NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: tamat
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas / Tamat
Popularitas:36.8k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Peluang Selamat: 100%

.

[Mendeteksi keinginan bertahan hidup ekstrem.]

[Sistem Peluang 100 persen aktif.]

Sebuah layar semi-transparan mengambang di depan korneanya. Teks putih terang menyala menantang kegelapan malam, memantulkan cahaya biru pucat ke wajah Fais yang membeku di udara.

[Aktifkan peluang selamat 100 persen?]

Di bawah teks itu, ada kotak pilihan maya. YA dan TIDAK.

Fais menganga. Mulutnya kering. Oksigen menolak masuk ke tenggorokannya.

Otaknya pasti rusak. Ini pasti halusinasi menjelang ajal. Kepalanya pasti sedang memproduksi hormon penenang agar ia tidak gila saat tengkoraknya pecah menghantam aspal di bawah sana.

Tapi pendar biru ini menyengat matanya. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi buruk.

Ia tidak peduli ini sihir, halusinasi, siasat malaikat maut, atau tipu daya setan proyek mangkrak. Ia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Ia tidak punya apa-apa untuk hilang.

Ia hanya butuh hidup. Hidup untuk membakar kota keparat ini sampai jadi abu. Hidup untuk menampar senyum teler sang mandor.

Persetan dengan segalanya. Persetan. Persetan.

"Ya," suaranya serak. Hampir tanpa suara. Hanya hembusan udara kosong yang menabrak dinginnya malam. "Aku mau hidup."

Layar biru itu seketika pecah berkeping-keping. Menjadi ribuan debu cahaya yang menyusup masuk menembus kulitnya, mengalir lurus ke sumsum tulangnya.

[Peluang terkonfirmasi. Eksekusi.]

Detik jam kembali berjalan kasar. Tarikan bumi kembali mengganas. Hujan debu semen menampar wajahnya dengan kejam.

Tapi aturan fisika malam itu dihancurkan paksa.

Terdengar bunyi dentingan keras dari arah perancah di lantai tujuh. Dentingan besi beradu besi yang melengking ngilu.

Sebuah kawat sling crane baja putus. Bukan putus perlahan karena usia. Kawat tebal sebesar paha orang dewasa itu meledak lepas dari katrolnya seperti cambuk raksasa yang marah.

Kawat itu melesat liar ke udara. Melesat menembus ruang kosong tepat di bawah tubuh Fais yang sedang meluncur bebas.

CTAR!

Ujung kawat itu menghantam sisi kiri beton, melenting kasar, menggesek tembok dengan percikan api kuning, lalu membelit kuat kerangka tiang baja yang menonjol keluar di lantai empat.

Sling baja itu membentang tegang secara diagonal. Terkunci erat. Membuat sebuah jaring darurat dadakan yang mustahil secara logika mekanika.

Tubuh Fais menghantam sling baja itu dengan telak.

Tulang punggungnya berderak. Udara terkuras habis dari dadanya dalam satu kali hentakan. Organ dalamnya terasa seperti diaduk paksa menggunakan tongkat besi.

Tapi benturan kasar itu menghentikan momentum maut jatuhnya.

Tubuhnya memantul keras ke atas. Terpental seperti boneka kain usang yang dibuang pemiliknya. Melayang melewati pinggiran beton dasar.

Dan jatuh.

Brak.

Ia tidak mencium aspal berdarah. Ia tidak hancur menjadi bubur daging di atas tumpukan bata.

Ia tenggelam.

Tubuhnya terhempas ke dalam gundukan pasir beton sedalam dua meter di pojok area bongkar muat. Pasir basah bekas genangan hujan sore tadi. Pasir dingin yang menelan sisa benturan dan merangkul tubuhnya yang hancur lebur oleh rasa sakit.

Gelap. Dingin. Pasir masuk menyumpal telinga, mulut, dan lubang hidungnya.

