Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.
Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Jaringan Bayangan yang Tak Terlihat
Waktu berjalan dengan tenang dan penuh kemakmuran. Arkan Group kini telah menjadi nama yang tak tergoyahkan di seluruh dunia.
Tidak ada pesaing yang berani mencoba mengganggu mereka lagi, tidak ada pemerintah yang berani mencoba menekan mereka, dan tidak ada organisasi kriminal yang berani sekalipun mengucapkan nama mereka dengan nada menghina.
Semua orang tahu: menyentuh Arkan dan Liora sama saja dengan menyentuh kematian itu sendiri.
Namun di balik kedamaian yang terlihat sempurna itu, jaringan pelindung yang dibangun oleh Liora bekerja tanpa henti, seolah detik itu juga adalah hari pertama mereka bertugas.
Unit Falcon tidak pernah tidur, tidak pernah berhenti mengawasi, dan tidak pernah melemahkan pengawalan mereka.
Suatu malam, saat seluruh kediaman besar itu sudah sunyi dan gelap, hanya ada cahaya lembut dari lampu tidur di kamar utama.
Arkan sudah tertidur pulas, wajahnya tampak tenang dan damai, seolah tidak ada beban atau bahaya di dunia ini yang bisa mengganggunya. Di sebelahnya, Liora masih terjaga.
Ia menatap wajah suaminya dengan penuh cinta, lalu perlahan bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaian gelap yang disiapkannya tersembunyi di lemari.
Saat ia melangkah keluar dari kamar, sosoknya berubah seketika.
Tidak lagi menjadi istri yang lembut dan hangat, melainkan kembali menjadi Komandan Falcon yang dingin, berwibawa, dan penuh kekuatan.
Langkahnya ringan seperti angin, tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat ia berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang komando rahasia yang terletak jauh di bawah tanah, jauh di bawah fondasi bangunan itu sendiri.
Di sana, Jack dan Jordan sudah menunggunya berdiri tegak, siap menerima laporan. Saat Liora masuk, kedua komandan itu menunduk hormat dengan rasa hormat yang dalam dan tak tergoyahkan.
"Selamat malam, Komandan," ucap mereka berdua bersamaan.
Liora mengangguk, berjalan menuju peta besar yang menyala dengan cahaya hijau di tengah ruangan itu.
Peta itu menampilkan seluruh permukaan bumi, dengan titik-titik kecil yang berkedip di setiap negara, setiap kota, dan setiap pelabuhan.
Setiap titik itu mewakili pasukan Unit Falcon yang tersebar, yang hidup menyatu dengan masyarakat, bekerja sebagai warga biasa, namun siap bertindak dalam sekejap mata.
"Ada laporan baru?" tanya Liora dengan suara tenang namun tegas, matanya meneliti setiap pergerakan di layar itu.
"Ya, Komandan," jawab Jack sambil menunjuk ke arah wilayah Eropa bagian timur.
"Kami mendeteksi gerakan aneh dari sekelompok kecil orang yang mengaku sebagai sisa-sisa organisasi lama."
"Mereka mencoba mengumpulkan senjata dan menyusun rencana kecil, berpikir bahwa karena otak utama mereka sudah tertangkap, maka tidak ada lagi yang akan mengawasi mereka."
Jordan menambahkan dengan nada dingin, "Mereka salah besar, Komandan."
"Kami sudah melacak mereka sejak hari pertama mereka mulai bergerak. Tidak ada satu langkah pun yang mereka ambil yang luput dari pengawasan kami."
Liora tersenyum tipis, senyum yang tidak mengandung ampun sedikit pun.
"Biarkan mereka bergerak dulu," ucapnya pelan.
"Biarkan mereka mengumpulkan keberanian, berpikir bahwa mereka punya kesempatan."
"Kita tidak perlu menampakkan diri sekarang. Cukup pantau saja, catat semua hal yang mereka lakukan."
"Biarkan mereka merasa kuat, sampai saat kita memutus semua jalan keluar mereka sekaligus."
"Bagus, Komandan. Kami mengerti," jawab Jack.
"Kami akan membiarkan mereka bermain sepuasnya sampai mereka menyadari bahwa mereka hanya sedang berjalan menuju kematian yang sudah kami siapkan."
Liora mengangguk puas, lalu menatap kedua komandan terbaiknya itu dengan rasa bangga.
"Kalian bekerja sangat baik. Tanpa keakuratan dan ketelitian kalian, tidak akan ada perlindungan yang sempurna bagi Arkan dan keluarga kita."
"Ingat, tujuan kita bukan hanya menghancurkan musuh, tapi juga menjaga nama Arkan Group tetap bersih dan tidak tercoreng. Kita akan menyelesaikan semuanya tanpa membuat kegaduhan, tanpa berita di media, dan tanpa meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri oleh siapa pun."
"Kami berjanji, Komandan," kata Jordan. "Segala sesuatu akan berakhir dengan rapi dan tenang, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak."
Setelah menyelesaikan urusan itu, Liora kembali menoleh ke peta dunia itu dan memandang ke arah tempat di mana Arkan sedang tidur dengan damai di atas sana.
