NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Langkah kaki Vexana terayun cepat menuruni anak tangga Gedung Fakultas Bisnis, seolah-olah ia sedang melarikan diri dari kejaran hantu masa lalu yang baru saja bangkit dari dalam ponsel pintarnya.

Udara musim panas Los Angeles yang menyengat langsung menerpa wajah cantiknya begitu ia melangkah keluar dari pintu lobi utama.

Namun, panasnya cuaca siang itu sama sekali tidak mampu mencairkan kebekuan yang merayap di sekujur tubuhnya akibat untaian kata Aurelie dan gambar Scooby-Doo di profil pesan Landon.

Vexana berjalan menuju area parkir khusus mahasiswa yang terletak di sisi barat kompleks kampus. Area itu cukup luas, dinaungi oleh deretan pohon palem tinggi yang daun-daunnya melambai lambat ditiup angin siang yang kering.

Di sekelilingnya, keriuhan mahasiswa yang hendak pulang atau baru tiba menciptakan atmosfer yang sibuk. Vexana memilih untuk berdiri di bawah bayangan salah satu pohon palem besar, bersandar pada pilar beton pembatas jalan setapak.

Dia merogoh tas kulitnya, mengeluarkan ponsel untuk memeriksa apakah ada pesan dari sopir pribadi keluarga Valerio yang biasa menjemputnya. Di layar ponsel, belum ada notifikasi baru dari Pak Josh—sopir kepercayaan sang Daddy yang sudah bekerja belasan tahun untuk mereka.

Vexana mengembus napas panjang, menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Dia terpaksa harus menunggu. Realitas pahit ini kembali menghantam egonya. Di saat teman-teman seangkatannya dengan bebas mengendarai mobil sport atau sedan mewah mereka sendiri ke kampus, Vexana Valerio—putri sulung dari salah satu keluarga terkaya di Bel-Air—harus terjebak dalam rutinitas antar-jemput laksana seorang anak sekolah dasar.

Brak.

Suara pintu mobil yang ditutup dengan cukup keras dari arah barisan parkir khusus dosen di seberang jalurnya memecah keheningan pikiran Vexana.

Dia secara refleks mendongak, mengedarkan pandangan matanya ke arah sumber suara.

Jantung Vexana mendadak berdegup kencang hingga menimbulkan rasa ngilu yang familier di dadanya.

Di sana, hanya berjarak sekitar sepuluh meter darinya, berdiri Landon Desmon. Pria itu baru saja meletakkan tas jinjingnya ke dalam kursi penumpang sebuah mobil sport hitam metalik yang elegan.

Kemeja flanelnya yang tadi basah di toilet kini sudah tampak rapi kembali, meskipun wajah tampannya masih memancarkan sisa-sisa ketegangan dan keletihan emosional yang sangat nyata.

Landon memutar tubuhnya, berniat melangkah memutari kap mobil untuk menuju ke kursi kemudi. Namun, gerakannya mendadak terkunci ketika sepasang mata legamnya secara tidak sengaja menangkap sosok wanita berbaju blus putih yang sedang berdiri diam di bawah naungan pohon palem.

Dua pasang mata itu kembali bertemu di tengah teriknya area parkir siang itu. Tidak ada sapaan ceria, tidak ada lambaian tangan. Yang ada hanyalah keheningan yang sarat akan ketegangan, sebuah tarikan gravitasi tak kasat mata dari dua hati yang terluka namun menolak untuk saling mendekat.

Landon terdiam selama beberapa detik di samping mobilnya. Logikanya berteriak agar dia segera masuk ke dalam mobil, memacu mesin bertenaga tinggi itu meninggalkan kampus, dan mengabaikan eksistensi Vexana.

Namun, egonya yang masih meratapi air mata di toilet dosen tadi menolak untuk patuh. Kakinya justru melangkah dengan pasti, membelah jarak di antara mereka, mendekati tempat Vexana berdiri.

