Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Ledakan di Kawasan Bayang
Bab 6 — Ledakan di Kawasan Bayang
Udara di luar ruangan Elara berubah menjadi kekacauan total.
Suara ledakan bergema bertubi-tubi, mengguncang seluruh struktur bangunan di Kawasan Bayang. Debu dan serpihan batu beterbangan, membuat udara menjadi tebal dan sulit dilihat. Teriakan warga yang panik bercampur dengan dentuman senjata berat serta bunyi mesin Penjaga Arsip yang mendengung mengerikan.
Ren berlari secepat kilat menuruni tangga besi yang berderit, diikuti Kai yang terus memantau data di layar lengannya dengan wajah tegang. Cahaya ungu dari tangan kiri Ren bersinar semakin terang, seolah menjadi suar penunjuk jalan di tengah kepulan debu dan asap.
"Jalan depan runtuh! Belok kiri!" teriak Kai di antara hiruk-pikuk, suaranya hampir tak terdengar. "Mereka membawa alat pemecah dinding! Bagian utara sudah jatuh!"
Ren tidak menjawab. Matanya terkunci pada satu titik di kejauhan — di atas atap bangunan bertingkat yang menjulang di tengah pemukiman. Di sana, sosok Anya masih berdiri tegak, meski tubuhnya kini tampak lebih bungkuk dan napasnya terlihat beruap putih tebal. Di sekelilingnya, dinding es setinggi orang dewasa mulai retak-retak, diserang sinar energi putih yang ditembakkan oleh puluhan Penjaga Arsip yang mengenakan zirah logam mengilap.
Salah satu sinar itu melesat melewati bahu Anya, menghantam cerobong asap tua di sebelahnya dan membuatnya meledak berkeping-keping. Gadis itu terhuyung ke belakang, darah segar menetes dari sudut bibirnya.
"Anya!" teriak Ren, rasa takut bercampur amarah membakar seluruh isi dadanya. Ia mempercepat larinya, melompati tumpukan puing dan barang-barang berserakan.
"Kau gila?! Mereka terlalu banyak!" Kai berusaha menahannya, tapi terlambat. Ren sudah melompat naik ke atas tumpukan kontainer, lalu memanjat ke atap bangunan yang lebih rendah, mendekati tempat pertempuran.
Saat itu juga, salah satu Penjaga Arsip melompat maju, pedang energinya menyala terang, siap menebas Anya yang hampir kehabisan tenaga.
Namun sebelum bilah itu menyentuh kulit gadis itu...
WUUUNG!!
Gelombang energi ungu meledak dari arah bawah.
Penjaga itu terpental mundur seolah ditabrak benda berat, tubuhnya berputar di udara sebelum jatuh membentur dinding beton hingga retak. Alat-alat di tubuh para penyerang itu berkedip liar, layar di helm mereka menampilkan tulisan ERROR yang sama seperti saat di permukaan kota.
Semua kepala menoleh serentak ke bawah.
Ren berdiri di sana, napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah pasukan elit itu. Cahaya ungu di tangannya kini menyebar naik hingga ke lengan atas, membentuk pola yang semakin rumit dan berdenyut kuat. Aura yang ia pancarkan bukan lagi aura pemuda biasa yang tak terlihat... melainkan aura yang membuat udara di sekitarnya bergetar hebat.
"Menjauh darinya," suara Ren terdengar rendah, berat, namun jelas terdengar oleh semua orang di sana. Bukan suara pemuda yang penakut, tapi suara seseorang yang baru saja sadar akan kekuatan besar yang dimilikinya.
Anya menoleh, matanya yang merah melebar saat melihat Ren. Wajahnya yang pucat terlihat lega, namun juga khawatir. "Kau seharusnya sudah pergi... Kenapa kau kembali?"
"Aku tidak meninggalkan kawan," jawab Ren tegas. Ia menoleh ke Kai yang baru saja naik ke atap di sampingnya. "Kai! Bisakah kau membuat gangguan lebih besar lagi?"
Pemuda berambut hijau itu menyeringai, meski wajahnya berkeringat dingin karena ketakutan. "Tanyalah hal yang mudah! Lihat ini!"
Dengan gerakan cepat, Kai menekan beberapa tombol di lengannya, lalu melempar sebuah benda kecil berbentuk kotak ke tengah kerumunan Penjaga Arsip. Benda itu menempel di lantai, lalu memancarkan cahaya pelangi yang berkedip-kedip cepat.
ZZZZTTT!!
Suara listrik menyengat terdengar nyaring. Seluruh peralatan komunikasi, senjata, hingga sistem keseimbangan di tubuh para Penjaga Arsip itu langsung mati total. Mereka bergerak kaku, tersandung satu sama lain, menjadi tidak berdaya sejenak.
