedikit keriting dalam balutan baju safari menyambut mereka di bandara, bersama dengan kapten Raimond dari lanal timur, Kelana, dan dua orang dari kepolisian setempat, sementara beberapa prajurit telah berjaga di luar dan sekitar parkiran.
Benar malam baru saja menelan matahari, menyisakan samar cahaya yang belum gelap gulita sepenuhnya.
"Gue pikir bakalan panas banget, eh sama kaya ibukota."
Gege telah menyalakan kipas kecilnya yang berputar di depan wajah, "panas ah, gerah tau. Lebih panas dari ibukota kalo menurut gue."
Ivy menatap wajah wajah para aparat, entahlah jika melihat corak loreng itu, Ivy teringat dengan seseorang yang beberapa hari ke belakang sedang ia hindari. Ah tak mungkin! Pikirnya.
"Demi mempersingkat perjalanan, kakak-kakak mahasiswa juga butuh istirahat...sebaiknya kita langsung saja, pak?"
"Mari, silahkan..."
"Bantuin gue, woyyy!" heboh Ivy dengan dua kopernya diantara mereka memang hanya Ivy dan Gege yang begitu penuh, lihatlah Gege, bahkan dua koper masih saja ditambah dua tas tambahan yang ditaruh di besi koper.
"Ribet banget kan--kan...apa gue bilang!"
Imel tertawa begitupun Raudhah yang telah membantu Gege, "ini apa isinya astaga ..." Sementara Arsa sudah bersalaman dengan pak Petrus, kapten Raimond, dan Kelana serta Aiptu Warda dan Aipda Raya.
Bumi dan yang lain begitu sibuk dengan barang bawaan, "isinya segala macam masalah ibukota dibawa kesini...hahaha!"
"Mari saya bantu..." Kelana turut membantu bersama yang lain.
"Makasih." Ivy mengangguk.
Udara yang sama layaknya suhu udara di sebagian pulau Java itu cukup sejuk meski terkadang membuat semakin gerah. Para lelaki itu sudah naik dibantu oleh para prajurit bersama barang bawaan.
Ivy mencebik, "berasa b4nci kena razia ngga sih naik begini?"
Mereka tertawa, "anggap aja lagi mau dikirim ke medan perang Vy...."tawa Made kembali mendorong kacamatanya sebelum ia menerima uluran tangan dari atas, "ya..."
"Ayo Ge, naik Ge...atau mau lompat kaya si kancil?" seloroh Nanda dan Bumi yang sudah di atas.
Kelana dan kapten Raimond ikut tertawa, "bisa kah, kak?"
"Aduhh ini gimana naiknya bapak---om, kaki aku sampai dagu dong..." Tapi kemudian Gabriel mengangkat Gege, kyaaaa!
Mereka kembali tertawa.
"Naik reo aja susah begini dah ah! Heboh banget, kaya lagi di pasar malam!" tawa Tami. Imel naik setelah Gege yang justru, "yeeeee! Gue bisa naik juga!!!" Gege---yes! Yes! Yes!
Alih-alih mencibir mereka justru ikut berseru layaknya anak kecil sambil bertepuk tangan, "yeee tumpengan oyyy, tinggal nih satu lagi personel manjalita, kalo dua-duanya naik, gue tiup lilin yokkk .. naik Vy!!" pinta Bumi sudah mengulurkan tangannya, Ivy mencebik, "gue bisa sendiri elahhh, jangan ada yang gendong gue...awas gue mau naik.." Ivy menyiapkan ancang-ancangnya untuk naik yang justru mengundang tawa.
Tangannya sudah bertumpu di tepian reo lalu ia melompat mengangkat badannya kepayahan.
"Bisa ngga Vy, elahhh keburu kiamat nih nunggu Ivy naik..."
Kelana tertawa.
"Dibantu saja, kak gimana?" bahkan kapten Raimond.
"Pravita, ayo cepet nanti keburu malam sampai desa tanjung komodonya. Dibantu saja.."
"Bentar pak, ini aku bisa naik sen----di---riii ahhhh, susah lah!"
EA...ea...hahahaha!
Hingga akhirnya Arsa, Tami dan Raudhah membantunya, "udah gue bantu aja."
Dan balada truk reo ini barulah awal dari kesulitan Ivy, karena selanjutnya, diantara remang-remang cahaya luar, ada jeritan Gege yang memukul dan menendang Bumi, "diem ngga Lo?! Tangan Lo ya gue tau Lo yang colek-colek an jirr..."
