NovelToon NovelToon
KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.

- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.

- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: AWAL PERTEMUAN

Setiap hari Senin sampai Sabtu, Nova dan Ain selalu pulang bersama menggunakan jasa travel milik Pak Joko. Sopir yang selalu mengantar mereka adalah Hamid. Awalnya hanya hubungan biasa antara penumpang dan sopir. Hamid selalu bersikap sopan, membantu menaikkan tas, selalu menyapa dengan senyum ramah. Ia pandai bicara, sering membuat dua wanita itu tertawa lepas di dalam mobil.

Nova yang selama ini merasa suaminya dingin dan jarang memperhatikan, mulai merasa nyaman. Hamid selalu memuji kecantikannya, mengatakan bahwa wanita seindah dia seharusnya selalu diperlakukan seperti ratu. Sedangkan Ain, yang selama ini jarang mendapatkan perhatian dari siapa pun, merasa sangat dihargai saat Hamid sering menanyakan kabarnya, memuji sifat baiknya, dan bilang bahwa dia wanita yang tulus meski penampilannya tidak seindah Nova.

"Ain, kamu itu wanita berhati emas. Banyak orang cantik tapi hatinya busuk, tapi kamu... kamu istimewa," kata Hamid suatu sore saat mereka berdua duduk di kursi depan menunggu Nova yang sedang membeli minuman.

Ain tersipu malu, jantungnya berdebar kencang. Untuk pertama kalinya ada pria yang mengatakan hal manis padanya. Ia tidak sadar, itu semua hanyalah taktik Hamid untuk menarik perhatiannya.

Sementara itu, di kursi belakang, Nova juga sudah mulai sering berbagi cerita tentang masalah rumah tangganya pada Hamid. Dan Hamid selalu menjadi pendengar yang baik, bahkan sering berkata, "Kalau saya jadi suamimu, Nova... saya tidak akan pernah membuatmu menangis."

Kalimat itu seperti racun yang perlahan masuk ke dalam hati mereka berdua, membuka pintu untuk hal yang salah.

Semakin lama, hubungan mereka semakin dekat. Hamid mulai berani mengirim pesan pribadi, memanggil dengan panggilan sayang, bahkan mulai mencari alasan untuk bertemu di luar jam kerja.

Pertama yang jatuh ke dalam pelukan Hamid adalah Nova. Suatu hari hujan deras, mobil mogok di tengah jalan. Hamid mengajak Nova masuk ke warung kecil yang sepi, di sana untuk pertama kalinya mereka berciuman dan berjanji untuk saling mencintai. Nova merasa menemukan kembali kebahagiaan yang hilang, tanpa memikirkan bahwa dia sedang mengkhianati suaminya.

Beberapa bulan kemudian, Hamid mulai mendekati Ain dengan lebih agresif. Ia tahu Ain sangat membutuhkan kasih sayang, maka ia memberikan apa yang Ain inginkan. Ia bilang kalau ia mencintainya, kalau Ain lebih tulus dari siapa pun, bahkan berjanji akan menikahinya suatu hari nanti. Ain yang polos langsung percaya, ia memberikan seluruh hatinya, bahkan tubuhnya, kepada Hamid. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Tanpa mereka sadari, Hamid menjalin hubungan dengan keduanya secara bersamaan. Saat bersama Nova ia bilang tidak mencintai Ain, dan saat bersama Ain ia bilang Nova hanya teman biasa. Ia pandai memutar kata-kata, membuat keduanya percaya bahwa dialah satu-satunya wanita di hatinya.

Hubungan terlarang itu berlangsung diam-diam selama setahun penuh. Mereka sering bertemu di kamar sewaan yang disiapkan Hamid, di tempat sepi, atau bahkan di dalam mobil saat malam hari. Dosa demi dosa terus dilakukan, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Awal mula terbongkarnya semua ini bermula dari kecerobohan Hamid. Suatu hari ia lupa menghapus pesan di ponselnya. Saat sedang mengantar Nova, ponselnya berbunyi terus menerus. Nova yang penasaran mengambil ponsel itu saat Hamid sedang keluar membeli bensin.

Darahnya mendidih saat membaca pesan-pesan mesra dari Ain.

"Sayang, kapan kita bertemu lagi? Aku rindu pelukanmu."

"Hamid, kamu janji kan akan selalu ada buat aku?"

"Aku sayang kamu lebih dari apa pun, meski orang lain bilang aku tidak cantik, tapi bagimu aku paling istimewa kan?"

Nova gemetar, matanya memerah menahan amarah. Ternyata pria yang ia cintai, yang sudah ia khianati suaminya demi dia, ternyata membagi cintanya dengan orang lain. Dan yang lebih menyakitkan... orang itu adalah sahabatnya sendiri, Ain.

Saat Hamid kembali, Nova langsung melempar ponsel ke wajahnya.

"Kamu penipu! Kamu bajingan! Selama ini kamu mainkan aku dan Ain ya? Kamu pikir kami apa? Mainan?" teriak Nova histeris.

