Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Air Mata di Tanah Merah & Siasat yang Keruh
Gerimis tipis mulai membasahi bumi ketika iring-iringan jenazah tiba di pemakaman umum desa. Tanah merah yang digali sedalam dua meter itu tampak basah. Mireya berdiri di garda paling depan, kedua tangannya mendekap erat selendang hijau pudar peninggalan sang nenek. Di bawah payung hitam yang dipegangkan oleh Bi Ani, tubuhnya tampak begitu ringkih, namun sepasang matanya yang sembap menatap lurus ke arah liang lahat dengan ketegasan yang tak goyah. Tidak ada lagi jeritan histeris. Duka yang teramat dalam telah menempa hatinya menjadi sekeras karang.
Beberapa langkah di belakangnya, Calix berdiri tegak tanpa perlindungan payung. Setelan jas mahalnya dibiarkan basah oleh rintik hujan. Tatapannya tertuju lurus pada punggung Mireya, bersiap menopang jika gadis itu tiba-tiba tumbang.
Namun, fokus Calix pecah ketika sesosok pemuda dengan langkah gontai menerobos kerumunan warga. Itu Naren. Pemuda itu datang dengan mata merah, pakaiannya berantakan, masih menyisakan sisa seragam sopir hotel yang kemarin. Naren langsung mengambil posisi di sisi lain liang lahat, tepat berseberangan dengan Mireya.
Naren menatap Mireya dengan pandangan penuh luka, lalu tatapannya beralih pada Calix. Ada amarah dan keputusasaan yang jelas terpancar dari mata pemuda desa itu.
Rahang Calix mengatup rapat. Kepalan tangannya di dalam saku celana mengencang hingga kukunya memutih. Hawa panas mendadak membakar dadanya melihat pria lain menatap istrinya dengan intensitas seperti itu. Demi menghormati prosesi pemakaman, Calix terpaksa mengerahkan seluruh kendali dirinya untuk menahan amarah yang bergemuruh.
"Allahu akbar, Allahu akbar..." Suara azan terakhir dikumandangkan di dalam liang lahat, mengiringi papan kayu yang mulai diturunkan.
Naren tidak kuasa menahan tangisnya. Ia berlutut di tepi tanah merah, meraup tanah dengan kedua tangannya. "Reya... Nenek pergi karena memikirkanmu... Kenapa kamu harus memilih jalan ini, Reya? Kenapa kamu membiarkan pria kaya itu membelimu?!" setengah berbisik, namun suaranya terdengar jelas di sela rintik hujan.
Mireya memejamkan mata sesaat, menghirup napas dalam-dalam. Ketika matanya kembali terbuka, ia menatap Naren dengan tatapan yang sangat dingin dan tegas.
"Cukup, Naren," ucap Mireya, suaranya tenang namun memiliki penekanan yang mutlak. "Jangan mengotori pemakaman Nenek dengan drama masa lalumu. Aku ada di sini untuk menguburkan Nenek dengan terhormat. Jika kamu datang ke sini hanya untuk menghakimiku, silakan pergi."
Naren tertegun, tidak menyangka akan mendapat reaksi sedingin itu dari gadis yang dulu begitu lembut. "Reya... aku hanya—"
"Aku tahu apa yang aku lakukan, Naren. Dan aku tidak butuh belas kasihan atau penilaian dari siapa pun lagi," potong Mireya, membuang muka dan melemparkan segenggam tanah pertama ke dalam liang lahat.
Tepat saat tanah mulai menimbun papan kubur, sebuah suara tawa kecil yang sinis terdengar dari arah belakang kerumunan warga. Langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang tidak cocok untuk tanah pemakaman terdengar mendekat.
Bianca melangkah masuk ke dalam area pemakaman, dipayungi oleh seorang pengawal pribadi. Sepupu perempuan Calix itu mengenakan pakaian hitam formal, namun riasan wajahnya yang tebal dan senyum merendahkannya sama sekali tidak mencerminkan rasa duka.
"Oh, lihat ini. Sungguh pemandangan yang menyentuh hati," ucap Bianca cukup keras, memancing perhatian warga desa. Ia berjalan mendekati Calix, menatap sepupunya itu dengan tatapan penuh kemenangan setelah menyadari kilat amarah di mata Calix. "Calix, jadi kamu rela meninggalkan rapat penting di kota hanya untuk berdiri di tengah kuburan desa ini? Dan... siapa pemuda melarat yang menatap 'istrimu' seperti ingin menerkamnya itu?"
Calix menoleh lambat, matanya berkilat berbahaya bak elang yang siap mencengkeram mangsanya. "Siapa yang mengizinkanmu datang ke sini, Bianca?" suara Calix rendah, bergetar menahan amarah yang sudah di ambang batas.