Vexana mencengkeram erat tali tas selempangnya saat melihat Landon berjalan ke arahnya. Dia mencoba memasang wajah sedingin mungkin, mengunci seluruh kepanikan di dalam hatinya rapat-rapat.

Landon berhenti tepat dua langkah di depan Vexana. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Vexana dengan pandangan mata yang menembus, seolah sedang membaca setiap retakan di wajah cantiknya.

"Masih menunggu jemputan?" tanya Landon, suaranya terdengar datar namun ada nada sarkasme samar yang terselip di sana.

Vexana mendongak, menantang tatapan Landon dengan keangkuhan yang dipaksakan. "Bukan urusanmu, Landon."

Landon mengeluarkan salah satu tangannya dari saku, menunjuk dengan dagunya ke arah jalanan utama kampus di mana mobil-mobil mahasiswa lalu-lalang dengan bebas. Sebuah senyuman getir yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya.

"Masih trauma bawa mobil sendiri? Hm?" tanya Landon lagi, kali ini nada suaranya merendah, berubah menjadi sebuah pertanyaan yang sarat akan makna tersembunyi yang langsung menusuk ulu hati Vexana.

Deg.

Vexana mematung di tempatnya. Pertanyaan Landon terasa laksana belati dingin yang menembus dadanya.

Trauma? Bagaimana pria ini bisa tahu tentang ketakutannya terhadap kemudi mobil? Di dalam ingatan Vexana, dia tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang rasa ngeri yang luar biasa yang selalu menyerangnya setiap kali dia mencoba duduk di kursi pengemudi sejak dia terbangun dari apa yang dia yakini sebagai koma beberapa hari setelah kecelakaan itu.

"Apa maksudmu?" bisik Vexana, suaranya sedikit bergetar, pertahanannya mulai goyah.

Landon mendengus pelan, menatap Vexana dengan tatapan yang campur aduk antara amarah, iba, dan kekecewaan yang mendalam.

"Jangan berlagak bodoh di depanku, Vexa," ucap Landon, langkahnya maju satu tapak lagi, mempersempit jarak di antara mereka hingga Vexana bisa menghirup wangi maskulin mint yang familier dari tubuh pria itu.

"Aku memperhatikanmu. Aku memperhatikanmu selama empat tahun ini... sejak kau kembali menginjakkan kakimu di kampus ini setelah rumor kepergianmu keluar negeri itu."

Landon menjeda kalimatnya, sepasang matanya menatap tajam ke dalam manik mata Vexana yang mulai berkaca-kaca.

"Kau tidak pernah lagi membawa mobil sendiri. Tidak sekalipun. Setiap hari, selama bertahun-tahun ini, kau selalu datang dan pergi dengan diantar jemput oleh supir pribadi keluarga Valerio. Gadis bar-bar yang dulu paling hobi memacu mobilnya di jalanan Los Angeles seperti orang gila, sekarang bahkan tidak berani menyentuh kunci kontak mobilnya sendiri. Mengapa? Apa karena bayang-bayang malam itu masih terus menghantuimu? Apa karena rasa bersalah atas kematian Amara membuatmu kehilangan keberanianmu, Vexana?"

Kata-kata Landon menghantam kesadaran Vexana laksana ombak besar yang memecahkan karang.

Selama empat tahun ini...? Batin Vexana menjerit histeris, kepalanya mendadak kembali terasa berdenyut sangat pusing.

Jika Landon memperhatikannya tidak membawa mobil selama empat tahun ini di kampus, dan jika garis waktu yang sebenarnya menyatakan sekarang adalah tahun 2026 di mana usianya sudah 26 tahun... itu berarti waktu empat tahun yang dimaksud Landon adalah waktu sejak dia kembali ke kampus setelah kecelakaan yang terjadi enam tahun lalu!

Segala hal di dalam otak Vexana mulai berputar dengan gila.

