NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Paviliun Sutra

​Di puncak utama dari wilayah Murid Inti Akademi Bintang Jatuh, terdapat sebuah istana megah yang terbuat dari batu marmer emas. Tempat ini adalah markas utama dari Perkumpulan Naga Sejati, faksi murid paling dominan yang menguasai hampir setengah dari sumber daya akademi.

​Di dalam aula utama yang diterangi oleh mutiara malam, seorang pemuda berwajah tampan namun memiliki sepasang mata yang sangat dingin sedang duduk di atas kursi tahta berlapis kulit harimau putih. Ia mengenakan jubah emas dengan sulaman naga. Tekanan Qi yang memancar dari tubuhnya jauh melampaui siapapun di Ranah Kondensasi Qi.

​Dia adalah Jiang Wuya, Kakak Senior Pertama dari Perkumpulan Naga Sejati, seorang ahli di Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat 3.

​PRANG!

​Sebuah cangkir giok hancur berkeping-keping saat Jiang Wuya membantingnya ke lantai.

​Di bawah anak tangga tahta tersebut, Fang Han berlutut gemetar dengan wajah yang bengkak parah dan darah yang masih merembes dari mulutnya.

​"Kakak Senior Pertama, ampun! Saya sudah menyebutkan nama Anda dan Perkumpulan Naga Sejati, tapi si berandal Lin Chen itu sama sekali tidak peduli!" lapor Fang Han dengan suara sengau karena kehilangan giginya. "Dia bahkan menampar saya dan menyuruh saya menyampaikan ancaman bahwa dia akan memotong kaki siapa saja yang berani menginjak Puncak Awan Ungu!"

​Udara di dalam aula seketika anjlok ke titik beku. Belasan murid elit yang berdiri di sisi kiri dan kanan aula saling bertukar pandang dengan wajah penuh amarah.

​"Bocah sombong!" teriak salah satu murid berbadan tegap. "Hanya karena dia memecahkan rekor Jembatan Penilaian dengan kekuatan kasarnya, dia pikir dia bisa menantang Kakak Senior Jiang? Kakak Senior, izinkan saya memimpin pasukan ke Puncak Awan Ungu dan mematahkan keempat anggota tubuhnya malam ini juga!"

​Jiang Wuya mengangkat tangannya perlahan, menghentikan keributan di aula. Mata dinginnya menyipit, menyembunyikan kilatan berbisa.

​"Aturan akademi sangat ketat mengenai penyusupan ke wilayah Murid Inti secara paksa. Jika kita menyerangnya di Puncak Awan Ungu, para Tetua Penegak Hukum akan memiliki alasan untuk menekan faksi kita," ucap Jiang Wuya dengan nada berat.

​Ia menoleh ke arah seorang pemuda berjubah perak yang berdiri diam di sudut aula sambil memeluk pedangnya. Pemuda itu adalah Gu Tian, wakil komandan faksi yang berada di puncak Tingkat 9 Kondensasi Qi, hanya berjarak sehelai rambut dari Ranah Pembentukan Fondasi.

​"Gu Tian," panggil Jiang Wuya. "Bocah Lin Chen itu cepat atau lambat pasti akan keluar dari Puncak Awan Ungu untuk mengambil misi atau mencari teknik bela diri. Pantau pergerakannya. Begitu dia berada di area publik akademi, berikan dia Surat Tantangan Darah untuk Arena Hidup dan Mati. Aku ingin dia diinjak-injak secara legal di depan seluruh akademi, agar semua orang tahu apa akibatnya menyinggung Perkumpulan Naga Sejati."

​Gu Tian membuka matanya perlahan. Sebuah niat pedang yang tajam melintas di pupil matanya. "Dimengerti, Kakak Senior. Akan saya pastikan darahnya mewarnai arena."

​Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menembus lautan awan yang mengelilingi Puncak Awan Ungu.

​Lin Chen melangkah keluar dari paviliunnya setelah semalaman memadatkan Qi di dalam Dantian-nya. Ia mengenakan jubah hitam sederhananya, mengabaikan jubah ungu Murid Inti yang mencolok. Pedang Berat Penelan Bintang kembali bertengger dengan tenang di punggungnya.

