Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: MEJA MAKAN DAN TIGA KEPALA
Menjadi bagian dari keluarga Wijaya bukan hanya tentang belajar tunduk pada tatapan dingin Ibu Retno atau menerima keheningan pasrah dari Mas Hendra. Rumah besar bergaya kolonial-modern ini ternyata memiliki poros bisingnya sendiri, sebuah dinamika yang baru benar-benar kupahami ketika pertengahan Desember membawa seluruh anggota keluarga berkumpul di bawah satu atap yang sama.
Mas Hendra bukanlah anak tunggal dalam arti yang sebenarnya. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara.
Anak pertama, sekaligus abang tertua Mas Hendra, bernama Mas Pramono. Dia sudah menikah dengan seorang wanita anak pengusaha sukses asal Jakarta dan kini tinggal terpisah di kawasan perumahan elite yang berjarak beberapa kilometer dari rumah ini. Mas Pramono jarang sekali berkunjung, dan jika dia datang, atmosfer rumah akan mendadak berubah formal seperti pertemuan bisnis. Keberadaannya yang jauh dan mandiri membuat Ibu Retno memusatkan seluruh kendali dan ambisinya pada pundak Mas Hendra sebagai anak laki-laki yang tersisa di rumah.
Lalu, di bawah Mas Hendra, ada dua adik yang masih menjadi tanggung jawab penuh keluarga ini. Yang pertama adalah Bagus, remaja laki-laki berusia lima belas tahun yang baru duduk di kelas satu SMA. Sifatnya keras kepala, acuh tak acuh, dan sangat manja karena statusnya sebagai anak laki-laki bungsu. Sementara yang paling kecil adalah srikandi satu-satunya di jajaran anak-anak Ibu Retno, bernama Ambar, gadis berusia tiga belas tahun yang baru menginjak kelas satu SMP. Ambar memiliki sepasang mata yang persis seperti ibunya—tajam, menyelidik, dan selalu memancarkan riak superioritas yang diadopsinya dari cara Ibu Retno memperlakukan orang-orang di sekitarnya.
Pagi itu, rintik hujan sisa semalam masih menyisakan hawa dingin di lantai marmer ruang makan. Tugas harian utamaku dimulai sejak pukul lima subuh: menyiapkan sarapan untuk lima kepala yang memiliki selera berbeda-beda. Di atas meja makan jati yang panjang, aku menghidangkan nasi goreng mawut, telur mata sapi yang pinggirannya harus garing tanpa noda gosong, dan sepiring pisang goreng tepung yang masih mengepulkan uap hangat.
"Yuni! Mana susunya Bagus? Kamu ini jam begini kok belum ditaruh di meja!"
Suara lengkingan Ibu Retno memecah kesunyian pagi dari arah tangga. Beliau turun dengan anggun, mengenakan kebaya harian berbahan katun halus berwarna hijau tua. Sepasang matanya langsung menyapu permukaan meja makan, mencari celah kekurangan dari apa yang sudah kusiapkan sejak subuh.
"Ini, Ibu. Baru saja Yuni tuangkan, masih agak panas," sahutku pelan sembari membawa segelas susu cokelat hangat dengan nampan kecil. Aku meletakkannya tepat di sebelah piring kosong milik Bagus.
Bagus melangkah masuk ke ruang makan dengan seragam putih-abu-abu yang tampak masih sangat kaku. Dasinya dipasang asal-asalan, dan wajahnya ditekuk masam. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kursi jati di sebelah Mas Hendra yang sudah lebih dulu duduk rapi dengan kemeja kerjanya.
"Mbak Yuni, ini susunya kok kurang manis? Gulanya satu sendok saja, ya? Kan Bagus sudah bilang kalau bikin susu cokelat itu gulanya harus dua sendok!" protes Bagus dengan nada ketus, menggeser gelas susu itu hingga isinya sedikit memercik ke atas meja.
"Maaf, Bagus. Mbak pikir susu bubuknya sudah manis. Nanti Mbak tambahkan gulanya," jawabku sembari menahan denyut kesal di pelipis. Di kampung, Doni dan adik-adikku harus mengulum jari mereka hanya untuk membayangkan rasa susu. Di rumah ini, seorang anak remaja berusia lima belas tahun bisa membuang muka hanya karena takaran gula yang kurang satu sendok.