Matematika waktu ini menyiksanya. Jika kecelakaan terjadi enam tahun lalu usia 20 tahun, dan dia kembali ke kampus empat tahun lalu, usia 22 tahun lalu... di mana dia berada selama dua tahun di antara masa kecelakaan dan masa kembali ke kampus?

Dua tahun di mana ingatan di kepalanya bersikeras mengatakan dia sedang berada di rumah sakit dan baru terbangun dari koma!

Vexana memundurkan langkahnya hingga punggungnya menempel keras pada pilar beton di belakangnya. Wajahnya berubah menjadi sangat pucat, napasnya memburu, memicu kepanikan yang luar biasa di dalam dadanya.

Dia menatap Landon dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kengerian yang amat sangat—bukan karena kemarahan Landon, melainkan karena kenyataan gila yang perlahan-lahan mulai terbuka di depannya.

Landon yang melihat perubahan drastis pada raut wajah Vexana mendadak menghentikan kalimatnya. Amarah di dalam matanya seketika padam, digantikan oleh rasa cemas yang tidak bisa dia sembunyikan saat melihat tubuh Vexana yang mulai bergetar hebat dan kedua tangannya yang meremas dadanya sendiri seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Vexa...? Kau kenapa?" tanya Landon, suaranya berubah menjadi panik.

Dia mengulurkan tangannya secara refleks, ingin menyentuh bahu Vexana untuk menahannya agar tidak jatuh.

"Jangan sentuh aku!" seru Vexana dengan sisa kekuatannya, menepis tangan Landon dengan kasar. Air matanya akhirnya pecah, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi.

Tepat pada saat ketegangan di antara mereka mencapai puncaknya, sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca gelap berlogo keluarga Valerio berbelok cepat masuk ke area parkir dan berhenti tepat di samping tempat mereka berdiri.

Pintu kemudi terbuka dengan cepat, dan sopir pribadi keluarga Valerio, keluar dengan wajah panik setelah melihat kondisi nona mudanya dari dalam mobil.

"Nona Vexa! Astaga, Nona tidak apa-apa?" tanya Pak Josh tergesa-gesa, langsung berdiri di depan Vexana untuk melindunginya, menatap Landon dengan pandangan waspada penuh selidik.

Vexana tidak menjawab. Dia tidak menatap Landon lagi. Dengan tubuh yang masih gemetar dan air mata yang terus mengalir, Vexana langsung membuka pintu belakang mobil sedan mewah tersebut dan menyembunyikan dirinya di dalam kabin mobil yang dingin oleh AC, menutup pintunya dengan keras.

Pak supir memberikan bungkukan hormat yang kaku pada Landon. "Maaf, Tuan. Saya harus membawa Nona Vexa pulang sekarang." Pria paruh baya itu segera kembali ke kursi kemudi dan memacu mobil mewah tersebut meninggalkan area parkir kampus dengan kecepatan tinggi.

Landon Desmon berdiri terpaku di tempatnya, menatap kepergian mobil keluarga Valerio yang menjauh hingga menghilang di balik gerbang utama kampus. Tangannya yang tadi ditepis oleh Vexana masih menggantung di udara, terasa dingin oleh terpaan angin siang.

Rasa sesak dan kebingungan yang luar biasa kini berpindah ke dalam dada Landon. Tatapan kengerian dan keputusasaan di mata Vexana tadi bukanlah tatapan seorang wanita yang sedang berpura-pura atau mencari simpati; itu adalah tatapan seorang jiwa yang sedang tersesat di dalam labirin ketakutan yang sangat dalam.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu selama dua tahun kepergianmu itu, Vexa...?" bisik Landon lirih, mengepalkan tangannya kuat-kuat sembari berbalik menuju mobil sport hitamnya dengan debaran jantung yang tidak lagi menentu.

Teka-teki ini kini terasa jauh lebih gelap dan rumit dari sekadar urusan patah hati masa lalu mereka.

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!