"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Meysa tersenyum kecut mendengar bisikan Emily. Ia senyum seperti seorang aktris yang baru saja mendapat ide cemerlang untuk adegan berikutnya.
"Kejarlah lelaki itu, sampai kamu mendapatkannya" ucap Meysa,"Lalu setelah itu, aku akan bersujud di hadapanmu, sebagai hadiah karena kamu berhasil memenangkan hatinya."
Emily terdiam sejenak. Wajahnya yang semula penuh kemenangan kini berubah, kerutan halus muncul di antara kedua alisnya.
Giginya menggertak. Rahangnya mengeras. Ia tidak ingin memberi Meysa kepuasan melihatnya goyah, tapi darah dalam tubuhnya sudah terlanjur mendidih.
"Kita lihat saja nanti!" ujar Emily
Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan gaya angkuh bak model yang sedang berjalan di atas catwalk imajiner pinggul digoyang, dagu terangkat, rambut tersibak ke belakang.
Saat Meysa he dak melangkah, matanya tertuju pada sosok yang berdiri di bawah pohon rindang. Satu tangannya di saku celana.
Meysa menarik napas panjang, lalu ia segera kekelas, sebab sebentar lagi jam kuliah segera dimulai.
*
Meysa baru saja duduk, ia melihat dua sahabatnya Aqeela dan Wulandari sedang asyik melihat kearah luar jendela.
"Wahhh, gantengnya, siapa itu?" gumam Aqeela, suaranya penuh kekaguman seperti anak kecil yang baru melihat balon berwarna-warni.
Wulandari yang sedang asyik mengutak-atik pita rambut di pergelangan tangannya langsung mendongak. "Apa? Di mana?" Ia ikut menatap ke arah yang sama.
Meysa yang penasaran pun ikut berdiri bersama kedua sahabatnya.
Matanya menelusuri kerumunan di depan jendela kaca itu. Mahasiswa laki-laki dengan jaket kulit..
Seorang pria tinggi dengan kemeja biru muda, lengan digulung rapi hingga siku, sedang berdiri memegang secangkir kopi sambil berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat jelas.
"Hah? Itukan..." seketika mata Meysa membelalak. Wajah pria itu tidak asing. Tapi ia tidak bisa mengingatnya.
"Siapa, Cha?" tanya Wulandari yang langsung mendekati Meysa, matanya berbinar penasaran.
Meysa menggeleng pelan. "Enggak tahu. Kayaknya aku salah lihat."
Ia kembali duduk di tempatnya, berusaha mengalihkan pikiran dari pria misterius di lapangan itu..
Tak lama kemudian. Empat pria tampan dengan ciri khasnya masing-masing berjalan masuk ke dalam kelas.
Geng Rangga.
Dimas dengan rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur. Abimanyu dengan kacamata yang selalu ia geser naik setiap beberapa menit. Januar dengan senyum tipis yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Dan Renal yang matanya langsung tertuju pada Meysa begitu ia masuk.
Renal memecah barisan. Langkahnya cepat dan percaya diri, seolah ia tidak melihat tiga sahabatnya yang sedang berusaha menariknya mundur.
"Hai, cantik," sapa Renal sambil duduk di sisi Meysa, begitu dekat sehingga bahu mereka hampir bersentuhan. Ia merapikan rambutnya dengan gaya yang ia yakini sangat keren. "Hari ini gue duduk bareng lo, ya!"
Meysa tersenyum, tapi belum sempat menjawab, Aqeela datang..
"Iiihhh, sudah aku bilang, Echa itu gak suka sama kamu!" seru Aqeela sambil menarik lengan Renal ke belakang dengan tenaga yang tak terduga dari tubuh mungilnya.
"Aqeela, lepasin—"
Suasana kelas yang semula riuh rendah tiba-tiba berubah hening ketika melihat seseorang masuk, dengan langkah tergesa-gesa, sambil menyeret Emily, sehingga gadis itu meringis dan mencoba melepaskan genggaman kuat tangan Rangga.
Perempuan itu terlihat terkejut, wajahnya pucat pasi, langkahnya terseret-seret mengikuti kecepatan Rangga yang tidak memberinya ruang untuk berhenti atau melepaskan diri. Rambut pirang yang tadi tersibak anggun kini kusut tak karuan. Senyum dinginnya telah sirna, tergantikan oleh ekspresi antara marah dan malu yang tidak bisa ia sembunyikan.
Seluruh mata di kelas itu tertuju pada mereka.
Bisik-bisik segera merambat dari satu sudut ke sudut lain, seperti api yang menjalar di atas kertas kering.
"Weh, ada apa nih?"
"Anjir, serem amat si Rangga."
"Mulai, dah mulai onar sibiang. Eh sibiang onar"
"Emily kenapa sih? Haus banget validasi."
Dimas, Abimanyu, dan Januar masih saling tukar pandang. Mereka bertiga tahu betul sifat Rangga jika sudah begini, tidak ada gunanya untuk menahannya.
"Lepasin gue, Ga, gue—" racau Emily
Rangga menghentikan langkahnya tepat di tengah kelas.
Ia menoleh ke arah Emily,"Diam, lo."
Emily terus mengumpat kesal..
Rangga mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya menelusuri satu per satu wajah yang menatapnya.
Dengan cepat ia menarik Meysa yang sedang sibuk memutar-mutar balpoin di tangannya,
"Dengar semuanya, mulai detik ini, gue bilang ke kalian!" suaranya menggema di ruangan yang terlalu sunyi untuk ukuran kelas biasa. "Gue sama Meysa—"
"Khemmm..."
Suara deheman yang dalam, dan penuh otoritas memotong ucapan Rangga.
Semua menoleh ke arah sumber suara.
Pak Bambang berdiri didepan pintu."Ada apa ini?" tanyanya, suaranya membuat bulu kuduk siapa pun merinding.
Ruangan yang tadinya hening mencekik berubah menjadi hening yang takut.
Beberapa mahasiswa cepat-cepat duduk kembali di tempatnya masing-masing.
Rangga mendecak kesal.
"Sial."
aku suka cerita nya tetap lanjutin ya 🥲
haha puas banget liat si Mak Lampir gak diterima
sumpah bab paling benci di sini 😭
kenapa harus begitu tor ceritanya gak sanggup aku liat Meysa kalo dia tau kebenaran tentang si Rangga dan Mak Lampir itu 😭
jangan mau lah ga masa masih OON Mulu kapan smart nya sih