"Sistem mereka bergantung sepenuhnya pada data dan sinyal! Tanpa itu, mereka cuma kaleng-kaleng berisi logam berat!" seru Kai bangga. "Efeknya cuma bertahan dua menit! Cepat bertindak!"
Ren melompat maju. Simbol di tangannya menyala terang sekali, dan saat ia menyentuh salah satu tiang penyangga besar di dekatnya, energi ungu itu merambat masuk ke dalam logam tersebut. Dalam sekejap, seluruh struktur logam itu berubah bentuk, berlekuk dan melilit seperti ular hidup, menjerat kaki para musuh yang tertegun.
"Kekuatan ini..." Ren terkejut sendiri. Ia tidak berniat melakukannya, tapi seolah benda mati di sekitarnya merespons kehadirannya, merespons keberadaan Archive Zero.
"Kau bisa memanipulasi segala sesuatu yang terhubung dengan sistem atau materi buatan manusia," suara Anya terdengar di sampingnya. Gadis itu sudah berdiri tegak kembali, meski masih terhuyung sedikit. Es kembali terbentuk di tangannya, kali ini lebih tajam dan dingin. "Ingat apa Elara bilang? Kau adalah kunci yang bisa mengubah aturan dunia ini."
Bersama-sama, mereka bertiga menerobos kepungan itu. Es Anya membelokkan serangan yang masih tersisa, gangguan Kai membuat musuh buta dan tuli, sementara kehadiran Ren sendiri merusak apa saja yang tersentuhnya.
Namun jumlah musuh terlalu banyak. Dan di kejauhan, suara dengungan mesin yang jauh lebih besar terdengar mendekat, menggetarkan tanah.
Kai melihat layarnya, wajahnya menjadi pucat pasi lagi, lebih buruk dari sebelumnya.
"Tidak... ini tidak mungkin..." gumamnya gemetar. "Itu... itu bukan Penjaga Arsip."
"Apa itu?" tanya Ren sambil menangkis potongan besi yang melayang ke arahnya.
"Itu adalah Penjaga Inti," jawab suara berat dari belakang mereka.
Mereka berbalik. Elara berdiri di sana, berjalan tertatih-tatih namun tetap berwibawa, diikuti beberapa warga Kawasan Bayang yang bersenjata sederhana. Wajah wanita tua itu muram, matanya menatap ke arah lorong besar tempat suara mesin raksasa itu berasal.
"Penjaga terkuat yang dibuat saat sistem Archive pertama kali dibangun," lanjut Elara. "Mereka tidak bergantung pada sinyal. Mereka tidak punya rasa sakit. Dan satu-satunya tujuan mereka... adalah memastikan Archive Zero dikembalikan ke Ruang Asal, hidup atau mati."
Tanah berguncang hebat.
Dari kegelapan lorong itu, sesosok makhluk raksasa melangkah keluar. Tingginya hampir menyentuh langit-langit bawah tanah, tubuhnya terbuat dari logam hitam pekat yang berukir pola-pola serupa dengan simbol di tangan Ren. Matanya menyala merah darah, dan di dadanya terdapat lubang besar yang berbentuk tepat seperti kunci yang ada di ruangan Elara tadi.
Makhluk itu mengangkat kepalanya, dan suara mekanik yang dalam serta bergema keluar dari mulutnya yang tak ada bibir:
"DETEKSI: OBJEK ARCHIVE ZERO. PRIORITAS UTAMA: PENYERAHAN. KEGAGALAN \= PEMUSNAHAN AREA."
Seketika itu juga, seluruh warga Kawasan Bayang yang ada di sana berhenti bergerak. Ketakutan murni terlihat di wajah mereka. Bahkan para pejuang paling tangguh pun mundur selangkah.
Makhluk itu mengulurkan tangan raksasanya, dan dari telapak tangannya, cahaya ungu — sama seperti milik Ren, tapi jauh lebih gelap dan mengerikan — mulai terkumpul.
"Menyingkir!" teriak Elara. "Dia akan menghancurkan semuanya!"
Anya menatap Ren, lalu menatap makhluk itu. "Ren... benda itu... dia mencari energi dalam dirimu. Dia ingin menarikmu masuk ke dalam intinya."
Ren menggenggam tangannya erat. Rasa takut masih ada, tapi rasa tanggung jawabnya jauh lebih besar. Ia menatap Elara.
"Bu Elara... bagaimana caranya keluar dari sini menuju Distrik Utara? Jalan cepat."
Elara menunjuk ke arah jembatan gantung tua di sisi paling kanan kawasan itu, yang sudah mulai terbakar terkena percikan api pertempuran.
"Lewat sana! Tapi jembatan itu akan runtuh jika terkena serangan langsung. Dan kau harus berjalan melewati jantung energi sistem lama... tempat di mana kekuatanmu akan terasa paling kuat, tapi juga tempat di mana Menara Zenith bisa melacakmu dengan sangat mudah."
