"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
St. Jude International Academy
Mendengar pengumuman dari Nadia sang Ketua OSIS, suasana di dalam kelas 10-2 seketika langsung terbakar api semangat. Aura persaingan yang begitu ketat mendadak menyelimuti seisi ruangan. Setiap siswa dan siswi mulai saling berbisik, kasak-kusuk, dan bergumam penuh ambisi, "Gue harus bisa jawab soal itu!" Beberapa murid bahkan langsung memasang ekspresi wajah yang teramat serius sembari menatap tajam ke arah papan tulis.
Berbagai macam ekspresi dan niat tersembunyi bertebaran di kelas. Sebagian besar siswa laki-laki mendadak menjadi super bersemangat bukan karena murni ingin belajar, melainkan karena mereka rata-rata hanya ingin mencari perhatian dari sang Ketua OSIS yang cantik itu. Sementara bagi para siswi, mereka pun tidak kalah menggebu-gebu. Namun bedanya, tujuan mereka murni karena tertantang untuk menaklukkan pertanyaan kuis tersebut.
Di tengah riuhnya atmosfer kelas yang saling berkompetisi, pemandangan kontras justru terlihat di pojok barisan tengah. Ada satu siswa yang malah tampak malas-malasan menghadapi kehebohan ini.
'Ah, ujung-ujungnya juga bakalan sama aja, jam istirahatnya juga bakal tiba,' batin siswa itu berkomentar malas.
Dengan gerakan santai tanpa beban, siswa itu melipat kedua tangannya di depan dada sembari menyandarkan punggungnya dengan nyaman ke sandaran bangku, sama sekali tidak berminat untuk ikut berebut angkat tangan. Siswa yang memiliki pemikiran terlampau realistis dan berbeda dari yang lain itu tak lain adalah Alvin Alexander.
Krrruuikk...
Di tengah atmosfer kelas yang hening tapi menegangkan itu, suara perut Alvin tiba-tiba berbunyi cukup nyaring. Alvin buru-buru mengusap-usap perutnya lagi sambil mengeluh dalam hati. 'Mana lapar, haus pula. Kayaknya gue terpaksa harus ikutan jawab kuis deh, laper banget gue.'
Bagas yang duduk di sebelahnya langsung melirik heran. "Kenapa lo, Vin? Lagi nahan panggilan alam?" bisiknya penuh selidik.
"Panggilan apaan?" timpal Alvin ketus. "Laper gue."
"Oh, kirain! Haha," Bagas tertawa kecil tanpa suara agar tidak ditegur Nadia. "Nih, gue rekomendasiin ya. Kalau lo laper, pas istirahat nanti coba ke kantin pojok. Di sana ada Soto Bu De. Hmm... rasanya itu, Vin..."
Bagas sengaja memejamkan mata dengan ekspresi wajah yang dilebih-lebihkan, sengaja membuat Alvin makin tersiksa. "Makyus! Enak banget!" Bagas mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. "Aromanya itu loh... beeh, daging ayam suwirnya melimpah. Waduh, Vin, pokoknya mantap parah!"
Krrruuikk!
Perut Alvin kembali berbunyi seolah menyetujui ucapan Bagas. Pikiran Alvin mulai goyah, dia terpancing dan secara tidak sadar mulai membayangkan kepulan asap dari semangkuk Soto Bu De yang legendaris itu.
Melihat Alvin mulai terpengaruh, Bagas bukannya berhenti malah semakin gencar menggoda sahabatnya. "Belum sampai di situ aja, Vin! Ada juga Bakso Mas Joko. Aduuhhh... baksonya kenyal, kuahnya gurih, daging sapinya berasa banget! Apalagi kalau dimakan pakai nasi, makin mantap, Vin!"
"Ada ya orang makan bakso pakai nasi?" Alvin seketika terkekeh geli di tengah rasa laparnya.
"Loh, lo belum coba aja!" seringai Bagas bangga.
"Duh, makin laper gue gara-gara lo!" ucap Alvin yang akhirnya menyerah.
Dia langsung menegapkan tubuhnya ke depan, bersiap mengambil posisi siaga. Matanya kini menatap lurus ke arah papan tulis tempat Nadia berdiri.
"Wih, kayaknya mulai serius nih Sifu," goda Bagas menyenggol lengan Alvin saat melihat perubahan sikap teman sebangkunya.
"Laper gue, laper!" timpal Alvin mendengus, bersiap mengerahkan otaknya demi bisa keluar kelas secepatnya.
Di depan kelas, Nadia yang sedari tadi memperhatikan barisan belakang menyadari adanya perubahan sikap dari sang murid baru. Alvin yang tadinya tampak malas-malasan menyandarkan punggung, kini mendadak duduk tegak dengan tatapan mata yang mulai serius menatap ke depan.
Melihat pemandangan itu, Nadia diam-diam mengulas senyuman kecil di bibirnya. 'Baguslah kalau dia akhirnya tertarik,' batin Nadia senang.
