Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: ASBUN NYA ALDI
Sinar matahari pagi pukul tujuh lewat lima belas menit baru saja menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di depan rumah Kenan. Sesuai janji yang diucapkan di persimpangan gang tadi malam, sebuah motor matic hitam berdesing pelan, berhenti tepat di depan pagar besi yang masih tertutup. Sendy, dengan wajah yang masih tampak agak sembap namun rambutnya sudah tersisir rapi mengenakan jaket denim, langsung menekan klakson motornya dua kali.
Telolet... telolet...
"Kenan! Budek lu ya! Katanya jam tujuh kurang seperempat harus udah standby, ini malah pintunya masih dikunci!" teriak Sendy dari atas motor, mengabaikan tatapan heran dari tetangga sebelah yang sedang menyapu halaman.
Tak berselang lama, pintu utama rumah Kenan terbuka. Kenan keluar dengan setelan kuliah yang sangat rapi—kaos polo berkerah rapi, celana jeans gelap, dan tas ransel yang disampirkan di pundak kanan. Di belakangnya, Aldi berjalan mengekor dengan langkah tegap, mengenakan kemeja berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan kesan maskulin yang kuat. Wajah Aldi terlihat segar, sisa-sisa bau cat aspal semalam sudah luruh total digantikan aroma wangi parfum maskulin yang cukup menyengat.
"Berisik lu, Sen. Ini baru lewat beberapa menit juga," ketus Kenan sambil membuka slot pagar besi. "Nih, si Ketua lu yang bikin lama, tadi subuh ritual ngaca dulu di kamar mandi sampai setengah jam."
"Halah, palingan juga lagi ngebayangin Bu Jasmine" seloroh Sendy tertawa cekikikan sambil memutar tuas gas motornya. "Ayo buruan naik, kelas Pak Bambang gak kenal toleransi menit!"
Aldi hanya mendengus pelan, langsung melompat naik ke jok belakang motor Sendy, sementara Kenan mengendarai motornya sendiri di depan membelah jalanan kota yang mulai padat oleh aktivitas kaum pekerja dan mahasiswa di pagi hari.
Gedung Fakultas Ilmu Komunikasi siang itu tampak sangat hidup. Lorong-lorong kampus dipenuhi oleh mahasiswa yang berlarian mengejar jadwal kelas atau sekadar duduk-duduk di selasar mendiskusikan tugas kelompok. Setelah melewati dua jam kuliah Pak Bambang yang menguras konsentrasi dan ketegangan karena absen mautnya, trio jagoan RT 04 akhirnya bisa bernapas lega di kantin belakang kampus yang teduh di bawah rindangnya pohon talas hias.
Di atas meja kayu panjang, sudah tersedia tiga mangkuk bakso urat dan es teh manis yang mengembun segar. Sendy sedang sibuk mengaduk sambal cair ke dalam kuahnya, sementara Kenan fokus membolak-balik lembar diktat kuliah digital di tabletnya.
Aldi sendiri sejak tadi hanya mengaduk-aduk es teh manisnya menggunakan sedotan, tatapannya kosong menatap lurus ke arah lapangan basket kampus yang sedang sepi. Pikirannya benar-benar tidak berada di ruang kelas sejak pagi tadi; bayangan sentuhan lembut tangan Jasmine di bahunya, aroma wangi parfum rumahan, hingga siluet kaos ketat yang mencetak lekuk tubuh matang sang Bu RT di ruang tamu semalam terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Setelah mengembuskan napas panjang yang cukup berat hingga terdengar oleh kedua temannya, Aldi tiba-tiba meletakkan sedotannya dengan bunyi klek yang cukup keras di pinggiran gelas.
"Eh, Nan, Sen," panggil Aldi tiba-tiba, suaranya mendadak serius, membuat gerakan tangan Sendy yang sedang menyuap bakso langsung terhenti di udara.
"Kenapa lu, Dul? Muka lu kayak orang belum bayar iuran kas bulanan," sahut Sendy heran.
Aldi memajukan badannya, bertumpu pada kedua siku di atas meja kantin, lalu berbisik dengan nada yang sangat yakin. "Kayaknya... gue suka beneran sama Bu Jasmine. Apa gue nikahin dia aja ya secepatnya?"
Mendengar pernyataan yang luar biasa ekstrem itu keluar dari mulut sahabatnya, baik Kenan maupun Sendy sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kaget atau tersedak kuas bakso. Mereka berdua justru saling berpandangan selama dua detik, lalu kembali melanjutkan aktivitas makan masing-masing dengan ekspresi wajah yang sangat datar, seolah-olah Aldi baru saja mengatakan kalau cuaca siang ini agak panas.