"Makanya kalau kerja itu pakai otak, jangan cuma pakai otot seperti waktu di pabrik dulu," sahut sebuah suara cempreng dari arah pintu masuk.
Itu Ambar. Gadis kelas satu SMP itu berjalan mendekat dengan seragam putih-biru yang rapi. Rambutnya yang dikuncir dua bergerak-gerak seiring langkah kakinya yang sengaja dihentakkan. Dia duduk di hadapan Bagus, lalu menatapku dengan pandangan meremehkan yang sangat tidak cocok untuk anak seusianya. "Ibu, lihat itu sprei di kamarku. Mbak Yuni kalau memasang sprei tidak rapi, sudutnya tidak ditarik kencang. Jadi melorot terus waktu Ambar tidur semalam."
Ibu Retno yang sedang mengoleskan mentega ke atas sepotong roti tawarnya mendongak. Pandangan matanya yang dingin langsung tertuju padaku. "Yuni, dengar itu? Mengurus sprei saja tidak becus. Dulu waktu kamu diurus Sumi dari umur tujuh tahun, apa saja yang dia ajarkan kepadamu? Kok hal-hal mendasar seperti ini selalu salah?"
Kata-kata Ibu Retno yang membawa-bawa nama Budhe Sumi rasanya seperti siraman air raksa di atas luka terbuka. Dadaku bergemuruh hebat, menahan rasa sesak yang kian menghimpit rongga dada. Aku melirik ke arah Mas Hendra, berharap ada sepatah kata pembelaan, atau setidaknya sebuah teguran kecil dari seorang abang kepada adik-adiknya agar menghormati kakak ipar mereka.
Namun, Mas Hendra tetap diam. Dia terus menyuap nasi gorengnya dengan pandangan lurus ke arah piring, seolah-olah percakapan beracun di sekelilingnya hanyalah angin lalu yang tidak perlu dihiraukan. Keheningan Mas Hendra adalah seburuk-buruknya pengkhianatan bagi diriku yang berstatus sebagai istrinya. Dia memilih membiarkan adiknya yang masih SMP dan SMA menginjak-injak harga diriku, demi menjaga kenyamanan dirinya sendiri agar tidak dianggap membangkang pada ibunya.
"Nanti setelah mereka berangkat sekolah, kamu bongkar lagi sprei di kamar Ambar. Setrika ulang kalau perlu, biar tidak kusut," perintah Ibu Retno datar, tanpa beban.
"Baik, Ibu," jawabku, suaranya nyaris tenggelam oleh deru sendok Bagus yang beradu keras dengan piring porselen.
Setelah mobil jemputan Ambar dan motor bebek milik Bagus menderu meninggalkan halaman, rumah mewah ini kembali tenggelam dalam kesunyian yang mencekam. Mas Hendra dan Ibu Retno sudah berangkat ke toko grosir kain sejak pukul delapan pagi menggunakan mobil sedan hitam mereka. Tinggallah aku sendirian, ditemani oleh tumpukan piring kotor dan sunyinya ruang tengah yang luas.
Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, melangkah ke arah kamar Ambar yang terletak di sudut lorong. Begitu pintu kubuka, pemandangan di dalamnya membuatku menghela napas panjang. Kamar anak perempuan kelas satu SMP itu berantakan seperti kapal pecah. Baju-baju seragam rumah dilemparkan begitu saja di atas lantai marmer, buku-buku pelajaran berserakan di atas meja belajar, dan sprei bermotif boneka yang semalam dikeluhkannya memang tampak agak berantakan—bukan karena aku salah memasangnya, melainkan karena Ambar sengaja menendang-nendangnya ke ujung kasur saat dia bermain sebelum tidur.
Aku berlutut di atas lantai, mulai mengumpulkan baju-baju kotor milik adik iparku itu satu per satu. Saat tanganku memegang sepotong rok sekolahnya, air mataku yang sejak tadi kutahan di meja makan akhirnya luruh juga, menetes membasahi kain biru tua tersebut.
