NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Selamat Datang di Penjara Pualam

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra yang tebal, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas lantai marmer kamar Arumi.Gadis itu mengerjap-erjapkan matanya yang terasa berat.

Semalaman ia nyaris tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Renard yang sedang berjongkok dengan kemeja kusut sambil menyuapi seekor anak kucing liar selalu berputar di benaknya. Kejadian itu terasa begitu surealis, seperti sebuah mimpi di tengah-tengah mimpi buruk yang nyata tentang kehancuran keluarganya.

Arumi menghela napas panjang, bangkit dari ranjang king-size yang terlalu empuk untuk punggungnya yang terbiasa dengan kasur tipis. Ia berjalan menuju kamar mandi yang luasnya hampir menyamai ukuran seluruh kamar kos temannya di kampus.

Saat menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai perak, Arumi menyadari satu hal: lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas. Beban pikiran tentang tugas akhir kuliahnya yang terbengkalai, kondisi ibunya yang masih dirawat, dan status barunya sebagai "istri kontrak" seorang miliarder, benar-benar menguras seluruh energinya.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Arumi. Ketika ia membukanya, pelayan paruh baya yang semalam mengantarkan makanan—yang belakangan ia ketahui bernama Bi Sumi—sudah berdiri di sana dengan senyum ramah.

Di belakang Bi Sumi, berdiri tiga orang wanita dan dua pria dengan penampilan yang sangat modis, masing-masing mendorong gantungan baju beroda yang penuh dengan pakaian mewah berbagai warna.

"Selamat pagi, Nyonya Arumi," sapa Bi Sumi dengan takzim. "Sesuai dengan perintah Tuan Muda Renard semalam, para perancang busana dan penata gaya dari butik utama kota sudah datang untuk menyiapkan seluruh keperluan pakaian Anda."

Arumi tertegun, matanya membulat menatap deretan gaun, blazer, blus sutra, hingga sepatu-sepatu hak tinggi bermerek terkenal yang berjejer rapi di hadapannya. "Bi... tapi ini terlalu banyak. Saya tidak butuh pakaian sebanyak ini. Pakaian lama saya masih—"

"Maaf, Nyonya," potong salah seorang penata gaya wanita dengan sopan namun tegas. "Tuan Muda Renard memberikan instruksi yang sangat spesifik. Seluruh pakaian lama Anda harus diganti dengan koleksi terbaru musim ini. Beliau tidak menerima alasan apa pun."

Arumi hanya bisa menghela napas pasrah. Ia teringat ucapan ketus Renard kemarin tentang "harga diri" dan "reputasi". Di rumah ini, pilihannya sama sekali tidak dihargai. Ia berada di dalam sebuah penjara yang sangat indah, di mana bahkan apa yang melekat di tubuhnya pun diatur oleh sang pemilik sangkar.

Selama hampir satu jam, Arumi harus rela tubuhnya diukur dan dicocokkan dengan berbagai setelan. Akhirnya, ia memilih sepotong blus satin berwarna hijau emerald sederhana yang dipadukan dengan celana kain hitam berpotongan pas.

Ia menolak riasan wajah yang tebal, hanya meminta rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang. Arumi ingin tetap mempertahankan jati dirinya, sekecil apa pun itu.

Dengan langkah kaki yang canggung, Arumi turun ke lantai satu menuju ruang makan utama. Meja makan kayu mahoni yang sangat panjang itu sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan, mulai dari menu barat hingga menu tradisional.

Di ujung meja, duduk Renard Wijaya yang sudah tampil sempurna dengan setelan jas kerja berwarna biru dongker. Pria itu sedang fokus membaca laporan bisnis di tabletnya, ditemani secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis.

Begitu mendengar suara langkah kaki Arumi, tubuh Renard sempat menegang sesaat. Ia menurunkan tabletnya dan melirik Arumi yang baru saja masuk.

Sepasang mata elangnya memindai penampilan baru Arumi dari atas ke bawah. Ada kilat kepuasan yang tertangkap di matanya selama sepersekian detik, sebelum akhirnya digantikan oleh tatapan dingin yang kaku seperti biasa. Telinganya sedikit merona merah, sebuah sisa reaksi dari harga dirinya yang tercoreng semalam.

"Duduk dan makan sarapanmu," ucap Renard. Suaranya rendah dan datar, sama sekali tidak mencerminkan pria lembut yang semalam mengajak bicara seekor kucing.

Arumi mengambil tempat duduk yang agak jauh dari Renard, tidak ingin memicu ketegangan di pagi hari. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.

Renard berdeham kecil, memecah kesunyian. "Pakaianmu... lumayan. Setidaknya perancang pilihan asistenku tidak salah menilai ukuran tubuhmu. Mulai hari ini, jangan pernah menyentuh pakaian lamamu lagi jika sedang berada di lingkungan rumah ini."

Arumi meletakkan garpunya perlahan, lalu menatap Renard dengan ekspresi tenang. "Terima kasih atas fasilitasnya, Tuan Renard. Sesuai dengan kesepakatan kita di kontrak, saya akan menjaga reputasi Anda dan tidak akan melakukan hal yang mempermalukan nama keluarga Wijaya. Termasuk... menjaga apa yang harus dijaga."

Mendengar kalimat terakhir Arumi, Renard hampir saja tersedak kopinya. Ia tahu persis apa yang dimaksud oleh wanita di hadapannya itu. Arumi sedang memberikan jaminan secara halus bahwa rahasia "sisi lembutnya" semalam aman di tangan gadis itu.

Renard menatap Arumi dengan tajam, rahangnya mengetat menahan malu yang kembali menyerang. "Bagus kalau kamu paham posisimu. Aku tidak suka orang yang bermulut besar."

Ia berdiri dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan gerakan tegas untuk mengalihkan kecanggungan. "Hari ini sopir pribadi rumah ini akan mengantarmu ke kampus untuk mengurus keperluan kuliahmu, dan setelah itu dia akan mengantarmu ke rumah sakit untuk menjenguk ibumu. Semua biaya pengobatan ibumu sudah dialihkan ke rekening rumah sakit atas namaku pagi ini."

Arumi tertegun. Rasa hangat yang asing mendadak menyusup ke dalam hatinya. Di balik sikap diktator dan kata-katanya yang selalu menusuk, Renard ternyata bergerak sangat cepat untuk menyelesaikan masalah hidupnya.

"Terima kasih, Tuan Renard," ucap Arumi tulus, kali ini tanpa nada sindiran.

Renard tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya egois, melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah besar. Namun, sebelum pintu ganda itu tertutup, Arumi sempat menangkap gerakan tangan Renard yang melonggarkan dasinya sedikit, tanda bahwa pria itu sedang salah tingkah.

Arumi menatap kursi kosong di ujung meja. Rumah mewah ini memang terasa seperti penjara yang dingin dan sunyi bagi orang miskin yang terpuruk seperti dirinya. Namun, entah mengapa, setelah mengetahui ada sisi lain yang hangat dari sang sipir penjara, Arumi merasa satu tahun ke depan mungkin tidak akan seburuk yang ia takuti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!