"Apaan, tangan gue disini!" elak Bumi.
Ivy menatap gamang dari belakang truk yang terbuka itu. Nampak gelap gulita dan semakin sepi, ditambah guncangan hebat yang membentur-bentur.
"Duh," berulang kali ia sampai harus menabrak-nabrak dan berpegangan pada orang di sampingnya.
"Ini anggap aja lagi naik onta."
"Sarapp. Berasa lagi naik apa ya...abis dari sini gantian pijit De..." Gabriel memang tak pernah kehilangan topik pembicaraan.
"Memang infrastruktur jalannya belum sepenuhnya bagus ya om?" tanya Arsa diangguki kapten Raimond, "betul kak. Akses jalan ke Tanjung komodo memang belum terjamah bantuan infrastruktur dari pemerintah."
"Masih banyak tepatnya yang belum tersentuh."
Benar, bahkan Imel sudah memegang perutnya sejak tadi, "Lo kenapa Mel, mual?" tanya Ivy diangguki Imel.
"Woyy minta kresek! Imel pengen muntah..." pinta Ivy berpegangan dan jlegg!
Awww! Aduhh!
"Boy! Kasih jalan benar eee, ini kakak-kakak sampai tumpah begini!" kapten Raimond mengetuk-ngetuk mobil sebab ada seruan dan mengaduh dari belakang. Sementara pak Drajat dan pak Firman berada di mobil pribadi di depan mereka bersama pak Petrus.
"Maaf kapt! Jalan tidak kelihatan!" jawab supir.
Baru saja begitu, Imel sudah benar-benar tak kuat, hoeeekkk!
"Yahhh....pecah juga." Tami bergumam.
Ivy menepuk-nepuk punggung Imel pelan, sementara Imel masih sibuk memuntahkan isian perutnya, Raudhah sudah sigap dan siap memberikan minum serta aromaterapi untuknya.
Waktu semakin malam, bahkan Ivy melihat jalanan dengan kengerian meski cahaya berpendar dari beberapa bangunan dan gedung, "ini se-sepi ini ya, om?" tanya nya, di otaknya ia hanya memikirkan hal mistis dan horor terlebih...hewan buas yang mungkin siap menerkam mereka ketika tidur.
"Iya. Tapi jika siang cukup terlihat indah, kak." Jawab kapten Raimond.
"Ngga apa-apa dek, jarak dari Tanjung komodo ke lanal ngga terlalu jauh, cuma satu sampai dua jam berkendara..."
Yang benar saja! Ivy sedikit membeliak, ke laut aja om!
"Jika ada apa-apa atau perlu sesuatu bisa langsung ke lanal." Kelana meyakinkan Ivy seolah memberi ketenangan yang justru membuat Ivy dilanda ketakutan semakin dalam.
Kelana Arya Banyu
Ivy melirik nama di dada kanannya sejenak, ia mengangguk, "iya." Ia menelan salivanya sulit.
Kelana tersenyum, "KKN berapa lama?"
"45 hari." Jawab Ivy.
Kelana mengangguk. Imel bersandar lemas di bahu Raudhah, hingga tak lama setelahnya laju truk reo mulai melambat, dan berhenti di...entahlah gelap malam membuat sekitar tak jelas. Ada rumah-rumah kayu yang berderet, beberapa pohon Ketapang dan Teno yang justru terlihat seperti sedang menerkam tampak seram jika dilihat pada malam begini.
Mobil yang mengangkut pak Firman dan pak Drajat memang berhenti tepat di halaman luas, tanah merah yang kering, bersamaan dengan beberapa orang keluar dari rumah kayu di depan mereka.
Ada suara seruan disana yang kemudian, "sudah sampai...turun."
Gege memandang Ivy bergantian pada Arsa dengan gestur tubuh yang sudah mepet-mepet pada Bumi, takut...
"Selamat malam.."
"Tabe Wie..." sapa si tuan rumah, "Enu (panggilan untuk istri, gadis, perempuan secara khusus)! Tiba meka!"
Lalu seorang perempuan paruh baya turut keluar dari dalam rumah. Sementara dari Reo mereka mulai turun satu persatu.
"Ema (ayah) Florentinus...dia kadus disini." Arsa menjelaskan pada teman-temannya, "dan itu...Ende (ibu) Yohana, istrinya."
.
.
.
.
.