NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Pil yang Dihancurkan dan Hukuman Sang Tuan

Bagi Alika, perjalanan pulang dari SCBD menuju Menteng malam itu terasa bak simulasi neraka. Di dalam kabin Maybach hitam yang membelah jalanan ibu kota, keheningan terasa begitu mencekik. Sekat kaca yang memisahkan kursi penumpang dan sopir telah dinaikkan sepenuhnya.

Narendra duduk bersandar dengan satu kaki menyilang santai. Pandangannya lurus ke luar jendela sembari memutar-mutar cincin kawin di jari manisnya. Irama gerakannya yang lambat sanggup membuat bulu kuduk Alika meremang. Sejak masuk ke mobil, pria itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Bagi Alika, diamnya Narendra adalah bentuk intimidasi yang jauh lebih brutal daripada bentakan.

Begitu mobil berhenti di pelataran rumah, Narendra langsung keluar tanpa memedulikan istrinya. Ia melangkah masuk dengan rahang yang mengeras kaku. Alika terseok menyusul di belakang, berjuang meredam rasa mual yang kembali datang mendera.

"Panggil Murni ke ruang kerjaku. Sekarang," perintah Narendra dengan nada dingin kepada kepala pelayan yang menyambut mereka di pintu depan.

Alika mematung di foyer. "Mas, tolong jangan libatkan Murni. Dia tidak tahu apa-apa. Aku yang menyuruhnya—"

"Masuk ke ruang kerjaku, Alika. Atau saya pastikan wanita tua itu angkat kaki malam ini juga tanpa pesangon sepeser pun," potong Narendra tanpa menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan menuju ruangan berpintu ganda di sayap kiri rumah.

Dengan sisa tenaga yang ada dan tungkai yang gemetar, Alika mengikuti suaminya. Ruang kerja Narendra selalu menyisakan kesan seperti ruang interogasi; didominasi furnitur kayu mahoni gelap, aroma cerutu yang pekat, dan pencahayaan yang temaram.

Narendra sudah berdiri tegak di balik meja kerjanya. Tak lama berselang, pintu terbuka. Murni masuk dengan wajah sepucat kapas. Tubuh asisten paruh baya itu tampak gemetar hebat, seolah lututnya tak lagi sanggup menopang berat badan.

"T-tuan memanggil saya?" suara Murni bergetar ketakutan.

Narendra menatapnya dengan pandangan tajam, bak predator yang telah mengunci mangsanya. "Di mana barang yang kamu bawa dari apotek sore tadi, Murni? Serahkan ke sini. Saya tidak suka mengulang perintah."

Murni melirik Alika dengan tatapan memelas, berharap ada secercah petunjuk. Namun, Alika hanya mampu memejamkan mata dan mengangguk pasrah. Murni bergegas keluar, dan dalam waktu kurang dari dua menit, ia kembali membawa kantong plastik kecil berisi dua botol obat yang sebelumnya disembunyikan Alika di laci lemari.

Narendra merampas kantong itu dengan kasar. Ia mengeluarkan kedua botol di dalamnya. Matanya menyipit ketika mendapati botol-botol tersebut tidak memiliki label merek maupun komposisi, hanya ada coretan spidol yang menandakan dosis pemakaian. Di dasar plastik, ia juga menemukan secarik kertas kecil. Sebuah surat dari Raditya.

Narendra membaca pesan singkat itu dalam hati. "...tes ANA dan Anti-dsDNA... Waktu kita tidak banyak..."

Tawa sinis seketika meluncur dari bibir Narendra. Bukannya menangkap pesan itu sebagai peringatan medis yang darurat, pikirannya yang sudah teracuni ego dan kecemburuan justru menerjemahkannya sebagai sebuah sandi rahasia. Tes ANA? Anti-dsDNA? Baginya, istilah-istilah itu terdengar seperti alasan yang dikarang demi menutupi sesuatu yang memalukan.

"Konspirasi yang cukup manis," ucap Narendra pelan sembari meremas kertas itu hingga menjadi bola kecil. Ia menatap Alika tajam. "Dokter Hendrawan, spesialis terbaik yang dibayar mahal oleh keluargaku, bilang kamu hanya butuh istirahat dan vitamin karena gaya hidupmu yang berantakan. Tapi kamu... kamu justru diam-diam menyelundupkan pil tak berlabel dari dokter selingkuhanmu."

