NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Rafael Belum Selesai

Gelap.

Lagi.

Seluruh rumah mendadak tenggelam dalam kegelapan total.

Mamanya langsung menjerit kecil.

“Nyalain lampunya!”

Papanya buru-buru mengambil ponsel dengan tangan gemetar.

Sedangkan Nadira langsung merasa dingin di seluruh tubuhnya.

Karena semuanya terasa terlalu familiar.

Lampu mati.

Telepon misterius.

Dan Rafael.

“Arsen…”

Suaranya lirih.

Namun pria itu langsung bergerak cepat mendekatinya.

“Di belakang aku.”

Nada suaranya berubah dingin dalam sekejap.

Berbahaya.

Nayla masih berdiri dengan wajah pucat sambil memegang ponselnya erat.

“A-aku dengar suara dia…”

“Dia ngomong apa lagi?” tanya Arsen tajam.

Nayla menelan ludah.

“Dia bilang permainan belum selesai.”

Deg.

Jantung Nadira langsung jatuh.

Papanya mulai panik.

“Nggak mungkin dia kabur! Polisi ngawasin dia!”

Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi—

BRAK!

Suara kaca pecah terdengar dari belakang rumah.

Mamannya langsung menjerit.

“YA TUHAN!”

Arsen langsung menarik Nadira ke belakang tubuhnya.

“Semua masuk ruang tengah sekarang.”

Suasana langsung kacau.

Para penjaga rumah mulai berlari ke arah belakang.

Papanya sibuk menelepon polisi.

Sedangkan Nayla berdiri membeku seperti kehilangan tenaga.

“Nayla!”

Nadira buru-buru menarik tangan saudara kembarnya.

“Gerak!”

Mereka akhirnya berkumpul di ruang tengah yang sedikit lebih aman.

Namun detik berikutnya—

Listrik kembali menyala.

Dan semua langsung membeku.

Karena di dinding ruang keluarga…

Ada tulisan merah besar.

AKU BILANG AKU AKAN KEMBALI.

Mamannya langsung hampir pingsan.

Papanya pucat total.

Sedangkan Nadira merasa bulu kuduknya berdiri.

“Itu nggak ada tadi…” bisiknya pelan.

Arsen menatap tulisan itu lama.

Tatapannya berubah sangat gelap.

“Dia masuk rumah ini.”

Polisi datang lima belas menit kemudian.

Rumah langsung dipenuhi orang.

Sidik jari diperiksa.

CCTV dicek.

Namun hasilnya membuat suasana makin buruk.

“Semua kamera mati selama tujuh menit,” kata salah satu polisi.

Papanya mengumpat kasar.

“Mustahil!”

“Pelakunya kemungkinan ngerti sistem keamanan rumah.”

Arsen berdiri diam sambil memperhatikan layar CCTV yang kosong.

Dan Nadira tahu pria itu sedang berpikir keras.

Sangat keras.

“Ini bukan sekadar ancaman,” gumam Arsen pelan.

Nadira menoleh.

“Maksudnya?”

Tatapan Arsen jatuh ke tulisan merah di dinding.

“Dia sengaja bikin kita takut.”

Nayla langsung memeluk dirinya sendiri.

“Dia psikopat…”

Namun entah kenapa…

Nadira masih teringat kalimat terakhir Rafael di gudang.

“Monster paling bahaya bukan selalu orang luar.”

Kalimat itu terus mengganggu pikirannya.

Malam makin larut.

Polisi akhirnya pergi setelah memastikan rumah aman.

Namun jelas tidak ada yang bisa tidur.

Papanya duduk diam sambil terus minum kopi.

Mamannya menangis pelan sejak tadi.

Sedangkan Nayla mengurung diri lagi di kamar.

Dan Nadira…

Ia duduk sendirian di balkon belakang rumah.

Kepalanya penuh.

Tentang Rafael.

Tentang keluarga mereka.

Tentang Arsen.

Dan tentang rasa takut yang mulai menggerogoti dirinya perlahan.

“Aku tahu kamu bakal di sini.”

Nadira menoleh.

Arsen berjalan mendekat sambil membawa dua gelas hangat lagi.

“Cokelat?”

Nadira menerima gelas itu pelan.

“Makasih.”

Mereka duduk berdampingan dalam diam beberapa saat.

Angin malam terasa dingin.

“Takut?” tanya Arsen akhirnya.

Nadira tertawa kecil hambar.

“Aku hampir diculik, ditembak, diteror, dan sekarang rumahku dimasukin orang gila.”

Ia menatap Arsen.

“Menurut kamu aku takut nggak?”

Anehnya…

Arsen malah tersenyum tipis.

“Masih bisa sarkas berarti belum hancur.”

Nadira mendecih pelan.

“Nyebelin.”

Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali serius.

“Arsen.”

“Hm?”

“Kamu percaya Rafael benar-benar kabur?”

Pria itu diam sebentar.

“Belum tentu.”

“Maksudnya?”

Tatapan Arsen berubah tajam.

“Bisa aja ada orang lain.”

Deg.

Nadira langsung merinding.

“Orang lain?”

“Yang bantu dia.”

“Atau…”

Arsen berhenti bicara.

“Atau apa?”

Tatapan pria itu perlahan jatuh ke dalam rumah besar keluarga Maheswara.

“Orang dari dalam.”

Dada Nadira langsung terasa dingin.

Sementara itu…

Di kamar lantai dua, Nayla berdiri diam di depan cermin.

Matanya sembab.

Tubuhnya masih gemetar sejak telepon tadi.

Ia mencoba mencuci wajahnya, tapi tangannya terlalu gemetar.

Rafael kabur?

Bagaimana bisa?

Pria itu seharusnya ditahan polisi.

