NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAIN MERAH DAN APARTEMEN HOE KIM

Ah Chio duduk di kursi lipat. Eng Sok di sampingnya. Go Hok Peng di seberang — dengan mie cup yang baru diseduh, bumbu hanya setengah.

"Ah Peng," Ah Chio memulai. "Dulu kuliah Farmasi. Tapi bakat IT nya lebih kuat. Akhirnya jadi aktor juga."

Eng Sok mengangguk. Tidak bertanya.

"Dan ini Eng Sok," Ah Chio menunjuk ke samping. "Lawan mainku di Mikrodrama. Lulusan Sekolah Aktor."

Go Hok Peng tersenyum. "Oh. Sekolah Aktor?"

"Iya," Eng Sok menjawab datar. "Lulus."

Go Hok Peng tidak bertanya lebih lanjut.

---

Mereka makan siang bertiga.

Go Hok Peng mau mentraktir Ah Chio. Dompet sudah di tangan. Tapi Eng Sok lebih cepat. Dari tas ranselnya, ia mengeluarkan bekal dua tingkat.

Tingkat satu: sup sayur telur puyuh — minim minyak, bening, wangi jahe.

Tingkat dua: nasi sorghum — bukan beras biasa. Warna kecoklatan, tekstur sedikit kasar.

"Ah Chio, kamu tau gak..." Eng Sok membuka kotak bekal. "Ini telur puyuh aku sendiri di Rooftop. Sehat. Udah vaksin semua."

Ah Chio tersenyum. Menerima.

Go Hok Peng kesal. Ia mengeluarkan mie cup dari tas. Menyeduhnya. Bumbu hanya setengah — kebiasaan lama, karena darah tinggi.

Ah Chio menatap Ah Peng. Matanya bertanya tanpa suara.

"Masih?"

Go Hok Peng mengangguk. Masih.

---

Syuting dilanjutkan.

Adegan Ah Guan dan Ah Chio — di taman teratai buatan. Tali sling macet. Perbaikan satu jam.

Eng Sok duduk di kursi lipat. Membaca buku — pinjaman dari perpustakaan. "Ramuan Herbal untuk Gangguan Metabolik".

Go Hok Peng melihat dari samping. Matanya menyipit.

"Emang lu paham?"

Eng Sok tidak menjawab. Ia meraih tangan Go Hok Peng — tiba-tiba. Dua jari menempel di pergelangan.

Chhun Koan Chi.

Mata Eng Sok terpejam. Tiga detik. Lima detik.

"Lu ini ada hipertensi?" Eng Sok membuka mata. "Masih muda loh!"

Go Hok Peng menarik tangan. Matanya melotot.

"Lu... lu... lu..."

Cuma "lu". Karena Ah Peng memang minum obat hipertensi. Diam-diam. Tidak ada yang tahu.

Go Hok Peng tidak tenang.

Ia melihat Ah Guan — yang sedang bergelantungan di sling, menunggu perbaikan. Lalu melihat Eng Sok — yang kembali membaca buku, tenang, tidak terganggu.

Eng Sok tidak cemburu. Tidak marah. Tidak panik.

Ia membuka laptop. Matanya kesal. Jari-jarinya menari di atas keyboard — mengetik sesuatu. Lalu senyum miring.

Eng Sok cuek. Ia buka HP — mempromosikan film, sesuai arahan tim sosial media.

"Huan Sia. Iblis Bayangan. Segera di bioskop."

---

Taman teratai. Sling masih macet.

Ah Guan dan Ah Chio turun. Toian Hok menghela napas. "Istirahat dulu."

Eng Sok buka HP. Cek pesan dari Ah Me dan Ah Ti.

Ah Me: "Makan sudah?"

Ah Ti: "Ko, besok anter aku ya. Ada acara sekolah."

Ia tersenyum. Membalas.

Lalu — tanpa sengaja — ia buka sosmed.

Trending.

"Lim Hong Guan dan Ah Lin — Video Panas"

Eng Sok mengetuk layar. Video pendek — rekaman CCTV dari apartemen Ah Guan. Bukan video miliknya. Angle berbeda. Lebih dekat. Lebih jelas.

Ah Chio sudah diwawancarai — lewat telepon.

"Saya sudah tahu hubungan Ah Guan dan Ah Lin. Saya tidak ingin jadi orang ketiga. Saya putus."

Eng Sok membaca. Matanya tidak berkedip.

Adegan viral — tapi angle berbeda dengan rekamannya. Jadi tidak ada yang tahu bahwa dia juga punya bukti.

Go Hok Peng di sampingnya — bersiul pelan.

"Yes! Sukses."

Eng Sok tidak bertanya. Ia hanya mengalir.

---

Ngobrol dengan kru lain. Ah Kwee. Ah Gwat.

"Ko Sioh Bu," Ah Kwee mulai. "Kamu cari apartemen? Katanya diusir Ah Me?"

Eng Sok mengangkat bahu. "Bukan diusir. Pindah."

Ah Gwat menyambung. "Soal tanah, sengketa, gosip — tanya aja sama kita. Kita lulusan Teknik Sipil."

Eng Sok mengeluarkan HP — menunjukkan daftar. "Lima apartemen. Cek struktur."

Ah Kwee dan Ah Gwat membaca. Mereka berbisik-bisik. Lalu:

"Dua coret. Tanah bermasalah. Tiga simpan. Struktur bagus."

Eng Sok mengangguk. Dalam hati:

"Kali ini ga boleh lepas part 2."

---

Jam tiga sore. Sling putus.

Ah Guan jatuh. Tidak tinggi. Tapi posisi — kaki salah tumpuan.

Kru panik. Ah Guan memegang betis — wajahnya pucat.

