NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Pengkhianatan di Balik Kelambu

"TIDAKKK! JANGANN!!"

Han-Gyeol mencoba menerjang, namun tubuh yang ringkih itu justru ambruk kembali. Ia hanya bisa memukul lantai dengan tangan keriputnya yang tidak bertenaga sambil memuntahkan darah.

Raja Go-Yoon tertawa puas—suara tawa Han-Gyeol yang biasanya hangat kini terdengar sangat jahat. Ia berbalik dan melangkah keluar dengan gagah, meninggalkan Han-Gyeol yang terjebak dalam raga yang menunggu ajal.

Han-Gyeol terisak dalam keheningan aula. Penyesalan yang amat dalam menghujam jantungnya.

Han-Gyeol menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan pedang, raga, dan keluarganya kepada seorang tiran yang licik.

Jauh di lubuk hatinya, ia teringat konsekuensi mematikan: jika dalam tujuh hari jiwa ini tidak dikembalikan, raga yang ia tempati akan mengeras menjadi batu, dan jiwanya akan musnah selamanya.

Han-Gyeol hanya bisa berteriak dalam kebungkaman aula istana, sebuah teriakan pilu yang tak mampu keluar dari tenggorokan sang raja yang rusak.

Malam itu, di bawah langit Niskala yang kelam, ia bersumpah akan merebut kembali hidupnya, meski ia harus merangkak dari liang kubur sekalipun.

*****

Raja Go-Yoon, yang kini menghuni raga Han-Gyeol yang muda dan perkasa, tidak menyia-nyiakan sedetik pun kesempatannya.

Di dalam tubuh yang segar itu, ia bisa merasakan aliran darah yang kuat, detak jantung yang stabil, dan otot-otot yang siap meledakkan kekuatan kapan saja.

Gairah dan ambisi lamanya yang sempat padam karena penyakit menahun kini kembali berkobar seperti api yang disiram minyak. Ia sama sekali tidak berniat menggunakan kekuatan Han-Gyeol untuk memperbaiki urusan negara atau memikirkan nasib rakyat Niskala yang mulai diteror sihir hitam.

Sebaliknya, di dalam otak liciknya, ia hanya memikirkan satu rencana: memastikan darahnya tetap mengalir di takhta Niskala, meski ia harus meminjam raga orang lain sebagai wadahnya.

Langkah kaki itu terdengar berbeda di atas lantai kayu paviliun. Biasanya, langkah Han-Gyeol terasa ringan dan hampir tak terdengar, mencerminkan batinnya yang tenang.

Namun malam ini, setiap injakan kaki itu terasa berat, penuh penekanan, dan angkuh.

Di sana, di bawah cahaya lampion yang temaram, seorang wanita dengan kecantikan yang tersohor seantero negeri tengah menanti dengan kecemasan yang menggantung di wajahnya.

Wanita itu adalah Seo-Yoon. Wajahnya seanggun rembulan di malam purnama, dengan kulit seputih porselen yang memancarkan pendar halus.

Namun, di balik kecantikan itu, matanya selalu menyiratkan kesepian yang mendalam. Selama bertahun-tahun, pernikahannya dengan Han-Gyeol hanyalah sebuah ikatan formal tanpa rasa—sebuah wasiat dari mendiang orang tua mereka yang harus dijalankan sebagai bentuk perlindungan.

Han-Gyeol yang asli adalah pria yang kaku; ia selalu bersikap dingin, menjaga jarak, dan menghabiskan malam-malamnya di ruang meditasi atau di tepi Danau Cheon-gi.

Hal ini membuat Seo-Yoon terbiasa hidup dalam keheningan paviliun yang luas dan sunyi.

Seo-Yoon, yang sedang merapikan lampion, menoleh. Ia terpaku melihat suaminya berdiri di ambang pintu. Jubah biru gelap Han-Gyeol sedikit berantakan, dan aura yang dipancarkannya terasa begitu... panas.