Namun yang paling membuat Nayla takut bukan fakta bahwa Rafael bebas.

Melainkan kenyataan bahwa sebagian kecil dirinya masih peduli.

Dan ia membenci dirinya sendiri karena itu.

BRAK!

Suara sesuatu jatuh dari balkon kamar membuat Nayla tersentak.

Ia langsung menoleh panik.

“Ada siapa?!”

Tak ada jawaban.

Jantungnya berdetak cepat.

Perlahan Nayla berjalan mendekat.

Pintu balkon sedikit terbuka.

Angin malam masuk perlahan.

Dan di lantai…

Ada sebuah kotak kecil hitam.

Tubuh Nayla langsung dingin.

Tangannya gemetar saat mengambil kotak itu.

Di atasnya tertulis:

UNTUK NAYLA.

“Nggak…”

Nayla buru-buru mundur.

Namun rasa penasaran menang.

Perlahan ia membuka kotak itu.

Dan detik berikutnya—

Napasnya langsung tercekat.

Di dalam kotak ada sebuah cincin.

Cincin yang dulu Rafael pakai waktu melamarnya.

Air mata Nayla langsung jatuh.

Namun bukan itu yang membuatnya takut.

Melainkan secarik kertas kecil di bawah cincin.

AKU JANJI AKAN JEMPUT KAMU.

“NAYLAAA!”

Teriakan Nadira menggema di rumah.

Arsen dan papanya langsung berlari ke lantai atas.

Begitu masuk kamar Nayla—

Semua langsung membeku.

Nayla duduk di lantai sambil menangis hebat.

Kotak hitam jatuh di dekat kakinya.

Arsen langsung mengambil kertas di lantai.

Tatapannya berubah dingin.

“Sial.”

Papanya langsung marah besar.

“Security rumah kerja apa sih?!”

Nadira buru-buru memeluk Nayla.

“Hey… hey…”

Tubuh saudara kembarnya gemetar hebat.

“Aku takut…”

Suara Nayla pecah.

Dan untuk pertama kalinya…

Nadira sadar Nayla benar-benar hancur sekarang.

Bukan soal uang.

Bukan soal reputasi.

Tapi karena orang yang dicintainya berubah jadi mimpi buruk.

Pukul tiga pagi.

Arsen akhirnya memutuskan semua orang harus pindah sementara.

“Kita nggak aman di sini.”

Papanya langsung setuju.

“Ke mana?”

“Penthouse aku.”

Nadira hampir refleks protes.

Namun setelah kejadian malam ini…

Ia terlalu lelah untuk membantah.

Satu jam kemudian mereka tiba di penthouse Arsen.

Mamannya langsung tidur karena kelelahan.

Papanya sibuk menelepon pengacara dan polisi.

Nayla masuk kamar tamu tanpa bicara.

Tinggal Nadira dan Arsen di ruang tengah.

Suasana mendadak sunyi lagi.

“Aku capek,” gumam Nadira sambil menjatuhkan diri ke sofa.

“Aku tahu.”

“Aku pengen semua ini selesai.”

Arsen berdiri di depan jendela besar sambil membuka dasi.

Tatapan kota malam memantul di matanya.

“Aku bakal selesaiin.”

Nadira memperhatikannya diam-diam.

Entah kenapa…

Pria ini selalu terlihat kuat.

Terlalu kuat.

Dan justru itu yang membuat Nadira penasaran.

“Kamu nggak pernah takut ya?”

Arsen menoleh.

“Takut apa?”

“Takut kehilangan.”

Untuk pertama kalinya…

Arsen diam cukup lama.

Lalu ia berjalan mendekat perlahan.

Tatapannya lurus ke mata Nadira.

Dan lagi-lagi jantung gadis itu mulai tidak normal.

“Aku takut sekarang.”

Deg.

Nadira langsung membeku.

“Karena kamu?”

Suara Arsen rendah.

Pelan.

Tapi menghantam tepat di dada Nadira.

“Arsen…”

“Aku udah coba berhenti.”

Napas Nadira mulai kacau.

“Jangan…”

“Tapi makin lama…” pria itu tersenyum kecil pahit, “makin susah.”

Dunia terasa terlalu sunyi sekarang.

Terlalu dekat.

Terlalu berbahaya.

“Aku saudara Nayla,” bisik Nadira lemah.

“Aku tahu.”

“Kamu tunangannya.”

“Aku juga tahu.”

“Terus kenapa…”

Kalimat Nadira menggantung.

Karena ia sendiri takut mendengar jawabannya.

Arsen menatapnya lama sekali.

Lalu perlahan mengangkat tangan dan menyentuh pipi Nadira dengan lembut.

“Karena dari awal…”

Suara pria itu nyaris berbisik.

“Yang aku cari bukan Nayla.”

Deg.

Jantung Nadira langsung seperti berhenti.

Tubuhnya membeku total.

Tatapan mereka saling terkunci.

Dan perlahan…

Arsen mendekat.

Sangat dekat.

Sampai Nadira bisa merasakan napas hangat pria itu di wajahnya.

Ia tahu.

Ia harus mundur.

Harus menghentikan ini.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Karena sebagian dirinya…

Juga menginginkan ini.

Namun tepat saat bibir mereka hampir bertemu—

BRAK!

Pintu penthouse tiba-tiba terbuka keras.

Semua langsung tersentak.

Salah satu anak buah Arsen masuk dengan wajah panik.

“Tuan!”

Arsen langsung mundur cepat.

“Ada apa?”

Pria itu terlihat pucat.

“Kita baru dapat kabar…”

Nadira langsung merasa firasat buruk.

“Kabar apa?”

Anak buah itu menelan ludah.

“Rafael ditemukan tewas di tahanan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!