NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Rahasia

Angin malam di teras vila terasa tiba‑tiba lebih dingin, seolah turut membawa kabar gelap dari pesan tak bernama itu. Alex masih menatap layar ponsel yang perlahan menjadi gelap kembali, rahangnya mengeras kencang. Di sampingnya, Aulia memperhatikan perubahan ekspresi pria itu dari tenang berubah penuh kewaspadaan tajam.

“Siapa yang mengirimnya?” tanya Aulia pelan, suaranya tenang meski ada rasa gelisah yang merayap.

Alex menoleh perlahan, tangannya bergerak menyentuh pipi Aulia seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu ada di sini, aman di hadapannya. “Belum tahu. Tapi kalimatnya tidak sembarangan. Siapa pun dia, dia tahu hal yang bahkan aku pun belum temukan jawabannya: ada rahasia yang belum kau ketahui tentang dirimu sendiri.”

Aulia mengerutkan kening. “Rahasia? Seluruh hidupku terbuka. Ayah, ibu, kehidupan kami… tidak ada yang disembunyikan. Apakah mungkin ini hanya taktik untuk membuat kita ragu satu sama lain?”

“Bisa jadi,” jawab Alex pendek, namun matanya tidak melepaskan pandangan dari arah pagar luar yang gelap. “Tapi dalam dunia yang kujalani, taktik seringkali disusun di atas kebenaran kecil. Dan ‘Tuan Bayangan’ ini tampaknya sudah mengamati kita jauh lebih lama dari yang kita sadari.”

Malam itu, suasana di dalam vila berubah menjadi lebih tegas dan teratur. Rio kembali masuk membawa berkas‑berkas hasil penyelidikan tambahan. Di ruang kerja yang lampunya terang benderang, peta jaringan bisnis dan persaingan kekuasaan terbentang luas di atas meja besar.

“Bos, kami melacak asal pesan itu,” lapor Rio sambil menunjuk titik di peta. “Sinyal dikirim dari server terenkripsi berlapis, jalurnya melintasi tiga negara sebelum sampai ke sini. Tidak ada jejak identitas pribadi. Tapi ada pola transaksi yang sama persis dengan yang membiayai pergerakan Ramon dan Isabella selama enam bulan terakhir.”

Alex mengusap dagunya yang berbekas luka kecil. “Dan nama yang tercatat di dokumen resmi selalu kosong atau terdaftar atas perusahaan cangkang. Bisnis apa yang sebenarnya dijalankan di balik semua ini?”

“Bukan hanya bisnis biasa,” sambung Rio dengan nada berat. “Ada kaitan dengan perdagangan barang terlarang yang selama ini kita coba bersihkan dari wilayah kota. Tuan Bayangan ini tampaknya menguasai jalur yang dulunya dianggap mati jalur lama yang pernah dikendalikan ayahmu, sebelum ia mundur secara tiba‑tiba bertahun‑tahun lalu.”

Nama ayahnya membuat Alex terdiam sejenak. Masa lalu yang jarang ia bicarakan tiba‑tiba terasa mendesak untuk kembali dibuka. Di sisi lain, Aulia yang duduk di sudut ruangan sambil memeriksa buku sketsanya, mendengar percakapan itu dengan perasaan aneh. Ada rasa penasaran yang bercampur firasat tidak nyaman seolah nama ayah Alex dan kehidupan masa lalunya ada benang merah yang tak terlihat dengan kehidupannya sendiri.

Pagi harinya, rutinitas di vila berjalan tenang namun penuh pengawasan ketat. Alex tetap menjalankan peran gandanya: sebagai pemimpin bisnis Surya Corp yang berwibawa di siang hari, dan pemimpin organisasi bawah tanah yang tegas di malam hari. Aulia kembali ke kegiatan kampus dan proyek desainnya, meski kini selalu diantar dan dijemput oleh pengawal yang disiapkan Alex hal yang sempat memicu percakapan hangat namun sedikit berisi cemburu ringan di antara mereka.

“Kau memperlakukanku seperti barang berharga yang tidak boleh lepas dari pandangan,” ujar Aulia suatu sore saat mereka sedang bersiap menghadiri pertemuan bisnis eksklusif yang juga mengundang mitra luar negeri.

Alex mengikat dasinya dengan tenang, lalu berjalan mendekat dan merapikan kerah gaun Aulia yang baru saja ia rancang sendiri. “Karena kau memang berharga, jauh lebih mahal daripada angka satu miliar yang dulu tertulis di kontrak itu. Dan di dunia tempat kita berjalan sekarang, kesalahan kecil bisa berakibat fatal.”

Aulia menatapnya tajam namun lembut. “Aku bisa menjaga diriku sendiri, Alex. Ingat kejadian dengan Isabella?”

Alex tersenyum miring, tatapannya berubah dalam dan hangat. “Aku tahu kau hebat. Tapi izinkan aku tetap menjadi perisaimu juga. Itu bukan tanda kau lemah, tapi tanda kita saling melengkapi.”