Di hatinya ada rasa syukur yang mendalam. Ia tidak menyesal telah meninggalkan masa lalunya sebagai tentara elit, tidak menyesal telah memilih kehidupan biasa, cinta, dan kedamaian.
Namun ia tahu, jika saja ada satu orang yang berani menyakiti apa yang menjadi miliknya, ia akan kembali menjadi elang yang menerjang, siap menghancurkan segala halangan dengan sekuat tenaga.
Liora kembali naik ke atas, menuju kamar tidur mereka. Ia mencuci wajahnya, merubah pakaiannya kembali menjadi gaun tidur yang lembut, dan kembali menjadi Liora yang biasa,wanita yang mencintai suaminya, istri yang penyayang, dan pemimpin yang bijaksana.
Saat ia kembali berbaring di samping Arkan, pria itu hanya menggerakkan tubuhnya sedikit, lalu memeluk pinggang Liora dengan lembut dalam tidurnya, seolah instingnya saja tahu bahwa wanita di sisinya adalah tempat paling aman di seluruh dunia.
Liora tersenyum, menempelkan punggungnya ke dada Arkan, dan menutup matanya dengan damai.
Ia tahu, selama ia masih bernapas, selama Unit Falcon masih ada, Arkan tidak akan pernah terluka, kerajaan mereka tidak akan pernah runtuh, dan kebahagiaan yang telah mereka bangun tidak akan pernah hancur.
* * *
Beberapa hari kemudian, Arkan mengadakan pertemuan tahunan dengan seluruh manajer dan pemimpin cabang di seluruh dunia.
Semua orang berkumpul di markas besar yang megah, penuh dengan rasa hormat dan semangat yang tinggi.
Di depan ruangan rapat, Arkan berdiri di atas panggung, di sebelahnya Liora berdiri dengan tenang dan percaya diri.
"Teman-teman semua," suara Arkan bergema memenuhi ruangan, penuh dengan wibawa dan kepuasan.
"Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk membahas keuntungan atau perkembangan bisnis."
"Kita berkumpul untuk merayakan kenyataan bahwa kita adalah keluarga yang tak terpisahkan, dan bahwa kerajaan yang kita bangun bersama adalah yang terkuat dan paling aman di seluruh dunia."
Para hadiri bertepuk tangan dengan meriah, penuh kebanggaan.
Arkan melanjutkan pidatonya, lalu sesekali menoleh ke arah Liora, dengan tatapan yang penuh cinta dan rasa terima kasih yang tidak terucapkan.
"Banyak orang bertanya kepada saya, apa rahasia di balik kesuksesan kita yang tak pernah goyah."
"Jawabannya sederhana: kita memiliki pemimpin yang luar biasa, kita memiliki kerja keras yang tulus, dan yang paling penting—kita dilindungi oleh kekuatan yang tidak terlihat, yang selalu menjaga kita dari bayang-bayang bahaya."
Saat mengucapkan kata-kata itu, Liora hanya tersenyum lembut, tidak mengungkapkan apa pun. Namun di dalam hatinya, ia tahu persis apa arti dari kata-kata suaminya itu.
Kekuatan yang tidak terlihat itu adalah dirinya sendiri, adalah pasukan elit yang ia pimpin, adalah Sayap Elang yang selalu terbang tinggi menjaga mereka dari kegelapan.
Di sudut ruangan, Damar berdiri dengan sikap waspada, mengawasi setiap orang yang masuk dan keluar.
Ia sering kali merasa ada kehadiran lain di sekitar mereka kehadiran yang dingin, tajam, dan penuh kekuatan yang tidak ia miliki.
Namun Damar tidak pernah tahu bahwa kehadiran itu berasal dari orang yang paling ia hormati setelah Arkan: Liora.
Ia hanya menganggapnya sebagai kekuatan takdir, atau kebijaksanaan yang tak terlihat.
Siang itu berakhir dengan suasana yang sangat hangat dan penuh semangat.
Setelah pertemuan selesai, Arkan dan Liora berjalan berdua menyusuri taman indah di lingkungan kediaman.
Bunga-bunga bermekaran dengan indah, udara terasa sejuk, dan langit berwarna biru cerah yang menandakan hari yang sangat baik.
"Aku sangat bahagia, Liora," ucap Arkan tiba-tiba, berhenti berjalan dan menatap istrinya dengan serius.
"Aku tidak tahu apa yang sudah aku peroleh untuk pantas mendapatkanmu. Kau mengubah hidupku sepenuhnya, dan membuat segalanya menjadi indah."
Liora menatap suaminya dengan mata yang berkilauan penuh cinta.
"Kita berdua yang membuat semuanya indah, Arkan. Dan kita akan terus melakukannya, selamanya."
Malam itu, ketika bintang-bintang mulai bersinar terang di langit, di tempat yang jauh di bawah tanah, Unit Falcon tetap berdiri siap.
Mereka menjaga mimpi mereka, menjaga keluarga mereka, dan menjaga nama Arkan dan Liora tetap bersinar terang di atas sana, seperti dua bintang yang tidak akan pernah padam.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