NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Malam itu, Pontianak tidak terlihat berbeda.

Lampu-lampu jalan masih menyala di sepanjang tepian Sungai Kapuas. Suara motor sesekali melintas dari kejauhan. Angin malam bergerak pelan membawa aroma tanah basah, air sungai, dan sisa hujan yang belum sepenuhnya hilang dari udara.

Kota itu masih hidup seperti biasa.

Namun di salah satu sudut gelap dekat tepian sungai, seorang pemuda terlempar ke tanah dengan tubuh penuh luka.

Raka Pratama jatuh tersungkur.

Napasnya berat. Bibirnya pecah. Wajahnya lebam. Kaos hitam lusuh yang ia pakai sudah kotor oleh lumpur dan bekas injakan sepatu.

Ia mencoba mengangkat tubuhnya, tetapi rasa sakit langsung menusuk tulang rusuknya. Tangannya mencengkeram tanah basah, berusaha mencari tenaga yang sebenarnya sudah hampir habis.

Di depannya, beberapa lelaki berdiri sambil tertawa.

Salah satunya bertubuh besar, memakai jaket hitam, dengan wajah kasar dan tatapan penuh hinaan. Namanya Bram Gunawan. Orang-orang pasar mengenalnya sebagai preman yang biasa bekerja untuk keluarga kaya. Ia bukan orang paling kuat di Pontianak, tapi cukup kuat untuk membuat pedagang kecil menunduk dan orang biasa memilih diam.

Bram melangkah mendekat, lalu berjongkok di depan Raka.

“Sudah kubilang, jangan sok jadi pahlawan.”

Raka menatapnya dengan mata setengah terbuka. Darah mengalir dari sudut bibirnya, menetes perlahan ke tanah.

Ia tidak menjawab.

Bukan karena tidak marah.

Tapi karena tubuhnya terlalu sakit untuk mengeluarkan suara.

Salah satu anak buah Bram tertawa kecil. “Bang, anak yatim ini masih kuat juga. Dari tadi dipukul belum pingsan.”

Yang lain ikut menyahut, “Orang miskin kadang memang keras kepala. Sudah nggak punya siapa-siapa, masih sok ikut campur urusan orang.”

Tawa mereka pecah di tengah malam.

Raka menunduk.

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pukulan.

Yatim piatu.

Miskin.

Tidak punya siapa-siapa.

Itu bukan hinaan baru baginya. Sejak kecil, Raka sudah terbiasa mendengar kata-kata seperti itu. Ia tidak punya orang tua yang menunggunya pulang. Tidak punya keluarga besar yang bisa membelanya. Tidak punya nama belakang yang membuat orang segan.

Ia hanya Raka Pratama.

Pemuda dua puluh satu tahun yang hidup sendirian di Pontianak, bekerja apa saja asal bisa makan, tidur di kamar kontrakan sempit, dan bangun setiap pagi hanya untuk bertahan hidup sekali lagi.

Malam ini, ia tidak sedang mencari masalah.

Ia hanya melihat seorang pedagang kecil diperas oleh anak buah Bram. Wanita tua itu menangis, memohon agar dagangannya tidak diambil. Raka hanya mencoba membantu.

Dan inilah hasilnya.

Tubuhnya dihajar sampai hampir tidak bisa bergerak.

Bram berdiri, lalu menginjak tangan Raka dengan ujung sepatunya.

Raka menggertakkan gigi. Tubuhnya bergetar menahan sakit, tetapi ia tetap tidak berteriak.

Bram tersenyum miring.

“Kau tahu masalah orang seperti kau apa?” ucapnya pelan. “Kau terlalu sering lupa tempat. Dunia ini bukan tempat orang lemah bicara.”

Raka mengangkat wajah perlahan.

Di balik rasa sakit yang memenuhi tubuhnya, matanya tetap menatap Bram.

Lelah.

Bukan hanya tubuhnya yang lelah.

Jiwanya juga.

Ia lelah diremehkan. Lelah hidup seolah keberadaannya tidak pernah berarti. Lelah melihat orang kecil diinjak sementara orang kuat tertawa seolah dunia memang diciptakan untuk mereka.

Namun apa yang bisa ia lakukan?

Ia hanyalah manusia biasa.

Bram menarik kakinya dari tangan Raka, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya.

“Sudah. Tinggalkan dia di sini. Kalau masih hidup, biarkan dia pulang sendiri.”

Salah satu anak buah Bram bertanya sambil tertawa, “Kalau mati, Bang?”

Bram melirik Sungai Kapuas yang gelap.

“Sungai ini luas.”

Tawa kembali terdengar.

Satu tendangan terakhir menghantam perut Raka. Tubuhnya terguling beberapa langkah hingga mendekati tanah tua di pinggir sungai. Napasnya tercekat. Pandangannya berputar.

Setelah itu, suara langkah mereka perlahan menjauh.

Raka terbaring sendirian di tepi Sungai Kapuas.

Angin malam menyentuh wajahnya, dingin dan basah. Dari kejauhan, lampu kota terlihat samar. Pontianak masih berjalan seperti biasa, seolah tidak ada seorang pemuda yang sedang sekarat di sudut gelapnya.