Ia terbatuk keras. Batuk serak yang mengeluarkan darah kental ke atas pasir. Darah yang menyengat lidahnya sendiri.

Tapi ia bernapas. Jantungnya berdetak brutal menabrak rusuk. Ia masih hidup.

Suara bising proyek mendadak mati.

Mandor tambun di lantai dasar menjatuhkan botol minumannya. Cairan alkohol oplosan tumpah membasahi sepatu botnya. Helm kuning kusamnya miring. Mulut mandor itu terbuka lebar, rahangnya nyaris lepas menatap lurus ke arah gundukan pasir di sudut area.

Beberapa kuli bangunan yang tadinya memikul besi beton menghentikan langkah mereka seketika. Besi-besi itu tergelincir jatuh berdentang ke lantai. Kaki mereka gemetar hebat.

Mereka semua melihatnya. Melihat dengan mata telanjang.

Seorang kuli cungkring jatuh bebas dari lantai tiga belas, dipukul oleh kabel crane liar yang entah dari mana asalnya, terpental keluar jalur kematian, dan mendarat presisi di satu-satunya gundukan pasir terlembut di area berdebu ini.

Fais bergerak lambat. Tangannya yang dipenuhi luka gores mencengkeram pasir basah itu.

Pasir basah ini nyata. Kasar. Lengket.

Ia menarik tubuhnya perlahan dari cekungan pasir. Tulang-tulangnya serasa diremukkan dan disusun ulang secara acak oleh tangan tak terlihat. Rasa sakitnya menembus ubun-ubun. Sakit. Sakit sekali.

Tapi otot-ototnya bergerak menuruti perintah otaknya.

Ia duduk di atas pasir. Menghela napas panjang bergetar. Tangannya mengusap kasar mulutnya, mengeluarkan butiran pasir dari celah giginya. Darah menetes lambat dari pelipis kirinya, mengalir melewati matanya yang memerah parah.

Mandor itu berjalan mendekat dengan langkah terseret-seret. Wajah tambunnya pucat sepucat mayat di kamar jenazah. Bau alkohol dari mulutnya lenyap tak berbekas, tergantikan oleh keringat dingin ketakutan yang mengucur deras.

"K-kau... Kau masih hidup?" suara mandor itu bergetar. Gemetar parah seperti melihat iblis bangkit dari kerak bumi. Jari gemuknya menunjuk ke arah Fais dengan ngeri. "Kau jatuh dari lantai tiga belas, anak setan."

Fais tidak menjawab. Sama sekali tidak tertarik menjawab. Matanya tidak menatap mandor itu.

Ia menatap telapak tangannya sendiri.

Telapak tangan yang kotor, kapalan, penuh sisa semen dan darah segar. Tangan seorang manusia yang tidak punya harga sepeser pun dua jam lalu.

Satu kedipan lambat.

Layar transparan biru kecil kembali berkedip muncul di pinggiran sudut pandangannya. Menumpuk di atas pemandangan aspal proyek yang kotor.

[Peluang terselesaikan. Akumulasi status awal sedang diproses ke dalam tubuh Host.]

Fais perlahan mengepalkan tangannya. Erat. Sangat erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan yang terluka.

Uang di bank menolaknya mentah-mentah. Bagas menertawakannya tanpa beban. Dunia membuangnya layaknya sampah sisa.

Tapi malam ini, sesuatu di luar sana baru saja mematahkan hukum dunia hanya karena ia menolak untuk mati.

Fais mengangkat kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah mandor tambun yang masih mematung ketakutan di depannya. Tidak ada rasa takut di mata Fais. Hanya ada kekosongan yang mengerikan.

Ia mengusap sisa darah di dagunya. Menyadari bahwa mulai detik ini, nilainya bukan lagi sebatas tiga puluh lima juta.

1
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Cleaver/🔪💥
Mamat Stone
/Hammer/👊/Hammer/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!