"Tentu saja aku sendiri," jawab Bianca santai, melirik Naren dengan jijik lalu beralih pada Mireya. "Aku hanya penasaran, wanita seperti apa yang bisa membuat sepupuku yang terhormat ini kehilangan akal sehatnya. Ternyata... wanita yang punya selera rendah. Calix, apa kamu tidak malu? Kamu membelinya dengan harga lima puluh miliar, tapi hatinya masih tertinggal pada sopir murahan di desa ini."
Warga desa mulai berbisik-bisik riuh mendengarkan kalimat Bianca. Kasak-kusuk tentang status Mireya yang 'dibeli' kembali mencuat ke permukaan dengan bumbu yang lebih keruh.
"Bianca, tutup mulutmu sebelum aku menghancurkan posisimu di perusahaan," geram Calix, melangkah maju satu langkah, auranya begitu pekat dan mengintimidasi hingga pengawal Bianca refleks maju melindungi nonanya.
Namun, sebelum Calix sempat bertindak lebih jauh, Mireya melangkah maju. Ia berdiri tepat di hadapan Bianca, menatap sepupu Calix yang angkuh itu dengan kepala tegak tanpa ada rasa takut sedikit pun di matanya.
"Nona Bianca David," ucap Mireya, suaranya lantang dan jelas di depan seluruh warga desa. "Tempat ini adalah makam Nenek saya, tempat yang suci bagi kami. Jika Anda datang jauh-jauh dari kota hanya untuk membawa racun dan memamerkan kedengkian Anda, maka Anda salah tempat."
Bianca mendengus remeh, melipat tangannya di dada. "Gadis desa sialan, berani kamu menceramahiku? Kamu tidak lebih dari sekadar wanita sewaan yang beruntung bisa mencicipi kemewahan keluarga kami!"
"Saya tidak pernah meminta kemewahan Anda, dan saya tidak pernah peduli dengan nama besar David," balas Mireya dengan senyum getir yang penuh ketegasan. "Anda menghina saya karena saya dianggap 'dibeli'? Ya, fisik dan rahim saya mungkin terikat kontrak dengan Calix demi menyelamatkan adik saya. Tapi harga diri saya, karakter saya, tidak akan pernah bisa dibeli oleh uang sepeser pun milik keluarga Anda. Dan satu hal lagi..." Mireya maju satu langkah, membuat Bianca refleks mundur karena tertekan oleh aura tegas gadis desa itu. "...setidaknya saya tidak perlu merendahkan orang lain di atas kuburan hanya untuk merasa diri saya berharga, seperti yang sedang Anda lakukan saat ini."
"Kamu—!" Bianca mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan ke wajah Mireya karena terlanjur malu dan murka.
Grep!
Tangan Calix bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Bianca di udara dengan kekuatan yang membuat wanita itu memekik kesakitan.
"Sentuh dia setitik saja, Bianca, dan aku pastikan besok pagi kamu dan ibumu akan diusir dari seluruh aset keluarga David tanpa membawa sepeser uang pun," bisik Calix, suaranya pelan namun mengandung janji kehancuran yang teramat nyata.
Calix menghempaskan tangan Bianca hingga wanita itu limbung ke samping. "Doni, bawa Bianca keluar dari desa ini sekarang juga. Jika dia menolak, seret dia."
"Baik, Tuan Besar," Doni dengan sigap langsung mengawal paksa Bianca yang berjalan pergi dengan menghentakkan kakinya penuh kekesalan dan rasa malu yang luar biasa di depan warga desa.
Setelah kekacauan itu mereda, prosesi pengurukan tanah kembali dilanjutkan hingga selesai. Naren hanya bisa terduduk lemas di seberang makam, menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa menggapai Mireya lagi. Gadis itu telah berubah; Mireya bukan lagi gadis rapuh yang bisa ia lindungi, melainkan wanita yang sedang bertarung di tengah badai yang jauh lebih besar.
Mireya berlutut, menancapkan beberapa tangkai bunga di atas gundukan tanah merah yang masih basah. Ia mengusap batu nisan kayu itu dengan lembut.
"Nenek... Reya pamit balik ke kota," bisik Mireya lirih, setitik air mata terakhir jatuh menetes di atas tanah makam. "Reya janji... Reya akan jaga diri dengan baik. Reya tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak harga diri kita lagi."
Mireya bangkit berdiri, merapikan selendang hijaunya. Tanpa melirik Naren sedikit pun, ia berbalik dan berjalan mantap melewati Calix menuju mobil yang sudah menunggu.
Calix menatap punggung tegap istrinya dengan perasaan berkecamuk yang kian dalam. Kekaguman yang asing perlahan mulai menyusup di antara rasa cemburu dan amarahnya yang belum padam. Gadis desa yang ia pikir bisa ia kendalikan sepenuhnya dengan uang, baru saja menunjukkan bahwa jiwanya tidak akan pernah bisa tunduk pada siapa pun.
semangat terus ya Thor...