"Suamiku? Kau sudah pulang dari istana?" tanya Seo-Yoon lembut. Ia terbiasa tidak mendapat jawaban, atau hanya sekadar anggukan dingin.

Namun, "Han-Gyeol" justru melangkah mendekat. Ia tidak berhenti di jarak yang biasa mereka jaga, melainkan terus maju hingga Seo-Yoon terdesak ke meja riasnya.

"Kau tampak sangat cantik malam ini, Istriku," ucap pria itu.

Suaranya adalah suara Han-Gyeol, tapi nadanya rendah, berat, dan penuh tuntutan yang ganjil. Ia mengulas senyum puas yang tampak asing di wajah Han-Gyeol yang biasanya datar seperti permukaan danau.

Seo-Yoon terpaku, jemarinya meremas pinggiran jubah tidurnya. "Kau... kau memujiku?"

"Kenapa? Apa suamimu yang bodoh ini tidak pernah melakukannya?"

Raja Go-Yoon (dalam raga Han-Gyeol) mengangkat tangannya, membelai pipi Seo-Yoon dengan kasar—sebuah sentuhan yang tidak pernah dilakukan Han-Gyeol asli yang selalu menghormati jarak.

"Betapa sia-sianya pria itu. Membiarkan permata sepertimu berdebu di paviliun yang sunyi ini."

"Suamiku, bicaramu aneh sekali..." Seo-Yoon bergumam, namun matanya yang mulai berkaca-kaca mengkhianati keraguannya.

Selama bertahun-tahun ia hidup dalam pernikahan formal tanpa rasa. Sentuhan ini, meski terasa asing, adalah sesuatu yang selama ini ia tangisi di dalam sujudnya.

Raja Go-Yoon tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat berwibawa namun licik. "Mulai malam ini, semuanya akan berubah, Seo-Yoon. Aku tidak akan lagi menjadi pria kaku yang kau kenal. Aku ingin kau melihatku... benar-benar melihatku."

"Terima kasih banyak, Suamiku. Aku... aku begitu merindukanmu," bisik Seo-Yoon lirih, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia menghambur dan memeluk erat pria itu.

Seo-Yoon menyandarkan kepalanya di dada bidang tersebut, menghirup aroma maskulin yang kuat. Ia merasa doa-doanya akhirnya dikabulkan; bahwa dinding es di hati Han-Gyeol akhirnya mencair.

"Hangatkan aku, Seo-Yoon," bisik Raja Go-Yoon di telinga istrinya, sementara tangannya mencengkeram pinggang wanita itu dengan posesif.

"Berikan aku putra yang kuat. Putra yang akan mewarisi segalanya... dariku."

Seo-Yoon mendongak, matanya yang basah menatap wajah Han-Gyeol dengan penuh cinta. "Apapun yang kau inginkan, Suamiku. Apapun."

Raja Go-Yoon tersenyum penuh kemenangan di kegelapan malam.

Di dalam hatinya, ia tertawa mengejek Han-Gyeol yang asli.

Lihatlah, Han-Gyeol. Aku tidak hanya mengambil ragamu, aku mengambil kesetiaan dan cinta istrimu. Saat jiwa aslimu mati membatu di raga tuaku, aku akan menjadi ayah dari anak yang lahir dari rahim wanita ini.

Tanpa sedikit pun curiga, Seo-Yoon membimbing pria itu menuju kelambu, tidak menyadari bahwa kehangatan yang ia rasakan malam itu adalah awal dari penghancuran martabat suaminya yang paling dalam.

*****  

Sementara itu, di dalam kemegahan istana yang kini terasa seperti penjara bawah tanah, jiwa Han-Gyeol yang asli terbaring lemah di atas ranjang raja yang berbau pahit obat-obatan.

Kabar tentang "kepulangan" dirinya ke rumah sampai ke telinganya melalui bisikan dayang istana.