Pertemuan bisnis sore itu di gedung pusat kota berjalan formal namun penuh intrik halus. Di antara tamu undangan ada seorang pebisnis tua bernama Pak Aris, yang pernah bekerja sama dengan mendiang ayah Aulia. Saat melihat Aulia datang bersama Alex, tatapannya terkejut namun segera ditutupi senyum sopan. Di sela obrolan, Pak Aris sempat berbisik singkat: “Aulia… ada hal yang dulu ayahmu simpan rapat. Kalau kau sempat, tanyakan tentang ‘Surat Warisan’ di rumah lama. Tapi hati‑hati, tidak semua orang ingin kau mengetahuinya.”

Kalimat itu terngiang di kepala Aulia sepanjang acara. Cemburu sesaat muncul saat ia melihat beberapa wanita rekan bisnis mencoba mendekati Alex dengan penuh perhatian berlebih, namun Alex tetap tegas dan tidak memberi ruang selalu kembali berdiri di samping Aulia, memperkenalkannya sebagai pasangan yang mendampingi dalam setiap keputusan penting.

Malam itu, setelah kembali ke vila, Aulia menceritakan pertemuan dengan Pak Aris dan pesan misteriusnya. Alex mendengarkan dengan saksama, keningnya berkerut makin dalam.

“Surat warisan?” ulang Alex pelan. “Ayahmu tidak pernah menyebut hal itu padamu atau ibumu?”

“Tidak pernah,” jawab Aulia. “Setelah ibu tiada, ayah terlihat sering gelisah seolah ada beban yang tidak bisa ia bagi. Lalu ibu tiri dan saudara tiri datang, dan semua hal tentang masa lalu ayah perlahan hilang dari pandangan.”

Alex bangkit berdiri, berjalan mendekati rak buku besar di sudut ruangan. Ia menarik sebuah buku tebal, dan di baliknya tersembunyi brankas kecil. “Kalau ada rahasia yang menyangkut keselamatanmu, aku tidak akan membiarkannya menggantung. Besok kita akan mengunjungi rumah lama ayahmu. Tapi bersiaplah—mungkin apa yang kita temukan di sana tidak seindah yang kau bayangkan.”

Keesokan harinya, perjalanan menuju rumah masa kecil Aulia membawa kenangan yang bercampur sedih dan hangat. Rumah itu terlihat agak terabaikan, dikelilingi tanaman yang tumbuh liar. Di dalamnya, suasana masih menyisakan jejak kehidupan ibu Aulia yang penuh seni dan warna.

Di ruang kerja kecil ayahnya, di balik papan lantai yang sedikit miring, mereka menemukan sebuah kotak kayu tua yang terkunci. Tidak ada kunci yang terlihat, namun Aulia ingat ayahnya pernah menyimpan kunci cadangan di bagian bawah patung kecil bunga yang ibu buat.

Saat kotak terbuka, isinya bukan harta berharga, melainkan selembar surat, catatan transaksi lama, dan sebuah foto lama yang membuat napas mereka berdua tertahan. Di foto itu, berdiri ayah Aulia muda bersama seorang pria lain yang sangat mirip dengan… ayah Alex.

“Mereka saling mengenal sejak dulu?” gumam Aulia terkejut.

Alex mengambil surat itu, membacanya dengan suara perlahan. Isinya mengungkapkan bahwa puluhan tahun silam, ayah Aulia dan ayah Alex pernah menjadi mitra bisnis yang sangat dekat, namun terpisah karena perbedaan pandangan soal perdagangan terlarang. Ada bagian yang menyebutkan perjanjian rahasia untuk melindungi generasi penerus dari bahaya yang mengintai bahaya yang kini kemungkinan besar bangkit kembali lewat sosok Tuan Bayangan.

Namun kalimat terakhir surat itu membuat darah Alex mendidih sekaligus rasa khawatirnya meluap: “Jika suatu hari ancaman lama kembali, Aulia akan menjadi satu‑satunya kunci pengaman yang tidak diketahui musuh. Namun, musuh juga tahu hal itu, dan mereka akan mencoba memanfaatkan hubungan darah yang belum terungkap…”

Sebelum Alex sempat menyelesaikan membaca, suara ledakan kecil terdengar dari halaman depan rumah. Kaca jendela bergetar keras. Rio segera berlari masuk, napasnya terengah‑engah, wajahnya pucat.

“Bos! Ada penyerang tak dikenal mengepung rumah ini! Mereka membawa peralatan berat dan bertanya spesifik soal ‘kotak yang disembunyikan ayah Aulia’. Jumlah mereka banyak, dan cara bertempurnya… sama seperti kelompok yang bekerja di bawah Tuan Bayangan!”

Alex segera berdiri, menarik Aulia ke belakang punggungnya, tangannya meraba senjata di pinggang. Mata Aulia membelalak di luar jendela, ia melihat asap hitam mulai mengepul, dan di antara bayangan pohon, ada sosok yang menatap lurus ke arah ruang kerja mereka. Sosok itu mengenakan topeng setengah wajah, dan di tangannya tergantung sebuah liontin yang sangat mirip dengan milik ibunya yang dulu hilang secara misterius.

Sosok itu mengangkat tangan kanannya, lalu perlahan memberi isyarat yang mengerikan seolah menyapa Aulia sebagai orang yang sudah lama ditunggu untuk dipertemukan.

“Siapa dia?” bisik Aulia dengan suara gemetar.

Alex menahan napas, rasa cemburu, marah, dan kewaspadaan bercampur menjadi satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!