NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Tanda Milik yang Abadi

Cahaya matahari pagi yang lembut mulai merembes masuk melewati celah-celah tirai tebal, menyinari ruangan luas itu dengan sinar keemasan yang hangat. Di luar sana, burung-burung mulai berkicau menyambut pagi, dan sisa-sisa air hujan semalam yang menetes dari dedaunan terdengar seperti irama yang menenangkan. Namun di dalam kamar itu, keheningan masih terasa mendalam, disertai dengan kehangatan yang tersisa dari malam panjang yang penuh api dan gairah semalam.

Grey Cha Lavian perlahan membuka matanya, merasa tubuhnya terasa berat namun juga rileks secara aneh. Kepalanya terasa nyaman bersandar di dada bidang yang kokoh dan hangat, sementara satu lengan besar yang kekar melingkar erat di pinggangnya, seolah takut jika sedikit saja kendurnya, wanita itu akan lenyap begitu saja. Aroma khas tubuh Davian—campuran wangi maskulin dan sesuatu yang begitu menenangkan—langsung menyapa indra penciumannya, membuat ingatan-ingatan semalam seketika berputar kembali dengan jelas di benaknya.

Wajah Grey seketika memerah padam. Bayangan-bayangan tentang sentuhan, ciuman, bisikan-bisikan kepemilikan, dan penyatuan jiwa dan raga yang terjadi semalam kembali berputar dengan cepat. Dia, yang selama ini dikenal sebagai gadis bebas yang tak pernah terikat pada siapa pun, yang selalu menganggap hubungan hanyalah permainan… kini terbaring telanjang dan terlindung erat dalam pelukan seorang pemimpin mafia yang paling ditakuti sekaligus paling berkuasa. Dan yang lebih gila lagi, Grey sadar sepenuhnya bahwa dia tidak menyesali sedikit pun apa yang terjadi. Justru, ada rasa bahagia dan rasa aman yang begitu besar mengisi hatinya.

Dia mengangkat kepalanya perlahan, berusaha menatap wajah pria yang masih tertidur lelap di sampingnya. Di bawah sinar matahari pagi yang jatuh lembut di wajah tampan itu, Davian terlihat jauh lebih tenang, lebih lembut, dan jauh lebih manusiawi dibandingkan sosok dominan dan mengintimidasi yang dia kenal selama ini. Garis-garis wajahnya yang keras tampak melunak saat tidur, napasnya teratur dan berat, dan ada ekspresi damai yang jarang terlihat itu terlukis jelas di sana.

Grey tidak sadar dia sedang menatap wajah itu begitu lekat, mengagumi setiap lekuknya, hingga tiba-tiba suara berat dan serak yang masih penuh sisa tidur terdengar rendah di telinganya.

"Menatapiku seperti itu… apa kau ingin mengulang apa yang kita lakukan semalam, Sayang?"

Grey tersentak kaget, wajahnya makin memerah hingga ke telinga. Dia hendak menarik diri menjauh, namun lengan di pinggangnya justru mengeratkan genggamannya, menahannya tetap berada di tempatnya, menempel rapat pada tubuh Davian. Pria itu perlahan membuka matanya, menampakkan manik mata hitam pekat yang dalam itu—mata yang meski baru bangun tidur, langsung memancarkan aura kepemilikan yang kuat dan senyum menggoda yang membuat jantung Grey kembali berpacu kencang.

"Kau… kau sudah bangun sejak kapan?" tanya Grey dengan suara sedikit tercekik, berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan cara membuang muka ke samping, namun dagunya dengan cepat ditangkup oleh tangan besar Davian, dipaksa kembali menatap lurus ke arahnya.

"Sejak kau mulai bergerak dan bernapas di dadaku," jawab Davian pelan, jarinya mengusap lembut pipi gadis itu, lalu turun menyusuri garis rahang hingga berhenti di leher jenjangnya. Di sana, tepat di bawah telinga dan sedikit ke bawah, terlihat jelas jejak-jejak merah keunguan yang masih segar—bekas tanda ciuman dan gigitan Davian semalam. Tanda yang dia buat dengan sengaja, dalam, dan jelas, agar tidak ada yang bisa menyangkal siapa pemilik wanita ini.

Davian tersenyum puas saat melihat pandangan Grey jatuh ke bekas tanda itu. Dia menundukkan kepalanya, mengecup lembut bekas tanda itu, membuat tubuh Grey meremang hebat.

"Indah sekali," gumam Davian di kulit lehernya, suaranya bergema rendah. "Tanda milikku. Sekarang semua orang yang melihatmu akan tahu persis siapa yang sudah menandaimu, siapa yang sudah menyentuhmu, dan siapa yang memiliki segalanya atas dirimu. Tidak ada lagi laki-laki yang berani mendekat, tidak ada yang berani menatapmu dengan pandangan kotor. Karena mereka tahu, menatapmu saja sudah berarti mengganggu milikku… dan akibatnya, mereka tidak akan sanggup menanggungnya."

Grey mendengus pelan, berusaha terlihat kesal meski hatinya terasa meleleh mendengar kata-kata itu. Dia menepis pelan dada bidang di hadapannya, meski tangannya terasa begitu lemah.

"Kau benar-benar tidak tahu malu, Davian. Kau menandaiku seolah aku ini hewan peliharaanmu saja," ucapnya, namun nada suaranya sama sekali tidak terdengar marah. Justru ada nada manja yang terselip di sana, sesuatu yang baru saja muncul dan hanya bisa keluar saat dia bersama pria ini.

Davian tertawa renyah, suara tawanya terdengar begitu bahagia dan bebas, hal yang jarang sekali didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Dia menggeser tubuhnya sedikit, menindih kembali tubuh Grey di atas kasur, menatap wajah gadis itu dari atas dengan pandangan yang begitu dalam dan penuh kasih sayang yang mengerikan.

"Kau bukan hewan peliharaan, Grey," jawabnya serius, tangannya bergerak menyisir rambut panjang itu menjauhi wajah indah itu. "Kau adalah nyawaku. Kau adalah separuh jiwaku. Dan jika aku harus menandaimu sampai ke tulang agar kau tetap di sisiku, akan aku lakukan. Aku tidak peduli seberapa posesif atau gila aku terlihat di matamu. Yang aku tahu, aku tidak bisa dan tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Semalam sudah membuktikannya, bukan? Kau juga menginginkannya sama besarnya denganku. Kau juga menyerahkan segalanya padaku."

Wajah Grey kembali memerah, ingatan-ingatan panas semalam kembali menyerbu masuk ke dalam pikirannya. Dia membuang muka, tapi tangan kecilnya justru bergerak naik, menyentuh dada kekar Davian, merasakan detak jantung yang kuat dan tenang di sana.

"Aku… aku hanya… terhanyut suasana saja," jawabnya mencoba membela diri, meski dia tahu alasan itu sangat lemah.

Davian tersenyum miring, dia memegang dagu Grey kembali, memaksanya menatap matanya. Tatapan pria itu begitu tajam, seolah bisa menembus segala kebohongan kecil yang coba disembunyikan gadis itu.

"Terhanyut? Benarkah?" bisik Davian, bibirnya mendekat hingga hampir menyentuh bibir Grey. "Kalau begitu, biar aku buat kau terhanyut lagi… sampai kau sadar bahwa apa yang kita miliki ini bukan sekadar suasana, bukan sekadar nafsu sesaat… tapi sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih dalam, dan abadi."

Sebelum Grey sempat menjawab, bibir Davian sudah mendarat di bibirnya. Ciuman kali ini tidak lagi seagresif dan seganas semalam. Ciuman pagi ini lembut, penuh rasa syukur, penuh rasa memiliki, dan penuh janji untuk masa depan. Davian menciumnya perlahan, mendalam, menikmati setiap inci rasa dari bibir itu seolah itu adalah satu-satunya sumber kehidupan baginya. Tangannya bergerak lembut menyusuri punggung gadis itu, mengusap kulit halus itu dengan rasa hormat dan kasih sayang yang tak terhingga.

Grey memejamkan matanya, menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam ciuman itu. Dia melingkarkan lengannya di leher Davian, membalas ciuman itu dengan kelembutan yang sama. Di momen itu, semua rasa ragu, rasa takut, dan rasa bingung yang dia rasakan kemarin seolah hilang begitu saja. Dia menyadari bahwa dia sudah jatuh terlalu dalam, jauh lebih dalam dari yang dia bayangkan. Dia jatuh cinta pada pria berbahaya ini, pada pria yang mengikatnya dengan aturan ketat, pada pria yang menginginkannya seutuhnya, pada pria yang rela menghancurkan dunia demi melindunginya.

Ciuman itu berakhir lama kemudian, saat keduanya sudah kehabisan napas. Davian menempelkan keningnya pada kening Grey, memejamkan matanya sejenak, menikmati kedamaian yang jarang dia temukan itu.

"Bangunlah, Sayang," ucap Davian pelan, jarinya mengusap pipi gadis itu. "Pagi sudah datang. Dan hari ini, kau akan mulai hidup barumu di sini. Sebagai Nyonya Argantha. Sebagai penguasa satu-satunya di rumah ini, di hatiku, dan di seluruh duniaku."

Grey membuka matanya, menatap pria itu dengan pandangan yang berubah. Tidak ada lagi tantangan atau kebencian di sana. Yang ada hanyalah kelembutan dan penerimaan.

"Apa aturanmu hari ini, Tuan Besar?" tanyanya pelan, sedikit menggoda namun juga penuh kepatuhan yang baru tumbuh.

Davian tersenyum bangga, dia mengecup sekali lagi bibir itu sebelum bangkit berdiri dari kasur, menampakkan tubuh tegap dan kekarnya yang penuh goresan-goresan masa lalu namun tetap memesona. Dia berjalan menuju lemari besar, lalu mengambilkan satu set pakaian untuk Grey—pakaian yang lembut, indah, namun tertutup rapat, seolah mengingatkan kembali sifat posesifnya yang tak berubah itu.

"Aturannya tetap sama: Kau milikku. Tapi tambahan untuk hari ini… kau harus selalu ada di pandanganku. Ke mana aku pergi, kau ikut. Apa yang aku lakukan, kau ada di sana. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian sedikit pun hari ini. Aku ingin memastikan kau tahu betapa besarnya kekuasaanku, dan betapa amannya kau berada di bawah bayang-bayangku."

Grey bangkit dari tidurnya, menarik selimut menutupi tubuhnya sedikit meski Davian sudah melihat segalanya semalam. Dia menatap punggung lebar pria itu, menyadari bahwa meski dia kini terikat dan dikurung, dia justru merasa lebih berharga dan lebih dicintai daripada saat dia bebas dan sendirian dulu.

"Baiklah," jawab Grey pelan, namun tegas. Dia menatap bekas tanda merah di lehernya yang kini menjadi bukti nyata ikatan mereka. "Aku akan ikut ke mana pun kau pergi, Davian. Tapi ingatlah… kau yang memintaku masuk ke dalam duniamu yang gelap dan berbahaya ini. Kau yang bertanggung jawab untuk tidak membiarkanku terluka di dalamnya."

Davian berbalik, menatap wanita yang kini telah sepenuhnya menjadi miliknya itu dengan pandangan yang berkilat penuh tekad yang tak tergoyahkan.

"Aku akan melindungimu dengan nyawaku sendiri, Grey. Tidak ada yang akan menyakitimu. Tidak ada yang akan berani mendekat dengan niat buruk. Selama aku bernapas, kau akan tetap aman, kau akan tetap menjadi ratuku, dan kau akan tetap menjadi satu-satunya milikku yang paling berharga."

Davian berjalan kembali mendekati tempat tidur, mengulurkan tangannya ke arah Grey, menuntunnya berdiri dan memeluknya erat sejenak sebelum membimbingnya menuju kamar mandi. Hari baru telah dimulai, dan kisah mereka yang penuh bahaya, gairah, dan cinta posesif itu baru saja memasuki babak yang lebih dalam dan lebih nyata. Di luar sana, musuh-musuh Davian mungkin sedang bersiap, bahaya mungkin sedang mengintai di balik bayang-bayang, tapi selama mereka berdua berdiri berdampingan, tidak ada apa pun yang mampu memisahkan ikatan yang telah disatukan dalam api cinta semalam itu.

 

(Lanjut ke Bab 7)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!