"Itu bukan perselingkuhan, Mas! Obat itu untuk radang sendiku! Aku kesakitan!" Alika memohon sembari melangkah maju, berusaha merebut botol-botol itu.

Namun, dengan mudah Narendra menepis tangan istrinya. "Radang sendi? Lalu kenapa harus sembunyi-sembunyi? Kenapa botolnya tanpa nama? Apa sebenarnya isi pil ini, Alika?! Obat tidur supaya kamu bisa terus berhalusinasi sakit? Pil kontrasepsi? Atau jangan-jangan obat penggugur—"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Narendra. Alika melakukannya dengan sisa tenaga yang ada demi membungkam kalimat keji suaminya. Namun, karena kondisi fisiknya yang sangat lemah, tubuhnya justru limbung setelah melakukan gerakan spontan tersebut.

"Jangan pernah menuduhku serendah itu, Narendra," desis Alika dengan air mata yang mulai merusak riasan wajahnya. "Aku tidak pernah mengkhianati pernikahan ini, sekalipun kamu memberiku izin untuk melakukannya di atas selembar kertas sialan itu!"

Rahang Narendra mengeras. Harga dirinya terusik melihat perlawanan sang istri. Ia pun menoleh ke arah Murni yang tengah menangis tertahan di sudut ruangan.

"Kemasi barang-barangmu. Kamu dipecat. Berani membawa masuk barang ilegal dari pria lain ke rumah saya adalah pelanggaran fatal. Keluar dari rumah ini dalam lima belas menit," perintah Narendra mutlak.

"Tuan, saya mohon ampun! Bu Alika benar-benar kesakitan—"

"Keluar!" bentak Narendra. Murni tersentak hebat dan langsung lari terbirit-birit keluar ruangan sambil menangis histeris.

Kini tinggal mereka berdua yang tersisa. Narendra menatap Alika yang terduduk lemas di sofa kulit. Tanpa mengalihkan pandangan dari mata istrinya yang dipenuhi keputusasaan, Narendra melangkah menuju kamar mandi kecil yang ada di dalam ruang kerjanya.

"Mas... ku mohon, jangan..." bisik Alika, menyadari apa yang akan terjadi. "Hanya itu yang membuatku sanggup berdiri... Mas, aku memohon padamu..."

Narendra membuka tutup kedua botol tersebut. "Kamu hanya butuh istirahat, Alika. Bukan obat-obatan dari pria yang mencoba menghancurkan rumah tanggaku."

Dengan gerakan lambat yang sengaja dilakukan untuk menyiksa batin istrinya, Narendra menumpahkan seluruh isi kapsul dan pil dari kedua botol itu ke dalam lubang kloset.

"Tidak!!" Alika menjerit tertahan sembari menyeret tubuhnya ke arah pintu kamar mandi, namun semuanya sudah terlambat.

Narendra menekan tombol flush. Suara aliran air yang menderu seolah menelan habis satu-satunya pertahanan bagi sistem imun Alika. Pil penahan radang dan pereda nyeri itu lenyap tak berbekas.

Narendra kemudian mencengkeram lengan Alika dan memaksanya berdiri tegak di hadapannya. "Mulai besok, kamu berada di bawah pengawasan penuh. Tidak boleh ada obat dari luar. Tidak ada komunikasi dengan siapa pun dari Medika Utama. Kalau kamu benar-benar sakit, Dokter Hendrawan yang akan menanganimu. Dan kalau kamu berani melawan lagi..."

Narendra mendekatkan wajahnya, membisikkan ancaman yang membuat darah Alika terasa membeku. "...saya akan menghancurkan karier dokter muda itu sampai dia harus mengemis di jalanan."

Narendra melepaskan cengkeramannya, membiarkan Alika merosot kembali ke lantai. Wanita itu hanya bisa menangis tanpa suara di dalam sangkar yang kini telah terkunci rapat. Tanpa bantuan imunosupresan dan pereda nyeri, Alika tahu bahwa hitungan mundur menuju kehancuran total tubuhnya telah dimulai malam itu juga.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!