​"Untuk menembus Ranah Pembentukan Fondasi, aku butuh material tingkat tinggi. Namun sebelum itu, aku membutuhkan teknik gerakan yang lebih baik. Langkah dasar dari Sutra Pedang Kehampaan terlalu menguras energi jika digunakan untuk menghindari serangan yang bertubi-tubi. Aku butuh teknik langkah yang bisa melengkapi berat pedangku."

​Lin Chen berjalan menuruni bukit, menuju ke arah utara akademi tempat Paviliun Sutra berada.

​Paviliun Sutra adalah salah satu bangunan paling dijaga ketat di Akademi Bintang Jatuh. Bangunan berbentuk pagoda segi delapan setinggi tujuh lantai itu dikelilingi oleh formasi pelindung ilusi yang mematikan. Di sinilah semua warisan seni bela diri, teknik pedang, dan metode rahasia akademi disimpan.

​Area di sekitar paviliun sangat ramai oleh ratusan murid luar dan murid dalam yang sedang mengantre untuk menukarkan poin kontribusi mereka dengan waktu membaca di lantai satu dan dua.

​Lin Chen berjalan melewati antrean panjang tersebut dan langsung menuju pintu masuk utama yang dijaga oleh seorang Tetua bermata buta sebelah.

​"Hei! Apa yang kau lakukan? Antre di belakang!" teriak seorang Murid Luar saat Lin Chen melewatinya.

​Lin Chen tidak menoleh. Ia tiba di depan meja Tetua penjaga dan mengeluarkan Medali Giok Ungu miliknya, meletakkannya di atas meja kayu.

​Suasana berisik di sekitar pintu masuk seketika hening bagai disiram air es. Murid yang tadi meneriakinya langsung menutup mulutnya rapat-rapat, wajahnya memucat, nyaris pingsan karena ketakutan.

​Medali Ungu! Itu adalah lambang Murid Inti Langsung, eksistensi yang memiliki kedudukan nyaris setara dengan instruktur akademi!

​Tetua bermata buta sebelah itu mengambil medali tersebut dan meraba ukirannya. Alisnya yang beruban terangkat sedikit.

​"Murid Inti baru? Ah, kau pasti pemuda bernama Lin Chen yang membelah boneka perunggu kemarin," ucap Tetua itu dengan suara serak. Ia mengembalikan medali itu. "Dengan medali ini, kau memiliki akses gratis ke lantai tiga selama tiga hari dalam sebulan. Ingat, lantai tiga berisi gulungan teknik tingkat tinggi peninggalan era kuno. Jangan memaksakan diri mempelajari sesuatu yang tidak cocok dengan elemenmu, atau meridianmu akan terbakar."

​"Terima kasih atas pengingatnya," jawab Lin Chen datar.

​Ia mengambil medalinya dan melangkah masuk ke dalam pagoda.

​Lantai satu dan dua dipenuhi oleh rak-rak kayu raksasa dan ratusan murid yang sedang membaca dengan tekun. Lin Chen langsung menaiki tangga menuju lantai tiga. Begitu ia melewati lapisan pelindung formasi di pintu masuk lantai tiga, suasana berubah menjadi sangat sunyi dan sakral.

​Hanya ada segelintir murid di lantai ini, semuanya memancarkan aura minimal Tingkat 8 Kondensasi Qi. Di tengah ruangan, puluhan bola cahaya melayang di udara. Di dalam setiap bola cahaya tersebut, terdapat sebuah Slip Giok yang berisi memori teknik bela diri.

​Lin Chen berjalan menyusuri barisan bola cahaya tersebut. Ia menggunakan sedikit indra spiritualnya untuk "membaca" deskripsi singkat dari setiap teknik.

​Langkah Awan Mengambang: Teknik gerakan elemen angin tingkat menengah. (Terlalu lambat).

​Jejak Bayangan Api: Teknik langkah elemen api, bagus untuk ledakan kecepatan jarak pendek. (Terlalu mencolok dan tidak cocok untuk pengguna pedang berat).

​Perisai Tubuh Emas: Teknik pertahanan fisik. (Fisiknya sudah jauh melebihi ini).

