NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3

***

Cahaya matahari yang menusuk melalui celah tirai obsidian terasa seperti ribuan jarum yang menghujam mata Lilianne. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa nyeri yang tajam segera menjalar dari pangkal paha hingga ke tulang belakangnya. Setiap inci tubuhnya terasa seolah telah dipatahkan dan disatukan kembali secara paksa.

Lilianne meringis, bibirnya yang pecah mengeluarkan rintihan kecil saat ia mencoba duduk. Selimut sutra yang menutupi tubuhnya merosot, memperlihatkan pemandangan yang mengerikan: kulitnya yang seputih porselen kini dipenuhi bercak ungu kemerahan jejak-jejak kepemilikan yang ditinggalkan Arthur tanpa ampun semalam. Di atas sprei abu-abu yang mewah itu, bercak darah yang telah mengering menjadi saksi bisu atas hancurnya masa kanak-kanaknya.

"Ah.., Shhhh...." Lilianne memegangi perutnya yang terasa mulas dan perih. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang.

Di usianya yang baru lima belas tahun, ia seharusnya sedang belajar merajai aula dansa di Utara, bukan mengerang kesakitan di ranjang seorang pria yang lebih mirip iblis daripada suami.

Tok! Tok!

"Yang Mulia Putri Mahkota, apakah Anda sudah bangun? Saya membawa air hangat untuk membasuh Anda."

Pintu terbuka pelan. Seorang pelayan muda dengan seragam hitam-putih yang kaku masuk sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Ia membawa baskom perak dan kain sutra halus. Namun, saat pelayan itu mendongak dan melihat keadaan Lilianne, ia sempat terkesiap, meskipun dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya di balik wajah datar protokol istana.

Lilianne mencoba turun dari ranjang, namun kakinya lemas seperti jeli. Ia hampir tersungkur jika pelayan itu tidak segera berlari menopang lengannya.

"Hati-hati, Yang Mulia," bisik pelayan itu dengan nada prihatin yang tulus.

"Siapa namamu?" tanya Lilianne, suaranya parau, nyaris hilang karena rintihan panjangnya semalam.

"Nama saya Lisa, Yang Mulia," sahut pelayan itu sambil membantu Lilianne duduk di kursi rias yang terbuat dari gading. "Saya telah ditunjuk oleh kepala rumah tangga istana untuk menjadi kepala pelayan pribadi Anda selama Anda berada di Istana putri mahkota Valerieth."

"Apakah kau yang akan menemaniku... di tempat dingin ini?" Lilianne menatap cermin, ngeri melihat pantulan dirinya yang tampak begitu layu.

"Benar, Yang Mulia. Seluruh kebutuhan Anda adalah tanggung jawab saya sekarang."

"Terima kasih, Lisa... mohon bantuannya. Aku... aku belum terbiasa dengan semua ini," ucap Lilianne. Meskipun tubuhnya remuk, didikan Duke Kaelric tetap membuatnya bersikap anggun dan tulus kepada siapa pun.

Lisa mulai membasuh tubuh Lilianne dengan air hangat yang dicampur minyak mawar. Setiap kali kain itu menyentuh lebam di leher atau bahunya, Lilianne berjengit kesakitan.

"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya akan melakukannya lebih perlahan," ujar Lisa pelan.

"Apakah saya perlu memanggil tabib istana untuk memberikan salep pereda nyeri?"

Lilianne menggeleng cepat. "Jangan. Aku tidak ingin orang lain melihat... bekas ini. Cukup bantu aku berpakaian. Pastikan leherku tertutup."

Dengan sangat teliti, Lisa mendandani Lilianne. Ia memilihkan gaun dengan kerah tinggi berhias renda halus untuk menutupi jejak brutal Arthur. Rambut perak Lilianne yang panjang dan indah dibiarkan terurai menutupi punggung dan bahunya, memberikan kesan misterius sekaligus melindungi rahasia di balik kulitnya.

**

Setelah selesai bersiap, Lilianne duduk di meja kecil dekat jendela, menatap taman labirin istana yang tampak kaku dan sunyi.

"Lisa," panggil Lilianne. "Di mana... di mana Yang Mulia Putra Mahkota? Sejak aku terbangun, ruangan ini terasa sangat kosong."

"Yang Mulia Arthur saat ini sedang memimpin rapat dewan di balairung agung, Yang Mulia. Kabarnya, ada gejolak di perbatasan barat yang memerlukan perhatian panglima perang seperti beliau."

"Kapan dia pergi?"

"Tepat setelah fajar menyingsing, Yang Mulia. Beliau bahkan tidak sempat mengganti pakaian tempurnya sepenuhnya."

