Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 3
Amelia baru menyelesaikan jam kerjanya sebagai virtual assistant saat terdengar ketukan pintu. Emi yang sedang bermain di box bayi terlihat bersemangat ketika melihat Amelia lewat.
“Maaf, Sayang. Tante belum bisa menggendongmu,” ucap Amelia seraya berjalan ke pintu depan.
Dari jendela kaca di samping pintu depan yang tirainya terbuka, Amelia melihat sebuah sedan terparkir di halaman. Ia tidak mengenali sedan itu sehingga tidak bisa menduga siapa yang datang bertamu.
Sambil mengira-ngira siapa yang datang, Amelia membuka pintu. Betapa terkejutnya ketika menemukan Caelan Harrison berdiri di beranda. Jika saat memakai setelan kerja, Caelan memancarkan kharisma pria sukses dan mapan, maka ketika memakai pakaian santai seperti sekarang berupa kaos polo dan celana panjang berbahan katun, aura pria itu seperti seseorang yang memberikan rasa nyaman.
“Hai,” sapa Caelan.
“Mr. Harrison?”
“Ya, ini aku,” jawab Caelan dengan nada seperti di pertemuan pertama mereka.
Amelia tidak menduga jika akan bertemu lagi dengan Caelan sedemikian cepat. Belum sampai 48 jam dari pertemuan mereka sebelumnya. Amelia benar-benar tidak menyangka jika tamu pertamanya di Sabtu pagi adalah Caelan Harrison.
“Aku tahu ini masih terlalu pagi untuk bertamu, tapi aku harus menemuimu.”
Setelah pulih dari kekagetannya, Amelia menjawab, “Aku memang tidak terbiasa menerima tamu di jam tujuh pagi, tapi masuklah.” Ia membuka pintu lebih lebar agar Caelan bisa masuk.
“Silakan duduk,” kata Amelia ketika melihat Caelan berdiri menjulang di ruang tamunya yang sempit.
Meskipun berlantai dua, rumah yang Amelia huni tidaklah besar. Hanya 9x4 meter di atas tanah seluar 72 persegi. Jadi, setiap ruangan dalam rumah tersebut tidak terlalu besar. Dengan tinggi ruangan lantai satu hanya 2 meter lebih sedikit sehingga Caelan yang memiliki tinggi sekitar 1,8 cm kelihatan menjulang di ruangan itu.
“Maaf mengganggu pagimu,” ucap Caelan setelah duduk di sofa cokelat panjang.
“Pasti hal yang sangat penting sampai membawamu datang sejauh ini,” sahut Amelia yang memilih sofa tunggal untuk duduk.
“Dua jam perjalanan memang jauh,” sahut Caelan.
“Seingatku, aku tidak memberitahu alamat rumahku,” kata Amelia.
“Ada orang yang bisa kutanya.” Caelan menjawab dengan sedikit malu. “Maaf jika aku datang tanpa pemberitahuan.”
Amelia menggeleng pelan. “Tidak masalah,” jawabnya pada Caelan yang terlihat gugup. “Apakah ada masalah? Atau ada kaitannya dengan jadwal tes DNA yang kuajukan?”
Kemarin Amelia menghubungi Caelan untuk menjadwalkan tes DNA Emi. Amelia akan membawa Emi ke Rumah Sakit Emerald pada jam 9 pagi. Begitulah yang mereka sepakati sebelumnya, tapi mungkin akan berubah dengan kedatangan Caelan hari ini.
“Di mana bayinya?” tanya Caelan tanpa menjawab pertanyaan Amelia.
“Emi sedang tidur. Kenapa?” Amelia menjawab sekaligus menyuarakan kebingungannya karena Caelan langsung mencari Emi.
“Boleh aku bertemu dengannya?”
Alih-alih senang dengan ketertarikan Caelan yang tiba-tiba terhadap Emi, Amelia justru semakin bingung. Sebelum Amelia sempat menjawab, suara tangis Emi terdengar.
Amelia tertegun, sebab Caelan yang bergerak lebih dulu darinya, pria itu berjalan ke arah suara tangisan itu sambil bertanya, “Kau tidak meninggalkannya sendirian, kan?”
Pertanyaan itu menarik kesadaran Amelia. Ia segera menyusul langkah Caelan dan melewati pria itu sembari menjawab, “Sebelum membukakan pintu untukmu, aku selalu menemani Emi.”
Saat mencapai ruang makan sekaligus dapur yang juga sesekali Amelia gunakan sebagai tempat bekerja, dalam box bayi Emi menangis kencang. Kedua tangan bayi itu terangkat ketika melihat Amelia. Tangis Emi langsung berhenti setelah Amelia menggendong dan membisikkan kata-kata menenangkan.