Aku teringat pada Lilis, teman sebayaku yang saat ini pasti sedang duduk di barisan jahit lajur tiga pabrik garmen Cakung, berteman dengan deru mesin yang bising namun jujur. Di pabrik, sekeras-kerasnya Mandor Joko berteriak mengejar target, dia hanya menuntut profesionalisme kerja. Jika pekerjaanku bagus, tidak ada yang akan menghina asal-usul keluargaku atau merendahkan cara Budhe Sumi mendidikku. Di pabrik, aku dihargai sebagai manusia yang menghasilkan karya dengan keringatku sendiri.
Namun di rumah ini, aku tidak lebih dari seorang pelayan tanpa gaji yang diikat oleh selembar surat nikah sah dari KUA. Statusku sebagai "istri Mas Hendra" hanyalah sebuah label di atas kertas, sementara dalam kenyataan harian, aku berada di kasta paling rendah dalam hierarki keluarga Wijaya. Bahkan Bagus yang baru kelas satu SMA dan Ambar yang baru kelas satu SMP pun merasa memiliki hak untuk mengatur, menegur, dan merendahkan diriku hanya karena mereka tahu dari mana aku berasal. Mereka tahu bahwa kakak ipar mereka adalah seorang anak gadis desa miskin yang dulunya adalah buruh pabrik ber-KTP palsu.
Aku bangkit, berjalan menuju jendela kamar Ambar yang besar, menatap rintik hujan Desember yang kian menderu menghantam atap garasi bawah. Pikiranku melayang jauh ke kampung halaman. Uang hantaran yang diberikan Ibu Retno sebulan lalu memang sudah berhasil melunasi semua utang beras Bapak, dan kemarin Ibu menulis surat singkat bahwa Doni sangat senang dengan sepeda barunya. Keluargaku di kampung sedang tersenyum, perut mereka kenyang, dan masa depan adik-adikku yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali itu kini tampak sedikit lebih cerah.
"Aku sudah jadi jembatan untuk mereka, Lis," bisikku pada kaca jendela yang berembun, suaraku bergetar menahan isak tangis yang menyesakkan dada. "Tapi kenapa jembatan ini rasanya harus hancur berkeping-keping terlebih dahulu?"
Aku memandangi cincin pernikahan di jari manisku. Di bawah cahaya mendung dari luar jendela, goresan halus yang melintang di permukaan emas murni itu tampak kian jelas, seolah menjadi simbol dari retaknya fondasi batinku yang dipaksa bertahan di tengah badai intimidasi ini.
Sore harinya, badai Desember kian mengganas. Angin kencang membuat ranting-ranting pohon mangga di halaman depan patah dan berserakan di atas paving blok. Bagus dan Ambar sudah pulang sejak pukul empat sore. Seperti biasa, begitu menginjakkan kaki di rumah, mereka langsung melemparkan tas dan sepatu mereka di ruang tengah, membiarkan aku yang berjalan di belakang mereka untuk merapikan semuanya tanpa ada satu pun ucapan terima kasih.
"Mbak Yuni! Bikin es sirup melon! Yang banyak es batunya, ya! Di luar hujan tapi di dalam rumah kok gerah banget!" teriak Bagus dari arah ruang televisi lantai satu, tempat dia dan Ambar sedang asyik menonton acara musik di layar kaca.
Aku yang sedang menyetrika tumpukan kemeja batik Mas Hendra di ruang belakang terpaksa mematikan saklar setrika listrik. Dengan langkah lelah, aku berjalan menuju dapur, mengambil sebongkah es batu dari dalam kulkas dua pintu, lalu memukulnya menggunakan ulekan batu hingga hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.
Saat aku membawa dua gelas es sirup melon itu ke ruang tengah, aku tidak sengaja mendengar percakapan kedua adik iparku di sela-sela suara bising televisi.
"Mas Pramono minggu depan mau datang sama Mbak siska dari Jakarta," kata Ambar sembari membolak-balik majalah remaja di pangkuannya. "Ibu tadi bilang, kita harus siap-siap. Mbak siska kan anak orang kaya, selera makannya tinggi. Ibu pasti bakal sibuk menyuruh Mbak Yuni masak yang aneh-aneh."