Lilianne terdiam. Bahkan setelah apa yang dia lakukan padaku, dia bisa langsung berdiri dan pergi berperang seolah tidak terjadi apa-apa, batinnya pahit. Baginya, semalam adalah gempa bumi yang meruntuhkan dunianya, namun bagi Arthur, itu mungkin hanya sekadar pemenuhan kebutuhan biologis sebelum sarapan.

"Lisa, katakan padaku jujur," Lilianne menoleh, matanya yang berwarna perak menatap tajam namun lelah. "Kenapa istana ini terasa begitu mati? Aku hampir tidak mendengar suara tawa atau musik, padahal ini adalah jantung dari kekaisaran yang agung."

Lisa menghela napas panjang, memastikan tidak ada pelayan lain yang mendengarkan. "Istana ini memang dikenal sebagai 'Istana Dingin', Yang Mulia. Sejak kepergian Ratu Seraphina, ibu dari Putra Mahkota, kehangatan di sini seolah ikut terkubur bersamanya."

Lilianne mengerutkan kening. "Ratu Seraphina... aku pernah mendengar namanya di Utara. Dia adalah permaisuri yang sangat dicintai, bukan?"

"Benar, Yang Mulia. Beliau adalah cahaya bagi Kekaisaran Valerieth. Namun, beliau meninggal saat melahirkan adik dari Putra Mahkota Arthur. Tak lama kemudian, bayi itu pun menyusul Sang Ratu. Sejak hari itu, Yang Mulia Kaisar menutup dirinya di kamar mendiang permaisuri, menyerahkan seluruh urusan pemerintahan dan militer kepada Putra Mahkota."

Lisa melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, "Putra Mahkota Arthur dibesarkan di tengah duka dan kekerasan perang. Tanpa bimbingan seorang ibu dan dengan ayah yang tenggelam dalam kesedihan, beliau tumbuh menjadi pria yang kita kenal sekarang. Dingin, tak tersentuh, dan... kejam."

Lilianne meremas jemarinya sendiri hingga jarinya memutih. Setiap tarikan napasnya terasa berat, seolah udara di ibu kota ini memang benar-benar mengandung racun yang menyesakkan dada. Ia mulai memahami sedikit demi sedikit mengapa Arthur tumbuh menjadi monster—pria itu tumbuh dalam kekosongan, tanpa kasih sayang, dan hanya mengenal bau darah serta baja sejak kecil.

Namun, pemahaman itu tidak mengurangi rasa sakit yang ia rasakan. Baginya, penjelasan tentang masa lalu Arthur bukanlah alasan bagi kekejaman yang ia terima semalam. Rasa nyeri di area kewanitaannya kembali berdenyut, mengingatkannya pada setiap geraman nikmat Arthur yang berbanding terbalik dengan jerit tangisnya.

"Lisa," panggil Lilianne pelan, matanya masih menatap kebun labirin yang sunyi di luar sana. "Jadi... benar-benar tidak ada wanita lain di sini? Maksudku, anggota keluarga kekaisaran lainnya?"

Lisa menghentikan gerakannya yang sedang merapikan jubah tidur Lilianne. Ia menunduk dalam, suaranya nyaris seperti bisikan rahasia. "Tidak ada permaisuri, tidak ada putri, Yang Mulia. Sejak kepergian Ratu Seraphina yang agung, istana ini kehilangan denyut jantungnya. Anda adalah wanita pertama yang menempati posisi kasta tertinggi setelah sekian lama di istana ini, Yang Mulia Putri Mahkota Lilianne."

Lisa memberanikan diri menatap mata perak Lilianne yang tampak redup. "Banyak dari kami para pelayan berdoa sejak pengumuman perjodohan ini. Anda adalah harapan bagi kami agar istana ini kembali memiliki nyawa, agar kutukan duka ini berakhir."

Lilianne menatap ke luar jendela lagi, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya yang pecah. Ia adalah gadis berusia lima belas tahun yang semalam baru saja dihancurkan oleh nafsu politik, namun kini ia menyadari bahwa beban di pundaknya jauh lebih besar daripada sekadar menjadi seorang istri. Ia harus bertahan hidup di tengah istana yang dihuni oleh bayang-bayang masa lalu yang kelam dan seorang pria yang hanya tahu cara menghancurkan apa pun yang ia sentuh.

"Aku bukan harapan, Lisa," bisik Lilianne pada dirinya sendiri, suaranya dingin seolah tertiup angin Utara. "Aku hanyalah pion yang sedang mencoba sekuat tenaga agar tidak dimakan oleh sang raja pada langkah pertama permainan ini."

****

Bersambung.....

1
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!