“Seharusnya kau tidak meninggalkannya.”
Ucapan Caelan membuat kejengkelang Amelia muncul. “Karena kami hanya tinggal berdua di rumah ini, sesekali aku harus meninggalkan Emi. Aku tidak bisa selalu membawanya, tapi kupastikan aku sama sekali tidak jauh.”
Caelan mengangkat kedua tangan. “Oke, yang tadi memang tidak seharusnya kuucapkan. Aku minta maaf.”
Amelia menarik napas dalam, rasa kesalnya sedikit menurun.
“Aku hanya berpikir, seharusnya bayi sekecil itu harus selalu ditemani.”
Kejengkelan Amelia memudar. Kesadaran bahwa Caelan sama seperti dirinya yang punya sangat sedikit pengetahuan tentang bayi, membuat Amelia tidak lagi menyalahkan pria itu.
“Awalnya, aku juga berpikir begitu. Namun, kadang-kadang si kecil ini memang harus ditinggalkan sendiri,” kata Emi. “Tentu saja, jangan ditinggalkan terlalu jauh atau terlalu lama.”
“Aku tidak akan mendebatmu,” sahut Caelan. “Jadi, kenapa dia menangis? Ingin minum susu?”
Amelia menepuk-nepuk Emi yang mulai terbuai di gendongan. “Tidak selalu tangisan bayi terjadi karena lapar. Bisa saja, karena popoknya basah, mengantuk dan ingin dibuai, atau karena ingin ditemani,” ia menjelaskan.
“Bagaimana mengenalinya?” Caelan bertanya lagi.
Amelia mengangkat bahu. “Hanya bisa mengetahuinya setelah berinteraksi cukup lama dengan bayi.”
Caelan mengangguk-angguk. “Butuh waktu.” Pria itu bergumam, tapi Amelia masih mendengarnya. Pelan-pelan harapan Amelia bahwa Caelan akan menerima kehadiran Emi mulai tumbuh.
“Jadi, apa yang membawamu jauh-jauh datang ke sini, Mr. Harrison?” tanya Amelia setelah jeda beberapa saat.
“Kita bisa bicara setelah dia tidur,” ujar Caelan. “Apa tidak masalah jika aku duduk?”
“Silakan.”
Amelia mengamati ketika Caelan duduk di salah satu dari dua kursi meja makan. Pria itu dengan sengaja tidak mengambil kursi yang tadi Amelia duduki, karena laptop yang Amelia pakai untuk bekerja sebelumnya masih terbuka.
Caelan hanya duduk di sana sembari mengamati dapur, tidak mengeluarkan ponsel, dan tidak bersuara. Hanya menunggu Amelia selesai menidurkan Emi. Setelah Emi terlelap di dalam box bayi, Amelia langsung berkata pada Caelan, “Kita bisa bicara sekarang.”
“Sebenarnya, sebelum kita memulai, aku ingin minta sesuatu,” kata Caelan.
Amelia menunggu kalimat lanjutan dari Caelan.
“Bolehkah aku minta segelas air putih,” Caelan melanjutkan.
Amelia tertawa. “Maafkan aku, tuan rumah satu ini terlalu terkejut dengan kehadiranmu sehingga lupa menawarkan minum.” Ia mengambil sebuah gelas lalu mengisinya dengan air dari dispenser. Kemudian meletakkan gelas itu di depan Caelan.
Saat memerhatikan dari dekat, Amelia baru sadar kalau Caelan terlihat lelah. Terlihat bayangan gelap samar di bawah mata biru pria itu.
“Kau terlihat lelah, sedang banyak pekerjaan?” tanya Amelia setelah duduk di hadapan Caelan. Ia menutup laptop dan menyisihkannya ke samping, hanya untuk membuat tangannya sibuk sehingga kegugupannya tidak kentara.
Amelia benar-benar gugup mendengar apa yang akan dikatakan Caelan. Karena pasti akan sangat berhubungan dengan masa depan Emi.
“Tidak juga, aku hanya kurang tidur semalam,” sahut Caelan. “Ada hal-hal yang mengganggu pikiranku.”
Ucapan Caelan membuat jantung Amelia berdebar. “Masalah Emi?” tanyanya hati-hati.
“Iya, dia lah yang menghubungkan kita, bukan?”
Tentu saja, tanpa kehadiran Emi, Amelia mana mungkin bisa terhubung dengan Caelan Harrison. Dunia mereka terlalu berbeda untuk bisa berada di ruangan yang sama. Kemungkinan seorang pekerja paruh waktu yang bekerja dari rumah bertemu dengan seorang arsitek ternama memang sangat kecil.
“Begini,” ujar Caelan, “aku ingin melihat bukti foto-foto yang kau katakan sebelumnya.”