"Pindah ruas otot," kata tim medis.

Eng Sok mendekati Toian Hok.

"Toian, ganti persewaan alat, ya. Yang lama ini... bo cengli."

Toian Hok mengangguk. "Iya. Besok ganti."

---

Ah Guan dibawa ke klinik.

Ah Chio mengganti baju. Lalu mendekati Eng Sok.

"Ko... aku mau cari kain."

Eng Sok mengangguk. "Ayo."

Kru tidak heran. Eng Sok dan Ah Chio sering cari kain bareng. Buat syuting. Buat keperluan pribadi. Eng Sok pilihannya selalu pas.

Motor Eng Sok ditinggal. Ah Chio yang nyetir.

---

Di toko kain, Ah Chio lama. Satu jam. Bolak-balik. Tanya harga. Cek kualitas.

Tidak ada yang cocok.

Eng Sok menggandeng tangannya. Membawanya ke bagian belakang — rak kain merah tradisional.

"Coba ini."

Ia mengambil selembar kain merah — bordiran naga dan phoenix. Ditempelkan di pundak Ah Chio — dekat wajah.

"Cocok," katanya. "Dengan warna kulitmu."

Ah Chio berdiri diam.

Eng sok mengambil beberapa potong sutra — warna merah tua, merah bata, merah darah naga — ditumpuk di tangan Ah Chio.

"Kamu suka kain-kain ini?"

Ah Chio mengangguk.

Eng Sok menatap matanya. Tidak berkedip.

"Mengenai pertanyaan kamu berapa bulan lalu... maaf, gua jawab sekarang."

Ah Chio diam. Tidak bernapas.

"Arahnya gini. Lu mau wedding pake Tng Sa atau baju Negara Bintang?"

Ah Chio membeku.

Tangannya dingin. Dadanya berdebar. Mulutnya terbuka — tidak bisa bersuara.

Lalu — ia memeluk Eng Sok.

Erat. Tidak mau dilepas.

"Mau Tng Sa," bisiknya.

---

Mereka membayar kain. Eng Sok memasukkan ke tas ransel.

"Sekarang jalan-jalan."

Ah Chio mengangguk.

---

Tiga apartemen.

Pertama: dekat stasiun. Kedua: di tengah kota — bising. Ketiga: Hoe Kim — di pinggiran, sepi, aman, dengan taman kecil di lantai atas.

"Paling suka yang mana?" tanya Eng Sok.

Ah Chio tidak perlu pikir panjang. "Hoe Kim."

Eng Sok mengangguk. "Setuju."

---

Jam enam sore. Ah Chio mengantar Eng Sok ke lokasi syuting.

Alat sudah beres. Toian Hok panik — kejar beberapa frame.

Eng Sok pamit ke Ah Me lewat telepon. "Pulang telat. Alat rusak."

Ah Me tidak banyak tanya.

Adegan malam — Eng Sok dan Ah Chio mesra. Di naskah: mereka kekasih yang baru bersama. Ah Chio tersenyum — bukan akting. Eng Sok tersenyum balik — juga bukan akting.

Go Hok Peng melihat dari balik kamera. Marah. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Eng Sok pura-pura bego.

---

Jam sembilan malam. Di rumah.

Eng Sok buka laptop. Zoom dengan pemilik apartemen lama dan Notaris Kim — kuasa hukumnya.

Ah Ti duduk di samping — diminta jaga karena kakaknya jadul.

"Ko, ini caranya — "

"Diam. Aku tahu."

Ah Ti mengangkat bahu.

Perjanjian digital. Materai elektronik. Tanda tangan. Zoom mati.

Eng Sok mengeprint surat itu — untuk besok diurus balik nama di kantor pertanahan negara.

Ah Ti cuma diam. Melihat kakaknya.

"Ko, Nona Ah Chio sudah balik?"

Eng Sok tidak menjawab.

Ah Me penasaran. "Kamu ngapain?"

"Beli apartemen." Eng Sok menatap Ah Me — mantap. "Buat investasi masa tua, Ah Me. Sama buat kami: gua dan Ah Chio."

Ia mengeluarkan kain-kain dari tas — merah, sutra, bordiran naga dan phoenix.

Ah Me melongo. Ah Ti memegang dada.

---

Eng Sok video call Tauke Hok.

"Tauke, saya mau — "

"Sebentar."

Tauke Hok memotong. Wajahnya antara bahagia dan cemas.

"Siau Heng..." Ia berhenti. "Kita ketemu. Sekarang. Sama Ah Me. Sama Chio."

Eng Sok mengerjap. "Ada apa, Tauke?"

Tauke Hok menghela napas. "Semua tentang masa lalu Ah Chio."

Jantung Eng Sok hampir berhenti. Ah Me memegang dadanya.

Mereka tidak bisa berkata apa-apa.

---

Taksi online melaju ke Restoran Mutiara Lautan.

Ruang VVIP. Pintu kayu ukiran naga.

Di dalam — Ah Chio sudah duduk. Wajahnya pucat.

Di sampingnya — seorang wanita berjas putih. Rambut beruban. Rapi. Di dada jasnya — nametag.

Dokter Yong, Psikiater.

Ah Chio memegang map coklat di pangkuannya.

Tauke Hok dan Nyonya Hok sudah di dalam. Wajah mereka tegang.

Eng Sok masuk. Ah Me di belakangnya.

"Duduk," kata Tauke Hok. "Ini tentang... ingatan Ah Chio."

---

BERSAMBUNG

---

Kain merah. Apartemen Hoe Kim. Dan map coklat di pangkuan Ah Chio.

Dokter Yong membuka mulut.

💐🪷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!