NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 Kael Sang Algojo

Ruangan itu langsung membeku.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang bergerak.

Nama itu masih menggantung di udara.

**Adrian Voss.**

Pria yang selama puluhan tahun hanya menjadi bayangan.

Sumber dari begitu banyak tragedi.

Awal dari dendam yang melahirkan Victor.

Dan kini...

Mereka akhirnya menemukan jejaknya.

"Kau yakin?"

tanya Kael.

Suaranya tetap tenang.

Namun Arda mengenalnya cukup lama untuk mengetahui sesuatu.

Kael sedang menahan emosi.

Penjaga itu mengangguk cepat.

"Informasi sudah diverifikasi tiga kali."

"Kami kehilangan dua informan untuk memastikan data itu."

Ruangan kembali hening.

Karena semua memahami arti kalimat tersebut.

Jika dua informan sampai mati demi informasi ini...

Maka peluangnya besar bahwa data itu benar.

"Di mana?"

tanya Darius.

"Sebuah distrik tua di bagian utara kota."

"Wilayah yang sudah lama ditinggalkan."

"Bekas kawasan industri."

Ravian langsung mengerutkan dahi.

"Itu jebakan."

"Tentu saja."

jawab Kael.

Dan justru itulah masalahnya.

Karena mereka tidak punya pilihan.

Jika Adrian benar-benar berada di sana...

Mereka harus pergi.

Satu jam kemudian.

Tim kecil dibentuk.

Kael.

Arda.

Darius.

Ravian.

Dan beberapa orang pilihan.

Elena tidak ikut.

Dan itu membuatnya kesal.

"Aku bisa membantu."

ucapnya.

Kael menggeleng.

"Tidak kali ini."

"Aku bukan anak kecil."

"Aku tahu."

jawab Kael.

"Tapi kalau ini berubah menjadi perang..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Karena semua sudah mengerti.

Elena akhirnya menyerah.

Meski jelas tidak menyukainya.

Sebelum Arda pergi.

Elena menghampirinya.

"Hati-hati."

ucapnya pelan.

Arda tersenyum kecil.

"Aku selalu hati-hati."

Elena langsung memutar mata.

"Itu kebohongan yang buruk."

Untuk pertama kalinya hari itu...

Arda tertawa.

Tawa kecil.

Namun cukup untuk membuat ketegangan berkurang.

Menjelang malam.

Konvoi bergerak menuju utara.

Kota perlahan berubah.

Gedung-gedung tinggi mulai menghilang.

Lampu jalan semakin sedikit.

Jalanan semakin sepi.

Dan setelah hampir satu jam perjalanan...

Mereka tiba.

Kawasan industri tua.

Gudang-gudang kosong berdiri seperti kerangka raksasa.

Jendela-jendela pecah.

Dinding-dinding berkarat.

Dan udara dipenuhi bau logam tua.

Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan seseorang.

Atau membunuh seseorang.

Mereka bergerak masuk.

Perlahan.

Diam.

Tidak ada suara.

Tidak ada aktivitas.

Tidak ada tanda kehidupan.

Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa semakin berbahaya.

"Ini terlalu mudah."

gumam Arda.

Ravian mengangguk.

"Aku mulai membenci kalimat itu."

Beberapa menit kemudian.

Mereka menemukan bangunan yang dimaksud.

Gudang besar.

Tua.

Hampir runtuh.

Pintu utamanya terbuka sedikit.

Seolah sengaja dibiarkan seperti itu.

Kael langsung memahami pesan tersebut.

Seseorang sedang menunggu.

Tim masuk.

Senjata siap.

Mata mengawasi setiap sudut.

Namun yang mereka temukan...

Bukan pasukan.

Bukan jebakan.

Bukan penyerang.

Melainkan seorang pria tua.

Duduk sendirian di tengah gudang.

Rambutnya sudah memutih.

Tubuhnya kurus.

Wajahnya dipenuhi garis usia.

Namun matanya.

Matanya masih tajam.

Masih hidup.

Masih berbahaya.

Adrian Voss.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

Karena semua orang sedang melihat hantu dari masa lalu.

Pria yang selama ini hanya menjadi cerita.

Kini duduk tepat di depan mereka.

"Akhirnya."

ucap Adrian pelan.

Tatapannya langsung tertuju pada Kael.

"Kau terlihat tua."

Ravian hampir tidak percaya.

Pria ini dikepung.

Namun masih sempat bercanda.

Kael melangkah maju.

"Kau menunggu kami."

"Tentu."

jawab Adrian.

"Aku sudah menunggu sangat lama."

Keheningan muncul.

Kemudian Kael bertanya.