"Tuan Han-Gyeol menghabiskan sepanjang malam di paviliun istrinya semalam. Kudengar suasana di sana begitu hangat," bisik seorang dayang sambil merapikan selimutnya.

Mendengar itu, murka yang tak terlukiskan menghujam dada Han-Gyeol. Paru-parunya seakan meledak oleh amarah. Ia ingin bangkit dan berteriak, namun tubuh tua Raja Go-Yoon adalah penjara yang kokoh.

Air matanya mengalir membasahi bantal sutra yang dingin. Ia meratapi kehormatan keluarganya yang sedang direnggut oleh pria yang menggunakan wajahnya.

–––

Tujuh hari berlalu seperti ribuan tahun di neraka. Pada malam terakhir, saat raga raja mulai mengeras menjadi batu, pintu kamar rahasia itu terbuka sedikit. Jin-Wu menyelinap masuk dengan wajah pucat pasi.

"Guru... benarkah ini Anda?" bisik Jin-Wu sambil menatap tubuh raja yang sekarat. Ia telah mencurigai perubahan sikap "Han-Gyeol" di luar sana.

Han-Gyeol mencengkeram lengan Jin-Wu dengan tangan keriputnya yang gemetar. Suaranya keluar sebagai bisikan parau yang mengerikan.

"Jin-Wu... jika kau ingin aku selamat, kau harus melakukannya sekarang. Tidak ada waktu lagi."

"Apa yang harus hamba lakukan?"

"Sihir Pemindahan Jiwa... Hwanhonsool," jawab Han-Gyeol pedih. Ia tidak punya pilihan.

"Aku akan membisikkan mantranya padamu. Kau harus mempelajarinya detik ini juga, dalam gelap. Jangan pernah biarkan siapa pun tahu, atau kau akan dieksekusi. Pindahkan jiwaku kembali ke ragaku saat pria itu datang untuk ritual pengembalian."

Jin-Wu gemetar hebat. Antara ketakutan dan ambisi, ia mendengarkan setiap bait mantra terlarang yang dibisikkan Han-Gyeol.

Di bawah cahaya lilin yang nyaris padam, Jin-Wu mencatat setiap gerak tangan rahasia di dalam benaknya.

Tepat saat tengah malam, Raja Go-Yoon (dalam raga Han-Gyeol) masuk dengan langkah angkuh untuk mengakhiri perjanjian.

Namun, ia tidak tahu bahwa Jin-Wu telah bersiaga di balik tirai. Saat Raja bersiap melakukan ritual versinya sendiri yang mungkin akan melenyapkan jiwa Han-Gyeol selamanya, Jin-Wu bergerak. Pemuda itu merapal mantra yang baru saja dipelajarinya dengan suara bergetar.

WUUUSHHH!

Cahaya biru dan merah beradu di tengah ruangan. Terjadi gesekan energi yang luar biasa dahsyat. Han-Gyeol merasakan jiwanya ditarik paksa, melewati lorong kegelapan yang menyakitkan, hingga akhirnya—

BRUKK!

Han-Gyeol tersungkur di lantai istana dengan raga aslinya yang muda. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, meraba wajah dan otot lengannya yang telah kembali. Ia telah bangun dari kematian.

Namun, pemandangan di hadapannya membuatnya mual. Di atas ranjang, tubuh tua Raja Go-Yoon akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Raja itu mati dengan seringai kemenangan yang menjijikkan tetap terukir di bibir pucatnya. Matanya yang mendelik seolah mengejek; bahwa meski ia mati, ia telah meninggalkan noda yang tak terhapuskan.

Han-Gyeol menoleh ke arah Jin-Wu yang masih berdiri mematung dengan tangan gemetar. Muridnya itu kini menatap tangannya sendiri dengan tatapan yang berbeda—tatapan seseorang yang baru saja mencicipi kekuatan dewa.

"Guru... hamba berhasil,"

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!