"Ye... lu kan orang kaya, Dul. Keluarga lu berada, isi dompet lu tebel, kalau mau nikah mah nikah aja langsung besok pagi. Gak usah pakai nanya ke kita," sahut Sendy santai, langsung melahap habis bakso urat berukuran besar ke dalam mulutnya hingga pipinya menggembung.
"Betul kata si Sendy," timpal Kenan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. "Secara finansial dan mental, lu udah mapan buat ukuran cowok seumur kita. Mau ngelamar janda anak satu juga modal lu udah lebih dari cukup. Masalahnya bukan di restu atau biaya nikah lu."
Aldi mengernyitkan alisnya, merasa sedikit tidak puas dengan respons teman-temannya yang terlalu lempeng. "Terus masalahnya di mana, Nan? Gue serius nih, bukan lagi bercanda soal perasaan."
Kenan perlahan menurunkan tabletnya, lalu menatap lurus ke arah mata Aldi dengan pandangan kedewasaan yang mendalam. "Gini, Al. Kalau lu mau nikah sama Bu Jasmine, ya gak apa-apa sih, kita sebagai sahabat pasti dukung seratus persen. Tapi lu harus siap sama konsekuensinya. Minus-nya... kita gak bisa atau bahkan bakal jarang banget bisa kumpul-kumpul gesrek kayak gini lagi."
Suasana di meja kantin mendadak senyap selama beberapa saat. Kata-kata Kenan barusan seperti sebuah pukulan realitas yang telak mengenai kepala Aldi.
"Lu tahu sendiri kan," lanjut Kenan dengan nada suara yang melembut. "Kalau lu udah sah jadi suami orang, apalagi langsung jadi papa sambungnya si Nadeo, fokus hidup lu bakal berubah total. Tiap malam minggu lu gak bakal bisa nongkrong di pos ronda sampai subuh bareng gue sama Sendy. Lu harus stand by di rumah, nemenin istri, urus anak, belum lagi ngurusin urusan warga RT yang makin numpuk. Waktu lu buat dunia main kita bakal kepangkas habis."
Sendy ikut mengangguk pelan, ekspresi jenakanya mendadak surut digantikan raut wajah solider seorang kawan lama. "Iya, Dul. Ntar gak ada lagi cerita kita main ke parit subuh-subuh buat nyari lele jumbo pakai sempak merah. Yang ada lu lagi sibuk belanja pampers sama susu formula di supermarket depan."
Aldi terdiam, mencerna setiap kalimat dari dua sahabat terbaiknya itu. Di satu sisi, hasrat mudanya yang menggebu-gebu ingin memiliki Jasmine seutuhnya sangat besar; namun di sisi lain, ikatan solidaritas persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak kecil bukanlah hal yang mudah untuk dikesampingkan begitu saja.
Karena merasa buntu dan kepalanya mendadak pening memikirkan pilihan hidup yang terlalu berat di siang bolong, Aldi reflek menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, lalu berceletuk asal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos khas kebandungan.
"Ya udah... kalau gitu gue kumpul kebo aja sama Bu Jasmine!" cetus Aldi asal bicara, bermaksud melontarkan candaan sarkasme untuk mencairkan suasana tegang yang sempat tercipta.
Puk!
Sebuah gulungan diktat kuliah tebal milik Kenan seketika mendarat dengan sukses di dahi lebar Aldi, membuat sang Ketua Karang Taruna langsung mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Gobloknya jangan dipelihara beneran, Dul!" umpat Kenan geleng-geleng kepala, menatap tajam sahabatnya itu dengan sisa tawa tertahan. "Bu Jasmine itu wanita terhormat, perangkat RT kita. Lu mau digerebek warga satu komplek pakai sapu lidi gelombang ketiga gara-gara ide sesat lu itu?"
"Sumpah, Al, kalau lu beneran kumpul kebo, gue orang pertama yang bakal laporin lu ke Pak Dadang biar lu dicoret dari silsilah keluarga!" sahut Sendy tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair, memukul-mukul permukaan meja kantin dengan heboh.
Aldi ikut tertawa lebar, mengusap dahinya yang agak memerah akibat hantaman diktat Kenan. Ketegangan dan kegalauan yang sempat menggelayuti hatinya sejak semalam seketika mencair bersama riuhnya tawa mereka di sudut kantin siang itu. Bagaimanapun beratnya pilihan masa depan nanti, Aldi tahu satu hal yang pasti: dua sahabat di depannya ini akan selalu ada di sana, siap memberikan hantaman realitas paling jujur setiap kali jalurnya mulai melenceng dari kewarasan.