Hamid kaget, wajahnya pucat pasi. Ia mencoba membela diri, "Bukan begitu Nova, dengarkan aku... Ain itu hanya teman, aku cuma kasihan sama dia karena dia tidak pernah dapat kasih sayang..."

"KASIHAN?!" potong Nova, "Kamu tidur dengannya karena kasihan? Kamu bilang cinta padanya karena kasihan? Kamu sudah membuat kami berdua jadi wanita murahan!"

Pertengkaran itu pecah di pinggir jalan, membuat orang-orang sekitar menoleh melihat ke arah mereka. Nova menangis sambil berlari pergi, bertekad untuk memberitahu Ain semua kebenaran. Ia merasa malu, marah, dan hancur karena sudah dibohongi begitu lama.

Sore itu, Nova mengajak Ain bertemu di tempat biasa mereka makan bakso. Ain datang dengan wajah ceria, tidak tahu apa yang sedang menantinya.

"Ain... ada yang harus aku katakan," ucap Nova dengan suara gemetar.

"Apa itu Nov? Kamu kelihatan aneh sekali," jawab Ain sambil tersenyum.

"Kamu... kamu punya hubungan sama Hamid kan?" tanya Nova langsung ke pokok permasalahan.

Wajah Ain langsung berubah merah padam, matanya membulat kaget. "Kamu... kamu tahu dari mana?"

"Aku tahu semuanya Ain! Hamid itu sudah punya istri dan anak! Dan yang lebih parah... dia juga menjalin hubungan denganku sejak setahun yang lalu! Kami berdua sama-sama dibohongi, sama-sama dimainkan seperti boneka!"

Dunia Ain terasa runtuh seketika. Kepalanya terasa berputar, napasnya sesak. "Tidak mungkin... dia bilang aku satu-satunya di hatinya... dia bilang akan menikahiku... dia bilang tidak ada wanita lain selain aku..."

"Itu semua bohong Ain! Dia pembohong besar! Dia tidak cinta siapa-siapa selain dirinya sendiri! Dia cuma mau main-main dengan kita, dia tidak akan pernah meninggalkan keluarganya!"

Ain menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat hina, sangat memalukan. Ia yang selalu merasa kurang cantik, merasa tidak berharga, ternyata hanya dijadikan pelampiasan saja. Ia merasa najis, merasa kotor karena sudah melakukan hal terlarang itu.

"Kenapa dia lakukan ini padaku... kenapa aku harus sebodoh ini..." isak Ain.

Dua sahabat itu menangis bersama-sama, hancur lebur karena kenyataan pahit yang baru mereka ketahui. Rasa malu begitu besar membungkus hati mereka, takut kalau sampai orang lain tahu, takut nama baik mereka hancur, apalagi mereka berdua adalah guru, orang yang seharusnya menjadi contoh dan teladan.

Seminggu setelah kejadian itu, Ain merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia terlambat datang bulan lebih dari sebulan, sering mual dan muntah, badannya terasa lemas terus menerus. Dengan perasaan takut dan gelisah, ia membeli alat tes kehamilan.

Dan hasilnya... POSITIF.

Ain jatuh terduduk di lantai kamar mandi, tangannya menutup mulut agar tidak berteriak. Ia hamil anak Hamid. Anak dari pria yang sudah menipu dan menghancurkan hidupnya. Ia belum menikah, ia seorang guru yang dihormati banyak orang, kalau sampai orang tahu ia hamil di luar nikah, hidupnya selesai sudah. Ia akan dicemooh, diusir dari pekerjaannya, dianggap wanita jahat dan tidak bermoral.

Ia mencoba menghubungi Hamid, ingin meminta tanggung jawab, tapi nomor Hamid sudah tidak aktif. Ternyata Hamid sudah tahu semua rahasianya terbongkar, ia langsung menghilang, pindah rumah, berhenti bekerja, dan pergi entah ke mana tanpa meninggalkan jejak. Ia membuang dua wanita yang sudah ia hancurkan begitu saja seperti sampah.

Ain datang menemui Nova sambil memegang perutnya yang mulai sedikit membesar. "Nov... aku hamil... anak Hamid... apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku malu sekali... aku tidak sanggup menanggung aib ini..."

Nova juga terkejut dan sedih melihat nasib sahabatnya. "Ain... ini bukan salahmu sepenuhnya, kamu dibohongi sama dia... tapi kalau kamu lahirkan anak ini, nama baikmu akan hancur selamanya. Kamu akan dihina semua orang, keluargamu juga akan malu karena kamu..."

"AKU TAHU!!" teriak Ain sambil menangis, "Aku tahu aku salah, aku tahu aku berdosa besar! Aku sudah hancur, aku sudah tidak punya harga diri lagi! Aku benci diriku sendiri, aku benci Hamid, aku benci semuanya!"

Rasa malu, rasa takut, rasa bersalah dan putus asa memenuhi hati Ain setiap hari. Ia tidak berani keluar rumah, takut orang melihatnya, takut ada yang tahu rahasia besarnya. Ia merasa hidupnya sudah berakhir, tidak ada jalan keluar lain selain menghilangkan janin itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!