​Setelah hampir satu jam mencari, kening Lin Chen sedikit berkerut. Tidak ada satupun teknik yang bisa mengimbangi standar seorang mantan Kaisar Pedang. Teknik-teknik ini terlalu rapuh dan penuh dengan celah konyol.

​Tepat ketika ia hendak turun dengan perasaan kecewa, Sutra Pedang Kehampaan di Dantian-nya mendadak bergetar pelan. Resonansi ini mengarah ke sudut paling gelap di ruangan itu, di mana sebuah bola cahaya yang sangat redup dan nyaris padam melayang berdebu di atas rak kayu tua.

​Lin Chen mendekat. Di dalam bola cahaya redup itu, terdapat sebuah Slip Giok berwarna hitam pekat yang retak di beberapa bagian.

​Ia menyentuh bola cahaya itu, dan informasi dari slip giok tersebut mengalir ke dalam benaknya.

​Sembilan Langkah Kehampaan

Tingkat Teknik: Tidak Diketahui (Fragmen Tidak Lengkap).

Deskripsi: Teknik gerakan peninggalan era kuno. Menginjak kekosongan ruang, menolak hukum alam. Jika dilatih hingga puncak, satu langkah bisa membelah lautan, sembilan langkah bisa melintasi bintang.

Catatan Akademi: Sangat berbahaya. Membutuhkan fondasi fisik dan kepadatan Qi yang tidak masuk akal. Semua murid yang mencoba melatihnya dalam seratus tahun terakhir berakhir dengan meridian hancur atau kaki yang lumpuh permanen.

​Senyum lebar perlahan merekah di wajah Lin Chen.

​"Sembilan Langkah Kehampaan... Berjalan di atas kekosongan. Ini adalah potongan teknik gerak dari jalur Kehampaan yang sama dengan metode kultivasiku!"

​Tanpa ragu sedikit pun, Lin Chen menggenggam bola cahaya tersebut, menyerap seluruh ingatan teknik dari Slip Giok yang retak itu ke dalam lautan jiwanya. Slip giok itu seketika hancur menjadi debu putih setelah mewariskan pengetahuannya.

​Lin Chen memejamkan matanya, mencerna informasi yang sangat rumit itu. Di dalam pikirannya, ia melihat sesosok bayangan kuno melangkah di atas udara kosong, setiap pijakannya menciptakan riak di ruang angkasa itu sendiri. Kecepatannya tidak terlihat oleh mata, melainkan bergerak berpindah titik layaknya teleportasi jarak dekat.

​"Karena teknik ini tidak lengkap dan hanya berisi tiga langkah pertama, akademi membuangnya ke sudut ruangan. Kebodohan yang luar biasa," gumam Lin Chen. "Bahkan hanya dengan tiga langkah ini, kombinasinya dengan Pedang Penelan Bintang akan menghasilkan daya hancur absolut."

​Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Lin Chen berbalik dan melangkah turun menuju pintu keluar Paviliun Sutra.

​Namun, begitu ia melangkah keluar dari bayang-bayang pagoda raksasa tersebut, langkah kakinya seketika terhenti.

​Di pelataran luar Paviliun Sutra, antrean murid yang tadinya panjang telah bubar berantakan. Para murid mundur dan membentuk lingkaran besar, menatap dengan penuh ketakutan ke arah sekelompok pemuda yang menghalangi jalan keluar Lin Chen.

​Lebih dari dua puluh anggota Perkumpulan Naga Sejati berdiri memblokir jalan. Di posisi paling depan, Gu Tian berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, memancarkan niat pedang yang membunuh dari puncak Tingkat 9 Kondensasi Qi.

​Gu Tian menatap Lin Chen dengan senyum meremehkan. Ia mengangkat tangan kanannya, mengapit sebuah amplop berwarna merah darah yang memancarkan aura mengerikan.

​"Lin Chen," suara Gu Tian bergema keras, memastikan seluruh pelataran mendengarnya. "Atas nama Perkumpulan Naga Sejati, aku memberimu Surat Tantangan Darah. Tiga hari dari sekarang, di Arena Hidup dan Mati. Apakah 'jenius' pemecah rekor sepertimu memiliki nyali untuk menerimanya, atau kau hanya seorang pengecut yang berlindung di balik gelar Murid Inti?"

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!