Di saat suasana kelas makin tegang menanti pertanyaan, Rahman tiba-tiba bersuara dengan nada menggebu-gebu. "Ayook, Kak! Mulai aja sekarang! Pasti gue nih yang bakalan keluar duluan!" ucap Rahman dengan tingkat kepedean yang menyundul langit.
Mendengar kesombongan Rahman, Doni yang duduk tidak jauh darinya langsung menyeletuk tanpa beban. "Halah... palingan juga nanti lo cuma bisa ngak-ngok bingung kayak sapi ompong, Man!"
Bwahaha!
Sontak, tawa beberapa murid di sekitar mereka langsung pecah. Rahman yang diledek seperti itu seketika mendelik kesal ke arah Doni, sementara seisi kelas makin riuh dan tidak sabar menantikan kuis dimulai.
"Baik, semuanya dengarkan baik-baik. Ini soalnya, disimak ya," ucap Nadia dengan suara lembut namun tegas untuk menenangkan suasana.
Seketika, ruang kelas 10-2 yang tadinya sempat riuh langsung berubah menjadi hening total. Setelah memastikan semua murid fokus memperhatikan, Nadia mulai membacakan soal kuis itu secara perlahan, dengan intonasi yang jelas dan mantap.
"Fenomena alam apa yang membuktikan secara mutlak bahwa Bumi itu berputar pada porosnya dari barat ke timur, yang kalian rasakan setiap hari tanpa perlu melihat satelit?"
Belum ada beberapa detik setelah kalimat terakhir Nadia selesai diucapkan, seorang siswa dari barisan tengah mendadak langsung mengacungkan tangannya tinggi-tinggi ke udara.
Nadia yang melihat kecepatan respons itu spontan mengulas senyuman lebar. "Silakan, Alvin. Apa jawaban kamu?" ujar Nadia mempersilakan.
Dalam sekejap, semua mata di dalam kelas langsung tertuju pada Alvin. Bisik-bisik tegang mulai terdengar dari beberapa sudut ruangan.
"Buset, baru juga selesai dibacain, eh udah direbut aja!"
"Gue harap jawabannya salah..." gumam murid lain yang sirik.
Sementara itu, Bagas yang duduk tepat di samping Alvin sampai terbelalak kaget dengan mulut sedikit terbuka. 'Edan! Gue aja masih mikir, ini anak udah langsung angkat tangan aja,' batin Bagas tidak habis pikir.
Berbeda dengan yang lain, Rahman justru terkekeh bangga dari bangkunya. "Waah, Sifu gue mau jawab nih!" seru Rahman bersemangat.
Di barisan depan, Luna pun ikut memutar tubuhnya ke belakang, menatap Alvin dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa takjub.
Di bawah tatapan penuh tekanan dari seisi kelas, Alvin dengan tenang menggeser kursinya lalu berdiri tegak. Dengan raut wajah lempeng tanpa beban—dan tentu saja didorong oleh rasa lapar yang sudah mendesak—Alvin menjawab dengan lantang.
"Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat, Kak. Itu jawabannya."
Begitu kalimat terakhir Alvin terucap, keheningan di kelas 10-2 mendadak pecah oleh gumaman kagum dari para siswa dan siswi. Mereka saling berpandangan, menyadari betapa sederhananya jawaban Alvin namun sangat mematikan secara logika geografi. Cowok-cowok yang tadi berharap Alvin salah jawab, seketika langsung lesu dan gigit jari.
Nadia yang berdiri di depan kelas tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Senyuman manisnya merekah sempurna, menatap Alvin dengan binar mata yang hangat. Jawaban yang singkat, padat, dan sangat cerdas dari sang murid baru benar-benar tepat sasaran.
Di barisan belakang, Doni langsung menyenggol lengan Rahman dengan wajah heboh. "Emang gak salah lulusan dari St. Jude, apa Man!" seru Doni setengah berbisik tapi cukup terdengar oleh sekitarnya.
Rahman yang mendengar itu langsung menaikkan dagunya, memasang tampang paling bangga seolah-olah dia sendiri yang berhasil menjawab kuis. "St. Jude International Academy... emang beda!" timpal Rahman dengan nada penuh penekanan, ikut memamerkan asal-usul sekolah "Sifunya" itu ke anak-anak lain.
Bagas yang duduk di sebelah Alvin hanya bisa geleng-geleng kepala sembari bertepuk tangan pelan dengan senyum geli. 'Gila nih anak, demi soto Bu De otaknya langsung encer seketika,' batin Bagas tertawa geli melihat ketegasan Alvin yang didorong rasa lapar.
Sementara itu, Luna yang masih membalikkan badannya menatap Alvin dengan senyuman yang sulit diartikan. Di dalam hatinya, rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Pengetahuan dan ketenangan cowok itu semakin mengunci keyakinannya bahwa Alvin memang bukan orang asing.
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya