"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Janji di Atas Kertas
Dua hari setelah pertemuan yang memutar balikan dunianya di Arsa Tower, Elena akhirnya kembali melangkah melewati pintu kaca ruang kerja Adrian. Kali ini, ia datang dengan kepala dingin dan dinding pertahanan psikologis yang telah ia susun rapat-rapat.
Selama empat puluh delapan jam terakhir, Elena nyaris tidak tidur. Ia memikirkan posisinya di Luminous Beauty dan menyadari kebenaran pahit dari ucapan Adrian. Posisinya memang sedang di ujung tanduk.
Beberapa direktur senior mulai berani mempertanyakan keputusannya secara terbuka, dan ada aliran dana mencurigakan di dalam laporan keuangan internal yang tidak bisa ia lacak tanpa memicu konflik terbuka. Ia membutuhkan sekutu yang lebih besar dari sekadar pengacara perusahaan. Ia membutuhkan predator yang ditakuti oleh para predator lainnya.
Adrian sudah menunggu di balik meja kerjanya. Hari itu, ia tampak sedikit lebih santai namun tetap memancarkan dominasi yang mutlak. Pria itu mengenakan kemeja katun hitam premium dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tegas di pergelangan tangannya yang sedang memegang sebuah pena emas. Di atas permukaan meja kaca yang bersih, selembar dokumen tebal berlapis map kulit hitam telah menanti.
"Aku kagum dengan ketepatan waktumu, Nona Alexander," sapa Adrian tanpa mengangkat wajahnya, menyelesaikan coretan tanda tangan pada berkas lain sebelum akhirnya menutup tablet bisnisnya dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Elena.
Elena tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Ia menarik kursi kulit di hadapan Adrian, duduk dengan punggung tegak dan kaki yang menyilang anggun. "Aku ke sini untuk berbisnis, Tuan Arsa. Aku sudah mempelajari draf perjanjian yang dikirimkan oleh pengacara pribadimu semalam. Ada beberapa poin yang ingin kupastikan secara langsung sebelum aku menaruh namaku di atas kertas itu."
"Katakan," sahut Adrian, menyandarkan punggungnya pada kursi sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya yang gelap menatap Elena dengan ketenangan seorang pemain catur yang tahu lawan bicaranya tidak memiliki banyak pilihan untuk bergerak.
Elena membuka salinan dokumen di tangannya, jemarinya yang lentik menunjuk ke salah satu pasal inti. "Pertama, tidak ada hubungan fisik dalam bentuk apa pun di antara kita di balik pintu tertutup. Pernikahan ini murni aliansi strategis di atas kertas. Kedua, tidak akan ada pencampuran aset pribadi atau corporate antara Arsa Food Group dan Luminous Beauty tanpa persetujuan tertulis dari kedua belah pihak. Dan ketiga, kontrak ini berakhir mutlak dalam waktu dua puluh empat bulan, diikuti dengan perceraian yang bersih tanpa ada tuntutan gono-gini."
Adrian terkekeh rendah, suara tawa baritonnya yang berat terdengar seperti gesekan beludru yang mahal. "Ini adalah syarat standar. Aku tidak keberatan dengan semua itu, Elena. Aku tidak kekurangan wanita, dan aku juga tidak membutuhkan sepeser pun dari keuntungan dari produk-produk kosmetik milikmu untuk memperkaya diriku. Fokus utamaku adalah stabilitas pasar pangan dan logistikku yang sempat diganggu oleh organisasi yang sama dengan pembunuh ayahmu. Menyembunyikanmu di bawah namaku adalah cara tercepat untuk memancing mereka keluar dari sarangnya."
Adrian memajukan tubuhnya, mengambil pena emas di atas meja dan menggeser dokumen asli ke hadapan Elena. "Di depan publik, media, dan relasi bisnis, kita adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Kamu akan menghadiri semua jamuan makan malam resmi sebagai tunanganku, dan segera menjadi istriku. Tapi begitu pintu mansionku tertutup, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi atap demi sebuah misi. Jika kamu setuju, silakan tanda tangani."
Elena menatap pena emas di hadapannya. Ia tahu, begitu ia menorehkan tintanya di sana, kebebasannya sebagai wanita lajang akan hilang, dan ia akan resmi masuk ke dalam pusaran duniaku yang penuh dengan bahaya kerah putih. Namun, bayangan wajah ayahnya dan misteri kalung safir yang belum terpecahkan memberikan keberanian ekstra di dalam dadanya. Ia meraih pena tersebut, menarik napas dalam-dalam, dan menandatangani dengan goresan yang mantap dan tegas di samping tanda tangan Adrian yang sudah tertulis lebih dulu.
Begitu pena diletakkan kembali di atas meja, Adrian berdiri dari kursinya. Ia meraih kotak beludru hitam yang sejak tadi berada di sudut meja, membukanya, dan mengeluarkan kalung The Blue Seraph. Tanpa meminta izin, Adrian berjalan memutari meja dan berdiri di belakang kursi Elena.
Elena refleks menegang saat merasakan tubuh Adrian yang begitu dekat di belakangnya. Aroma maskulin bercampur wangi kayu yang mahal dari tubuh pria itu kembali mengepung indra penciumannya.
Adrian menundukkan kepalanya sedikit, helai rambut hitamnya yang rapi nyaris menyentuh pelipis Elena saat ia melingkarkan kalung platinum itu ke leher jenjang sang wanita.
Jemari Adrian yang besar dan hangat sengaja atau tidak bersentuhan dengan kulit sensitif di tengkuk Elena saat ia mengunci pengait kalung tersebut. Sentuhan singkat itu mengirimkan gelombang sensasi elektrik yang aneh, membuat Elena refleks menahan napasnya selama beberapa detik dan mencengkeram pinggiran meja kerja.
"Selamat datang di duniaku, Nyonya Arsa," bisik Adrian tepat di dekat telinga Elena.
Suara baritonnya yang rendah dan dalam membuat dada Elena bergetar hebat. Pria itu kembali berjalan ke depan, berdiri menjulang sembari menatap langsung ke dalam manik mata Elena dengan sorot mata yang teramat posesif dan intens. "Mulai detik ini, setiap langkah kecilmu adalah tanggung jawabku. Siapa pun di luar sana yang mencoba menyentuh atau menyakitimu, harus berhadapan dengan seluruh kekuatan absolut dari Arsa Group terlebih dahulu. Kita baru saja menyalakan api peperangan, Elena. Dan pastikan kamu siap saat apinya mulai membesar."
Elena mendongak, menatap mata gelap suaminya di atas kertas tersebut. Lehernya terasa berat oleh kilau safir yang kini telah kembali, namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa beban yang sesungguhnya baru saja dimulai. Aliansi berdarah dingin ini telah resmi diikat, dan tidak ada jalan untuk kembali.
......BERSAMBUNG......