Pertanyaan yang telah menunggu puluhan tahun.

"Kenapa?"

Satu kata.

Namun mengandung begitu banyak hal.

Kenapa mengkhianati mereka.

Kenapa menciptakan semua ini.

Kenapa membiarkan begitu banyak orang mati.

Adrian tersenyum.

Namun senyum itu tidak mengandung kebahagiaan.

Hanya kelelahan.

Dan luka lama.

"Karena Leon tidak pernah membayar dosanya."

Arda langsung mengepalkan tangan.

"Leon tidak membunuh adikmu."

Adrian menoleh.

Untuk pertama kalinya memperhatikan Arda.

Dan matanya langsung berubah.

Karena ia melihat Leon.

Bukan secara fisik.

Namun dalam tatapan.

Dalam cara berdiri.

Dalam ekspresi wajah.

"Kau benar-benar mirip dia."

gumam Adrian.

Arda tidak menjawab.

Karena ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Adrian tidak terlihat seperti monster.

Ia terlihat seperti seseorang yang telah terlalu lama hidup bersama kesedihan.

Dan terkadang...

Orang seperti itu jauh lebih berbahaya.

"Luka tidak pernah hilang."

ucap Adrian.

"Orang-orang hanya belajar menyembunyikannya."

Tatapannya kembali kepada Kael.

"Kalian melanjutkan hidup."

"Kalian membangun kerajaan."

"Kalian menjadi legenda."

"Sedangkan aku?"

Senyum pahit muncul.

"Aku menguburkan adikku."

Keheningan menyelimuti gudang.

Bahkan Ravian tidak mengatakan apa-apa.

Karena tidak ada yang bisa menghapus rasa sakit seperti itu.

Namun Darius akhirnya berbicara.

"Jadi kau menghancurkan hidup orang lain?"

Adrian tertawa kecil.

"Tidak."

"Aku hanya mengajari dunia bagaimana rasanya kehilangan."

Kalimat itu membuat suasana menjadi semakin dingin.

Karena itulah inti dari semuanya.

Dendam.

Dendam yang dipelihara terlalu lama.

Dendam yang berubah menjadi identitas.

Dendam yang diwariskan kepada Victor.

Lalu sesuatu terjadi.

Adrian menatap Kael.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian berkata pelan.

"Mereka masih memanggilmu algojo?"

Ruangan membeku.

Arda mengernyit.

Algojo?

Ia belum pernah mendengar sebutan itu.

Namun reaksi Ravian dan Darius langsung berubah.

Karena mereka tahu.

Dan mereka tidak menyukai kenangan itu.

Adrian tersenyum tipis.

"Ah."

"Jadi dia tidak tahu."

Arda menoleh ke Kael.

Untuk pertama kalinya...

Ia melihat sesuatu di mata pria itu.

Penyesalan.

Penyesalan yang sangat dalam.

"Arda."

ucap Adrian pelan.

"Kau tahu berapa banyak orang yang dibunuh Kael untuk membangun Valdarez?"

"Diam."

potong Kael.

Namun Adrian tetap tersenyum.

"Pada masa mudanya..."

"Kael bukan pemimpin."

"Dia adalah pembunuh paling ditakuti di kota ini."

SUNYI.

Arda membeku.

Karena ia tidak pernah membayangkan itu.

Kael yang selama ini menjadi mentor.

Kael yang selalu tenang.

Kael yang selalu terlihat bijaksana.

Pernah menjadi algojo.

Dan Adrian belum selesai.

"Aku tidak membenci Leon."

ucapnya.

"Aku membenci kalian semua."

Tatapannya berubah menjadi dingin.

Sangat dingin.

"Dan sekarang..."

Senyum itu kembali muncul.

Namun kali ini terasa mengerikan.

"...Victor akan menyelesaikan apa yang aku mulai."

Pada saat yang sama.

Sebuah ledakan besar mengguncang bagian luar gudang.

BOOOOOM!

Lantai bergetar.

Debu berjatuhan.

Dan seluruh tim langsung menyadari satu hal.

Mereka telah datang tepat ke tempat yang Victor inginkan.

Dan jebakan yang sebenarnya...

Baru saja dimulai.

1
Sasori
Good 💪
Aisyah Suyuti
good👍👍👍
Aisyah Suyuti
good
kiya kiya
🤭
kiya kiya
ayoo
kiya kiya
ihh deg"annnnn
kiya kiya
ih siapa yaa dia
farazky: hahahaha rahasia kak🤭
total 1 replies
kiya kiya
monsternya lucu
farazky: Mana ada monster yg lucu /Frown/
total 1 replies
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!