Ren mengangguk. Ia menoleh ke Kai dan Anya.
"Kalian mau ikut?"
Kai menyeka keringat di dahinya, lalu menyeringai sambil menunjuk makhluk raksasa itu. "Tentu saja. Siapa lagi yang akan merekam semua data aneh ini kalau bukan aku? Lagipula... aku sudah terlanjur masuk ke dalam masalah ini."
Anya tersenyum tipis, mata merahnya berkilat berani. "Aku sudah bilang kan? Aku tidak akan membiarkan kunci ini hilang begitu saja. Lagipula... kau masih berhutang penjelasan padaku, Archive Zero."
Ren tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, ia tidak merasa sendirian.
Makhluk raksasa itu mengangkat tangannya lebih tinggi lagi. Cahaya di telapaknya semakin menyala, siap meledakkan seluruh kawasan itu menjadi debu.
"SEKARANG!" teriak Elara.
Bersamaan dengan itu, Ren berlari di depan, Kai di sampingnya terus mengetik cepat di pergelangan tangan, dan Anya berjalan di belakang sambil menciptakan dinding es tebal untuk menahan gelombang kejut serangan makhluk itu.
DUAARRR!!
Cahaya ungu menghantam tanah tepat di tempat mereka berdiri sedetik yang lalu. Tanah terbelah, api dan debu mengepul ke atas. Bangunan-bangunan runtuh di belakang mereka satu per satu.
Jembatan gantung tua itu sudah di depan mata. Kayu-kayunya sudah lapuk, tali-temalinya sudah berkarat, menggantung di atas jurang gelap yang dalam sekali, tempat aliran sungai bawah tanah bergemuruh mengerikan.
"Maju terus! Jangan menoleh ke belakang!" teriak Kai di tengah deru angin panas.
Namun Ren sempat melirik ke belakang sekali. Ia melihat Elara berdiri tegak di depan makhluk raksasa itu, dikelilingi para pejuang Kawasan Bayang yang sedikit jumlahnya tapi berani mati. Wanita tua itu mengangkat kedua tangannya, dan dari tubuhnya memancarkan cahaya emas samar, sisa-sisa kekuatan zaman dahulu kala.
Ia menahan makhluk itu sendirian, memberi waktu bagi Ren dan kawan-kawannya untuk kabur.
"Selamatkan dunia ini, anakku..." bisik Ren mengulangi kata-kata Elara yang terngiang di telinganya.
Mereka bertiga berlari menapaki jembatan gantung itu. Kayu berderit keras, bergoyang hebat di bawah kaki mereka. Di belakang, suara benturan dahsyat terdengar lagi, diikuti suara runtuhan besar yang menutup jalan masuk ke Kawasan Bayang.
Debu tebal menutupi pandangan ke belakang. Ren tidak tahu apa yang terjadi pada Elara atau warga di sana. Ia hanya bisa berharap doa.
Saat mereka sampai di ujung seberang, jembatan itu akhirnya tidak kuat menahan beban lagi. Tali-temalinya putus satu per satu, dan seluruh bangunan itu jatuh berputar ke dalam kegelapan jurang di bawah sana, menghilang tanpa jejak.
Hening sejenak.
Mereka berdiri di sebuah terowongan batu yang lebih tua, lebih dingin, dan lebih sunyi. Udara di sini sangat tipis, berbau logam kuno dan sesuatu yang manis namun menyengat — bau energi murni.
Ren menatap ke depan. Lorong ini lurus, panjang, dan samar-samar di ujung sana... cahaya keemasan mulai terlihat, bercampur dengan cahaya ungu yang semakin terang dari tangannya.
"Di sini..." suara Anya memecah keheningan, suaranya berbisik seolah takut membangunkan sesuatu yang tidur. "Kita sudah masuk ke jalur energi utama. Di ujung terowongan ini... ada gerbang menuju Distrik Utara. Dan di sanalah perjalanan sesungguhnya dimulai."
Kai melihat layar di lengannya. Angka hitungan mundur masih berjalan, kini tinggal 87 jam lagi.
Wajah mereka bertiga sama-sama serius, lelah, namun penuh tekad.
Ren mengepal tangannya. Cahaya ungu bersinar terang, menerangi jalan di depan.
"Ayo pergi," kata Ren tegas. "Ke Ruang Asal. Ke kebenaran."
Dan mereka pun melangkah masuk lebih dalam ke kegelapan, menuju takdir yang sudah menunggu selama seribu tahun. Di belakang mereka, sisa-sisa peradaban yang tersembunyi tertimbun puing, dan di atas sana, Menara Zenith bersinar angkuh, menunggu kedatangan kunci yang telah bangkit kembali.
Bersambung...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"