NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11.

Maura yang tidak ada pilihan lain pun, akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada malam itu.

Namun sepertinya, Vince di buat tidak puas dengan cerita Maura.

Akhirnya Vince meminta Maura untuk menceritakan semuanya sejak ia masih kecil.

"Astaga Bapak Vince yang terhormat! Kenapa bapak minta aku untuk menceritakan kehidupan ku yang aku jalani selama 15 tahun lalu? Kalau 15 tahun lalu di ceritakan sekarang, itu sangat membutuhkan waktu yang lama, dan setelah ini adalah waktunya pulang sekolah. Mamih Cherly pasti khawatir, kenapa aku belum pulang ke rumah?" ujar Naura dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di jelaskan. Antara rasa jengkel, khawatir dan juga cemas nampak berputar putar di otaknya.

"Ya sudah, kalau gak mau menceritakan semuanya. Bapak gak jadi mau membantu mu!" Lagi lagi Vince memberikan ancaman untuk Maura, ia terlihat membalikkan badannya seraya berjalan ke arah pintu.

Punggung Maura yang mulai terasa perih dan juga sakit, di tambah lagi dengan tingkah gurunya yang membuat dirinya jengkel. Akhirnya ia pun tidak ada pilihan lain.

"Ya sudah, saya mau menceritakan semua kisah hidup saya dari saya kecil. Apa perlu saya ceritakan juga kisah hidup saya waktu masih di dalam kandungan," ujar Maura sarkas.

Kedua sudut bibir Vince terlihat terangkat, tapi ia memilih untuk tetap berjalan ke arah pintu keluar yang ada di dalam kamar inap muridnya itu. Tanpa menjawab ucapan Maura terlebih dahulu, ia terlihat memutar kenop pintu.

"Astaga Pak Pin, sudah tua tolong jangan suka ngambek seperti itu napa? Saya hanya bercanda. Sini biar saya ceritakan semuanya, tolonglah jangan ngambek seperti itu." teriakan Maura sungguh membuat orang yang lalu lalang di depan ruangan inapnya terlihat menghentikan langkah kakinya, iya sekarang ini pintu ruang inap Maura sudah terbuka separuh.

"Ya kalau memang kamu ingin aku kembali, ucapkan permintaan maaf dulu! Setelah mendapatkan maaf dariku, baru setelah itu aku akan membantu mu!" Setelah 15 tahun melewati kehidupan yang penuh kehampaan dan juga patah hati yang teramat sakit, baru kali ini Vince merasakan sebuah kebahagiaan yang benar benar tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata. Kala dirinya mengerjai Maura.

Maura nampak menggertakkan gigi giginya, sungguh gurunya yang ia anggap aneh itu sekarang ini benar benar sedang mempermainkan perasaannya.

Namun, karena memang kondisinya sangat terjepit dan ia tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya sekarang ini Maura memilih untuk mengalah.

"Lihat saja nanti, aku pasti akan membalas mu PINCUK!" gumam Maura dalam hatinya dengan rasa gemas dan geram yang sulit untuk di jabarkan dengan kata kata, intinya ia sangat gemas dengan tingkah laku yang di tunjukkan oleh guru anehnya itu.

"Gak mau minta maaf, ya udah kalau begitu aku pamit dulu!" tegur Vince sembari melangkahkan kakinya dengan pelan.

"Tunggu!" teriak Maura. "Iya .. iya, saya minta maaf. Sekarang Pak Pin yang terhormat tolong bantuannya!" Maura mencoba menampilkan sebuah senyuman yang sangat manis, walaupun hatinya ingin meledak.

Melihat ekspresi Maura yang menggemaskan, sungguh membuat hati Vince terasa di tumbuhi oleh bunga bunga yang bermekaran. Apa lagi pipi gembul Maura yang sama persis dengan Naura sungguh sangat menggemaskan untuk di lihat, jika Maura dalam keadaan menggemaskan seperti sekarang ini.

"Minta maafnya itu ikhlas gak nih?" kata Vince, ia masih berdiri di tengah tengah pintu. Ia terlihat sangat menikmati untuk menggoda muridnya yang sekarang ini memang dalam keadaan terjepit.

Naura nampak memegang dadanya, rasanya sungguh sangat sesak melihat tingkah laku gurunya yang baginya sangat sangat menyebalkan.

"Sabar ... Sabar Maura," ujar Maura dalam hatinya.