Raka menatap langit.

Awan hitam menggantung rendah.

“Kalau aku mati di sini…” gumamnya lirih, hampir tidak terdengar, “mungkin besok juga tidak ada yang sadar.”

Kalimat itu keluar tanpa tangis.

Tanpa teriakan.

Hanya kenyataan pahit dari seseorang yang sudah terlalu lama hidup sendirian.

Darah dari bibirnya kembali jatuh.

Setetes.

Lalu setetes lagi.

Darah itu menyentuh tanah tua di tepi Sungai Kapuas.

Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa.

Lalu angin berhenti.

Raka yang hampir kehilangan kesadaran membuka matanya sedikit. Ia tidak tahu kenapa, tetapi malam tiba-tiba terasa terlalu sunyi.

Tidak ada suara daun.

Tidak ada suara serangga.

Bahkan riak Sungai Kapuas di sampingnya mendadak berhenti.

Permukaan air yang tadi bergerak pelan kini membeku seperti kaca hitam raksasa.

Raka menahan napas.

“Apa… ini…”

Tanah di bawah tubuhnya bergetar.

Awalnya pelan.

Lalu semakin kuat.

Retakan tipis muncul tepat di tempat darahnya jatuh. Dari retakan itu, cahaya emas gelap menyala samar. Cahaya itu tidak hangat seperti lampu, melainkan tua, berat, dan agung. Seolah berasal dari zaman yang sangat jauh, dari masa ketika manusia belum berani menyebut nama para dewa.

Retakan itu menjalar ke segala arah.

Satu garis.

Dua garis.

Puluhan garis bercahaya menyebar di tanah basah, membentuk lingkaran kuno di bawah tubuh Raka.

Sungai Kapuas tiba-tiba bergemuruh.

Airnya naik.

Bukan ombak biasa.

Permukaan sungai terangkat ke udara seperti dinding raksasa, tetapi tidak tumpah ke daratan. Air itu menggantung diam, memantulkan langit yang mendadak berwarna emas gelap.

Di balik dinding air itu, Raka melihat sesuatu.

Sebuah istana.

Istana kuno yang berdiri di tempat yang seharusnya tidak mungkin ada. Pilar-pilarnya menjulang tinggi seperti tulang langit. Gerbangnya tertutup rantai raksasa. Di atas gerbang itu, sebuah lambang mahkota retak menyala redup.

Raka membeku.

Pikirannya tidak mampu memahami apa yang ia lihat.

Sebelum ia sempat bergerak, langit Pontianak retak.

KRAKKK!

Suara itu mengguncang malam.

Bukan suara petir.

Bukan suara awan pecah.

Langit benar-benar retak seperti kaca hitam yang dipukul dari baliknya. Garis panjang membelah awan dari ujung ke ujung. Cahaya emas menyembur keluar, membuat lampu-lampu jalan di tepian sungai berkedip liar.

Beberapa lampu padam.

Beberapa pecah.

Di kejauhan, anjing-anjing menggonggong tanpa henti. Burung-burung malam beterbangan panik dari pepohonan. Orang-orang yang masih terjaga di sekitar kota tiba-tiba merasakan dada mereka sesak, seolah ada sesuatu yang sangat besar baru saja melewati Pontianak.

Namun guncangan itu tidak hanya terjadi di dunia manusia.

Di tempat yang sangat jauh dari bumi, di sebuah alam yang dipenuhi pegunungan melayang dan lautan awan, sebuah lonceng kuno tiba-tiba berbunyi sendiri.

DONG.

Para kultivator yang sedang bermeditasi membuka mata bersamaan.

DONG.

Di aula besar sebuah sekte, peta langit yang tergantung di udara retak. Para murid berlutut ketakutan ketika satu titik kecil menyala di tengah peta itu.

DONG.

Seorang tetua berjubah putih memuntahkan darah. Matanya melebar saat membaca nama titik itu.

Pontianak.

“Mustahil…” suara tetua itu bergetar. “Bagaimana mungkin aura takhta muncul di dunia fana?”

Di alam lain yang lebih tinggi, tempat bintang-bintang mati menggantung seperti lentera padam, sebuah singgasana batu raksasa bergetar.

Sosok dewa tua yang telah tidur ribuan tahun membuka mata.

Matanya menyala seperti matahari yang lama padam lalu kembali terbakar.

“Siapa…” suaranya menggema di ruang kosong. “Siapa yang membuka segel itu?”

Di istana langit yang dipenuhi cahaya putih, seorang dewi berambut perak tiba-tiba bangkit dari tidurnya. Air mata mengalir dari sudut matanya, meski wajahnya tetap dingin dan anggun.

“Takhta itu…” bisiknya. “Menyala lagi?”

Di balik kegelapan yang lebih jauh, beberapa sosok agung membuka mata mereka bersamaan.

Ada yang terkejut.

Ada yang marah.

Ada yang takut.

Dan ada yang menyebut satu nama dengan suara gemetar.

“Dewa Absolut…”

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!