Bagus tertawa kecil, matanya tetap tertuju pada layar televisi. "Ya baguslah, biar Mbak Yuni kerja. Memangnya enak di rumah ini cuma numpang tidur dan makan gratis? Lagian, Mas Hendra kok mau-maunya ya nikah sama orang desa? Padahal kan dulu Mas Hendra hampir nikah sama Mbak Sari yang punya toko emas di pasar besar."
Langkah kakiku seketika terhenti tepat beberapa langkah di belakang sofa tempat mereka duduk. Nampan plastik di tanganku bergetar hebat, membuat air sirup di dalam gelas bergoyang dan hampir tumpah. Kata-kata Bagus seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalaku, menyisakan gaung yang memekakkan telinga.
Mbak Sari yang punya toko emas di pasar besar.
Itu adalah nama baru yang belum pernah kudengar sebelumnya. Selama proses lamaran di desa hingga akad nikah sebulan lalu, Budhe Sumi hanya menceritakan bahwa Mas Hendra adalah seorang pria lajang yang sedang mencari istri penurut. Tidak pernah sekalipun ada nama Sari yang disebut dalam pembicaraan kami.
"Hush! Jangan keras-keras, Bagus. Kalau kedengaran Ibu, kamu bisa dimarahi," bisik Ambar, meskipun nadanya tidak benar-benar menyembunyikan rasa ingin tahunya yang besar. "Ibu kan sengaja membatalkan pertunangan Mas Hendra sama Mbak Sari karena Mbak Sari orangnya boros dan suka melawan Ibu. Ibu sengaja cari Mbak Yuni karena Mbak Yuni miskin dan penurut, jadi mudah diatur-atur sama Ibu."
"Iya sih, tapi kan tetap saja aneh. Mas Hendra kalau jalan sama Mbak Yuni kelihatan tidak cocok banget. Yang satu bos kain, yang satu mantan buruh jahit," balas Bagus dengan nada mencemooh yang santai, seolah-olah apa yang sedang mereka bicarakan bukan tentang nasib hidup seorang manusia yang sedang berdiri di belakang mereka.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar di seluruh tubuhku. Dengan sisa-sisa ketegaran yang kupelajari dari kerasnya kehidupan jalanan Jakarta, aku melangkah maju dan meletakkan nampan berisi es sirup itu di atas meja kaca di depan mereka dengan bunyi dentingan yang sengaja kubuat agak keras.
Bagus dan Ambar seketika terdiam. Wajah mereka sempat menegang sejenak, terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba. Namun, dasar anak-anak orang kaya yang egois, rasa terkejut itu dengan cepat digantikan oleh wajah acuh tak acuh. Bagus langsung meraih gelas sirupnya tanpa memandang wajahku, sementara Ambar kembali membalik halaman majalahnya dengan gerakan kasar.
Aku membalikkan tubuhku, berjalan kembali menuju ruang belakang tempat setrika listrik yang sudah mulai mendingin. Di dalam kegelapan lorong rumah yang sunyi, air mataku tidak lagi mengalir. Rasa sedih yang sejak seminggu lalu menggelayuti hatiku kini perlahan-lahan mengkristal menjadi sebuah rasa dingin yang lain—sebuah kewaspadaan yang tajam.
Ada rahasia yang disimpan rapat di balik tembok-tembok marmer rumah ini. Ada alasan lain di balik takdir yang membawaku ke dalam sangkar emas ini sebelum bulan Desember berakhir. Aku menatap lurus ke depan, ke arah kalender dinding yang menunjukkan bahwa tahun akan segera berganti dalam beberapa minggu lagi. Tepat 12 langkah sebelum melangkah ke tahun baru di bulan Januari, aku tersadar bahwa aku tidak boleh lagi menjadi boneka penurut yang pasrah menerima keadaan. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Ibu Retno dan Mas Hendra di balik punggungku, sebelum sangkar emas ini benar-benar menjelma menjadi kuburan bagi seluruh harga diriku sebagai seorang wanita.