Maura mengubah ekspresi kesalnya menjadi sangat manis, seraya berkata, "iya Pak Pin. Tentu maura sekarang ini sangat sangat ikhlas."

Senyuman Maura terlihat begitu merekah, bahkan ia juga memperlihatkan gigi giginya yang kecil itu.

"Okey," sahut Vince seraya menutup kembali pintu ruang inap murid nya.

Lalu Vince berjalan ke arah Maura dengan ekspresi datar.

"Sekarang ceritakan semuanya, tanpa ada yang terlewat satu pun!"

Drrt

"Aduh panggilan dari Mamih Cherly, Pak, saya harus mengangkat telepon itu terlebih dahulu!" Maura terlihat mengambil hapenya yang tadi pagi di berikan Cherly di atas nakas. Wajah Maura sekarang ini terlihat sangat panik.

"Gak, kamu boleh mengambil hape mu ini. Setelah kamu menceritakan semuanya secara rinci kepada ku," ujar Vince dengan wajah serius, bahkan ia mengambil paksa hape yang sudah di tangan muridnya.

*****

***

Sore menjelang malam pun tiba.

Soka sekarang ini sedang duduk di ruang keluarga, ia terlihat memainkan PlayStation.

"Apa Maura belum pulang?" tanya Stela.

"Belum Mah," sahut Soka singkat, ia terlihat kembali fokus untuk melihat layar tv yang ada di hadapannya.

Stela nampak mengepalkan tangannya, wajahnya sekarang ini terlihat sangat marah.

Tak berselang lama, Lian pun datang dari kantor.

Lian yang melihat istrinya itu pergi begitu saja, tanpa menyapa dirinya membuat batinnya bertanya tanya, lantas ia pun memilih untuk bertanya kepada anaknya. "Kenapa wajah Mamah mu seperti marah, Soka?"

"Dia tadi mencari Maura, tapi maura belum pulang sekolah. Kan memang awal awal masuk sekolah pulangnya memang lama Yah," sahut Soka tanpa menoleh ke arah ayahnya. Ia tetap fokus untuk bermain game.

Lian nampak melebarkan dasi yang terpasang di lehernya, ia ingin pergi ke kamar untuk mengejar istrinya itu.

Ceklek.

Prang!

Pyar!

"Dasar anak tidak berguna! Berani beraninya dia itu pergi setelah pulang sekolah tanpa meminta ijin terlebih dulu pada ku! Sepertinya hukuman yang aku berikan kepadanya saat dia melakukan kesalahan itu kurang! Makanya dia masih berani untuk melakukan kesalahan seperti ini!" teriak Stela dengan wajah merah padam, ia terus melempar barang barang yang ada di dalam kamarnya.

Lian hanya bisa memandang istrinya itu dengan raut wajah sedih dan juga kecewa, bagi Lian sendiri hukuman yang di berikan oleh Stela pada anak kandungnya itu terlalu kejam dan juga tidak manusiawi.

Dan sekarang istrinya itu malah akan menambah hukuman untuk anaknya yang masih berumur 15 tahun.

"Maafkan aku Naura, aku benar benar merasa gagal dalam menjaga anak kita." gumam Lian dalam hatinya dengan mata yang berkaca kaca.

Lian memilih tetap berdiri dan memperhatikan istrinya yang sedang mengamuk, untuk melampiaskan kekesalannya.

Tak berselang lama, Stela pun selesai dengan amarahnya, lalu ia duduk di atas ranjang yang ada di kamarnya dengan raut wajah sedih.

Lian buru buru menghampiri istrinya.

"Aku mohon padamu, maafkan semua kesalahan yang di perbuat Maura. Berhenti lah untuk menghukumnya," ujar Lian dengan tatapan memohon.

"Apa? Memaafkan semua kesalahan yang di perbuat oleh Maura. Jangan mentang mentang dia itu anakmu, jadi kau itu membiarkan anakmu untuk berbuat seenaknya di rumah ini!" Stela malah semakin murka.

Tanpa berbasa basi, Lian langsung memeluk istrinya dan menindih tubuhnya.

"Aku menginginkan mu sekarang, tapi aku mohon, berikanlah keringanan untuk Maura," Lian langsung melumat bibir istrinya. Karena ia tahu, ini adalah kelemahan Stela, walaupun di dalam hatinya yang terdalam ia merasa sangat sulit untuk melakukan semua ini.

Namun, Lian yang terjepit benar benar tidak ada pilihan lain. Selain merayu istrinya itu dengan jurus maut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!